Mama tersenyum kecil. 'Ternyata rindu juga membuat orang ingin mengatur.'
Aku mengangguk. 'Aku baru sadar setelah mau melakukannya.'
Mama menggantung lap, lalu duduk sebentar.
'Kalau Ayah ingin tetap di sana, kamu bisa tetap dekat dengan cara yang lain.'
'Aku tahu. Tapi kadang pesan di ponsel rasanya tidak cukup.'
'Memang tidak sama.'
Aku menatapnya. Aku senang Mama tidak mengatakan teknologi membuat jarak hilang. Jarak tetap ada. Enam jam perjalanan tetap enam jam, meskipun sebuah pesan bisa sampai dalam hitungan detik.
Aku duduk di dekatnya sebentar, lalu melanjutkan kegiatan pagi. Kami merapikan yang perlu dibereskan, kemudian aku mengambil waktu untuk beristirahat. Aku tidak terus-menerus melihat layar menunggu malam.
Siang itu, ketika hendak mengirim pesan kepada Ayah tentang makan, aku berhenti sejenak. Aku hampir menulis tiga pertanyaan sekaligus, lalu menghapus dua di antaranya.
Aku cukup menanyakan apakah kegiatannya lancar dan mengatakan aku akan menelepon setelah beliau siap malam nanti.
Balasannya tidak langsung datang. Aku membiarkan ponsel berada di meja dan makan bersama Mama. Tidak setiap keterlambatan jawaban berarti sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Sore bergerak tanpa kejadian besar. Aku merapikan pakaian, mandi, lalu membantu menyiapkan meja sebelum Riyan pulang. Ia mengabari sedang menuju rumah dan tiba tidak lama setelahnya.
Kami makan bertiga setelah ia membersihkan diri. Riyan menanyakan apakah aku masih akan menelepon Ayah.
'Iya. Beliau sudah bilang bisa sesudah kegiatan malam.'
'Om tidak akan mengganggu.'
Aku tersenyum kecil. 'Kalau mau lewat ambil baju, boleh. Tidak harus bersembunyi di bawah terus.'
Ia tertawa. Namun aku tetap memilih menelepon di kamar dengan tenang, dan ia memberi waktu sebelum naik.
Aku membawa segelas air ke kamar sebelum duduk. Setelah bertukar pesan singkat memastikan waktunya, aku menghubungi Ayah. Kami saling memberi salam dan bertanya kabar. Suaranya terdengar seperti biasa, tidak hati-hati berlebihan seperti sedang berbicara kepada sesuatu yang mudah pecah.
'Yah, Kay mau tanya. Ayah masih ingin tetap tinggal di rumah sana?'
'Iya, Kay.'
Jawabannya datang tanpa ragu. Aku mengusap seprai di samping paha.
'Bukan cuma karena tidak mau merepotkan kami?'
'Ayah memang ingin di sini. Ayah punya kegiatan, punya rumah yang ingin dijaga. Bukan berarti Ayah tidak ingin bertemu kamu.'
Aku mengangguk meskipun ia tidak melihat.
'Kay sempat berpikir kalau Ayah sayang, seharusnya mau dekat terus.'
Ayah tertawa kecil, lalu berhenti sebelum aku merasa ditertawakan.
'Ayah juga bisa berpikir begitu waktu kamu berangkat. Tapi kamu sedang membangun rumah tanggamu.'
Aku menunduk. Rasanya hangat dan sedikit sedih mendengarnya.
'Jadi kita sama-sama boleh kangen tanpa salah satu harus pindah?'
'Boleh.'
Aku tersenyum. Untuk sekali itu, jawaban sederhana terasa cukup.
Kami membicarakan cara berkabar. Aku ingin tetap mengirim pesan pendek setiap hari ketika sempat, tetapi tidak menuntut jawaban seketika. Untuk telepon yang lebih panjang, kami akan saling menanyakan waktu selepas kegiatan.
'Kalau Ayah sedang bekerja, tidak usah memaksakan menjawab,' kataku. 'Nanti kalau sudah bisa, kabari.'
'Kamu juga begitu. Tidak harus meninggalkan semua pekerjaan setiap Ayah menulis.'
Aku mengangguk. Selama ini aku mengira kedekatan berarti selalu tersedia. Ternyata kami bisa tetap saling menjaga tanpa menjadikan ponsel sebagai tali yang harus terus ditarik.
