'Kalau duduk sebentar langsung kembali seperti dulu, Om sudah kembali ke masa kecil sejak tadi,' kata Riyan.
Aku memandangnya. 'Om jangan bikin aku ketawa. Aku sedang serius.'
'Om juga. Pekerjaan yang kamu pilih tadi sudah dikerjakan.'
Aku melihat sapu di tanganku, lalu menyandarkannya di tempat semula. Bagian depan rumah memang sudah cukup bersih. Aku tidak perlu menunggu lantainya bisa dipakai bercermin sebelum mengizinkan diri duduk.
Kami kembali ke dalam. Riyan mengambil air minum, dan aku duduk sambil mengipas wajah dengan tangan.
'Aku tidak kepanasan waktu menyapu. Baru sekarang.'
'Mungkin tadi sibuk mau menang.'
Aku menerima gelas yang disodorkannya. Ada sesuatu yang menyenangkan dari dibantu tanpa perlu pura-pura tidak mampu. Aku benar-benar bisa mengambil minum sendiri, tetapi kali ini Riyan lebih dekat dan bersedia.
Setelah beristirahat, kami memindahkan tas agar ruang yang dipakai bersama tidak berantakan. Aku menyisihkan pakaian yang diperlukan hari itu, bukan membongkar semuanya. Riyan melipat kembali barang miliknya yang semalam dikeluarkan asal-asalan.
'Ternyata Om juga bisa menaruh pakaian sembarangan.'
'Bisa. Mau diperlihatkan lagi?'
'Tidak perlu latihan tambahan.'
Aku tertawa ketika ia memasukkan pakaian dengan lebih rapi. Rumah Ayah terasa berbeda dengan adanya kebiasaan Riyan di dalamnya. Ada orang yang harus kutanya sebelum memindahkan barang, ada bagian tempat tidur yang bukan hanya tempat melempar bajuku.
Menjelang tengah hari, aku mengirim pesan singkat kepada Mama. Kami bertukar kabar, lalu aku memberi tahu bahwa Ayah sedang bekerja dan kami berada di rumah. Mama tidak menyuruhku memenuhi hari dengan pekerjaan. Ia hanya mengingatkan makan, seperti biasa.
Aku dan Riyan menggunakan makanan yang masih tersedia untuk makan siang. Setelahnya, ia membereskan meja sementara aku mencuci peralatan makan. Kami tidak menunggu Ayah pulang untuk membereskan sesuatu yang kami pakai sendiri.
Di dekat tempat menyimpan piring, aku berhenti. Ada beberapa benda yang menurutku lebih mudah dijangkau kalau dipindahkan. Aku mengingat cara Mama menata dapurnya, lalu mulai menggeser piring yang sudah kering.
'Kay, itu memang di situ?' tanya Riyan.
'Tadinya di sebelah sana. Aku bikin lebih gampang.'
'Lebih gampang buat siapa?'
'Buat yang mengambil.'
Ia memandangku beberapa saat. Aku sadar jawabanku tidak benar-benar menjawab pertanyaannya.
'Menurutku,' tambahku.
Riyan tidak melarang. Ia membawa lap ke tempat semula, lalu kembali ke ruang depan. Aku meneruskan sedikit, tetapi gerakanku sudah tidak seyakin tadi. Pada akhirnya aku hanya memindahkan dua susunan yang menurutku tidak akan mengganggu.
Sesudah pekerjaan itu, kami beristirahat. Aku sempat memeriksa ponsel ketika belum ada balasan Ayah, lalu meletakkannya kembali. Ia sudah bilang akan bekerja. Pesanku tidak berubah menjadi keadaan darurat hanya karena belum dibaca.
Sore mulai turun ketika Ayah pulang. Aku mendengar kedatangannya dan berjalan ke depan. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tersenyum begitu melihatku.
'Sudah makan?'
'Sudah. Ayah?'
'Sudah juga.'
Percakapan paling biasa di dunia itu ternyata menyenangkan sekali ketika dilakukan tanpa ponsel. Aku mengambilkan air, dan Ayah menerimanya sebelum duduk. Riyan menyapanya, lalu membiarkan ia minum lebih dulu.
