'Sedikit dua-duanya,' jawabku.
Ayah meletakkan lap. Aku mengusap sisa air di jari, lalu melihat gelas yang baru kucuci. Mendadak benda itu kelihatan seperti saksi yang terlalu banyak tahu.
'Aku memang mau bantu. Tapi aku juga ingin Ayah lihat aku sudah bisa.'
'Kan Ayah sudah tahu kamu bisa mencuci.'
'Bisa dan mau itu beda, Yah.'
Ayah tertawa pendek. 'Nah, kalau itu Ayah setuju.'
Aku ikut tersenyum, kemudian menarik kursi. Berdiri sambil membicarakan isi kepalaku membuatku ingin terus berpura-pura sibuk. Ayah duduk kembali, menunggu aku mencari kata yang tidak terdengar seperti pidato.
'Di telepon lebih gampang ngomong,' kataku. 'Pas pulang, aku malah bingung. Kalau dibantu, aku takut dianggap belum bisa. Kalau tidak dibantu, aku bisa saja cemberut karena merasa dicuekin.'
'Ayah harus berdiri di mana, kalau begitu?'
'Sebentar. Aku juga sedang cari petanya.'
Kami tertawa bersamaan. Aku menyandarkan siku, lalu segera menariknya ketika sadar meja masih sedikit basah.
'Ayah tadi mengambil tas karena biasa saja, kan?'
'Iya. Anak Ayah baru sampai.'
'Bukan karena Ayah pikir aku tidak sanggup.'
'Kalau tasnya memang berat, bilang berat. Tidak perlu menggendongnya sampai besok untuk membuktikan apa-apa.'
Aku mengangguk. Nasihat itu jauh lebih mudah diterima karena Ayah mengatakannya sambil menunjuk tas, bukan seluruh hidupku.
Ia berdiri untuk memeriksa makanan. Aku ikut bangkit, tetapi kali ini bertanya apa yang boleh kubantu. Ayah memintaku menyiapkan tempat makan nanti. Sesederhana itu. Tidak ada pengumuman bahwa putrinya telah berubah menjadi perempuan paling berguna di desa.
Sebelum meninggalkan dapur, aku menyentuh lengannya.
'Yah, aku masih kepikiran omongan kita di telepon.'
Tentang cara ia menakutiku dahulu. Tentang pernikahan yang ditawarkan seolah jalan lain hanya berisi hal mengerikan. Aku tidak perlu mengulang semua kalimatnya agar Ayah mengerti.
Wajahnya menjadi serius.
'Ayah juga.'
'Aku senang pulang. Tapi bukan berarti aku sudah lupa.'
'Iya.'
Aku menunggu kalimat tambahan, mungkin pembelaan tentang niat baik atau ucapan bahwa sekarang aku terbukti bahagia. Ayah hanya menurunkan pandangan sebentar, kemudian bertanya apakah aku ingin membicarakannya sekarang.
Aku menggeleng.
'Belum. Aku cuma tidak mau pura-pura.'
'Ya. Kita tidak perlu pura-pura.'
Jawabannya pendek. Tidak menghilangkan semua ganjalan, tetapi membuatku bisa berjalan keluar tanpa menyimpan kalimat tadi sendirian.
Menjelang sore, Riyan bangun dari istirahatnya. Aku sedang mengambil barang dari tas ketika ia duduk dan mengusap wajah.
'Jam berapa?'
Aku menyebutkan waktu, lalu menertawakan rambutnya yang terangkat di satu sisi.
'Om kelihatan habis bertengkar sama bantal.'
'Bantalnya menang?'
'Telak.'
Ia merapikan rambut dengan tangan. Aku memberinya air minum, kemudian duduk agak jauh agar ia bisa menggerakkan kaki. Setelah perjalanan panjang, wajahnya masih menyisakan letih.
'Ayah baik-baik saja?' tanyanya.
Aku mengangguk. 'Aku yang tadi agak aneh.'
Kuceritakan soal tas dan gelas, bukan seluruh percakapan pribadi kami. Riyan mendengarkan tanpa menyatakan bahwa ia sudah menduganya.
'Om juga jangan ikut-ikutan jadi tamu kehormatan,' kataku.
Alisnya terangkat.
'Maksudku, Ayah masih sungkan sama Om. Kalau Om diam saja, nanti Ayah mengerjakan semuanya.'
'Baik. Tapi kalau Ayah menolak dibantu?'
