'Bisa,' jawab Riyan. Ia menarik kursi dan duduk di depanku. 'Biasanya Om berangkat sekitar setengah delapan, setelah sarapan. Pagi Om memeriksa pekerjaan yang berjalan hari itu. Menjelang siang, kalau tidak ada yang perlu ditangani langsung, Om bisa berhenti untuk makan.'
Aku mendengarkan tanpa menyela.
'Bagian sore kadang berubah. Ada pemeriksaan yang lebih lama atau pekerjaan yang perlu dirapikan sebelum ditinggal. Jadi Om bisa memberi perkiraan pulang, tetapi tidak selalu menjanjikan satu jam yang persis.'
'Kalau berubah, kapan Om tahu?'
'Kadang sejak siang. Kadang baru sore.'
Aku mengangguk. Itu lebih berguna daripada jawaban sibuk yang selama ini bisa berarti apa saja.
'Kalau sudah tahu sejak siang, kabari siang. Jangan menunggu aku bertanya sore.'
'Iya.'
'Misalnya Om bilang akan lebih lambat, aku bisa makan bersama Mama dulu. Nanti aku tetap bisa menemani Om duduk kalau memang ingin.'
'Tidak harus makan dua kali.'
Aku memandangnya. 'Kalau makanannya enak, itu urusan lain.'
Ia tertawa pendek. Aku ikut tersenyum, lalu merapikan ujung baju di pangkuan.
Aku ingin punya waktu untuk kegiatan yang tidak menunggu suami. Bukan kegiatan besar atau rencana yang harus diumumkan. Bisa beristirahat, merapikan barang sendiri, atau berbicara dengan Mama tanpa terus mengukur berapa lama lagi sebelum Riyan datang.
'Aku juga tidak mau menghubungi Om setiap sebentar hanya karena tidak tahu harus melakukan apa,' kataku.
'Kamu tidak perlu membuat diri sibuk terus supaya tidak menunggu.'
Aku mengangguk. Itu benar. Memenuhi rumah dengan pekerjaan baru hanya akan mengganti satu macam penantian dengan kelelahan.
Aku ingin tahu gambaran harinya, lalu memberi hari milikku ruang untuk berjalan juga. Aku tidak sedang meminta semua waktu kami disatukan sampai tidak ada bagian yang bisa dijalani sendiri.
'Aku tidak minta laporan setiap pindah tempat. Aku cuma ingin tahu kapan aku bisa mengatur makan, istirahat, atau menelepon Ayah.'
Riyan melihat gelas yang tadi kuletakkan kembali di meja, lalu memandangku.
'Kalau Om belum bisa memastikan, Om bisa bilang belum pasti. Kamu tidak perlu menunda semuanya.'
Aku mengangguk. Di kepalaku, hidup bersama selama ini berarti menyesuaikan diri dengan kegiatan suami. Aku baru mulai memahami bahwa menyesuaikan bukan selalu menunggu.
'Om biasanya makan siang bagaimana?'
'Di sela pekerjaan. Tidak selalu waktunya sama.'
'Sering terlambat?'
'Kadang.'
Aku menyipitkan mata. 'Kadang yang jujur atau kadang supaya aku berhenti bertanya?'
Ia tertawa pendek. 'Yang jujur.'
Aku menahan senyum. Aku tidak ingin berubah menjadi orang yang menghitung setiap suapnya, tetapi aku ingin tahu bagian hidup yang selama ini hanya kusebut kerja.
Kami membicarakan waktu ketika pesan mungkin tidak langsung dibaca. Riyan mengatakan ia akan memberi kabar saat memungkinkan, bukan menjawab sambil mengerjakan sesuatu yang membutuhkan perhatian.
Aku menyetujui itu. Aku juga tidak ingin ia menjadikan ponsel sebagai benda yang harus selalu dipegang demi menenangkan aku.
'Kalau aku tidak langsung jawab, bukan berarti aku marah,' kataku.
'Om tahu.'
'Belum tentu. Kadang aku memang marah.'
Ia mengangkat alis.
'Tapi kalau marah, nanti aku bilang. Jangan setiap pesan singkat dianggap ujian.'
Riyan tertawa. Aku akhirnya ikut tertawa, lalu merasa percakapan ini lebih menyerupai dua orang yang sedang menyusun hari bersama daripada seseorang yang meminta izin memakai waktunya sendiri.
