'Percaya, Yah,' jawab Riyan.
Aku menatap tanganku sendiri sebelum menyusul, 'Aku juga. Tapi mungkin kadang masih kepengin menanyakan lagi.'
Ayah mengangguk pelan. 'Tanya boleh. Asal jawaban Ayah tidak dianggap salah terus.'
Aku merasa tertangkap. Tidak enak, tetapi aku memang perlu mendengarnya langsung.
'Kalau aku bertanya, lalu Ayah bilang tetap mau di sini, aku akan berusaha tidak membujuk panjang.'
'Berusaha saja dulu.'
Riyan tidak menambahi janji untukku. Ia bertanya bagaimana Ayah biasanya membagi pekerjaan rumah dengan pekerjaannya di kebun. Pertanyaan itu membuat Ayah lebih mudah berbicara. Ia menjelaskan kebiasaan sederhana, apa yang dilakukan sebelum berangkat, apa yang bisa menunggu sampai pulang.
Tidak ada kisah tentang lelaki malang yang tidak tahu cara mengurus diri. Ada keluhan ringan soal rasa malas setelah bekerja. Ada pekerjaan yang ditundanya karena belum perlu. Aku mendengarnya sambil menyadari bahwa selama ini aku suka membayangkan Ayah dalam dua keadaan saja: mengurusku atau menungguku.
Ternyata ia punya hari yang tetap berjalan meskipun aku tidak ada di dalam setiap bagiannya.
'Aku kira semua harus langsung Ayah kerjakan,' kataku.
'Kalau capek, duduk dulu.'
'Sesederhana itu?'
'Memangnya kalau Ayah duduk, piringnya bisa mengadu?'
Aku tertawa. Riyan ikut tersenyum, dan pembicaraan yang tadi terasa seperti rapat keluarga perlahan berubah menjadi obrolan biasa.
Aku bertanya apakah Ayah mau kami membantu pekerjaan tertentu besok. Ia berpikir, lalu menunjuk bagian depan rumah.
'Kalau mau menyapu, boleh. Biasanya Ayah sebelum berangkat. Tapi jangan bangun hanya untuk mengejar sapu.'
'Besok Ayah kerja?'
'Iya. Kalian kan tinggal empat malam. Tidak perlu semuanya dihabiskan duduk menatap Ayah.'
Aku tahu ia punya pekerjaan, tetapi tetap saja ada bagian kecil dalam diriku yang kecewa. Kupikir besok kami bisa berbincang sejak bangun sampai mengantuk lagi. Rupanya aku lupa bahwa datang berkunjung tidak menghentikan hidup tuan rumah.
Ayah melihat wajahku.
'Ayah pulang seperti biasa. Nanti kita masih bisa duduk lagi.'
'Iya. Aku cuma belum membayangkan pagi tanpa Ayah padahal sudah sampai sini.'
'Besok pagi masih bertemu sebelum Ayah berangkat.'
Aku mengangguk. Riyan mengulurkan tangannya di antara tempat duduk kami, telapak menghadap ke atas. Aku meletakkan jemariku di sana sebentar. Tidak ada yang disembunyikan dari Ayah, tetapi aku tetap merasa malu ketika menyadari ia melihat.
Ayah justru meraih gelasnya dan membicarakan hal lain. Aku bersyukur ia tidak menggoda soal pengantin atau bertanya kapan punya anak.
Malam bertambah larut. Setelah membereskan gelas dan saling mengucapkan selamat istirahat, kami masuk ke tempat tidur yang disiapkan untuk kami. Aku mengambil pakaian tidur dari tas, lalu menata barang agar tidak memenuhi jalan.
Riyan duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa ponselnya sebentar.
'Ada pekerjaan?' tanyaku.
'Tidak ada yang perlu dikerjakan malam ini. Om membalas kabar Mama.'
Aku mengangguk. Sesudah ia menyimpan ponsel, aku duduk di sebelahnya.
'Tadi aku mau minta Ayah tidak usah kerja.'
'Apa yang membuatmu tidak jadi?'
'Takut terdengar menyuruh.'
'Bisa bertanya tanpa menyuruh.'
'Aku tahu. Tapi kalau jawabannya tidak, mungkin aku bakal cemberut lagi.'
Riyan menoleh. Aku menatap jahitan di ujung bajuku, memutarnya dengan jari.
'Aku merasa empat malam sebentar, Om.'
