'Kita bisa tinggal empat malam,' jawab Riyan. 'Om sudah memperhitungkan waktu pergi dan pulang. Bukan membawa kamu enam jam di jalan untuk duduk sebentar.'
Aku menatapnya. Empat malam terasa seperti hadiah besar, tetapi aku tidak ingin langsung mengubahnya menjadi ucapan terima kasih yang berlebihan.
'Jadi pekerjaan Om memang sudah bisa diatur?'
'Iya. Yang perlu Om tangani sebelum berangkat akan dibereskan dulu.'
Aku mengangguk. 'Sekarang tinggal memastikan Ayah.'
Riyan membersihkan diri, lalu kami makan bersama Mama. Setelah itu aku menghubungi Ayah dari ruang depan. Kali ini bukan percakapan pribadi yang perlu kusembunyikan dari semua orang. Aku memberi tahu Ayah bahwa Riyan dan Mama berada di dekatku sebelum menyalakan pengeras suara.
Kami menyampaikan rencana berangkat dua hari lagi setelah pagi cukup terang, dengan perjalanan sekitar enam jam. Aku mengatakan kami ingin tinggal empat malam.
'Ayah bisa menerima kami waktu itu?'
'Bisa, Kay. Kabari saat sudah berangkat.'
Aku tersenyum lebar sebelum sempat menahan.
'Jangan repot menyiapkan macam-macam.'
'Yang datang anak sendiri. Memangnya harus menyiapkan pesta?'
Aku tertawa. Riyan ikut tersenyum, lalu menyapa dan memastikan Ayah tidak punya kegiatan yang akan terganggu.
Ayah tetap memanggilnya Pak Riyan. Aku sudah terbiasa, tetapi malam itu sapaan tersebut membuatku kembali ingat bahwa hubungan mereka tidak sama dengan hubunganku dan suami.
Aku tidak mencoba membetulkannya sekarang. Yang penting, Ayah menjawab keinginannya sendiri, bukan sekadar mengiyakan karena yang mengajak adalah orang yang lebih ia hormati.
'Ayah benar-benar bisa, kan?' tanyaku sekali lagi.
'Bisa. Kalau tidak bisa, nanti Ayah bilang.'
Aku mengangguk. Aku yang meminta beliau jujur, jadi aku juga perlu belajar menerima jawaban tanpa terus mencari penyangkalan di belakangnya.
Mama menyampaikan salam. Ayah membalas dan mengucapkan terima kasih karena telah menemaniku di kota. Mama menjawab singkat, tanpa menceritakan seluruh percakapan kami tentang Alana.
Panggilan ditutup setelah kami memastikan akan memberi kabar jika rencana berubah.
Aku menaruh ponsel di meja dan memandang Mama.
'Mama mau ikut?'
Mama menggeleng pelan. 'Kali ini kalian berdua dulu. Mama ingin tetap di rumah.'
Aku menatap wajahnya, mencoba tidak langsung menganggap ia akan kesepian dan perlu dibujuk.
'Mama yakin?'
Mama mengangguk. 'Mama ingin kalian punya waktu bersama Ayahmu. Mama juga punya kegiatan di rumah.'
Aku hampir mengatakan kami bisa menyesuaikan kalau ia tidak nyaman. Kalimat itu sudah berada di ujung lidah sebelum kusadari aku baru saja mendengar jawaban yang jelas.
'Baik, Ma.'
Riyan ikut mengangguk. Ia tidak menambahkan bujukan yang membuat penolakannya terasa kurang sah.
Aku memperhatikan tangan Mama yang bertumpu di pangkuan. Rumah ini masih menyimpan kesedihan yang belum habis dibicarakan, tetapi aku tidak ingin menjadikan kesedihan itu alasan untuk menganggapnya tidak bisa memilih.
Pergi beberapa hari juga tidak berarti aku harus menebusnya dengan janji akan menelepon setiap jam. Kami bisa berkabar dengan hangat tanpa saling memeriksa apakah semua orang cukup tenang.
'Aku pasti kangen masakan Mama,' kataku akhirnya.
Mama tersenyum. 'Di sana kamu juga bisa membantu Ayah.'
'Iya. Tapi jangan bayangkan aku pulang langsung menguasai dapurnya.'
