'Iya. Kita periksa sesudah makan,' jawab Riyan. 'Kalau masih ada yang belum jelas, kita bereskan sebelum tidur.'
Aku mengangguk dan berdiri membantu Mama. Wadah bekal yang tadi dibawa sudah berada di rak, bersih dan siap dipakai lagi pada kesempatan lain.
Makan malam berlangsung dengan beberapa pertanyaan tentang perjalanan. Mama memastikan kami akan berangkat setelah sarapan, bukan terburu-buru keluar dengan perut kosong.
'Kalau di jalan perlu berhenti, berhenti saja,' katanya.
Riyan mengangguk. 'Iya, Ma.'
Aku menambahkan bahwa kami tidak akan menjanjikan waktu tiba sampai menit tertentu. Perjalanan biasanya sekitar enam jam, tetapi kami perlu memberi ruang untuk istirahat.
Mama setuju. Tidak ada yang menuntut kami tiba cepat untuk membuktikan betapa rindunya aku kepada Ayah.
Sesudah makan dan membereskan meja, kami duduk bertiga di ruang depan. Riyan menjelaskan bahwa bagian pekerjaan yang perlu ditata sebelum pergi sudah siap. Ia tetap membawa ponsel, tetapi tidak merencanakan menghabiskan kunjungan dengan membuka pekerjaan sepanjang hari.
Aku mendengarkan, kemudian bertanya apa yang terjadi jika ada urusan yang perlu ditangani.
'Om akan bilang kepadamu kalau perlu waktu sebentar. Bukan tiba-tiba menghilang atau membiarkan kamu menebak,' jawabnya.
Aku mengangguk. Aku tidak meminta ia berpura-pura tidak punya tanggung jawab lain. Aku hanya ingin keberadaan kami di desa benar-benar berarti hadir bersama.
Kami memastikan rencana empat malam masih berlaku. Setelah itu, aku menghubungi Ayah untuk memberi kabar terakhir sebelum keberangkatan.
Aku mengatakan Mama dan Riyan berada di dekatku, lalu menggunakan pengeras suara setelah Ayah setuju.
'Besok kami berangkat setelah sarapan, Yah. Nanti Kay kabari lagi waktu sudah jalan.'
'Iya. Hati-hati. Jangan terburu-buru.'
'Ayah tidak perlu menunggu di luar dari pagi.'
Ayah tertawa. 'Rumahnya tidak akan pindah, Kay.'
Aku ikut tertawa, meskipun mataku sedikit panas. Aku bisa membayangkan pintu rumah itu, tempat-tempat yang kukenal, dan suara Ayah yang besok tidak lagi datang dari sebuah layar.
Riyan menyampaikan salam dan memastikan tidak ada perubahan waktu dari pihak Ayah. Jawabannya tetap sama: ia menunggu kami, dan kami boleh mengabari kalau perjalanan memerlukan waktu lebih lama.
Sesudah panggilan ditutup, aku memandang Mama.
'Kalau kami sudah sampai, aku kabari.'
'Mama tunggu kabarnya.'
'Kalau Mama butuh sesuatu, bilang. Tapi aku juga tidak akan menelepon setiap sebentar untuk memeriksa.'
Mama tersenyum. 'Mama masih bisa berada di rumah sendiri beberapa hari.'
Aku mengangguk. Aku ingin menghormati pilihannya sebagaimana aku sedang belajar menghormati pilihan Ayah.
Kami merapikan hal-hal yang diperlukan sebelum tidur. Aku memastikan pakaian yang akan kubawa sudah cukup, lalu menaruh perlengkapan pribadiku di tas. Riyan mengerjakan barangnya sendiri.
Ketika aku melihat tasnya belum ditutup, aku hampir bertanya apakah harus kubantu. Ia sedang memeriksa sesuatu, bukan sedang meminta pertolongan. Aku kembali mengerjakan bagianku.
'Om sudah membawa pakaian yang cukup?' tanyaku.
'Sudah. Kamu?'
'Sudah. Tapi aku terus merasa perlu menambah.'
Ia melihat baju yang masih kupegang. 'Memangnya itu untuk apa?'
Aku memandangi baju tersebut. Tidak ada alasan khusus, selain takut pilihan yang kubawa nanti kurang tepat.
