'Om dengar,' jawab Riyan. 'Om tidak akan meminta kamu memakai sesuatu supaya terlihat seperti Alana.'
Aku mengangguk, tetapi tetap berdiri di dekat pintu.
'Dan kalau aku tidak berhasil membuat Om senang, bukan berarti aku kurang berusaha sebagai istri.'
'Iya.'
Riyan menyandarkan punggung pada sofa. Aku bisa melihat ia ingin menambahkan sesuatu, lalu memilih kata-katanya.
'Om boleh rindu dan lelah. Tapi Om tidak boleh membuatmu merasa harus berubah menjadi orang lain untuk mengurusnya.'
Aku menatapnya. Jawaban itu belum membuktikan seluruh masa depan, tetapi cukup untuk membuatku tidak lagi berdiri seperti sedang menunggu ditolak.
Aku mengangkat gelas di tanganku.
'Kalau begitu aku turun. Gelas ini sudah terlalu lama ikut percakapan.'
Ia tersenyum kecil. 'Om menyusul.'
Aku kembali ke dapur dan meletakkan gelas. Mama sedang menata makanan. Aku membantu membawa yang diperlukan, lalu duduk ketika Riyan turun.
Kami makan bertiga. Ia masih tampak lelah, tetapi ikut mendengarkan ketika aku menceritakan rencana mengulang bayam sebelum mencoba mengerjakan tempe lebih mandiri.
'Pelan-pelan saja,' katanya.
'Aku tahu. Kalau semua dipelajari besok, lusa aku bisa bingung mana baju mana bayam.'
Mama tertawa. 'Jangan dimasukkan lemari.'
'Makanya jangan diberi banyak tugas.'
Riyan tersenyum sambil mengambil lauk. Kali ini aku tidak memeriksa apakah senyumnya cukup lebar. Aku membiarkannya makan dengan wajah yang sedang dimilikinya.
Sesudah makan, ia berdiri membawa piring. Aku melihat caranya bergerak lebih lambat daripada pagi tadi.
'Om mau istirahat sebentar?' tanyaku.
Ia berhenti.
'Sebentar boleh. Sesudah itu Om cuci yang ini.'
Aku mengangguk. Ia menaruh piring di tempatnya, lalu duduk kembali dengan segelas air. Aku menyimpan makanan bersama Mama tanpa otomatis mengambil bagian yang tadi ia janjikan.
Beberapa menit kemudian Riyan bangkit dan masuk ke dapur. Ia mengerjakan piring-piring itu sementara aku mengelap meja.
Aku tidak mengucapkan terima kasih dengan nada seolah ia baru menyelamatkan seluruh hidupku. Ia juga tidak meminta pengakuan khusus karena tetap mencuci meski lelah.
Mama memperhatikan kami sebentar, lalu membawa wadah yang sudah bersih ke tempatnya.
'Aku masih bisa bantu yang lain,' kataku.
'Untuk sekarang sudah cukup,' jawabnya.
Aku berhenti. Kalimat itu terasa lebih mudah diterima setelah dua hari kami membicarakan pekerjaan dengan lebih jelas. Bukan berarti semua akan berjalan rapi seterusnya. Tetapi malam ini aku tidak perlu mencari tugas tambahan supaya keberadaanku pantas.
Sesudah dapur beres dan kami salat, Mama beristirahat. Aku bersiap naik bersama Riyan.
Sebelum naik, aku mengambil kertas pengingat memasak dari tempatnya yang kering. Aku ingin membacanya sekali lagi sambil duduk, bukan terus memeriksanya di dapur. Kami kemudian naik bersama. Di kamar, kertas itu kuletakkan di atas meja, terpisah dari gelas.
Riyan melihatnya dan bertanya apakah aku masih ingin menambah catatan.
'Tidak malam ini. Aku cuma mau menyimpannya supaya tidak terselip.'
Ia mengangguk. Aku memperhatikan tulisan yang agak miring di sudut kertas. Ada sesuatu yang membuatku ingin menunjukkannya kepada Ayah, seperti dulu ketika aku membawa pulang hasil pekerjaan dan ingin ia melihat sendiri usahaku.
Tetapi aku bukan lagi hanya ingin dipuji.
Aku ingin Ayah mengenal hidupku di sini dengan bagian yang menyenangkan dan bagian yang masih membuatku takut. Aku tidak ingin setiap kabar berubah menjadi bukti bahwa beliau benar memilihkan jalan untukku, atau sebaliknya menjadi tuduhan bahwa semuanya keliru.