Mama tertawa, dan aku merasa sedikit lebih ringan karena bisa membicarakan perjalanan tanpa harus menjadikannya perpisahan yang berat.
'Kalau Mama berubah pikiran, bilang sebelum kami menyiapkan semuanya, ya.'
'Iya.'
Riyan menanyakan apakah ada yang perlu disiapkan di rumah selama kami pergi. Mama menyebut hal-hal biasa yang bisa kami rapikan sebelum berangkat, bukan permintaan mendatangkan orang lain atau mengubah seluruh rencana.
Aku mengangguk. Kami akan tetap berkabar, dan Mama tidak perlu memberikan laporan setiap saat untuk membuktikan ia baik-baik saja.
Setelah membantu membereskan ruang depan, aku naik bersama Riyan. Aku langsung membuka lemari, lalu berhenti.
'Masih besok satu hari,' katanya.
'Aku tahu. Aku cuma memeriksa apakah bajuku ikut senang.'
Ia tertawa pendek. Aku akhirnya mengambil tas yang akan dipakai dan menaruhnya di tempat yang tidak menghalangi jalan. Belum kuisi semuanya. Malam ini aku ingin tidur cukup karena besok masih ada rencana bekal.
Aku juga tidak ingin kegembiraan bertemu Ayah membuatku meninggalkan semua hal yang sudah kusanggupi di rumah ini tanpa bicara.
Kami bersiap tidur. Riyan di sofa, aku di tempat tidur. Sesaat sebelum memejamkan mata, aku mendengar suaranya.
'Besok tetap tidak wajib membuat bekal kalau kamu ingin menyiapkan perjalanan.'
'Aku masih ingin mencoba. Pakai yang sudah direncanakan.'
'Baik.'
Aku tersenyum dalam gelap. Keinginanku sendiri terdengar lebih jelas ketika tidak harus dipertahankan dari desakan orang lain.
Keesokan paginya, setelah salat, aku turun ke dapur. Mama sudah menyiapkan bagian yang akan ia kerjakan. Aku mengambil wadah yang kemarin kucocokkan tutupnya.
'Kali ini pasangannya tidak kabur,' kataku.
Mama tertawa. 'Semoga.'
Aku mencuci tangan dan menyiapkan tempe. Aku sudah pernah melakukan pekerjaan ini, tetapi tetap meminta Mama berada dekat ketika aku menggunakan kompor.
Ia tidak berdiri menghalangi. Ia mengerjakan nasi untuk sarapan dan sesekali memperhatikan apakah aku perlu bantuan.
Ketika ada gerakan yang membuatku ragu, aku berhenti dan bertanya, bukan memaksakan diri agar terlihat berani. Mama menjelaskan, lalu menunggu sampai aku benar-benar mengerti sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Tidak ada percobaan aneh untuk membuktikan aku mandiri. Aku ingin belajar merasa mampu, bukan memenangkan sesuatu dari rasa takut.
Setelah tempe siap, aku memisahkan bagian untuk sarapan dan bagian yang akan dibawa. Mama membantu menyediakan nasi dari masakan yang sama.
Aku memandang wadah yang mulai terisi.
Ternyata ukurannya tidak terlalu besar. Semalam di kepalaku, bekal ini seperti tugas besar yang akan memperlihatkan semua kekuranganku. Sekarang yang kulihat hanya nasi dan tempe yang disiapkan bersama dengan bagianku yang jelas.
Riyan masuk sambil membawa gelas.
'Sudah siap?'
'Sebentar. Aku belum menutupnya.'
Ia menaruh gelas di meja dan mulai menata piring sarapan. Tidak ada tangan yang langsung mengambil wadah untuk memeriksa isinya.
Aku mengatur letaknya supaya tidak penuh berlebihan, lalu melihat tutup yang sudah kusisihkan.
'Mama, nasi ini buatan Mama. Nanti aku bilang begitu.'
Mama mengangguk. 'Tidak perlu mengaku semuanya kamu kerjakan.'
'Aku tahu. Aku cuma tidak mau terlalu senang sampai lupa.'
Riyan mendengar dari dekat meja.
'Om juga sudah melihat siapa mengerjakan apa.'
Aku tersenyum dan mengambil tutup wadah.
'Om, sebelum kubereskan, porsi segini cukup untuk makan siangmu?'