'Boleh. Sebagian bisa Ayah tunjukkan malam ini,' jawab Ayah.
Aku tersenyum begitu lebar sampai Riyan melirik piringku.
'Nasinya dimakan juga, Kay.'
'Ini sedang bahagia, Om. Jangan langsung diberi pekerjaan.'
'Mengunyah?'
Ayah tertawa. Aku menyendok nasi, membiarkan mereka menikmati kemenangan kecil itu. Setidaknya tawaranku tidak berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang paling berhak memegang dapur.
Setelah makan dan membereskan meja, aku mengikuti Ayah. Ia menunjukkan tempat alat yang biasa dipakai. Beberapa sudah kukenal, beberapa lagi harus kupastikan karena bentuknya berbeda dengan milik Mama. Aku tidak memindahkan apa pun. Ketika ingin menggeser sebuah wadah supaya lebih mudah dilihat, aku mengangkatnya sebentar lalu mengembalikannya ke tempat yang sama.
Ayah memperhatikan, tetapi tidak mengomentari kejadian piring sore tadi.
'Tempenya cukup,' katanya setelah memeriksa bahan yang ada. 'Bayamnya juga ada untuk besok pagi.'
'Berarti aku masak sebelum Ayah berangkat?'
'Kalau mau makan bersama, iya. Tapi jangan bangun kesiangan lalu panik sendiri.'
'Ayah seperti mengenal seseorang.'
'Ayah mengenal kamu.'
Aku meringis. Riyan yang membantu mengeringkan peralatan makan tertawa tanpa berusaha menyembunyikannya.
Kami membicarakan pembagian pekerjaan. Ayah tetap menyiapkan nasi. Aku menangani tempe dan bayam, sementara Riyan menawarkan menata meja serta membereskan peralatan yang sudah tidak dipakai. Aku hampir mengatakan bisa semuanya sendiri, tetapi teringat betapa sempitnya dapur terasa kalau tiga orang bergerak tanpa tahu tujuan.
'Aku mungkin perlu tanya soal alatnya,' kataku.
'Tanya saja,' jawab Ayah.
'Jangan langsung diambil dari tanganku.'
Ayah menatapku sebentar. 'Kalau kamu meminta tolong karena kerepotan?'
'Ya boleh. Tapi bilang dulu.'
Ia mengangguk, lalu menunjukkan alat yang tadi kutanyakan. Aku menyentuh gagangnya, memperkirakan beratnya tanpa menyalakan apa pun. Rencananya sederhana, tetapi mendadak terasa lebih nyata daripada saat baru kuucapkan di meja makan.
'Kalau aku lambat, Ayah bilang sebelum waktunya terlalu mepet, ya.'
'Boleh. Tapi jangan mulai dengan menganggap dirimu pasti lambat.'
Aku menoleh kepada Riyan. 'Om juga jangan bertanya sudah belum setiap lewat.'
'Kalau Om lewat untuk mengambil minum?'
'Boleh. Minum tidak dilarang.'
Ayah tertawa, kemudian memintaku mengulang bagian yang ingin kukerjakan lebih dulu. Aku menyebutkannya sambil menunjuk bahan, dan baru menyadari bahwa urutannya sebenarnya masih kuingat. Yang membuatku ragu bukan seluruh cara memasak, melainkan takut Ayah diam-diam membandingkan aku dengan diriku yang dulu. Aku berhenti menjelaskan setelah cukup, sebelum berubah menjadi orang yang membela diri di hadapan dua gelas kosong.
Di kamar, aku mengeluarkan pakaian untuk besok dan meletakkannya di tempat yang mudah dijangkau. Riyan sedang merapikan alas tidurnya di lantai. Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan tangannya.
'Kalau besok rasanya tidak sama dengan yang di rumah Mama, bagaimana?'
'Berarti rasanya berbeda.'
'Om kalau menjawab begitu, aku ingin menarik kembali jatah tempenya.'
Ia mendongak sambil tersenyum. 'Om belum mencicipi, Kay. Mau bilang apa sekarang?'
Aku mengembuskan napas, lalu ikut tertawa. Benar juga. Aku hampir meminta jaminan untuk makanan yang belum ada.
Riyan meletakkan bantal, kemudian duduk di dekat kakiku.
'Kamu mau bangun jam berapa?'