'Untuk kalau tiba-tiba aku tidak suka yang lain.'
Riyan tersenyum kecil. 'Itu bisa terjadi setiap pagi.'
Aku tertawa, lalu mengembalikannya ke lemari. Aku ingin perjalanan ini terasa seperti berkunjung kepada Ayah, bukan pindah rumah dengan seluruh kemungkinan yang bisa kupikirkan.
Aku memeriksa barang yang benar-benar diperlukan sekali lagi. Setelah itu aku menutup tas dan menjauh setengah langkah supaya tidak terus membukanya.
Riyan tidak mengambil alih pemeriksaanku. Ia menyelesaikan tasnya sendiri, lalu menaruhnya berdampingan dengan tasku. Dua tas yang tidak terlalu besar itu membuat rencana besok terasa nyata.
Aku masih gugup, tetapi kegugupan itu kini berada bersama rasa senang, bukan menutupi seluruhnya.
'Apa yang masih kurang?' tanyanya setelah beberapa saat.
Aku melihat sekeliling kamar.
'Rasanya ada. Tapi mungkin itu perasaan takut lupa, bukan barang.'
Ia tersenyum dan menunggu ketika aku memeriksa sekali lagi.
Ponsel, dompet, pakaian, dan perlengkapan yang biasa kupakai sudah ada. Foto Alana tetap tersimpan di dalam dompet. Kertas pengingat memasak kutinggalkan di tempatnya yang kering di dapur, karena bukan itu yang perlu kubawa untuk menunjukkan kepada Ayah siapa diriku sekarang.
Aku menutup tas.
Riyan berdiri di dekat sofa. 'Sudah?'
'Sudah. Kalau ada yang kurang, semoga bukan suaminya.'
'Om belum masuk tas.'
'Memang tidak muat.'
Kami tertawa pelan. Sesudahnya, aku duduk di tepi tempat tidur. Kegembiraan yang sejak tadi membuatku sibuk mulai memberi ruang kepada rasa lain.
'Om, aku senang mau pulang. Tapi aku juga takut begitu sampai, aku kembali meminta Ayah melakukan semuanya.'
Riyan duduk di sofa.
'Kamu bisa tetap menjadi putrinya tanpa menyerahkan semua yang sekarang sudah bisa kamu kerjakan.'
'Aku tahu. Aku cuma takut kebiasaannya lebih cepat daripada pikiranku.'
'Kalau terjadi, kamu bisa menyadarinya dan mencoba lagi.'
Aku mengangguk. Ia tidak menjanjikan empat malam yang sempurna. Aku juga tidak mau membawa ujian baru ke rumah Ayah, seolah harus pulang dengan kemampuan yang membuat semua orang kagum.
Kami tidur setelah memastikan waktu bangun. Aku sempat terjaga sebentar, melihat tas di dekat lemari, lalu kembali memejamkan mata.
Saat terbangun keesokan paginya, aku masih mengantuk dan perlu beberapa saat untuk mengingat rencana perjalanan kami. Aku bangun, salat bersama Riyan, lalu bersiap. Setelah memeriksa tas sekali lagi, kami membawanya turun.
Mama sudah berada di dapur. Kami sarapan bertiga sebelum berangkat. Aku makan cukup meskipun ingin segera melihat jalan menuju desa.
Riyan membawa barang ke mobil setelah meja dibereskan. Aku memastikan tidak ada yang tertinggal di kamar, lalu kembali menemui Mama.
Aku mencium tangannya. Mama memelukku singkat, memanggil namaku, dan memintaku menjaga diri.
'Iya, Ma. Aku kabari nanti.'
Aku melepaskan pelukan tanpa merasa sedang meninggalkannya untuk selamanya. Kami hanya pergi beberapa hari, lalu akan kembali ke rumah yang masih perlu kami pelajari bersama.
Di depan pintu, Riyan menunggu dengan kunci mobil. Ia menanyakan apakah aku ingin memeriksa sesuatu lagi.
Aku menggeleng. Tas sudah dibawa, Ayah sudah tahu, dan Mama telah berpamitan. Tidak semua rasa gugup berarti ada keputusan yang belum dibuat.
Riyan mengulurkan tangan.
'Kita berangkat sekarang, Kay?'