'Ayah memilih tetap di rumahnya, Kay,' jawab Riyan. 'Kamu tidak meninggalkannya tanpa pilihan.'
Aku menunduk. Aku tahu itu. Aku ingat Ayah menolak ikut tinggal bersama kami, juga menolak tawaran agar ada orang yang menemaninya. Tetapi mengetahui pilihannya tidak selalu membuat rinduku terasa lebih ringan.
'Aku takut beliau bilang tidak apa-apa cuma supaya aku tidak khawatir.'
'Karena itu tanyakan. Jangan langsung menganggap kamu lebih tahu apa yang membuatnya nyaman.'
Aku mengangkat wajah. Kalimat itu sedikit menyakitkan, mungkin karena aku bisa melihat diriku sendiri di dalamnya. Aku baru meminta agar orang-orang bertanya sebelum menentukan yang terbaik untukku. Sekarang aku hampir melakukan hal yang sama kepada Ayah.
'Om pernah menawarkan bantuan,' kataku.
'Iya. Ayah sudah menyampaikan keinginannya.'
'Tapi kalau nanti Ayah membutuhkan sesuatu, aku ingin beliau bisa bilang tanpa merasa mengganggu.'
'Kamu bisa mengatakan itu tanpa menjadikan bantuan sebagai alasan menyuruh pindah.'
Aku memandang Riyan. Ia tidak sedang menawarkan jawaban yang besar, hanya mengembalikan percakapannya kepada orang yang perlu kutanya.
'Jadi bukan aku membuat daftar kebutuhan yang belum tentu beliau butuhkan.'
'Bisa mulai dari menanyakan yang memang diperlukan.'
Aku mengangguk. Ada rasa malu mengingat betapa mudahnya aku membayangkan diri sebagai orang yang paling tahu hanya karena sedang khawatir.
Padahal Ayah masih menjalani hari-harinya, bekerja, memilih waktu makan, dan menjaga rumahnya tanpa aku berada di sampingnya. Ia bukan mendadak kehilangan kemampuan karena putrinya pindah ke kota.
'Aku takut ternyata yang ingin ditolong itu aku sendiri,' kataku.
Riyan menatapku.
'Aku yang tidak tahan kangen, lalu membuatnya terdengar seperti Ayah perlu diselamatkan.'
'Kamu boleh kangen, Kay.'
Aku tersenyum kecil. 'Ternyata tidak semua perasaan harus langsung diberi mobil pindahan.'
Riyan tertawa pelan. Aku ikut tertawa, lalu merasa sedikit lebih ringan karena berhasil melihat keinginanku tanpa harus menganggap diriku anak yang buruk.
'Jadi tidak perlu ditawarkan terus sampai beliau lelah menolak.'
Riyan mengangguk.
Aku menyandarkan tubuh. Kerinduan membuatku ingin melakukan sesuatu yang besar: membawa Ayah ke kota, menaruhnya di dekatku, memastikan setiap makan dan setiap istirahat bisa kulihat.
Padahal itu mungkin hanya membuat aku tenang, bukan membuat Ayah bahagia.
'Mungkin aku harus tanya kabar tanpa langsung menyusun cara memindahkan beliau.'
Riyan tersenyum kecil. 'Bisa mulai dari itu.'
Mama memanggil kami untuk makan. Aku bangkit dan mengikuti Riyan ke meja. Di tengah makan, Mama menanyakan apakah Ayahku sehat.
'Katanya baik, Ma. Sudah makan juga.'
'Syukurlah.'
Aku hampir menambahkan bahwa aku ingin memintanya tinggal di sini lagi. Namun aku berhenti. Tidak ada gunanya menambah suara orang lain untuk membujuk Ayah sebelum aku mendengar keinginannya sekali lagi dengan tenang.
Aku malah bertanya kepada Riyan tentang janji kunjungan kami.
'Kita masih akan ke desa sesuai janji bulanan itu, kan?'
'Iya. Om tidak melupakannya.'
'Jangan tiba-tiba bilang besok karena aku sedang kangen.'
Riyan mengangguk. 'Kita perlu melihat jadwal dan memberi tahu Ayah. Perjalanannya enam jam, bukan keluar membeli makan.'
