'Boleh, Yah. Sekarang?' tanya Riyan.
Ayah mengangguk. Aku segera meluruskan punggung. Melihat gerakanku, Ayah justru tampak bingung.
'Kenapa seperti mau dimarahi?'
'Karena Ayah bilang mau bicara dengan kami berdua.'
'Memangnya kalau berdua selalu dimarahi?'
Aku melirik Riyan. Ia tidak membantu menjawab, tetapi sudut bibirnya bergerak. Aku tahu ia sedang menikmati kepanikanku.
Ayah mengusap lututnya, lalu menatap Riyan.
'Saya mau titip Kayla...'
'Yah.'
Suaraku tidak keras, tetapi cukup untuk menghentikannya. Ayah menoleh. Aku juga terdiam sebentar, menyadari bahwa kalimat itu mungkin hanya kebiasaan, bukan niat mengirimku sebagai barang yang harus dijaga.
'Aku di sini,' lanjutku lebih pelan. 'Bilang sama aku juga.'
Ayah memandangku beberapa saat, kemudian mengangguk.
'Iya. Ayah kebiasaan bicara begitu.'
Riyan menunggu. Ia tidak mengambil kesempatan untuk menjanjikan bahwa aku akan selalu patuh atau tidak pernah sedih. Aku menyukai itu, meskipun suasananya sempat terasa canggung.
Ayah kembali menyusun kata.
'Kalau nanti ada hal yang berat, Ayah ingin kalian bisa bicara. Jangan karena Ayah yang dulu mendorong pernikahan ini, kamu merasa harus selalu memberi kabar bagus, Kay.'
Aku menunduk. Kalimat itu pernah kami sentuh lewat telepon, tetapi mendengarnya ketika Riyan ada di sampingku terasa berbeda.
'Aku sudah pernah cerita yang tidak bagus,' kataku.
'Iya. Dan Ayah tidak langsung mendengar dengan baik.'
Riyan memandang Ayah. 'Saya tidak ingin Kayla merasa harus menjaga nama saya di depan Ayah.'
Aku mengangkat wajah. Ayah mengangguk, tetapi tidak menjadikan jawaban Riyan alasan untuk kembali memujinya panjang lebar. Ia malah berbalik menatapku.
'Kalau kamu ingin bicara hanya dengan Ayah, katakan. Kalau ingin dibicarakan bertiga, juga katakan. Ayah tidak akan menebak dari nada pesanmu saja.'
Aku mengingat pesan-pesan yang kadang kubaca berkali-kali karena takut ada arti tersembunyi. Rupanya Ayah bisa melakukan hal serupa.
'Kalau aku cuma kangen, aku bilang kangen,' jawabku.
'Bagus. Jangan kirim Ayah, lalu hilang lama.'
Aku menutup wajah. Riyan tertawa pelan.
'Itu memang membuat penasaran,' katanya.
'Baik. Aku akui kesalahanku kepada seluruh ruang tamu.'
Ayah tersenyum. Ketegangan tadi menurun, tetapi masih ada satu hal yang ingin kupastikan.
'Yah, kalau aku cerita sedang kesal sama Om, bukan berarti aku minta Ayah langsung meneleponnya.'
'Iya. Ayah tanya dulu.'
'Dan kalau aku salah, boleh bilang. Tapi jangan langsung menyuruhku diam karena sudah bersuami.'
Ayah menatapku tanpa menghindar.
'Ayah akan belajar mendengarkan dulu.'
Aku mengangguk. Aku tidak menuntut ia menjamin tidak pernah salah lagi. Malam ini cukup bahwa ia mengucapkannya di depanku, bukan menjadikan Riyan satu-satunya orang yang boleh menjawab tentang hidupku.
Riyan kemudian menanyakan apakah Ayah membutuhkan kabar tambahan pada hari perjalanan pulang. Kami sepakat mengabari saat berangkat, ketika berhenti bila memungkinkan, dan sesudah sampai. Tidak ada kewajiban menatap layar sepanjang jalan.
Percakapan beralih pada sarapan besok. Ayah meminta tidak ada yang bangun terlalu pagi hanya karena merasa hari terakhir harus dipenuhi pekerjaan. Aku langsung mengangkat tangan.
