'Boleh. Sini.'
Ayah membuka kedua lengannya, dan aku langsung memeluknya. Bau pakaian rumahnya begitu akrab sampai tenggorokanku terasa sempit. Aku menempelkan pipi ke bahunya, menahan napas sebentar, lalu malah mengeluarkannya dengan bunyi yang memalukan.
'Lho, kok menangis?'
'Tidak. Hidungku sedang berpendapat.'
Telapak Ayah bergerak pelan di punggungku. Ia tidak menyuruhku berhenti. Di belakang kami terdengar pintu mobil ditutup, kemudian langkah Riyan mendekat. Aku mengendurkan pelukan, tetapi belum benar-benar melepaskan tangan Ayah.
'Perjalanannya lancar, Pak?' tanyanya kepada Riyan.
'Lancar, Yah. Kami berhenti beberapa kali.'
Aku menoleh ketika Riyan menyalami Ayah. Sapaan Pak itu masih terdengar, sama seperti sebelumnya. Aku hampir menggoda, tetapi melihat Ayah mengusap telapak tangannya ke celana sebelum menerima tangan Riyan membuatku mengurungkan niat. Barangkali kebiasaan menjadi bawahan tidak langsung hilang hanya karena putrinya menikah dengan bosnya.
'Masuk dulu,' kata Ayah. 'Barangnya biar saya bantu.'
'Aku bawa tasku,' sahutku cepat.
Ayah sudah mengulurkan tangan ke tas kecilku. Gerakannya terhenti, lalu ia mengangguk.
'Iya. Ayah ambilkan minum.'
Aku berjalan masuk sambil memeluk tas, sedikit malu karena jawabanku tadi terdengar seperti orang menjaga barang dari perampasan. Padahal Ayah hanya melakukan hal yang biasa ia lakukan.
Rumah itu masih terasa seperti rumahku. Aku mengenali letak barang-barang, cahaya yang masuk, bahkan bagian lantai yang dulu sering kulalui tanpa memperhatikan apa pun. Namun kali ini ada sepasang sepatu Riyan di dekat pintu. Ada tas perjalanan kami yang diletakkan berdampingan.
Aku pulang sebagai anak Ayah, tetapi tidak sendirian.
Ayah menunjukkan tempat menyimpan barang agar kami tidak harus terus membongkar tas. Riyan menanyakan alas tidur tambahan, dan Ayah memperlihatkan yang bisa dipakai. Aku sempat menahan napas, khawatir muncul pertanyaan yang tidak ingin kujawab di depan pintu kamar.
Namun Ayah hanya bertanya apakah perlu dibantu membawanya.
'Nanti saya ambil sendiri, Yah,' jawab Riyan.
Aku memandang suamiku sebentar. Ia tidak menjelaskan kebiasaan tidur kami kepada Ayah, tidak pula membuat gurauan yang menjadikanku alasan. Aku merasakan bahuku mengendur. Di rumah sendiri pun, ternyata masih ada hal yang boleh tetap menjadi urusan kami berdua.
Setelah meletakkan tas di tempat yang ditunjukkan Ayah, aku kembali ke ruang depan. Ayah membawa minuman, sedangkan Riyan baru masuk dengan barang terakhir. Aku berdiri untuk membantu mengambil gelas dari tangannya.
'Pelan, masih ada airnya,' kata Ayah.
'Aku tahu, Yah. Ini gelas, bukan pajangan.'
'Iya, Ayah cuma mengingatkan.'
Nada suaranya biasa saja, tetapi aku merasakan panas naik ke pipi. Baru beberapa menit tiba, aku sudah dua kali menyambut perhatian Ayah seperti tantangan.
Aku meletakkan gelas dengan hati-hati, lalu duduk di dekatnya.
'Maaf. Aku tadi bukan marah.'
'Ayah juga tidak sedang memarahi.'
Riyan minum tanpa ikut menjadi penengah. Aku bersyukur ia tidak buru-buru menjelaskan diriku kepada Ayah. Aku masih bisa melakukannya sendiri, meskipun hasilnya kadang berantakan.
Kami mengabari Mama bahwa sudah tiba. Aku menelepon setelah bertanya apakah Ayah bersedia ikut menyapa. Ia merapikan duduk sebelum suara Mama terdengar, seolah telepon itu juga bisa melihatnya.
'Sudah sampai, Ma. Ayah ada di sini.'
Mereka bertukar salam dan kabar singkat. Mama mengingatkan kami beristirahat, sementara Ayah berterima kasih karena Kayla sudah ditemani di kota. Aku mendengar kata ditemani tanpa buru-buru menganggapnya berarti aku tidak bisa melakukan apa pun.
