'Sekarang, Om.'
Aku menyambut tangannya. Telapak Riyan hangat, sedangkan tanganku terasa agak dingin meskipun matahari sudah menyinari halaman. Kami berjalan ke mobil. Sebelum masuk, aku menoleh sekali lagi kepada Mama yang masih berdiri di pintu.
'Kalau sudah sampai, kabari,' katanya.
'Iya, Ma. Bukan kalau sudah pulang lagi.'
Mama tertawa kecil. Aku melambaikan tangan, lalu duduk di sebelah Riyan dan memasang sabuk pengaman. Ketika mobil mulai bergerak, rumah perlahan bergeser dari pandanganku. Ada rasa aneh karena kali ini aku pergi meninggalkan Mama untuk menemui Ayah. Dulu, yang kutinggalkan justru Ayah.
Aku mengambil ponsel dari tas kecil di dekat kakiku. Dompet tetap berada di dalamnya. Kukirim pesan bahwa kami sudah berangkat, lalu menyampaikan kabar yang sama kepada Mama.
'Ayah belum membalas.'
'Baru beberapa detik, Kay.'
'Aku tahu. Ini laporan, bukan pengaduan.'
Riyan melirik sebentar sebelum kembali memperhatikan jalan. Senyumnya membuatku sadar bahwa sejak tadi tubuhku condong ke depan, seolah mobil bisa lebih cepat kalau aku membantu dengan posisi duduk.
Aku menyandarkan punggung.
'Om, kalau aku terus melihat jalan, enam jam terasa lebih pendek atau lebih panjang?'
'Tergantung kamu menghitung setiap tikungannya atau tidak.'
'Kalau dihitung, aku bisa punya pekerjaan sampai malam.'
Ponselku bergetar beberapa saat kemudian. Ayah membalas singkat, meminta kami berhati-hati dan tidak terburu-buru. Aku membaca pesannya dua kali. Tidak ada kalimat tentang rumah yang sepi atau ia tidak sanggup menunggu. Kalimat tambahan seperti itu rupanya lebih sering dibuat kepalaku sendiri.
Kuketik bahwa kami sudah sarapan. Sebelum mengirim, aku menambahkan pertanyaan apakah Ayah sudah makan. Lalu kuhapus kata sudah yang kutulis dua kali karena terlalu cepat.
'Ayah pasti ketahuan aku gugup.'
'Karena salah ketik?'
'Karena aku tanya sarapan padahal tadi sudah dikabari.'
Riyan terkekeh. Aku menyimpan ponsel setelah Ayah menjawab dengan gambar ibu jari. Entah kenapa, gambar sekecil itu bisa membuat mataku panas.
Selama hampir dua jam berikutnya, kami berbincang sebentar-sebentar. Aku menunjuk bagian perjalanan yang terasa familier, lalu mengaku tidak yakin ketika Riyan bertanya apakah aku benar-benar ingat. Beberapa kali kami hanya diam. Suara kendaraan dan udara pendingin mengisi ruang di antara kami.
Diam kali ini tidak seperti diamnya Riyan setelah aku berpakaian menyerupai Alana dahulu. Ia tetap menjawab ketika kutanya, tetap mengingatkanku minum saat aku mulai menggosok tenggorokan. Aku tidak harus melucu sepanjang jalan untuk memastikan ia masih bersedia menemaniku.
Ketika mulai pegal, aku menggeser duduk.
'Mau berhenti sebentar?' tanyanya.
'Boleh? Belum tengah perjalanan.'
'Yang pegal kakimu, bukan jadwalnya.'
Kami berhenti di tempat istirahat yang memungkinkan Riyan memarkir mobil dengan aman. Setelah mesin dimatikan, aku turun dan meluruskan punggung. Rasanya menyenangkan berdiri tanpa harus menatap punggung kendaraan lain.
Riyan mengambil air minum. Aku menerima botolku, lalu berdiri di samping mobil sambil memperhatikan wajahnya.
'Om capek?'
'Belum terlalu. Tapi istirahat sekarang juga bagus.'
Aku membuka ponsel untuk mengabari Ayah bahwa kami berhenti sebentar. Kali ini aku tidak menunggu balasan sambil memegang layarnya. Ponsel kusimpan, kemudian aku berjalan beberapa langkah bersama Riyan.