'Berarti besok aku boleh sarapan tanpa memperhatikan wajah Ayah setiap suapan.'
'Itu justru permintaan Ayah sejak tadi pagi.'
Kami tertawa, lalu membereskan gelas dan beristirahat. Di kamar, aku duduk sebentar sementara Riyan merapikan alasnya.
'Tadi Om tidak tersinggung?' tanyaku.
'Tentang kamu boleh cerita ke Ayah?'
Aku mengangguk.
'Tidak. Kalau Om merasa tidak nyaman mendengar sesuatu, Om bisa bilang. Bukan berarti kamu harus berhenti punya orang yang dipercaya.'
Aku memperhatikan wajahnya, mencoba menemukan kemarahan yang disembunyikan. Tidak ada yang bisa kutunjuk. Aku pun tidak ingin menghabiskan malam dengan menguji jawaban yang sudah diberikannya.
'Terima kasih.'
Riyan mengangguk, lalu menunjuk ponselku.
'Pengingat besok masih yang tadi pagi?'
Aku cepat mengambilnya. Kalau ia tidak mengingatkan, aku mungkin akan bangun seperti hendak membuka rumah makan. Kami mengubah waktunya agar tetap bisa menjalani pagi dengan tenang, kemudian tidur di tempat masing-masing.
Keesokan paginya, setelah salat, aku keluar dan menemukan Ayah sedang menata sarapan. Hari itu adalah hari penuh terakhir kami di sini. Pikiran itu muncul, tetapi aku tidak mengucapkannya setiap lima menit.
Aku membantu membawa minuman. Riyan mengumpulkan barang yang perlu disingkirkan dari meja. Kami makan bersama sebelum Ayah berangkat bekerja.
Di depan pintu, aku tidak menahannya terlalu lama.
'Nanti sore aku masih di sini, Yah.'
'Ayah tahu. Tasmu masih banyak.'
'Jangan lihat jumlah tas. Itu tidak mengukur lamanya orang tinggal.'
Ayah tertawa dan mengusap kepalaku singkat sebelum pergi. Aku membiarkannya. Tidak setiap sentuhan lama berarti ia lupa bahwa aku sudah dewasa.
Sesudah membereskan sarapan, aku dan Riyan memeriksa pakaian yang sudah kering. Kami melipatnya bersama di kamar. Aku memisahkan yang masih akan dipakai sampai besok, lalu memasukkan sisanya ke tas.
Saat dompet berpindah dari tas kecil ke tanganku, aku berhenti sebentar. Aku tahu foto Alana masih di dalamnya. Tidak kubuka. Selama kunjungan ini, aku lebih banyak memikirkan Ayah, tetapi rumah yang akan kudatangi lagi masih menyimpan hal-hal yang belum mudah.
Riyan melihat gerakanku melambat.
'Ada yang tertinggal?'
Aku menggeleng dan menyimpan dompet kembali.
'Aku sedang memikirkan rumah.'
'Rumah yang mana?'
Pertanyaan itu membuatku tersenyum kecil. Dulu jawabannya terasa begitu mudah. Sekarang ada rumah Ayah, ada rumah Mama, dan ada kehidupan bersama Riyan yang belum selalu terasa kukenal.
'Yang akan kita datangi besok.'
Riyan duduk, menunggu jika aku ingin melanjutkan. Aku menutup tas setengah, menyisakan pakaian untuk nanti.
'Di sini aku bisa sibuk jadi anak Ayah. Di sana, aku ingat lagi semua yang masih ingin kutanyakan kepada Om.'
Wajah Riyan menjadi lebih serius.
'Pertanyaanmu tidak hilang karena kita pergi beberapa hari.'
Aku mengangguk. Ada rasa lega, ada pula takut yang belum menemukan nama. Aku tidak ingin merusak hari terakhir bersama Ayah dengan membawa semua percakapan sekaligus.
'Aku belum mau membicarakannya sekarang,' kataku. 'Tapi setelah pulang, jangan anggap kita sudah baik-baik saja hanya karena selama di sini bisa tertawa.'
Riyan menatapku, lalu mendekatkan tangannya di atas tas tanpa menyentuh tanganku lebih dulu.
'Om dengar, Kay.'