'Iya, Ayah dengarkan. Ada apa, Kay?'
Aku menggeser duduk di tepi tempat tidur. Kaki kiriku sempat kesemutan karena terlalu lama ditekuk, tetapi aku tidak ingin bergerak sampai percakapan terputus oleh suara apa pun.
'Kay senang tinggal di sini. Mama baik. Om Riyan juga sedang berusaha mendengarkan Kay.'
'Sedang berusaha?'
Aku menutup mata sebentar. Satu kata saja sudah membuat Ayah khawatir.
'Ada hal yang kami bicarakan beberapa hari ini. Kay takut bilang tidak kalau belum nyaman. Takut dianggap belum bisa jadi istri yang baik.'
Di seberang sana, Ayah diam. Aku mendengar suara napasnya, lalu bunyi kecil seperti ia mengubah posisi duduk.
'Pak Riyan memarahimu?'
'Tidak setiap Kay berbeda pendapat berarti Om marah, Yah. Tapi Kay sering sudah takut duluan.'
'Beliau orangnya sabar, Kay. Ayah sudah bilang—'
'Yah, tolong dengarkan dulu.'
Suaraku keluar lebih tegas daripada rencana. Aku langsung merasa bersalah, tetapi tidak meminta maaf karena memintanya mendengar.
Ayah berhenti.
'Kay tahu Om bisa sabar. Kay juga sudah melihat banyak kebaikannya. Tapi kalau Kay cuma boleh ingat kebaikan itu, kapan Kay boleh bilang ada yang menyakitkan?'
Aku meremas ujung selimut. Di bawah, tidak terdengar suara Riyan. Ia benar-benar memberiku ruang.
'Ada sikap Om yang dulu membuat Kay takut. Kay sudah bilang langsung, dan Om sudah mengakui salah. Sekarang kami sedang mencoba supaya itu tidak diulang.'
Ayah menarik napas panjang.
'Kenapa baru cerita?'
Pertanyaan itu membuat mataku panas.
'Karena waktu menelepon, Kay selalu senang mendengar suara Ayah. Terus Kay ingin Ayah ikut senang, jadi cerita yang gampang dulu.'
'Kamu tidak perlu menjaga Ayah sampai tidak bisa cerita.'
'Ayah juga sering bilang tidak usah khawatir. Kay pikir kami memang harus begitu, saling memberi kabar baik saja.'
Aku mendengar napas panjang dari seberang. Aku tidak tahu wajah Ayah saat itu. Biasanya aku bisa melihat apakah beliau sedang bingung atau hanya diam menungguku melanjutkan. Di telepon, aku harus belajar bertanya atau memberi waktu, bukan mengisi semua jeda dengan dugaan.
'Kay boleh cerita hal yang tidak enak,' katanya.
Aku mengangguk, lalu sadar ia tidak melihat.
'Kay sedang mencoba, Yah.'
Kalimat itu terasa kecil. Aku tidak sedang membawa laporan lengkap tentang pernikahanku. Aku baru membuka satu bagian yang selama ini kututupi dengan cerita tentang makanan, jalan-jalan, dan betapa baiknya Mama kepadaku.
'Karena Kay takut Ayah bilang harus lebih bersyukur punya suami sesabar Om.'
Tidak ada jawaban cepat. Aku membiarkan kalimat itu berada di sana. Aku sudah terlalu sering menolong orang lain menghindari hal yang baru saja kukatakan.
'Kay juga baru tahu lebih jelas soal hubungan lama Om dengan seseorang. Itu sudah dibicarakan. Om sudah menolak melanjutkan hubungan itu di depan Kay.'
'Hubungan lama?'
'Iya. Kay belum mau menceritakan semua percakapannya sekarang. Kay tidak sedang minta Ayah menelepon Om dan memarahi. Kay ingin Ayah tahu kenapa suara Kay tidak selalu ceria.'
Aku mengusap pipi. Air matanya tidak deras, tetapi cukup membuat hidungku mulai terasa penuh.
'Ayah pikir kamu bahagia di sana.'
'Kay bisa bahagia dan tetap punya masalah, Yah.'
Aku sendiri baru belajar kalimat itu. Mengatakannya kepada Ayah seperti mengakui sesuatu yang dulu tidak kuberi tempat.
'Kalau begitu pulang dulu?' tanyanya.
