'Boleh, Kay,' jawab Riyan. 'Om tidak akan menganggap setiap air mata tentang Ayah sebagai penolakan kepada Om.'
Aku menarik napas panjang. Riyan bersandar, menatapku tanpa berusaha mengubah suasana menjadi lucu.
'Tapi kalau ada hal tentang Om yang membuatmu tidak mau pulang, bilang juga.'
'Aku mau pulang sama Om.'
Kalimat itu keluar sebelum sempat kupikirkan terlalu lama. Riyan terdiam sesaat. Aku sendiri sedikit terkejut mendengar betapa tegas suaraku.
'Aku cuma masih ingin di sini,' tambahku.
'Keduanya sudah Om dengar.'
Aku menatap jemariku, lalu tersenyum kecil. Tidak ada keputusan besar yang berubah pagi itu. Kami tetap akan pulang lusa. Namun setidaknya aku tidak harus mengubah kesedihanku menjadi bukti bahwa pernikahan ini salah, atau menyembunyikannya agar suamiku tidak tersinggung.
Riyan mengulurkan tangan. Aku menyambutnya, kali ini bukan karena hendak berjalan ke suatu tempat. Kami duduk sebentar dalam diam sampai perutku berbunyi.
Ia menoleh.
'Baru sarapan.'
'Itu bukan lapar. Mungkin sedang berkomentar.'
'Seluruh tubuhmu suka berpendapat.'
Aku tertawa dan menarik tanganku untuk menutup wajah. Suasana berat tadi mengendur tanpa harus dianggap tidak penting.
Menjelang siang kami makan, lalu menata kembali peralatan yang dipakai. Aku tidak melakukan percobaan besar di dapur. Untuk makan malam, aku ingin membantu Ayah ketika ia sudah pulang, bukan menyiapkan kejutan yang membuatnya harus menyukai sesuatu.
Sesudah salat dan beristirahat, aku mengumpulkan pakaian kami yang perlu dicuci. Riyan memilah miliknya sendiri. Aku sempat salah mengambil bajunya yang masih bersih, dan ia segera menahanku.
'Itu baru dikeluarkan.'
'Kelihatannya sudah kusut.'
'Karena tas, bukan karena dipakai.'
Aku mengembalikannya sambil meminta maaf. Ternyata merapikan barang orang lain membutuhkan lebih banyak pertanyaan daripada merapikan barang sendiri. Aku mulai paham mengapa Ayah tidak langsung gembira ketika piringnya berpindah.
Kami mengurus pakaian seperlunya, menyisihkan waktu agar tetap bisa kering sebelum pulang. Setelah itu, aku duduk di ruang depan dengan ponsel di tangan. Tidak ada pesan mendesak. Aku hanya melihat jam lebih sering ketika sore mendekat.
Riyan duduk di dekatku.
'Menunggu Ayah?'
Aku mengangguk.
'Kali ini boleh, kan? Aku memang sedang tidak mengerjakan apa-apa.'
'Boleh. Om cuma bertanya.'
Aku menyenggol lututnya pelan. 'Kadang aku lebih dulu menjawab nasihat yang belum Om ucapkan.'
'Om jadi hemat bicara.'
Ketika Ayah datang, aku berdiri dan menyambutnya. Aku tidak langsung menyerbu dengan pertanyaan. Kami memberinya waktu membersihkan diri, lalu aku mengikuti ke dapur ketika ia hendak menyiapkan makan malam.
'Aku boleh bantu bagian yang mana?'
Ayah menunjuk pekerjaan yang bisa kulakukan. Kami bergerak berdampingan tanpa banyak percakapan pada awalnya. Ada sesuatu yang akrab dari mendengar suara Ayah dekat sekali, bahkan ketika ia hanya menanyakan letak sebuah alat.
Aku menjawab sambil menunjuk tempat semula.
'Sudah hafal?' tanyanya.
'Pelajarannya kemarin mahal, Yah. Dibayar malu.'
Ia tertawa, lalu meminta aku memeriksa meja makan. Riyan sudah menatanya. Kami bertemu di pintu dapur dan hampir bertabrakan, tetapi kali ini salah satu segera memberi jalan.
Makan malam berlangsung santai. Aku tidak mengumumkan bagian mana yang kukerjakan. Ketika Ayah bertanya apakah siang tadi kami sempat beristirahat, aku menjawab tanpa menghitung semua pekerjaan yang telah dilakukan.
