'Yang belum sempat kamu bilang dulu,' jawab Ayah.
Aku menunduk, sedikit terkejut. Aku sudah menyiapkan diri menghadapi penjelasan panjang tentang niat baik, tetapi ia justru mempersilakanku berbicara.
'Kay tidak ingin semua yang Ayah lakukan dulu dianggap salah,' kataku. 'Kay tahu Ayah sayang. Tapi waktu Ayah bilang laki-laki lain pasti memaksa, Kay jadi merasa tidak punya banyak pilihan.'
Ayah diam.
'Kay belum tahu caranya menjadi istri. Kay juga takut mengecewakan Ayah. Jadi Kay lebih sibuk memikirkan bagaimana tidak merepotkan Om daripada mengenali apa yang Kay mau.'
Aku memutar gelas di meja, lalu menghentikannya. Aku ingin mendengar jawabannya tanpa memberi tangan pekerjaan yang bisa mengalihkan perhatian.
'Ayah pikir kalau kamu bersama orang yang Ayah kenal, kamu lebih aman,' katanya.
'Kenal sebagai orang yang bekerja dengan Ayah, bukan sebagai suami Kay.'
'Iya.'
Satu kata itu membuat dadaku sedikit longgar.
'Ayah terlalu yakin karena melihat Pak Riyan baik kepada Ayah. Ayah tidak bisa menjamin seluruh sikapnya di dalam pernikahan.'
'Dulu Ayah bilang tahu beliau luar dalam,' kataku.
'Iya. Ayah terlalu jauh mengatakan itu.'
Aku menekan bibir. Aku tidak sedang mengumpulkan ucapan lama untuk memenangkan perdebatan. Aku hanya membutuhkan Ayah mengakui bahwa kepastian yang dulu diberikannya ternyata tidak sebesar kedengarannya.
'Kay jadi berpikir kalau mengalami sesuatu yang berbeda, mungkin Kay yang salah memahami.'
'Tidak seharusnya kamu harus membantah pengalamanmu sendiri untuk membenarkan kata-kata Ayah.'
Aku diam beberapa saat. Di luar kamar terdengar suara kecil dari bawah, lalu kembali tenang. Kehidupan rumah ini terus berjalan sementara sebuah kalimat lama akhirnya berubah tempat di kepalaku.
Aku masih boleh menghormati Ayah tanpa menganggap semua penilaiannya tidak mungkin keliru.
'Kay juga pernah meminta dicarikan suami yang bisa menerima Kay apa adanya,' kataku. 'Jadi Kay tidak mau seolah-olah tidak pernah ikut memilih.'
'Kamu boleh ikut memilih dan tetap mengakui cara Ayah membujukmu membuat takut.'
Aku mengembuskan napas. Dua hal itu ternyata bisa benar pada saat yang sama. Aku tidak harus menghapus seluruh kemauanku sendiri agar keberatanku terhadap cara Ayah membujuk terdengar sah.
Aku menahan napas sebentar. Selama ini aku mengira keyakinan Ayah harus lebih benar daripada pengalamanku sendiri, sebab beliau lebih tua dan mengenal Riyan lebih lama.
'Jadi kalau Kay merasa tidak nyaman, bukan berarti Kay kurang bersyukur?'
'Bukan.'
Aku mengusap mata dengan punggung tangan.
'Ayah seharusnya menjelaskan apa yang perlu kamu pertimbangkan, bukan menakut-nakuti supaya kamu memilih yang Ayah anggap terbaik.'
Aku tidak langsung menjawab. Aku membutuhkan waktu untuk mendengar kalimat itu sebagai sesuatu yang sungguh dikatakan Ayah, bukan jawaban yang diam-diam kuharapkan.
'Ayah minta maaf, Kay.'
Air mataku jatuh. Aku menekankan jari ke sudut mata, kesal karena tisu berada sedikit jauh di atas meja rias.
'Kay dengar, Yah.'
Aku tidak mengatakan semuanya sudah tidak apa-apa. Aku menyayanginya, tetapi ucapan yang membuatku takut tidak langsung kehilangan pengaruh hanya karena hari ini sudah diberi nama.
Ayah melanjutkan dengan suara lebih pelan.
'Ayah juga terlalu sering melakukan semuanya untukmu. Lalu ketika kamu akan menikah, Ayah ingin kamu cepat bisa banyak hal. Padahal Ayah yang tidak membiasakanmu mencoba.'
