'Percaya, kalau Ayah sudah makan,' jawabku. 'Sekarang belum.'
'Berarti tunggu sampai duduk di meja.'
Aku mengangguk, lalu kembali memperhatikan pekerjaanku. Ayah membantu sesuai yang kuminta, kemudian menyerahkan bagian itu kembali ketika aku sudah siap. Rasanya berbeda dengan membiarkannya membereskan semuanya sementara aku menonton.
Bayam kali ini tidak selembut percobaanku dahulu. Aku memeriksanya, mencicipi secukupnya setelah aman, lalu memutuskan berhenti menambah apa pun. Tempe juga sudah bisa dipindahkan ke tempat saji. Aku hampir mengumumkan keberhasilan dengan terlalu keras, tetapi Ayah mengingatkan bahwa tanganku masih membawa makanan.
Aku menaruhnya lebih dulu.
'Nah. Sekarang boleh bangga?'
'Boleh,' kata Ayah.
Riyan datang mengambil hidangan untuk meja. Aku mengikuti dari belakang dengan perasaan seperti mengantar sesuatu yang mudah sekali tersinggung. Padahal yang mudah tersinggung mungkin aku, bukan tempenya.
Kami duduk bertiga. Ayah berdoa, mengambil nasi, lalu menyendok bayam. Aku menatapnya begitu saksama sampai ia berhenti sebelum makan.
'Kalau dilihat begitu, Ayah tidak bisa menelan.'
Aku segera menunduk ke piring sendiri. Riyan menyentuh ujung kakiku dengan kakinya di bawah meja, sekadar mengingatkan, lalu menariknya kembali. Aku meliriknya. Ia sedang menahan senyum.
Ayah mencicipi makanan. Aku berusaha ikut makan, tetapi telingaku seperti berdiri sendiri.
'Bayamnya pas,' katanya.
'Benar?'
Ayah memandangku.
Aku mengangkat tangan sedikit. 'Iya. Aku percaya.'
Ia mengambil tempe, lalu menambahkan bahwa potongannya tidak semuanya sama. Aku langsung melihat piring saji. Benar. Ada yang lebih besar, ada yang terlalu kecil.
'Tapi matang,' lanjutnya. 'Tidak harus kembar.'
Aku tertawa, meski mulanya sempat ingin membela diri. Ternyata aku bisa menerima pujian dan catatan kecil dalam sarapan yang sama tanpa seluruh pagi menjadi buruk.
Riyan mengambil satu potong lagi.
'Om bagaimana?' tanyaku.
'Om mau tambah nasi.'
Aku mendorong wadahnya ke arah Riyan. Jawaban itu lebih menyenangkan daripada rangkaian pujian yang mungkin membuatku curiga ia hanya ingin aku berhenti bertanya.
Ayah makan dengan tenang. Aku baru menyadari betapa jarangnya dahulu aku memperhatikan apakah ia menikmati makanannya. Biasanya aku sibuk dengan piringku sendiri, lalu beranjak begitu kenyang. Kini aku ingin duduk sedikit lebih lama.
Namun Ayah tetap harus berangkat. Sesudah sarapan, ia hendak membawa piringnya ke tempat cuci, tetapi aku menawarkan membereskannya bersama Riyan.
'Masih ada waktu,' katanya.
'Iya, tapi Ayah boleh siap-siap. Kami yang pakai dapur paling banyak.'
Ayah mengangguk. Kali ini ia tidak mengambil piring itu lagi. Ia masuk untuk memeriksa barangnya, lalu kembali dengan pakaian kerja yang sudah dirapikan.
Di depan pintu, aku mencium tangannya.
'Terima kasih sarapannya,' katanya.
Aku menunggu kelanjutan yang mungkin muncul dari kebiasaan lama: sekarang sudah pantas menjadi istri, sekarang suami pasti makin senang. Ayah tidak mengatakan itu.
Ia hanya menambahkan, 'Nanti kalau Ayah sudah pulang, kita makan bersama lagi.'
Aku mengangguk, dan tenggorokanku mendadak terasa penuh.
Setelah Ayah berangkat, aku kembali ke dapur. Riyan sudah mulai membereskan meja. Ia menoleh ketika melihatku berdiri terlalu lama di pintu.