Aku ingin segera bertanya apakah bekerja hari itu berat. Namun Ayah memejamkan mata sebentar, dan aku menahan pertanyaanku. Lelah sepulang kerja bukan bukti bahwa ia tidak sanggup tinggal di rumahnya sendiri.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Ayah masuk ke dapur. Aku menyusul untuk menunjukkan bahwa peralatan yang kami pakai sudah dicuci. Sebelum aku bicara, tangannya bergerak ke tempat piring tadi.
Ia berhenti.
'Piring yang di sini ke mana?'
'Aku pindahkan. Di situ, Yah.'
Ayah melihat tempat yang kutunjuk, lalu mengambilnya. Tidak ada bentakan, tetapi alisnya berkerut.
'Kenapa dipindah?'
'Supaya lebih gampang diambil.'
'Buat Ayah justru biasa yang tadi.'
Pipiku menghangat. Aku memandang susunan yang tadi sempat membuatku puas. Sekarang susunan itu tampak seperti jejak orang yang baru datang sehari, tetapi sudah merasa paling tahu.
'Aku kira Ayah suka kalau lebih rapi.'
'Yang tadi juga rapi, Kay.'
Aku hampir mengatakan bahwa di rumah Mama letaknya berbeda. Untung kalimat itu berhenti sebelum keluar. Rumah Mama bukan ukuran yang harus dipakai semua dapur.
'Iya. Aku tidak tanya dulu.'
Ayah menaruh piring yang diambilnya. 'Mencuci sudah membantu. Tidak perlu semuanya diubah.'
Kalimat itu membuat dadaku mencelos meskipun nadanya tidak keras. Aku menunduk, mengambil susunan yang kupindahkan, lalu mengembalikannya terlalu cepat.
'Pelan,' kata Ayah.
Aku berhenti. Tanganku masih memegang piring, dan rasanya aku ingin marah karena kembali diingatkan. Lalu kulihat jemariku sendiri mencengkeram terlalu erat.
Aku menurunkan piring dengan benar.
'Yang ini juga tadinya sebelah sana,' kataku.
Ayah menunjukkan letaknya. Kami mengembalikan dua susunan itu tanpa banyak bicara. Riyan muncul di ambang pintu, tetapi tidak buru-buru membela niat baikku. Ia hanya bertanya apakah perlu membantu membawa sesuatu.
'Tidak, Om. Tinggal ini.'
Sesudahnya aku keluar lebih dulu dan duduk di ruang depan. Riyan menyusul beberapa saat kemudian. Ia tidak mengatakan sudah memperingatkanku, sesuatu yang membuatku semakin sulit mencari alasan untuk kesal kepadanya.
'Aku tahu,' kataku sebelum ia membuka mulut.
'Om mau tanya gelas ini masih kamu pakai?'
Aku menatap gelas di tangannya, lalu menutup wajah.
'Aduh.'
Ia tertawa pelan. Aku menunjuk meja agar ia meletakkannya, kemudian menghela napas panjang.
'Aku malu.'
'Karena piring?'
'Karena aku ingin pulang sebagai orang yang membantu, malah mengatur.'
Riyan duduk di dekatku. Ia membiarkanku mengucapkan kekesalan sampai tidak ada lagi yang ingin kukatakan. Setelah itu, aku berdiri dan kembali mencari Ayah.
Ayah sedang menyiapkan makan malam. Aku menunggu ia menoleh.
'Yah, maaf soal tadi. Besok aku tidak akan memindahkan barang seenaknya.'
'Iya.'
'Tapi aku masih boleh bantu, kan?'
Ayah menatapku, lalu menunjuk tempat menaruh peralatan makan. Aku mengambilnya tanpa memindahkan apa pun yang lain. Kali ini aku tahu letaknya karena baru saja mengembalikannya sendiri.
Saat kami duduk makan bertiga, keinginanku muncul lagi, lebih kecil dan lebih jelas daripada keinginan membenahi seluruh rumah.
'Besok aku mau masak tempe sama bayam untuk kita. Yang sudah kupelajari sama Mama.'
Ayah berhenti mengambil nasi.
'Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa, Kay.'
'Aku tahu. Aku ingin Ayah mencicipi. Tapi jangan dibayangkan masakan hebat dulu.'
Riyan tersenyum di sampingku. Aku menatap Ayah, menunggu jawabannya sebelum menyusun rencana lebih jauh.
'Kalau Ayah berkenan, besok boleh tunjukkan dulu bahan dan alat yang biasa Ayah pakai?'