Aku teringat masa ketika segala kebutuhan terasa muncul dengan sendirinya. Aku tidak pernah menghitung pekerjaan yang dilakukan Ayah sebelum aku bangun atau setelah aku tidur.
'Kay tidak mau kembali menyerahkan semuanya ke Ayah,' kataku. 'Sekarang Kay senang belajar. Kay cuma ingin belajar tanpa merasa terlambat menjadi orang yang pantas disayang.'
'Kamu tidak perlu lulus pekerjaan rumah supaya Ayah sayang.'
Aku tertawa kecil di sela tangis. 'Bagus. Bayam Kay belum bisa dipakai ujian.'
Ayah ikut tertawa, singkat. Suara itu membuatku lebih mudah bernapas.
Namun aku masih punya satu hal yang perlu dikatakan.
'Kalau nanti Kay cerita ada masalah, jangan langsung menyuruh lebih sabar hanya karena Om juga banyak baiknya.'
'Iya.'
'Dan jangan langsung menyuruh pulang kalau Kay belum bilang ingin pulang.'
Ayah terdiam sebentar.
'Ayah semalam menawarkan karena bingung bisa menolong apa dari jauh.'
'Kay tahu. Kay senang masih punya tempat pulang. Tapi kadang Kay cuma ingin didengar sebelum memutuskan apa yang perlu dilakukan.'
Ayah mengatakan ia akan bertanya dulu. Aku mengangguk, lalu mengambil tisu ketika akhirnya ingat aku boleh berdiri tanpa menghentikan percakapan.
Aku berjalan ke meja rias, mengusap wajah, kemudian kembali duduk. Tidak ada alasan untuk membuat diriku tetap tidak nyaman hanya supaya suara di telepon tidak berubah.
'Bagaimana dengan Pak Riyan sekarang?' tanya Ayah.
'Kami sedang belajar bicara lebih jujur. Om membantu pekerjaan rumah, memberi ruang kalau Kay belum ingin dekat, dan tidak memaksa Kay langsung senang setelah masalah dibicarakan.'
'Ayah senang mendengar itu.'
'Kay juga. Tapi Kay masih perlu melihatnya terus.'
'Iya.'
Aku tidak menceritakan rincian keintiman atau semua kalimat Tiara. Aku hanya mengatakan bahwa hubungan lama itu sudah dibicarakan dan Riyan telah menolak melanjutkannya. Ayah mendengar tanpa meminta nomor perempuan tersebut atau menyusun tindakan untukku.
Menjelang panggilan ditutup, Ayah bertanya apakah aku membutuhkan sesuatu sekarang.
'Untuk sekarang, didengar seperti ini dulu.'
'Baik, Kay.'
Kami sepakat bisa berbicara lagi tentang cara berkabar yang nyaman untuk kami berdua. Aku tidak meminta Ayah menjawab semua kekhawatiranku sore itu.
Setelah saling memberi salam, aku menutup telepon dan menaruh ponsel. Gelas air masih hampir penuh. Aku meminumnya pelan, baru menyadari tenggorokanku kering.
Aku turun membawa gelas. Mama sedang duduk di ruang depan. Ia melihat mataku, lalu memberi ruang di sebelahnya.
Aku duduk tanpa langsung bercerita.
'Sudah bicara?' tanyanya.
'Sudah. Ayah mendengar.'
Mama mengangguk. Tidak ada pertanyaan apakah aku sudah memaafkan semuanya.
Aku menyandarkan tubuh sebentar. Dadaku masih lelah, tetapi tidak terasa sesempit semalam.
Ketika Riyan pulang menjelang malam, aku berdiri untuk menyambut. Ia menatap wajahku, kemudian bertanya apakah aku ingin istirahat lebih dulu.
'Aku sudah duduk lama, Om. Kakiku masih berfungsi.'
Ia tersenyum kecil. Setelah membersihkan diri, ia menemuiku di ruang depan sementara Mama berada di dapur.
'Ayah bagaimana?'
'Kami bicara baik-baik. Beliau minta maaf karena dulu menakut-nakuti.'
Riyan mengangguk. Aku melanjutkan sebelum ia mengira seluruh urusanku dengan Ayah telah beres.
'Aku malah tambah kangen sekarang.'
Ia memperhatikan wajahku.
'Aku senang Ayah mau mendengar. Tapi aku masih merasa jahat karena membiarkan beliau tinggal sendiri di sana.'