'Cukup,' jawab Riyan setelah melihat isinya. 'Kalau Om masih lapar nanti, Om bisa menambah sendiri. Kamu tidak perlu memenuhi wadah sampai tutupnya menyerah.'
Aku melihat nasi yang tadi hampir kutambah lagi.
'Baik. Tutupnya juga punya batas.'
Mama tertawa kecil. Aku merapikan wadah dan menyiapkan yang perlu dibawa, lalu meletakkannya di tempat yang tidak akan terlupa saat Riyan berangkat.
Kami sarapan bersama. Aku mencicipi tempe dari masakan yang sama. Rasanya tidak berubah hanya karena sebagian masuk ke kotak makan. Aku tetap merasa gugup, tetapi tidak lagi mencoba membaca setiap gerakan mulut suamiku.
Riyan mengucapkan terima kasih kepada aku dan Mama. Ia tidak membuat pengumuman bahwa istrinya sudah menjadi orang yang berbeda.
Sesudah makan, ia mengerjakan bagiannya membereskan meja. Aku mencuci perlengkapan yang kupakai, sementara Mama merapikan sisanya.
Ketika Riyan hendak mengambil tas kerja, aku mengingatkan bekalnya.
'Sudah Om lihat,' katanya.
'Aku hanya memastikan. Jangan sampai yang ditinggal justru bagian yang paling kuingat sejak semalam.'
Ia tersenyum dan mengambilnya.
Di pintu, aku hampir bertanya pukul berapa ia akan makan. Namun jawaban tentang waktu kerja sudah kudengar. Hari ini ia mungkin bisa berhenti seperti biasa, mungkin sedikit terlambat.
'Kalau sempat sesudah makan, kabari,' kataku.
'Iya.'
'Bukan harus langsung begitu tutup dibuka.'
'Om tahu.'
Aku menyalami tangannya, lalu melepas. Riyan berangkat membawa bekal itu tanpa membuatku merasa harus ikut mengawasi sampai suapan terakhir.
Sepeninggalnya, aku kembali ke dapur. Mama menanyakan apakah aku ingin duduk sebentar.
Aku mengangguk.
Di kursi dapur, aku membuka ponsel untuk memastikan Riyan sudah membawa wadahnya, lalu berhenti sebelum mengetik.
Aku melihat sendiri ia mengambilnya di pintu.
Aku menutup layar dan meletakkan ponsel di meja. Mama memperhatikan gerakanku, tetapi tidak menggodaku.
'Aku hampir menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah kulihat,' kataku.
'Karena masih memikirkan bekalnya?'
'Mungkin karena ingin tetap ikut mengurusnya meskipun sudah dibawa.'
Mama mengangguk pelan. 'Sekarang bagian Riyan.'
Aku menarik napas dan menyandarkan punggung. Ternyata memberikan sesuatu juga berarti membiarkannya keluar dari pengawasanku.
Aku tidak perlu mengetahui menit wadah dibuka, urutan makanan dimakan, atau ekspresi pertama suamiku agar niatku tetap berarti. Aku bisa menanyakan pendapatnya nanti, ketika ia memang punya waktu menjawab.
Pikiran itu belum langsung membuatku tenang. Namun setidaknya aku tidak mengubah rasa gugup menjadi sepuluh pesan yang harus dibalas orang lain.
Aku mengambil gelas dan minum. Sesudahnya, aku lebih siap berdiri untuk mengerjakan barang yang memang masih menjadi bagianku hari ini.
'Aneh, Ma. Yang dibawa cuma satu kotak. Pikiranku yang ikut banyak.'
Mama tersenyum. 'Nanti kalau sudah biasa, mungkin tidak seramai ini.'
Aku memandang pintu dapur. Ada bagian diriku yang ingin segera memotret semua yang tadi dibuat dan mengirim kepada Ayah. Aku ingin ia bangga.
Tetapi aku sudah memberitahu rencana kunjungan. Besok aku bisa bercerita langsung, tidak perlu mengumpulkan bukti bahwa putrinya pulang dengan kemampuan baru.
Aku minum, kemudian mulai menyiapkan barang untuk perjalanan. Aku mengambil pakaian secukupnya untuk beberapa malam, lalu memastikan perlengkapan yang biasa kupakai tidak tertinggal.