'Kalau satu hari Kay belum punya cerita panjang, boleh cuma bilang kabar baik?'
'Boleh. Bukan setiap telepon harus ada kejadian besar.'
'Kalau yang diceritakan cuma bayam lagi, Ayah bosan?'
'Ayah mungkin tanya kapan tempenya mendapat giliran.'
Aku tertawa. 'Tempenya sedang menunggu jadwal.'
Ayah ikut tertawa, dan aku merasa kami menemukan sesuatu yang sempat hilang di tengah pembicaraan berat: kebiasaan bercanda tanpa harus mengubah setiap kalimat menjadi nasihat.
Aku ingin tetap punya bagian itu bersamanya. Aku hanya tidak ingin candaan dipakai menutup pertanyaan yang belum dijawab.
'Kay juga ingin dengar kegiatan Ayah. Jangan cuma menjawab sudah makan terus,' kataku.
'Iya. Ayah akan cerita.'
Aku tersenyum, menatap gelas yang tadi kubawa sebelum menelepon. Airnya masih tersisa. Aku mengambil satu teguk, lalu kembali menempelkan ponsel ke telinga, lebih tenang daripada saat panggilan dimulai.
'Kalau ada hal penting, bilang jelas,' tambahku. 'Jangan cuma pesan suruh telepon lalu menghilang. Kay bisa memikirkan seratus macam.'
Ayah tertawa. 'Iya. Kalau cuma kangen, Ayah bilang kangen.'
'Bagus. Kangen boleh, bikin teka-teki jangan.'
Aku ikut tertawa. Percakapan itu akhirnya terdengar seperti kami, bukan hanya dua orang yang sedang mencoba memperbaiki kesalahan lama.
Aku lalu menyebut rencana kunjungan bulanan bersama Riyan. Belum ada tanggal pasti, dan aku mengatakannya apa adanya.
'Nanti cocokkan dengan pekerjaan kalian. Kabari Ayah sebelum berangkat.'
'Kay tidak mau janji hari tertentu sebelum Om memeriksa waktunya.'
'Baik.'
'Perjalanannya jauh juga. Kay ingin bisa benar-benar duduk sama Ayah, bukan datang sebentar lalu panik harus pulang.'
Ayah menyanggupi untuk membicarakan waktu ketika rencana kami lebih jelas. Ia tidak meminta aku segera datang sebagai bukti sudah memaafkan.
Aku menarik napas. Ada satu kalimat lagi yang ingin kuucapkan sebelum panggilan berakhir.
'Yah, kalau nanti Kay cerita sedang senang, bukan berarti masalah yang kemarin semuanya sudah hilang. Kalau Kay cerita sedih, bukan berarti Kay menyesal setiap hal.'
'Ayah akan berusaha mendengar ceritanya dulu.'
Aku mengangguk. Itu jawaban yang lebih berarti daripada jaminan bahwa beliau tidak akan pernah salah bicara lagi.
Kami menutup panggilan setelah saling mengingatkan beristirahat. Aku menaruh ponsel, lalu duduk sebentar tanpa segera mencari orang untuk memastikan aku sudah mengatakan semuanya dengan benar.
Ketika Riyan mengetuk dan masuk, aku sudah berdiri hendak membawa gelas turun.
'Ayah bagaimana?'
'Beliau tetap ingin tinggal di sana. Aku sudah tanya, bukan menebak.'
Riyan mengangguk.
'Kami sepakat berkabar tanpa harus langsung menjawab setiap pesan. Dan nanti jadwal kunjungan dibicarakan setelah lebih jelas.'
'Baik. Om akan melihat pekerjaan yang perlu diatur.'
Aku meletakkan gelas kembali sebentar. Selama ini aku hanya tahu Riyan berangkat, bekerja di proyek dekat rumah, lalu pulang. Jika terlambat ia mulai memberi kabar, tetapi aku belum banyak tahu bagaimana harinya berjalan.
Aku ingin menyusun kegiatanku sendiri tanpa terus menunggu suara mobil, dan ingin membicarakan kunjungan tanpa hanya menyerahkan semua keputusan kepadanya.
Aku duduk di sofa dan menatapnya.
'Om, bisa ceritakan seperti apa jadwal kerja Om sehari-hari? Aku ingin kita menyusun waktu bersama, bukan cuma menunggu kabar kapan Om pulang.'