'Kamu tidak harus menyembunyikan keadaan supaya Ayah tidak menyesal,' jawab Riyan. 'Om yang bertanggung jawab atas sikap Om kepadamu. Bukan Ayah, dan bukan kamu.'
Aku menatapnya. Jawaban itu tidak membuat ketakutanku hilang, tetapi memisahkan sesuatu yang sejak tadi kusatukan.
'Aku takut Ayah merasa gagal menjagaku.'
'Kalau beliau merasa begitu, kalian bisa membicarakannya. Tapi bukan dengan kamu mengatakan semuanya baik padahal tidak.'
Riyan menyandarkan punggung. Wajahnya masih tampak tegang.
'Om sendiri takut Ayah marah?'
'Iya.'
Aku terdiam. Aku tidak menyangka ia akan menjawab secepat itu.
'Tapi ketakutan Om bukan alasan untuk meminta kamu diam.'
Aku mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak merasa harus memilih siapa yang perlu kutenangkan lebih dulu.
'Ayah menawarkan aku pulang.'
Riyan menegakkan tubuh sedikit.
'Aku bilang aku kangen, tetapi belum ingin meninggalkan rumah tangga ini. Aku masih ingin menjalaninya.'
Ia mengembuskan napas. Aku melihat rasa lega itu, tetapi tidak membiarkannya menjadi akhir percakapan.
'Kalau suatu saat aku ingin berkunjung sendirian atau butuh ruang, aku ingin bisa membicarakannya. Bukan dianggap ancaman setiap kali aku menyebut rumah Ayah.'
'Baik.'
'Kita belum merencanakan itu sekarang. Aku cuma ingin kata pulang tidak selalu membuat semuanya panik.'
Riyan mengangguk. Kami tidak membahas perjalanan malam itu. Jarak enam jam tidak mendadak menjadi pendek hanya karena aku rindu.
Aku mengambil ponsel dari meja, memastikan panggilan sudah benar-benar tertutup, lalu meletakkannya kembali. Tanganku masih ingin mengirim pesan kepada Ayah bahwa aku tidak apa-apa.
Riyan melihat gerakanku, tetapi tidak mengambil ponsel itu.
'Om tidak penasaran Ayah bilang apa tentang Om?'
'Penasaran.'
'Tapi?'
'Om tidak ingin kamu merasa harus melaporkan pembicaraan kalian supaya Om bisa menyiapkan pembelaan.'
Aku memandangnya. Aku sudah terbiasa menceritakan hal yang terjadi kepada orang terdekat, tetapi baru menyadari tidak semua percakapan harus dipindahkan utuh dari satu orang kepada orang lain.
'Kalau ada yang perlu Om jawab, nanti aku bilang.'
'Iya.'
Aku mengusap layar yang mulai gelap. Rasa takutku belum hilang. Ayah masih mungkin sedih, Riyan masih mungkin malu, dan aku tetap orang yang tinggal bersama akibatnya besok pagi.
Namun setidaknya aku tidak harus mengurus semua perasaan itu malam ini dengan membuat cerita yang paling nyaman untuk mereka berdua.
Aku meletakkan ponsel agak jauh dari jangkauan bantal, lalu menarik selimut yang kusut di dekat kakiku. Aku ingin tidur sebagai diriku sendiri, bukan sebagai pembawa pesan yang menjaga agar dua laki-laki yang kusayangi tidak saling kecewa.
Namun aku sudah mengatakannya dengan lebih jujur: ada yang baik, ada yang sulit, dan aku ingin mencoba memperbaiki.
Aku tidak perlu menggantinya dengan kabar yang lebih manis lima menit kemudian.
Kami bersiap tidur. Riyan mengambil tempat di sofa. Aku berbaring menghadap sisi kamar yang lebih gelap, mendengar suara kecil ketika ia merapikan selimut.
'Om.'
'Iya?'
'Aku mungkin tidak langsung cerita semua jawaban Ayah nanti.'
'Tidak harus.'
Aku memejamkan mata. Ruang yang diberikan malam itu membuatku sedikit lebih mudah tidur, meskipun aku masih terbangun sekali dan memeriksa jam.