Setelah panggilan ditutup, Riyan menyandarkan tubuh. Wajahnya tampak lebih lelah daripada ketika masih menyetir.
'Om mandi dulu saja,' kataku.
'Nanti. Kamu mau lebih dulu?'
Aku menggeleng. 'Aku masih mau duduk sama Ayah.'
Ia mengangguk, mengambil keperluannya dari tas, kemudian meninggalkan kami. Aku mengikuti gerakannya sampai hilang dari pandangan. Ada rasa lega karena ia tidak menuntutku langsung sibuk mengurus kebutuhannya setelah sampai.
Ayah memperhatikan arah pandanganku.
'Pak Riyan capek.'
'Iya. Enam jam di jalan.'
'Kamu juga istirahat, nanti ngobrol lagi.'
'Aku tidak harus langsung disuruh tidur begitu pulang, Yah.'
Ayah mengangkat alis. Aku menghela napas sebelum mulutku membuat pertengkaran sendiri.
'Maksudku, aku masih ingin di sini.'
'Ya sudah. Duduklah. Ayah tidak mengusirmu.'
Aku mendekat sedikit. Ayah mengulurkan tangan dan merapikan sehelai rambut yang menempel di pipiku. Kali ini aku membiarkannya.
Ketika Riyan kembali dan mengambil waktu untuk berbaring, aku bergantian membersihkan diri. Setelah berganti pakaian, aku menemukan Ayah di dapur. Ia sedang memeriksa makanan yang sudah disiapkannya untuk kami. Aku berhenti di ambang pintu, melihat tangannya bergerak tanpa ragu.
'Ayah tadi masak?'
'Kalau bukan Ayah, siapa?'
Aku tersenyum kecil. 'Aku cuma tanya.'
'Sudah makan di jalan, kan? Ini nanti saja.'
Aku mengangguk, lalu memperhatikan ruang itu. Tidak ada kekacauan yang perlu diselamatkan. Ada peralatan yang sedang dipakai, ada yang sudah bersih, ada pekerjaan kecil yang belum dilakukan. Persis rumah yang dihuni, bukan rumah yang menunggu pemiliknya ditolong.
Aku menyentuh tepi meja.
'Setiap hari Ayah begini?'
'Begini bagaimana?'
'Kerja, pulang, mengurus makan sendiri.'
'Kadang sebelum kerja ada yang disiapkan. Kadang sesudahnya. Tidak selalu persis sama.'
'Ayah tidak kesepian?'
Tangannya berhenti sebentar. Ia memandangku, lalu menarik kursi agar kami bisa duduk.
'Kadang kangen kamu. Tapi kalau kamu tanya setiap menit Ayah sedih, ya tidak.'
Aku menelan ludah. Jawaban itu sedikit melegakan, sedikit juga membuatku merasa tidak lagi sepenting yang kubayangkan. Perasaan kedua itu membuatku malu.
'Kalau Ayah baik-baik saja, bukan berarti Ayah tidak kangen,' tambahnya.
'Aku belum bilang begitu.'
'Wajahmu sudah.'
Aku menutup pipi dengan kedua tangan. Ayah tertawa, dan mendadak dapur itu terasa lebih ringan. Aku ikut tertawa meski masih ingin memeluknya lagi.
Setelah beberapa saat, aku bangkit dan mengambil gelas kosong dari ruang depan. Ayah menyusul ketika aku meletakkannya di dekat tempat cuci.
'Taruh saja, nanti Ayah.'
Aku menahan gelas itu sebentar, lalu meletakkannya dengan benar.
'Aku mau mencucinya.'
'Baru sampai, Kay.'
'Cuma gelas. Aku tidak mau membongkar rumah.'
Ayah menghela napas, tetapi tidak merebutnya. Aku mulai mencuci, sadar ia masih berdiri di sampingku. Kehadirannya membuat gerakanku justru terlalu hati-hati.
'Ayah jangan menonton seperti aku sedang ujian.'
'Ayah cuma mau mengambil lap.'
Aku menoleh dan melihat lap yang tertutup sikuku.
'Oh.'
Ia mengambilnya sambil menyembunyikan senyum. Aku menggeser tubuh dan mencoba tidak tertawa duluan.
Sesudah gelas diletakkan, Ayah menyeka tangannya. Ia menatapku lebih lama daripada tadi.
'Kamu membantu karena ingin, atau takut Ayah mengira kamu belum jadi istri yang baik?'