Mama tersenyum kecil mendengar perbandingan itu. Aku juga. Bayangan perjalanan yang panjang membuatku sadar kunjungan perlu disiapkan, bukan dijadikan jawaban cepat untuk rasa bersalah.
'Aku mau tahu waktunya sebelum terlalu dekat,' kataku.
'Nanti kita cocokkan dengan pekerjaan Om dan waktu Ayah.'
Aku menerima jawaban itu sebagai rencana yang masih perlu dipastikan, bukan tanggal yang sudah dijanjikan. Aku tidak ingin menuliskan sesuatu di kepala lalu kecewa pada janji yang sebenarnya belum diberikan.
Sesudah makan, kami membereskan bagian masing-masing. Mama tidak membicarakan bagaimana membuat Ayah mau pindah. Aku bersyukur karena rumah ini tidak berubah menjadi tempat menyusun bujukan.
Di kamar, aku membuka percakapan dengan Ayah. Ada beberapa pesan pendek tentang makanan dan kabar. Aku ingin bertanya banyak hal sekaligus: apakah rumah sepi, apakah pekerjaan melelahkan, apakah beliau benar-benar ingin tetap di sana.
Akhirnya aku hanya mengirim bahwa aku senang bisa bicara tadi dan ingin membicarakan cara berkabar besok jika beliau punya waktu.
Ayah membalas bahwa kami bisa menyesuaikan selepas kegiatannya.
Aku menunjukkan bagian tentang waktu itu kepada Riyan, bukan seluruh percakapan pribadi kami.
'Besok aku mau tanya langsung. Bukan minta Om membujuk.'
'Baik.'
'Kalau Ayah tetap mau di sana, aku perlu belajar tidak mendengar itu sebagai menolak dekat denganku.'
Riyan mengangguk. Ia tidak berkata pasti mudah. Aku menyukai bahwa belakangan ia mulai berhenti menjual kata mudah untuk sesuatu yang belum ia rasakan sendiri.
Malam itu kami bersiap tidur lebih cepat daripada malam-malam penuh pertanyaan sebelumnya. Aku masih memikirkan Ayah, tetapi tidak lagi membayangkan rumah desa hanya sebagai tempat kosong yang harus ditinggalkan.
Di sana ada kebiasaan yang ia kenal, pekerjaan yang ia pilih jalani, dan rumah yang ia ingin jaga. Aku tidak bisa melihat semuanya hanya dari rasa sepiku sendiri.
Pagi berikutnya kami bangun dan salat. Aku mengirim salam singkat kepada Ayah setelah memastikan belum perlu memulai percakapan panjang.
Balasannya datang ketika aku sudah turun membantu Mama. Ia menanyakan apakah aku sudah makan. Aku menjawab sedang menyiapkan sarapan.
Tidak ada pertanyaan tentang apakah aku sudah berubah pikiran dan ingin pulang. Aku merasa sedikit lebih tenang karena percakapan sulit kemarin tidak membuat setiap kabar setelahnya berubah menjadi keadaan darurat.
Riyan datang dan menata meja. Aku mengerjakan bagian yang sudah kukenal bersama Mama, tanpa menjadikan pagi itu ujian baru.
Saat makan, ponselku bergetar lagi. Aku melihat layar sebentar, lalu meletakkannya.
'Ayah?' tanya Riyan.
Aku mengangguk. 'Beliau bilang nanti malam bisa bicara.'
'Baik.'
Aku melanjutkan makan. Dulu aku mungkin langsung membalas tiga pesan sekaligus karena takut kesempatan itu hilang. Sekarang aku tahu bisa mengatakan setuju setelah tanganku tidak lagi memegang sendok.
Seusai sarapan, aku membalas pesan Ayah dan meminta ia memberi kabar ketika benar-benar senggang. Riyan bersiap berangkat.
Di pintu, ia bertanya apakah aku ingin membicarakan waktu kunjungan malam nanti setelah telepon.
'Iya. Tapi aku ingin tahu dulu waktu Ayah.'
Riyan mengangguk dan berpamitan.
Aku kembali ke dapur. Mama sedang mengeringkan tangan. Ia melihatku berhenti di dekat meja.
'Ada yang kamu pikirkan?'
Aku tersenyum kecil.
'Aku sedang belajar kangen tanpa langsung menyuruh orang pindah, Ma.'