'Boleh,' jawab Riyan. 'Om tidak akan berangkat sambil menunggu kamu menyelamatkan makan siang Om.'
Aku tertawa pelan. 'Bagus. Aku baru punya niat, belum punya pasukan.'
'Mulai dari yang bisa.'
Aku mengangguk dan mencoba tidur. Tidak ada janji bahwa besok pagi aku harus bangun lebih awal daripada semua orang. Aku tidak ingin sebuah bekal kecil membuatku diam-diam menghukum diri sendiri.
Keesokan paginya, setelah salat dan bersiap, aku turun bersama Riyan. Mama sudah berada di dapur. Aku menceritakan keinginanku saat kami menata sarapan.
'Aku ingin menyiapkan bekal untuk Om. Mungkin besok. Hari ini aku lihat dulu yang perlu disiapkan.'
Mama mengangguk. 'Mau membawa apa?'
'Tempe yang sudah biasa. Nasinya bisa dari yang dimasak untuk sarapan.'
'Bayamnya?'
'Untuk makan di rumah dulu. Aku tidak mau membawa semuanya hanya karena sudah pernah memasaknya.'
Mama tersenyum. 'Boleh.'
Aku senang karena tidak ada yang menambahkan menu supaya bekalnya terlihat lebih pantas. Aku belum ingin menjadikan kotak makan kecil sebagai tempat seluruh kemampuanku dinilai.
Riyan mengerjakan bagiannya menata meja. Kami sarapan, lalu aku mengatakan hari ini ia tetap makan seperti biasa.
'Iya,' jawabnya.
'Om tidak kecewa?'
Ia menatapku. 'Tadi malam sudah dijawab.'
Aku menunduk sebentar, lalu tersenyum. 'Aku mengecek apakah jawaban pagi sama.'
'Sama.'
Sesudah makan, kami membereskan peralatan. Riyan berangkat setelah mengatakan akan mengabari tentang kemungkinan waktu kunjungan.
Aku mengantar sampai pintu, kemudian kembali ke dapur. Mama sudah mengambil beberapa wadah dari rak. Aku memilih yang tidak terlalu besar, lalu mencoba memasang tutupnya.
Tutup pertama tidak cocok.
Aku menatapnya dengan curiga. 'Kenapa semua bentuknya hampir sama tapi tidak mau berteman?'
Mama tertawa dan menunjuk wadah lain.
'Itu pasangannya yang di situ.'
Aku mencoba lagi. Tutupnya akhirnya menutup dengan baik.
'Nah. Ternyata aku bukan gagal menikahkan wadah.'
Aku meletakkannya di meja, kemudian mencoba membukanya kembali. Mama memperhatikan tanpa mengambil dari tanganku.
'Jangan sampai Om nanti memerlukan bantuan seluruh proyek untuk membuka bekal.'
'Buka dulu pelan-pelan,' kata Mama.
Aku akhirnya berhasil, lalu mengangguk puas. Rupanya hal kecil seperti itu memang lebih baik dicoba di rumah daripada kujadikan kejutan untuk orang yang sedang lapar.
Mama bertanya apakah aku ingin membawa dua wadah.
Aku menggeleng. 'Satu dulu. Kalau nanti memang perlu, baru tambah.'
'Tidak perlu terlihat banyak.'
'Iya. Aku mau menyiapkan makan, bukan menunjukkan isi dapur.'
Mama tersenyum. Aku menyukai bahwa ia tidak menganggap kesederhanaan sebagai tanda kurang perhatian.
Aku sempat membayangkan menambahkan banyak hal agar Riyan merasa lebih disayang. Lalu aku ingat bahwa ia sudah meminta yang sederhana, bukan bukti kasih dalam setiap ruang kosong.
Aku bisa menanyakan kebutuhannya dan percaya jawabannya. Aku tidak harus menebak diam-diam, menambah pekerjaan, lalu kecewa kalau hasilnya tidak disambut seperti yang kubayangkan.
Mama menggeleng sambil tersenyum. Aku mencuci dan mengeringkan yang akan dipakai, lalu menyimpannya di tempat yang mudah dijangkau besok.
Pekerjaan itu sederhana. Aku hampir merasa malu karena baru memilih wadah seolah sudah melakukan sesuatu yang besar.