Aku terdiam. Tawaran itu langsung menghangatkan bagian diriku yang rindu rumah. Aku bisa membayangkan duduk dekat Ayah, tidak perlu memilih kata dengan hati-hati.
Tetapi aku tidak sedang meminta pergi dari pernikahanku.
'Kay kangen, tapi bukan berarti Kay ingin meninggalkan semuanya sekarang. Kay masih mau menjalani rumah tangga ini. Kay cuma tidak mau menjalankannya sambil terus takut.'
Ayah mengembuskan napas.
'Ayah tidak tahu kamu memikirkan sampai begitu.'
'Karena Kay juga baru bisa menjelaskannya.'
Aku menurunkan satu kaki ke lantai. Rasa kesemutan berangsur hilang, digantikan nyeri kecil yang membuatku lebih sadar sedang duduk di kamar, bukan kembali menjadi anak yang berdiri menunggu keputusan Ayah.
'Yah, dulu Ayah bilang kalau menikah dengan laki-laki lain, Kay akan dipaksa mengerjakan semuanya dan dimarahi kalau tidak bisa.'
'Ayah ingin kamu memilih orang yang baik.'
'Kay tahu. Tapi yang tinggal di kepala Kay bukan cuma Om baik. Kay jadi takut kalau menolak sesuatu, berarti Kay tidak tahu diri karena sudah mendapatkan pilihan paling aman.'
Ayah tidak langsung menjawab.
'Kay tidak bilang Ayah sengaja mau menyakiti. Kay cuma ingin Ayah tahu kata-kata itu masih ikut waktu Kay mencoba bilang belum siap atau minta bantuan.'
Aku mendengar ia berdeham. Suaranya ketika kembali berbicara terdengar lebih pelan.
'Ayah perlu memikirkan ini, Kay.'
Aku mengangguk meskipun ia tidak bisa melihat.
'Boleh. Tapi jangan langsung menghubungi Om sebelum bicara dengan Kay.'
'Iya.'
'Kalau Ayah khawatir, tanya Kay. Jangan kami dibicarakan berdua dan Kay baru tahu belakangan.'
Ayah menjawab ia akan mengingatnya. Kami tidak memaksa percakapan malam itu sampai menghasilkan semua jawaban. Ia bertanya apakah aku sudah makan cukup dan bisa beristirahat. Aku menjawab sudah, lalu mengatakan ingin bicara lagi ketika kami sama-sama punya waktu.
Kami menutup telepon setelah saling memberi salam.
Aku tetap duduk memegang ponsel. Tidak ada rasa menang. Aku malah takut telah membuat Ayah sulit tidur. Namun aku juga tidak ingin menelepon lagi hanya untuk menarik kembali semua yang tadi berani kuucapkan.
Beberapa menit kemudian aku berdiri dan membuka pintu lebih lebar.
'Om?'
Riyan menjawab dari bawah. Aku mengatakan teleponnya sudah ditutup, lalu menunggunya kembali ke kamar.
Ia mengetuk ringan sebelum masuk.
'Ayah baik-baik saja?'
'Katanya sudah makan. Kami bicara cukup lama.'
Riyan mengangguk, tidak langsung meminta laporan. Ia duduk di sofa, sementara aku kembali ke tepi tempat tidur.
'Aku bilang ada hal yang membuatku takut,' kataku. 'Aku bilang Om sudah mengakui kesalahan dan kami sedang berusaha. Aku tidak menceritakan semuanya.'
'Baik.'
'Aku juga menyebut hubungan lama Om, tapi bukan semua isi pertemuan.'
Riyan menarik napas, lalu mengangguk lagi. Wajahnya tegang, dan aku segera mengenali keinginanku untuk membuatnya tenang.
Kali ini aku tidak melakukannya.
'Om tidak marah karena aku cerita?'
'Tidak. Kamu boleh mencari dukungan dari Ayah.'
Aku memandangnya lama.
'Jangan nanti Om menelepon beliau untuk menjelaskan versi Om sebelum aku bicara lagi.'
Riyan menggeleng.
'Om tidak akan melakukan itu.'
Aku meletakkan ponsel di meja. Ketika kembali duduk, pertanyaan yang paling kutakuti akhirnya keluar.
'Kalau Ayah menyesal sudah menyarankan pernikahan ini, aku harus bagaimana?'