Mama melihatku membawa tas ke dekat lemari.
'Banyak sekali?'
'Baru terlihat banyak. Isinya belum.'
Aku mencoba memasukkan baju, lalu mengeluarkan satu lagi. Aku tidak perlu membawa pilihan untuk setiap kemungkinan suasana hati. Yang penting nyaman dan cukup.
Di antara barang-barang itu, aku memeriksa dompet. Foto Alana tetap di dalamnya. Aku menutup kembali tanpa mengeluarkannya.
Aku tidak sedang meninggalkan keluarga Riyan ketika pergi menemui Ayah. Aku juga tidak perlu membuktikan kedekatanku dengan rumah ini melalui barang yang sengaja kutinggal atau kubawa.
Menjelang siang, aku turun untuk makan bersama Mama. Ponselku belum memuat kabar tentang bekal.
Aku memeriksa sekali, lalu meletakkannya.
'Sudah ada kabar?' tanya Mama.
'Belum. Mungkin belum sempat.'
Aku mengambil piring dan makan. Kali ini bukan latihan yang kuumumkan kepada semua orang. Aku hanya lapar dan makanan sudah tersedia.
Setelah makan, kabar Riyan masuk. Ia baru selesai makan siang. Bekalnya cukup, tempenya enak, dan ia berterima kasih.
Aku membaca pesan itu sambil berdiri di dekat meja.
Aku ingin langsung bertanya apakah benar enak, apakah habis, apakah ada yang kurang. Jempolku sudah bergerak sebelum aku berhenti.
Aku membalas sama-sama, lalu mengatakan Mama juga akan senang mendengar nasinya ikut dinikmati.
Tidak ada foto wadah kosong sebagai bukti. Aku tidak memintanya. Bekal itu pemberian yang kupilih, bukan benda yang mengikat suami untuk mengirim laporan.
Aku memberi tahu Mama, lalu melanjutkan merapikan barang. Rasa senangnya tetap ada meskipun tidak kubesarkan dengan banyak pertanyaan.
Sore itu Riyan memberi kabar perkiraan pulang. Ia mengatakan persiapan pekerjaan untuk ditinggal sudah berjalan sesuai rencana, dan ia akan memeriksa bagian terakhir sebelum berangkat besok.
Aku membalas akan melanjutkan menyiapkan barang. Tidak ada janji yang berubah, tetapi aku tetap menunggu penjelasannya nanti malam sebelum merasa semuanya pasti.
Ketika ia pulang, bekal diletakkan di dapur sebelum ia membersihkan diri. Aku melihat wadah itu dan tersenyum kecil.
Riyan tidak menyerahkannya sambil menunggu dipuji karena sudah menghabiskan makanan. Ia hanya mengatakan akan mencucinya setelah berganti pakaian.
Aku membiarkannya menepati ucapan itu. Tanganku sempat ingin mengambil, tetapi aku ingat ada beberapa barangku sendiri yang masih perlu disiapkan.
Sesudah ia kembali ke dapur, aku duduk di dekat meja.
'Ternyata bisa dibawa tanpa runtuh di jalan,' kataku.
Ia tertawa pendek. 'Bisa.'
'Aku senang. Tapi besok jangan berharap aku menyiapkan banyak makanan untuk perjalanan juga.'
'Om tidak berharap begitu.'
'Kita bisa makan sebelum berangkat dan berhenti kalau perlu.'
'Iya.'
Aku mengangguk. Aku tidak ingin satu keberhasilan kecil langsung tumbuh menjadi pekerjaan berikutnya yang tidak pernah kupilih.
Riyan mengeringkan wadah, lalu menaruhnya di rak.
'Barangmu bagaimana?'
'Sebagian besar sudah. Aku tidak membawa seluruh lemari.'
'Syukurlah. Mobilnya juga perlu tempat untuk Om.'
Aku tertawa. Untuk sesaat, perjalanan besok terasa menyenangkan tanpa semua rasa bersalah yang biasanya ikut menumpang.
Lalu aku menatapnya lebih serius.
'Om, setelah makan malam nanti kita pastikan lagi semuanya, ya. Aku tidak ingin berangkat dengan ada janji yang masih kita kira-kira.'