'Memang tidak selama tinggal di sini.'
'Nanti pulang, aku pasti nangis.'
'Mungkin.'
Aku mendongak. 'Om tidak mau bilang jangan?'
'Tidak. Tapi Om bisa menyediakan tisu.'
Aku menyikut lengannya pelan. Ia tertawa, lalu membiarkan bahunya bersentuhan dengan bahuku. Sesudah beberapa saat, aku menyandarkan kepala. Ia tidak menarikku lebih dekat; aku yang bergeser sampai nyaman.
Aku menyukai kehangatan itu. Kenyataan bahwa aku menyukainya masih terasa baru, terutama ketika kepalaku dipenuhi urusan Ayah dan rumah lama. Tidak semua kedekatan harus dimulai dengan jantung berdebar ketakutan.
'Kay,' panggilnya.
'Hm?'
'Besok Om juga mau istirahat lebih lama kalau memang masih lelah. Jadi jangan membuat daftar pekerjaan untuk Om diam-diam.'
Aku tegak lagi. 'Aku belum membuat.'
'Belum?'
'Om, satu sapu saja belum tentu aku menang.'
Ia tertawa. Setelah kami bersiap tidur, Riyan mengambil alas tambahan yang ditunjukkan Ayah tadi dan menatanya di lantai. Aku membantunya menggeser tas agar jalan ke pintu tetap lapang, kemudian naik ke tempat tidur. Aku sempat mendengar bunyi dari luar kamar, lalu teringat Ayah masih ada di rumah yang sama. Untuk pertama kalinya sejak berangkat, pikiranku tidak sibuk menghitung jarak.
Pagi berikutnya aku bangun, menunaikan salat, lalu keluar ketika mendengar Ayah bergerak di dapur. Ia sudah berpakaian untuk bekerja. Aku berhenti sebentar melihat punggungnya sebelum mengucapkan salam.
'Sudah bangun?' tanyanya.
'Kalau belum, ini bakat baru. Jalan sambil tidur.'
Ayah tersenyum dan menunjukkan sarapan yang sudah disiapkannya. Aku mengambil piring, lalu membantu menatanya. Riyan menyusul tidak lama kemudian. Ia tampak lebih segar, meskipun masih menguap ketika mengira tidak ada yang melihat.
Kami makan bersama. Aku tidak berusaha memanjangkan sarapan agar Ayah terlambat berangkat. Meski begitu, saat ia berdiri dan memeriksa barang yang hendak dibawa, aku ikut berdiri terlalu cepat.
'Kenapa?' tanyanya.
'Tidak apa-apa. Mau antar sampai depan.'
Di pintu, aku mencium tangannya. Ayah mengingatkan agar kami beristirahat, lalu memandang Riyan yang berdiri di belakangku.
'Kalau perlu apa-apa, kabari saja, Pak.'
'Iya, Yah. Hati-hati.'
Aku menunggu sampai Ayah menjauh. Tanganku masih memegang tepi pintu. Riyan tidak langsung mengajakku masuk. Ia berdiri di sampingku sampai aku sendiri berbalik.
'Rumahnya langsung sepi,' gumamku.
'Padahal masih ada dua orang.'
'Yang satu Om. Kadang diamnya untuk tiga orang.'
Ia tertawa. Aku ikut tersenyum, lalu teringat sapu yang dijanjikan. Kuambil setelah meminta Riyan menggeser barang kami yang dekat jalan keluar. Ia melakukannya, kemudian kembali membawa gelas dari meja makan.
Aku menyapu bagian depan perlahan. Tidak ada penonton, tidak ada Mama yang memberi petunjuk, tidak ada Ayah yang buru-buru berkata nanti saja. Hanya daun kecil, debu, dan aku yang harus menentukan sendiri kapan pekerjaan itu cukup.
Ketika aku hendak melanjutkan ke bagian lain, Riyan muncul.
'Katanya satu sapu belum tentu menang.'
'Aku sedang unggul tipis.'
'Kalau begitu, berhenti sebelum pertandingan tambahan.'
Aku melihat bagian yang sudah bersih, lalu bagian lain yang mendadak ingin kukerjakan juga. Entah sejak kapan kepulangan ini mulai terasa seperti kesempatan mengejar semua pekerjaan yang pernah ditinggalkan Ayah untukku.
'Aku takut kalau duduk saja, nanti kembali seperti dulu,' kataku.