'Kalau nanti sampai, Om jangan langsung menawarkan Ayah ikut pulang.'
Langkahnya melambat.
'Om belum berencana begitu.'
'Aku takut nanti aku sendiri yang minta.'
Riyan tidak segera menjawab. Kami berhenti di tempat yang tidak menghalangi orang lewat. Ia menutup botolnya sebelum menatapku.
'Kamu boleh rindu. Kalau ingin meminta sesuatu, tanyakan. Tapi dengarkan jawabannya juga.'
'Aku sudah dengar jawabannya lewat telepon.'
'Berarti tidak perlu diuji lagi begitu turun dari mobil.'
Aku menunduk memandangi ujung sepatuku. Ucapannya agak menusuk karena benar. Aku hampir menyiapkan bujukan baru sebelum melihat keadaan Ayah dengan mataku sendiri.
'Kadang aku merasa kalau aku senang di rumah Mama, aku jahat sama Ayah.'
'Kalau Ayah senang menjalani harinya di rumah sendiri, apa beliau jahat sama kamu?'
Aku mengangkat wajah. Pertanyaan itu menyebalkan karena aku tidak punya jawaban yang bisa membela pikiranku.
'Tidak.'
'Nah.'
'Om kalau bilang nah begitu seperti menang lomba.'
'Hadiah lombanya menyetir lagi.'
Aku tertawa, lalu menyerahkan botol untuk disimpan. Kami kembali ke mobil setelah menggunakan waktu istirahat secukupnya. Sebelum berangkat, Riyan memastikan aku sudah nyaman. Kali ini aku bersandar tanpa merasa perlu mendorong perjalanan dengan tubuhku.
Sekitar dua jam kemudian, kami berhenti lagi untuk makan dan menunaikan salat. Tidak ada perlombaan menghabiskan makanan. Riyan makan dengan tenang, dan aku baru menyadari bahwa rasa lapar membuatku lebih cerewet daripada biasanya.
'Aku tadi bilang tidak lapar, ya?'
'Dua kali.'
'Anggap saja pendapatku sudah diperbarui.'
Aku mengirim kabar singkat kepada Mama ketika kami kembali duduk di mobil. Balasannya mengingatkan Riyan supaya tidak memaksakan diri. Ia meminta kubacakan, lalu mengatakan bahwa kami memang beristirahat.
Perjalanan diteruskan. Aku sempat tertidur, tetapi terbangun ketika mobil melambat. Pemandangan di luar mulai benar-benar kukenali. Aku merapikan rambut dengan jari dan bertanya berapa lama aku memejamkan mata.
'Tidak lama.'
'Jawaban Om mencurigakan.'
'Kamu tidak mendengkur kalau itu yang dikhawatirkan.'
'Aku tidak tanya!'
Tawanya membuat pipiku menghangat. Aku ingin membalas, tetapi sebuah belokan yang kukenal membuat perhatianku berpindah seluruhnya.
Kurang lebih enam jam sejak meninggalkan rumah Mama, kami memasuki jalan menuju rumah Ayah. Perutku seperti diisi kupu-kupu yang tidak tahu cara antre. Aku mencari ponsel, lalu mengurungkan niat menelepon karena rumah itu sudah terlihat.
Ayah berdiri di depan pintu.
Bukan terbaring sakit seperti ketakutan yang diam-diam kususun. Bukan pula tampak kehilangan arah. Ia berdiri dengan pakaian rumah dan mengangkat tangan ketika melihat mobil kami.
Riyan memarkir, mematikan mesin, lalu menoleh kepadaku.
'Sudah sampai.'
Aku mengangguk, tetapi jari-jariku malah kesulitan menekan pengunci sabuk. Riyan menunggu, tidak mengambil alih. Setelah berhasil melepaskannya, aku membuka pintu.
Ayah sudah melangkah mendekat.
'Kayla.'
Baru mendengar suaranya tanpa perantara ponsel, semua kalimat sambutan yang kusiapkan lenyap. Aku berjalan cepat, lalu berhenti tepat di hadapannya.
'Ayah, aku boleh peluk dulu?'