Kami menyepakati waktu yang cukup untuk salat dan bersiap tanpa terburu-buru. Aku memasang pengingat di ponsel, mengecek sekali, lalu meletakkannya. Tidak ada kertas resep yang kubawa. Kertas kecilku masih di dapur Mama, dan aku ingin mencoba mengingat urutannya sendiri.
Namun sebelum tidur, aku tetap mengirim pesan singkat kepada Mama. Kuberi tahu bahwa besok akan memasak menu yang pernah kami buat bersama. Balasannya datang ketika aku sedang menarik selimut.
Mama mengingatkan agar aku mengerjakan satu bagian dulu kalau mulai bingung, lalu mengucapkan selamat istirahat. Tidak ada daftar panjang tambahan. Aku membaca pesan itu dan merasa lebih tenang.
'Sudah dapat dukungan?' tanya Riyan.
'Sudah. Mama tidak mengancam mengambil tempenya.'
'Om juga tidak.'
'Om tertawa.'
'Karena kamu lucu.'
Aku menatapnya. Ucapan itu sederhana, tetapi membuatku kehilangan jawaban sebentar. Aku memilih berbaring sebelum ia melihat senyumku terlalu lama.
Pagi berikutnya pengingat berbunyi ketika mataku masih terasa berat. Aku mematikannya, duduk, lalu mendengar Riyan bergerak di bawah.
'Masih mau masak?' tanyanya.
'Mau. Tubuhku saja belum ikut rapat.'
Kami bangun dan menunaikan salat. Sesudah mencuci muka sekali lagi dan berganti pakaian, aku keluar. Ayah sudah di dapur, tetapi belum mengambil alih bagianku. Nasi sedang disiapkannya sesuai kesepakatan.
Aku mengikat rambut, mencuci tangan, kemudian memeriksa bahan. Riyan menyusul sambil menguap. Ia mengambil piring untuk meja, salah memilih jumlah, lalu mengembalikan satu.
'Om masih mengantuk?'
'Sedikit.'
'Jangan sampai meja ditata untuk empat orang.'
'Yang keempat siapa?'
'Rasa gugupku. Tempat duduknya besar.'
Ayah menggeleng sambil tertawa. Aku mulai menyiapkan bayam. Tanganku sudah mengenal gerakannya, tetapi di dapur ini aku perlu mencari tempat meletakkan bagian yang sudah bersih. Aku berhenti dan bertanya, bukan membawa semuanya ke sudut yang kupilih sendiri.
Ayah menunjukkan wadah yang bisa dipakai. Ia kemudian kembali pada pekerjaannya.
Aku menyelesaikan persiapan tempe sebelum mulai memasak. Riyan membawa peralatan yang tidak lagi dibutuhkan agar meja tidak penuh. Ketika satu benda masih akan kupakai, aku menahannya.
'Itu jangan dulu, Om.'
'Oh. Yang ini?'
'Iya. Nanti kalau sudah boleh, aku bilang.'
Ia mengembalikannya tanpa membuatku merasa cerewet. Entah kenapa, hal kecil itu membuat napasku lebih teratur.
Namun ketika mulai menangani bagian berikutnya, aku sadar ukuran alat yang kupakai membuat perkiraanku meleset. Bukan keadaan berbahaya, hanya ruang yang terasa terlalu penuh dan dua pekerjaan yang ingin kuperhatikan bersamaan. Aku menghentikan gerakan sebentar.
Ayah mendekat.
'Mau Ayah bantu?'
Mulutku hampir menjawab tidak. Aku melihat bayam yang masih menunggu, lalu tempe yang sedang kuurus. Aku tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak harus melakukannya dengan dua tangan yang mendadak ingin menjadi empat.
'Boleh. Ayah pegang bagian ini dulu, ya. Aku mau merapikan yang itu.'
Ayah mengangguk dan menunggu sampai aku memberi ruang. Tidak ada perebutan alat. Tidak ada ucapan bahwa dari tadi seharusnya ia saja yang memasak.
Aku berpindah, mengatur kembali pekerjaanku, lalu menoleh kepadanya.
'Kalau aku minta bantuan begini, nanti Ayah jangan bilang masakannya buatan Ayah semua.'
Ayah mengangkat alis.
'Kalau Ayah cuma bilang enak, kamu mau percaya?'