'Kamu boleh mengulang dulu,' kata Mama. 'Dan kamu tidak harus membuktikan pantas setiap kali masuk dapur.'
Aku mengangguk. Kata pantas sudah terlalu sering menempel pada pekerjaan sederhana. Membuat kopi terasa seperti menunjukkan kasih, tetapi ketika gagal sedikit aku langsung merasa kasihku ikut kurang.
Aku belum tahu cara menghilangkan kebiasaan itu. Setidaknya pagi ini aku berhasil menyebutkannya.
Mama merapikan kertas pengingat dan memberikannya kepadaku.
'Simpan. Nanti dipakai lagi.'
Aku membawanya ke tempat semula, lalu membantu membereskan bagian dapur yang tersisa. Setelah itu aku berhenti. Tidak mencari pekerjaan tambahan hanya karena sarapan tadi belum sempurna.
Menjelang siang, kami makan bersama dan berbicara tentang makanan yang masih ada. Mama menanyakan apakah aku ingin mencoba menyiapkan tempe lebih mandiri pada kesempatan berikutnya.
Aku berpikir sebentar.
'Mau, tapi setelah mengulang bayam. Aku tidak ingin besok langsung merasa harus mahir dua-duanya sekaligus.'
Mama mengangguk. Tidak kecewa, tidak pula mengatakan aku kurang semangat.
Sesudah makan dan salat, aku naik untuk beristirahat. Di kamar, beberapa pakaian perlu dimasukkan ke lemari. Aku melakukannya perlahan, memisahkan yang masih akan dipakai.
Tanganku berhenti pada pakaian berwarna pink.
Aku teringat hari ketika mencoba menyerupai foto Alana. Waktu itu aku merasa punya ide yang baik. Jika wajahku memang mirip, mungkin tinggal menyesuaikan pakaian dan rambut agar Riyan merasa lebih terhibur.
Aku memandangi kain di tanganku.
Sekarang aku tahu niat baik tidak selalu membuatku siap menghadapi akibatnya. Aku tidak ingin kembali melihat wajah suamiku berubah karena sesaat ia seperti bertemu orang lain.
Aku menggantung pakaian itu tanpa membuang atau menyembunyikannya. Warna pink tidak salah. Aku boleh memakainya kalau menyukai warnanya, bukan karena ingin menjadi seseorang dalam ingatan.
Aku sempat memindahkannya ke bagian lemari yang paling belakang, kemudian menariknya kembali ke tempat yang mudah dijangkau. Menyembunyikan baju itu terasa seperti memberi sebuah warna kuasa yang terlalu besar.
Aku ingin bisa memilihnya lagi suatu hari tanpa harus memeriksa alasan sampai ke bagian terkecil. Hari ini aku belum ingin memakainya. Itu sudah cukup.
Di dekatnya ada pakaian yang lebih sering kupakai. Aku merapikan satu lengan yang terlipat keluar dan menggeser gantungan agar tidak saling menumpuk.
Kegiatan itu membuatku teringat Ayah. Dulu banyak hal disiapkan sehingga aku bisa mengambil tanpa memikirkan siapa yang merapikan sebelumnya. Sekarang aku mulai mengerti pekerjaan di balik kenyamanan itu.
Namun mengerti bukan berarti aku harus membayar semuanya dengan mengurus semua orang sampai lupa memilih untuk diri sendiri.
Aku menutup lemari perlahan. Aku ingin nanti bisa bercerita kepada Ayah bahwa aku belajar, bukan berubah menjadi orang yang tidak pernah membutuhkan bantuan. Aku belum tahu apakah beliau akan memahami perbedaannya. Aku sendiri baru mulai memahaminya sedikit demi sedikit.
Setelahnya aku duduk di depan cermin dan merapikan rambut. Tanganku sempat mengumpulkannya ke dua sisi sebelum berhenti.
Aku menurunkannya lagi.
'Aku tidak mau berdandan menjadi Alana,' gumamku.
Kalimat itu terdengar aneh ketika hanya ada aku yang mendengar. Namun justru aku yang paling perlu diingatkan. Tidak ada orang di kamar yang sedang menyuruh. Kadang harapan yang kubayangkan sudah cukup untuk membuatku bergerak sendiri.