Keesokan pagi, setelah salat, aku melihat ponsel. Ada pesan Ayah yang dikirim pagi itu. Ia mengatakan ingin bicara lagi ketika kami tidak sedang terburu-buru.
Aku membalas bahwa sore atau malam aku bisa, lalu meminta ia mengabari setelah kegiatannya memungkinkan. Kami tidak menetapkan jam yang harus dipaksakan di tengah pekerjaan.
Di dapur, Mama memperhatikan mataku.
'Kurang tidur lagi?'
'Sedikit. Semalam telepon Ayah.'
Mama mengangguk. 'Kangen?'
'Iya. Kami juga bicara hal yang agak sulit.'
Ia menaruh wadah yang sedang dibawanya.
'Ayahmu khawatir?'
'Mungkin.'
Mama tampak hendak mengatakan sesuatu, kemudian bertanya, 'Kamu sudah memberi tahu bahwa di sini kamu dijaga?'
Aku menghela napas pelan. Aku tahu maksudnya baik, tetapi kalimat itu membuatku merasa harus segera menenangkan orang di desa.
'Aku cerita yang baik juga, Ma. Tapi aku tidak ingin harus membuktikan semuanya baik supaya Ayah tidak khawatir.'
Mama memandangku, lalu mengangguk perlahan.
'Iya. Mama tadi memikirkan perasaannya dulu.'
Aku mengambil piring dari lemari.
'Aku juga. Makanya susah sekali mulai cerita.'
Kami melanjutkan menata meja. Riyan datang dan mengerjakan bagiannya tanpa bertanya apa yang sedang kami bicarakan. Aku senang karena sarapan tidak berubah menjadi pembahasan tentang apakah aku terlalu banyak membuka masalah keluarga.
Aku makan cukup, lalu membantu membereskan. Sebelum berangkat, Riyan mengatakan akan mengabari jika waktunya berubah.
'Kalau Ayah menelepon waktu Om belum pulang, terima saja,' tambahnya.
'Aku memang akan terima.'
Ia tersenyum kecil. 'Iya. Om cuma mengingatkan bahwa tidak perlu menunggu Om.'
Aku mengangguk. Kami bersalaman, lalu ia berangkat kerja.
Hari bergerak pelan sesudahnya. Aku membantu Mama mengerjakan yang sudah disepakati, kemudian beristirahat. Beberapa kali aku melihat ponsel, tetapi tidak mengirim pertanyaan apakah Ayah marah.
Menjelang siang aku mengambil kertas pengingat memasak dari meja kamar dan mengembalikannya ke tempat kering di dapur. Aku tidak memerlukannya untuk ditunjukkan kepada Ayah sebagai bukti sudah menjadi anak yang lebih berguna.
Aku masih ingin bercerita tentang keberhasilanku. Hanya saja, aku tidak mau menjadikan keberhasilan sebagai syarat agar kesulitanku boleh didengar.
Sesudah makan siang dan salat, aku duduk bersama Mama sebentar. Ia tidak menanyakan apakah sudah ada balasan baru.
Kami berbicara tentang pakaian yang perlu dirapikan. Aku memilih mengerjakan beberapa, lalu berhenti. Tanganku lebih tenang ketika melakukan sesuatu yang jelas ujungnya.
Sore menjelang ketika pesan Ayah masuk. Ia sudah bisa berbicara. Aku membalas akan menelepon sebentar lagi, lalu mengambil air minum.
Mama melihatku membawa gelas menuju tangga.
'Mau menelepon?'
'Iya, Ma.'
'Kalau perlu ditemani setelahnya, Mama di bawah.'
Aku mengangguk. Tidak ada pesan agar jangan membuat Ayah tambah khawatir. Aku membawa kebaikan kecil itu ke kamar.
Aku duduk di sofa dan menelepon. Kali ini aku tidak menyiapkan cerita tentang makanan sebagai pembuka. Setelah salam dan menanyakan apakah waktunya benar-benar luang, aku mendengar Ayah menarik napas.
'Kay, Ayah memikirkan ucapanmu semalam.'
Aku menggenggam gelas sebentar sebelum meletakkannya di meja.
'Ayah ingin menjelaskan dulu, atau mau mendengar yang belum sempat Kay bilang?'