'Kenapa?'
'Tadi Ayah cuma bilang terima kasih.'
'Kurang?'
Aku menggeleng. 'Justru rasanya enak.'
Riyan tidak menuntut penjelasan panjang. Ia menggeser tempatnya agar aku bisa ikut bekerja. Aku mencuci, ia mengeringkan bagian yang sudah bisa disimpan, lalu menanyakan letaknya sebelum menaruh apa pun.
'Om takut diadili karena piring?'
'Om belajar dari kejadian kemarin.'
'Pengalaman orang lain sangat berguna, ya.'
Ia tertawa. Aku menepuk lengannya dengan punggung tangan yang sudah kering, lalu melanjutkan pekerjaan.
Sesudah dapur rapi, kami duduk beristirahat. Aku ingin langsung menelepon Mama dan menceritakan semuanya, tetapi lebih dulu mengirim pesan menanyakan apakah beliau sedang luang. Sambil menunggu, aku menyandarkan kepala di punggung kursi.
Riyan mengambil ponselnya ketika ada pemberitahuan.
'Ada hal pekerjaan yang perlu Om periksa sebentar,' katanya. 'Om baca dulu supaya tahu perlu dijawab sekarang atau tidak.'
Aku mengangguk. Ia tetap duduk di dekatku, tetapi perhatiannya berpindah ke layar. Pada awalnya aku baik-baik saja. Lalu aku mulai menghitung diamnya, meskipun ia sudah memberi tahu.
Aku ingin menunjukkan pesan balasan Mama, tetapi menahan diri. Baru beberapa menit. Aku bisa membaca pesan sendiri tanpa menjadikannya penonton.
Ketika Riyan menyimpan ponsel, aku malah bertanya terlalu cepat.
'Sudah?'
'Sudah untuk sekarang.'
'Besok juga begitu?'
Ia menatapku. Aku langsung menyesal karena nadaku terdengar menuduh.
'Belum tahu. Kalau perlu, Om bilang. Tadi ada yang harus dikonfirmasi.'
Aku menatap ponselku. Di rumah Mama, aku ingin ia memberi kabar jika sibuk. Sekarang ia melakukannya, dan aku masih merasa kehilangan beberapa menit yang seharusnya menjadi milikku.
'Maaf. Aku cuma ingin liburan kita tidak kepotong.'
'Om juga. Tapi tadi perlu dijawab singkat.'
'Aku tahu.'
Kami diam sesaat. Aku tidak ingin ia meminta maaf untuk sesuatu yang sudah kami sepakati, tetapi rasa sebal juga tidak langsung lenyap hanya karena aku mengerti.
Riyan menggeser duduknya sedikit.
'Kamu ingin menelepon Mama?'
'Iya. Beliau sudah bisa.'
'Om ikut menyapa dulu, kalau boleh.'
Aku mengangguk. Sebelum menekan panggilan, aku menyentuh tangannya.
'Tadi aku senang sekali. Mungkin jadi ingin semua orang terus memperhatikan.'
Riyan tersenyum, tidak mengejek.
'Om masih mau dengar. Setelah telepon, kamu bisa cerita lagi.'
Aku menelepon Mama. Kami menyapa bersama, lalu aku bercerita tentang sarapan, bantuan Ayah, dan tempe yang ukurannya tidak seragam. Mama tertawa ketika aku mengaku nyaris membuat Ayah sulit menelan karena terlalu diperhatikan.
Ia bertanya apakah aku senang berada di rumah Ayah. Aku menjawab iya dengan cepat.
Lalu Mama bertanya kapan kami akan pulang, sekadar memastikan rencana yang sudah dibuat.
Aku menatap Riyan sebelum menjawab.
'Lusa, Ma. Setelah empat malam.'
Sesudah kalimat itu keluar, rasa senang di dadaku mendadak bercampur dengan sesuatu yang berat. Masih ada waktu, tetapi sekarang waktu itu punya ujung yang bisa kusebutkan.
Mama mengatakan akan menunggu kabar keberangkatan. Kami menutup telepon setelah berbincang sebentar lagi.
Aku meletakkan ponsel, lalu menatap Riyan.
'Om, boleh aku sedih soal lusa tanpa Om mengira aku tidak mau pulang bersamamu?'