Aku mengambil ponsel dan membuka catatan kosong. Kutulis beberapa hal yang ingin kuingat: kabar perubahan waktu, tidak menunggu makan kalau lapar, dan membicarakan rencana sebelum membuat janji.
Riyan melihat tulisanku.
'Ini jadwal atau peringatan?'
'Pengingat. Om mau tambah jangan membuat istri menebak?'
'Sudah ada di semuanya.'
Aku tersenyum dan meletakkan ponsel.
Pembicaraan kemudian beralih kepada kunjungan ke desa. Aku mengatakan Ayah ingin tahu sebelum kami berangkat, tetapi tidak meminta hari tertentu.
'Om akan memeriksa apakah tiga hari lagi bisa kita pakai untuk berangkat,' kata Riyan. 'Bukan keputusan pasti malam ini. Om perlu memastikan pekerjaan yang harus diatur.'
Aku mengangguk. Tiga hari lagi membuat rinduku tiba-tiba mempunyai bentuk, dan justru itu yang membuatku perlu berhati-hati.
'Aku jangan langsung bilang ke Ayah kita pasti datang, ya.'
'Bilang sedang diperiksa dulu, kalau kamu ingin memberinya gambaran.'
'Aku tunggu kabar yang lebih jelas. Nanti Ayah sudah menunggu dari pagi padahal kita belum siap.'
Riyan mengangguk. Kami sepakat ia akan mengabari hasil pemeriksaannya besok. Setelah itu kami bertanya kepada Ayah apakah waktunya sesuai.
Aku tidak meminta perjalanan dipercepat. Enam jam di jalan tetap perlu disiapkan. Aku ingin tiba dengan tenaga untuk benar-benar bersama Ayah, bukan hanya membawa rasa rindu yang kehabisan napas.
Ketika pembicaraan selesai, aku mengambil gelas untuk dibawa turun. Riyan ikut berdiri membawa gelasnya sendiri.
Di dapur, kami mencuci gelas tanpa menyalakan seluruh lampu rumah. Mama sudah beristirahat, dan aku tidak ingin suara peralatan makan membangunkannya.
Aku melihat wadah makan yang tersimpan di rak.
'Om pernah membawa bekal dari rumah?'
'Pernah.'
'Kalau aku menyiapkan besok atau lusa, bisa dibawa?'
Riyan menoleh. 'Bisa. Tapi kamu tidak harus menambah pekerjaan karena kita baru membicarakan jadwal.'
'Aku tahu. Aku sedang ingin mencoba.'
Ia mengangguk, lalu menunggu. Aku mengambil satu wadah untuk melihat ukurannya dan mengembalikannya lagi.
'Bukan masakan baru. Yang aku sudah bisa.'
'Itu cukup.'
Aku menatapnya. 'Jangan nanti dipuji di depan Mama seolah aku baru menemukan cara memberi makan manusia.'
Riyan menahan tawa agar tidak terlalu keras.
'Om akan bilang terima kasih seperti biasa.'
Aku mengangguk. Ada rasa senang yang tidak perlu kucurigai hanya karena beberapa hari terakhir kami banyak membicarakan batas. Aku boleh ingin menyiapkan sesuatu untuk suami. Keinginanku tidak otomatis berubah menjadi kewajiban.
Kami kembali ke kamar. Riyan memindahkan kursinya ke dekat meja, sedangkan aku menyimpan catatan di ponsel.
Sebelum tidur, aku mengatakan bahwa besok pagi ingin bertanya kepada Mama tentang menyiapkan porsi yang bisa dibawa. Bukan meminta Mama memasakkan semuanya lalu aku mengaku menyiapkan bekal.
Riyan tersenyum. 'Om dengar kamu ingin mencoba sendiri.'
'Dengan bantuan kalau perlu.'
'Iya.'
Aku berbaring dan menarik selimut. Untuk malam itu, jadwal kerja tidak lagi terasa seperti pintu tertutup yang hanya bisa kutunggu dari luar.
Namun rencana kecil tentang bekal membawa satu pertanyaan lain. Kalau pagi nanti aku berubah pikiran karena lelah atau belum siap, apakah aku bisa mengatakannya semudah saat menawarkan?
Aku menoleh ke arah sofa.
'Om, kalau besok aku baru memilih wadahnya dulu dan belum jadi memasak bekal, boleh tetap dianggap rencana yang sedang dicoba?'