Namun Mama tidak mendesakku segera memasak. Ia menanyakan apakah aku ingin menyiapkan tempe lebih mandiri besok, seperti rencana yang pernah kami bicarakan.
Aku mengangguk.
'Aku sudah tahu caranya. Aku cuma ingin Mama tetap dekat kalau ada yang perlu kutanyakan.'
'Iya.'
'Jangan karena ini bekal Om, Mama malah membuat semuanya untukku.'
Mama melihat tangannya sendiri, kemudian tertawa kecil.
'Kamu sudah mengenal kebiasaan Mama.'
'Aku juga punya kebiasaan bilang tidak usah padahal perlu bantuan. Kita sama-sama awas.'
Kami menyepakati bagian masing-masing tanpa membuat daftar panjang. Mama menangani nasi untuk sarapan, aku mengerjakan tempe dengan pendampingannya, lalu mengambil porsi yang sesuai untuk dibawa.
Sesudah itu aku melanjutkan kegiatan biasa. Aku merapikan kamar dan beristirahat. Wadah kosong tetap kosong sampai waktunya dipakai. Aku tidak perlu mengisinya hari ini hanya untuk membuktikan niatku sungguhan.
Menjelang siang, Riyan mengirim pesan bahwa waktu istirahatnya sedikit mundur. Aku membacanya ketika hendak makan bersama Mama.
Aku membalas agar ia makan ketika sudah memungkinkan, lalu meletakkan ponsel. Aku tidak menunda makan untuk menemaninya lapar dari jauh.
Mama memperhatikan aku yang kembali menyendok nasi.
'Riyan belum makan?'
'Belum. Katanya setelah urusannya sebentar lagi.'
'Kamu tidak menunggu kabar dulu?'
'Aku makan sekarang. Nanti kalau dia memberi kabar, aku baca.'
Mama mengangguk. Aku tidak mengatakan itu dengan bangga berlebihan. Perutku memang lapar, dan suamiku sedang mengurus waktunya sendiri. Tidak semua kedekatan perlu dibuktikan dengan melakukan hal yang sama pada menit yang sama.
Setelah makan dan salat, aku melihat balasannya. Ia sudah makan. Aku tersenyum kecil, kemudian membalas dengan menceritakan tutup wadah yang salah pasangan.
Jawabannya singkat: jangan sampai yang dibawa besok cuma tutupnya.
Aku tertawa sendiri. Untuk sesaat, percakapan kami hanya tentang hal bodoh yang menyenangkan. Tidak ada mantan pacar, foto, atau keputusan besar yang harus segera dijelaskan.
Sore hari, pesan lain masuk. Kali ini tentang kunjungan.
Riyan mengatakan pekerjaan yang perlu diatur memungkinkan kami berangkat dua hari lagi. Ia belum menganggapnya keputusan bersama sebelum aku dan Ayah menyatakan waktunya sesuai.
Aku membaca pesannya beberapa kali. Rasa rindu bergerak cepat, lebih cepat daripada pikiranku.
Aku hampir langsung membalas jadi.
Lalu aku berhenti.
Aku menghubungi Ayah melalui pesan, menjelaskan kemungkinan waktunya dan meminta ia mengabari kapan bisa bicara malam nanti. Aku tidak menulis bahwa kami pasti datang. Kami baru memiliki kesempatan yang perlu dicocokkan.
Sesudah pesan terkirim, aku turun menemui Mama.
'Sepertinya kami bisa ke desa dua hari lagi, Ma. Tapi aku mau memastikan waktu Ayah dulu.'
Mama mengangguk. 'Bagus. Jangan membuat kalian saling menunggu tanpa kabar.'
Aku tersenyum. 'Aku hampir begitu.'
Ketika Riyan pulang menjelang malam, aku menyambut dengan ponsel di tangan.
'Ayah bisa bicara nanti setelah makan,' kataku.
Riyan mengangguk. 'Kita pastikan bersama.'
Aku memandang wajahnya, lalu mengajukan hal yang belum sempat kubicarakan.
'Kalau waktunya cocok, kita benar-benar punya waktu untuk tinggal sebentar, kan? Bukan hanya tiba, makan, lalu pulang lagi?'