Sesudah meja dibereskan, Riyan mengatakan ingin membersihkan diri. Aku tetap duduk bersama Ayah di ruang depan. Kesempatan itu datang begitu biasa sampai aku hampir membiarkannya lewat.
'Yah, aku mau ngomong sesuatu.'
Ayah menurunkan gelas.
'Apa?'
'Lusa aku pulang sama Om Riyan.'
'Iya. Ayah ingat.'
'Aku bukan sedang minta ditambah harinya.'
Ia menungguku. Aku menarik ujung bajuku, kemudian melepaskannya. Rasanya lebih sulit menyebut keinginan sendiri di hadapan Ayah daripada menyebut semua hal yang kutakutkan.
'Aku senang di sini. Tapi aku juga ingin kembali ke rumah Mama. Ke kehidupan yang sedang kujalani sama Om.'
Ayah mengangguk pelan. Wajahnya tidak langsung berubah menjadi sedih seperti adegan yang kubayangkan dalam kepala.
'Kenapa kamu mengatakan itu seperti sedang minta izin melakukan kesalahan?'
Aku menelan ludah.
'Karena takut Ayah merasa aku sudah tidak butuh.'
Ayah menghela napas. Ia memandang bagian depan rumah sebelum kembali menatapku.
'Ayah kadang masih ingin menyiapkan semuanya untukmu. Tadi pagi waktu kamu repot, tangan Ayah gatal ingin mengambil alih.'
'Aku lihat.'
'Tapi bukan berarti kamu harus tetap repot sendiri supaya Ayah merasa dibutuhkan.'
Aku menatapnya. Tidak ada kalimat besar tentang pengorbanan orang tua. Hanya Ayah, yang ternyata juga sedang belajar menghentikan tangannya pada saat yang tepat.
'Aku tetap ingin dekat sama Ayah,' kataku. 'Tapi aku tidak mau Om selalu seperti tamu yang menunggu aku memilih kapan mau jadi istrinya lagi.'
Ayah mengangguk. 'Dia suamimu saat kamu di sini juga.'
Aku tersenyum malu. 'Iya. Kadang aku lupa kalau pulang bukan berarti kembali ke semua kebiasaan lama.'
'Nanti sebelum kunjungan berikutnya, tanya waktunya lagi,' kata Ayah.
'Pasti. Bukan tiba-tiba muncul di pintu?'
'Kalau Ayah sedang kerja, nanti kamu menunggu.'
Aku mengangguk, membayangkan betapa mudahnya aku menganggap kedatanganku pasti lebih penting daripada rencana Ayah. 'Aku tanya dulu. Om juga harus mengatur pekerjaannya.'
'Nah, begitu.'
'Tapi kalau Ayah punya waktu yang lebih cocok, bilang juga. Jangan semua terserah aku.'
Ayah mengangguk. Pembicaraan itu tidak menghasilkan tanggal baru, tetapi aku jadi tahu bahwa janji berkunjung bukan hanya kalender yang kutentukan bersama suamiku. Ayah juga boleh memilih kapan rumahnya akan ramai.
'Sebagian kebiasaan lama boleh. Duduk dekat Ayah, misalnya.'
Aku bergeser mendekat. Ayah membiarkanku menyandarkan kepala sebentar di bahunya. Pelukan ini tidak terasa seperti malam sebelum pindah dahulu, ketika aku ingin menahan waktu dengan kedua tangan.
Aku masih ingin menangis. Bedanya, sekarang aku bisa menyebut alasan yang tidak menuduh siapa pun.
'Ayah nanti kangen?'
'Kangen.'
'Kalau begitu bilang, ya. Jangan selalu jawab baik-baik saja.'
'Ayah bisa baik-baik saja dan kangen.'
Aku tertawa pelan. 'Iya, aku tahu. Masih belajar membedakannya.'
Kami diam sebentar. Dari dalam terdengar gerakan Riyan. Aku tidak menjauh karena takut ketahuan dekat dengan Ayah. Keduanya bukan sesuatu yang harus kusembunyikan dari satu sama lain.
Ketika Riyan muncul, Ayah memanggilnya untuk duduk. Aku menggeser tempat, memberi ruang.
'Kami sedang membicarakan kepulangan,' kataku.
Riyan duduk dan menatap Ayah, menunggu.
Ayah merapikan posisi gelasnya, lalu bertanya, 'Sebelum kalian berangkat lusa, boleh Ayah bicara juga dengan kalian berdua?'