Aku memilih mengikat rambut dengan cara yang nyaman, lalu mengambil pakaian rumah yang ingin kupakai selepas mandi nanti. Tidak ada pesan tersembunyi di dalam pilihan itu.
Saat turun mengambil air, Mama melihatku.
'Mau ke mana?'
'Tidak ke mana-mana.'
'Rambutmu rapi.'
'Aku sedang mencoba berdamai dengan beberapa helai yang suka berdiri sendiri.'
Mama tersenyum. Ia tidak membandingkannya dengan gaya rambut siapa pun. Aku minum, kemudian duduk sebentar di ruang depan bersamanya.
Kami tidak membicarakan Alana. Aku tahu kerinduan itu belum hilang dari rumah, tetapi hari ini aku ingin membiarkan penampilan diriku menjadi sesuatu yang biasa.
Sore itu Riyan mengabari akan pulang sedikit lebih lambat. Ia masih menyelesaikan pekerjaan dan memberikan perkiraan waktunya.
Aku membalas agar berhati-hati, lalu melanjutkan kegiatan. Ada rasa cemas singkat yang datang, kebiasaan lama sejak urusan Tiara terbuka. Aku tidak langsung mencari alasan lain di balik pesannya.
Aku menunggu tanpa mengubah seluruh sore menjadi penjagaan pintu.
Ketika ia tiba, wajahnya tampak lelah. Ia menyapa Mama dan aku, menaruh barangnya, lalu mengusap tengkuk.
Aku hampir langsung menawarkan kopi, makanan, dan apa saja yang mungkin membuat wajah itu lebih cerah. Mulutku sudah terbuka sebelum kusadari aku kembali merasa bertanggung jawab atas ekspresinya.
'Om mau apa dulu?' tanyaku akhirnya.
'Membersihkan diri dulu. Setelah itu makan.'
Aku mengangguk.
'Bukan marah, kan?'
Ia menoleh. 'Tidak. Cuma lelah.'
Aku memandangnya sebentar. 'Baik.'
Sesederhana itu. Ia boleh lelah tanpa berarti ada tugas rahasia untukku. Aku tidak perlu menebak apakah harus membuat lelucon, menyajikan sesuatu, atau memakai wajah yang mengingatkannya pada masa lalu.
Riyan naik. Aku kembali ke dapur membantu Mama menyiapkan makan malam.
Beberapa saat kemudian, ketika aku mengambil gelas dari kamar, Riyan sudah selesai membersihkan diri. Ia duduk di sofa sambil merapikan rambut yang masih lembap.
Aku berhenti di pintu.
'Ada apa?' tanyanya.
'Tidak. Aku mau ambil gelas.'
Ia menunjuk meja. Aku mengambilnya, lalu melihat wajahnya lagi. Lelahnya belum hilang, tetapi tidak semenegang ketika baru pulang.
'Aku tadi hampir sibuk mencari cara bikin Om langsung senang,' kataku.
Riyan meletakkan handuk.
'Om tidak perlu langsung senang setiap kali pulang.'
'Aku sedang belajar percaya itu.'
Ia mengangguk. Matanya bergerak ke rambutku, kemudian ia tersenyum kecil.
'Rapi.'
'Tadi Mama juga bilang. Jangan bikin aku merasa ini peristiwa besar.'
Ia tertawa pelan. Aku tersenyum, lalu memegang gelas lebih erat agar tidak lupa membawanya turun.
'Aku memilih sendiri,' kataku. 'Bukan meniru foto.'
Riyan memandangku dengan lebih serius.
'Aku tidak mau berdandan seperti Alana untuk membuat Om atau Mama lebih bahagia.'
Ia tidak langsung mendekat. Ia tetap duduk, memberiku ruang untuk mengatakan kalimat itu sampai selesai.
Aku menarik napas.
'Kalau suatu hari aku pakai warna atau gaya yang mirip, aku ingin itu karena aku suka. Bukan karena aku sedang mencoba mengembalikan seseorang.'