Aku hanya ingin bisa menjadi putrinya tanpa harus membuat suara selalu terdengar riang.
Di kamar, ia membuka tas kerjanya untuk memeriksa sesuatu. Aku duduk di tepi tempat tidur dan mengambil ponsel.
Ada percakapan singkat dengan Ayah beberapa hari lalu. Tentang makan, tentang hal-hal yang mudah dikabarkan. Aku membaca ulang tanpa alasan yang jelas.
Mendadak aku rindu cara Ayah memanggilku.
Aku menekan namanya, lalu berhenti sebelum memulai panggilan.
Riyan melihat gerakanku.
'Mau menelepon Ayah?'
Aku mengangguk.
'Telepon saja.'
'Aku takut nanti cuma cerita yang bagus-bagus.'
Ia menutup tasnya, lalu duduk di sofa.
'Kamu ingin cerita apa?'
'Aku belum tahu. Aku mau bilang tadi masak, tapi aku tidak mau akhirnya terdengar seperti semua baik karena sekarang aku bisa mengerjakan lebih banyak.'
Riyan tidak menjawab cepat. Aku melihat ponsel lagi.
Ayah dulu memintaku belajar menjadi istri yang baik. Aku sudah mencoba. Aku senang bisa menyiapkan makanan, merapikan sesuatu, dan membuat orang yang kusayangi merasa diperhatikan. Tetapi beberapa hari terakhir mengajariku bahwa menjadi baik tidak selalu sama dengan mengangguk.
Aku tidak tahu bagaimana mengatakan itu tanpa terdengar sedang menyalahkan Ayah.
'Om tidak perlu duduk di sebelahku waktu aku menelepon,' kataku.
'Om bisa turun sebentar.'
'Aku tidak sedang mengusir.'
'Om tahu.'
Aku menatapnya. Ia berdiri dan mengambil gelas untuk dibawa turun, memberi alasan sederhana pada kepergiannya tanpa membuatku merasa bersalah.
'Kalau nanti Ayah ingin bicara dengan Om, panggil saja.'
Aku mengangguk. Setelah pintu dibiarkan sedikit terbuka, aku kembali melihat nama Ayah di layar.
Aku mengirim pesan singkat menanyakan apakah beliau sedang bisa menerima telepon. Balasannya datang tidak lama kemudian: bisa.
Tidak ada alasan lagi untuk menunda.
Aku menekan panggilan dan menunggu. Nada sambung terdengar beberapa kali, cukup lama untuk membuatku menyusun kalimat ceria di kepala. Ketika suara Ayah akhirnya terdengar, kalimat itu berantakan sendiri.
'Assalamu'alaikum, Kay.'
'Wa'alaikumsalam, Ayah.'
Tenggorokanku langsung terasa penuh. Aku membenci betapa cepatnya suara yang kukenal bisa membuatku merasa ingin kembali duduk di dekatnya seperti dulu.
'Sudah makan?' tanyanya.
'Sudah. Ayah?'
'Sudah juga. Gimana kabarmu?'
Aku melihat kertas pengingat yang tadi kubawa ke kamar untuk disimpan. Tulisan jangan panik tampak dari atas meja.
'Kay tadi masak bayam.'
'Oh, sudah makin bisa sekarang.'
'Masih agak terlalu lunak.'
Ayah tertawa pelan. Aku ikut tersenyum. Tawa itu membuatku ingin segera menceritakan seluruh keberhasilan kecil dan menyembunyikan sisanya agar beliau tidak khawatir.
Tetapi aku juga lelah terus menjaga kabar agar hanya terdengar manis.
'Kayla?' panggil Ayah ketika aku diam.
'Iya, Yah.'
'Suaranya capek. Kamu baik-baik saja di sana?'
Aku menarik napas. Pertanyaan yang sederhana itu tiba-tiba terasa lebih sulit daripada menjelaskan seluruh urutan memasak.
Aku ingin menjawab iya, lalu bercerita tentang Riyan mencuci piring dan Mama membiarkanku memilih. Semuanya benar. Tetapi bukan hanya itu yang sedang terjadi di rumah ini.
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
'Ada yang ingin Kay ceritakan, Yah. Tapi tolong dengarkan sampai habis dulu.'