'Jangan langsung menyerah sekali ditolak.'
'Kamu baru tadi kesal karena diingatkan membawa gelas.'
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Suamiku ternyata sudah cukup segar untuk mengembalikan perkataanku sendiri.
'Ya sudah. Tanya dulu. Seperti aku tadi.'
Riyan mengangguk, bukan dengan senyum mengejek. Ia berdiri setelah merasa cukup beristirahat, lalu kami keluar bersama.
Saat makan malam, aku membawa piring ke meja. Ayah hendak mengambilkan nasi untuk Riyan, tetapi suamiku lebih dulu meraih wadahnya.
'Saya ambil sendiri, Yah. Ayah duduk.'
'Tidak apa-apa, Pak.'
'Kalau saya mau tambah, saya ambil lagi.'
Aku menahan senyum ketika Ayah akhirnya duduk. Ternyata menolak pelayanan bisa dilakukan tanpa membuat orang yang menawarkan merasa dimarahi.
Makan malam kami tidak langsung penuh pembicaraan penting. Ayah menanyakan perjalanan dan Riyan menjawab bagian yang tadi kulewatkan. Ketika Ayah bertanya apakah aku banyak tidur, aku segera menyela.
'Tidak banyak.'
'Berarti ada,' katanya.
'Ayah ini di pihak siapa?'
'Di pihak orang yang menyetir.'
Riyan tertawa sampai harus menunda minum. Aku pura-pura kesal, padahal senang mendengar suara mereka mengisi rumah bersamaan.
Setelah makan, Ayah mengatakan ia akan mencuci. Aku menoleh kepada Riyan. Ia berdiri sambil mengumpulkan piringnya sendiri.
'Saya bantu membawa. Kayla tadi sudah menata.'
Aku mengangkat piringku juga. Kami berakhir berdiri terlalu berdekatan di dapur sampai Ayah meminta salah satu bergeser.
Saat bergerak mundur, Riyan sempat menghalangi jalan Ayah. Mereka berdua bergeser ke arah yang sama, berhenti, lalu mengulang gerakan itu sekali lagi. Aku tertawa sebelum bisa menahannya.
'Om ke kanan saja. Ayah jangan ikut.'
'Kanan siapa?' tanya Riyan.
'Nah, ini kenapa dapurnya mendadak macet.'
Ayah akhirnya menunjuk tempat agar Riyan berdiri di sana. Untuk sesaat, ia memberi arahan tanpa menyelipkan sapaan Pak lebih dulu. Riyan menurut begitu saja. Aku menyukai pemandangan kecil itu lebih daripada seandainya mereka berdua membuat janji panjang untuk tidak saling sungkan.
'Tiga orang, pekerjaannya cuma begini,' katanya.
'Berarti cepat,' jawabku.
'Atau malah saling menghalangi.'
Aku mundur sambil membawa lap. Riyan mencuci beberapa peralatan yang kami pakai, sedangkan Ayah menyimpan makanan. Aku mengelap meja. Tidak semuanya menjadi rapi sekaligus, tetapi tidak ada seorang pun yang harus melayani dua orang lain dari awal sampai akhir.
Sesudahnya kami duduk di ruang depan. Riyan bertanya apakah ada keperluan rumah yang ingin Ayah bicarakan selama kami tinggal.
Ayah meluruskan punggung.
'Tidak ada, Pak. Semua cukup.'
'Ayah boleh bilang kalau ada,' kataku.
'Memang tidak ada yang mendesak.'
Aku hampir menyebutkan beberapa hal yang bisa kubayangkan, tetapi berhenti. Belum tentu barang yang menurutku perlu diganti mengganggu Ayah.
Riyan meletakkan gelasnya.
'Saya tidak sedang mengajak Ayah pindah. Kami cuma ingin tahu kalau ada yang bisa dikerjakan bersama selama di sini.'
Bahu Ayah sedikit turun.
'Saya tahu niat Bapak baik.'
'Om bukan datang memeriksa rumah,' kataku, lalu menatap Riyan. 'Kan?'
'Bukan.'
Ayah mengusap lututnya. Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara kecil dari luar rumah. Aku mulai menduga kami telah membuat pertanyaan sederhana terasa terlalu resmi.
Akhirnya Ayah menatap kami bergantian.
'Kalau Ayah bilang tidak butuh orang tinggal di sini, kalian percaya?'