'Om akan bilang yang sebenarnya,' jawab Riyan. 'Tapi bukan berarti Om harus mencari kesalahan supaya terdengar jujur.'
Aku mengangguk. 'Iya. Jangan tiba-tiba jadi juri.'
'Kalau Om bilang enak, kamu juga jangan langsung menuduh Om kasihan.'
Aku terdiam, kemudian tertawa kecil. 'Itu mungkin agak susah.'
'Pelan-pelan.'
Aku menarik selimut dan mencoba berhenti memikirkan sayur yang belum ada di piring. Malam berjalan tanpa kami berlatih percakapan sarapan. Aku tidur, sempat terbangun sebentar, lalu kembali memejamkan mata sampai waktunya bangun.
Setelah salat pagi, aku turun lebih dulu. Mama sudah di dapur. Ia menoleh ketika mendengar langkahku.
'Siap?'
'Aku sudah bangun. Siapnya menyusul.'
Mama tersenyum dan menunjuk tempat bahan yang telah disiapkan. Aku mencuci tangan, lalu mengambil perlengkapan yang biasa digunakan.
Aku tidak lupa semua yang pernah dipelajari. Tanganku mengenali cara memilah bayam dan menyiapkan wadah. Yang terasa baru adalah Mama tidak langsung berdiri di belakang bahuku untuk mengarahkan setiap gerakan.
Ia mengerjakan tempe di sisi lain. Sesekali kami saling meminta ruang agar tidak berpapasan membawa sesuatu.
Aku melihat kertas kecil yang kubuat kemarin. Tulisan jangan panik membuatku mendengus sendiri.
'Kenapa?' tanya Mama.
'Penulisnya sok tenang.'
'Penulisnya kamu.'
'Makanya.'
Kami tertawa sebentar. Aku lalu kembali memperhatikan pekerjaanku.
Ketika mulai memasak, aku meminta Mama memastikan satu bagian yang masih membuatku ragu. Ia menjelaskan singkat dan tetap berada dekat, tetapi tidak menggantikan tanganku.
Aku mengulangi maksudnya untuk memastikan paham, kemudian melanjutkan.
Sesaat kemudian Mama mengulurkan tangan ke arah sendok yang sedang kupegang. Aku berhenti dan melihatnya.
'Mama mau mengambil alih?'
Ia ikut berhenti. 'Mama hampir saja. Kebiasaan.'
Aku menggeser tubuh sedikit, memberi tempat agar ia tetap bisa melihat tanpa harus memegang perlengkapanku.
'Kalau ada yang keliru, bilang saja.'
Mama menjelaskan bagian yang diperhatikannya. Aku mendengarkan, lalu mencoba menyesuaikan sendiri. Tidak langsung lancar, tetapi tidak pula perlu diulang seluruhnya.
Ia kembali ke bagiannya setelah memastikan aku mengerti.
Aku merasa sedikit bangga, kemudian segera ingin mencari wajah Mama untuk memastikan ia juga melihat kemajuan itu. Aku menahan keinginan tersebut. Kalau aku terus menunggu pengakuan setiap kali berhasil melakukan satu langkah, aku tidak akan memperhatikan masakannya.
Aku kembali melihat apa yang sedang kukerjakan.
Ada rasa menyenangkan ketika mengetahui alasan sebuah langkah, bukan hanya menghafalkan kapan Mama biasanya melakukannya. Kalau nanti urutanku sedikit berbeda karena harus mengambil wadah, aku tidak langsung merasa seluruh pekerjaan rusak.
'Masih aman di situ?' tanya Mama.
'Aman. Aku tidak sedang diam karena menyerah.'
Mama tersenyum. Aku pun tersenyum, lalu kembali bekerja. Kami tidak perlu terus berbicara untuk membuktikan bahwa aku masih didampingi.
Tidak ada api besar, gelas pecah, atau kejadian yang membuat semua orang berlari. Hanya aku yang sesekali mengambil napas terlalu panjang karena merasa sedang diperhatikan oleh pikiranku sendiri.
Riyan datang ketika aku hendak mencicipi. Ia melihat panci, lalu melihat Mama.
'Piringnya berapa?' tanyanya.
'Tiga,' jawabku. 'Kecuali Om mengundang rombongan.'
Ia mengambil tiga piring tanpa mendekat ke panci. Aku menyukai itu. Ia masuk ke dapur untuk mengerjakan bagiannya, bukan berdiri menyaksikan aku seperti pertunjukan.
Aku mencicipi sedikit setelah cukup aman untuk dicoba. Rasanya mendekati yang kuingat, tetapi sayurnya lebih lunak daripada yang kuinginkan.
Aku mengerutkan dahi.
'Kenapa, Kayla?' tanya Mama.
'Agak terlalu lunak.'
Mama mendekat dan mencicipi dengan sendok lain. Ia mengangguk kecil.
'Iya, sedikit.'
Aku menunggu tangannya bergerak mengambil alih. Tangan itu tidak bergerak.
'Masih bisa dimakan, kan?' tanyaku.
'Bisa.'
Aku menghela napas. 'Baiklah. Berarti bukan panci kegagalan.'
Mama tersenyum. 'Bukan.'
Aku memindahkan hidangan setelah semuanya siap, dengan bantuan ketika wadah terasa terlalu berat. Meminta bantuan untuk membawanya tidak menghapus kenyataan bahwa aku yang memasak.
Kami duduk bertiga. Aku mengambil bagianku lebih dulu, lalu membiarkan Riyan menyendok sendiri.
Ia mencicipi, mengunyah, kemudian mengatakan rasanya enak dan sayurnya memang sedikit lebih lunak.
Aku memperhatikan wajahnya seperti ingin menangkap kebohongan.
Riyan berhenti makan sebentar.
'Om sudah bilang yang sebenarnya.'
'Aku sedang membiasakan wajahku menerima jawaban.'
Mama tertawa. Aku akhirnya menunduk dan makan bagianku sendiri.
Ternyata hidangan yang tidak persis seperti bayanganku masih bisa dinikmati. Aku tidak perlu menghentikan seluruh sarapan untuk meminta maaf atas tekstur sayur.
Mama menanyakan apakah aku ingin mencatat apa yang akan diperhatikan berikutnya.
'Nanti sesudah makan,' jawabku.
'Iya.'
Aku tidak bangkit mengambil kertas. Aku memilih menikmati makanan yang sudah ada, bersama dua orang yang tidak sedang menunggu aku membuktikan sesuatu.
Sesudah sarapan, Riyan membawa piring ke dapur. Aku hampir mengatakan biar aku saja, lalu menutup mulut.
Ia menoleh.
'Apa?'
'Tidak jadi.'
Ia mulai mencuci. Aku membersihkan meja dan menyimpan makanan yang masih perlu disimpan bersama Mama. Kami tidak bergerak sangat cepat, tetapi tidak saling menumpuk pekerjaan.
Setelah bagian yang bisa dikerjakannya beres, Riyan naik mengambil barang. Aku mengantar sampai pintu ketika ia turun lagi.
'Hati-hati, Om.'
'Iya. Makasih untuk sarapannya.'
Aku tersenyum. 'Sama-sama.'
Tidak kutambahkan maaf karena bayamnya terlalu lunak. Ia sudah tahu. Aku juga sudah tahu. Tidak ada informasi baru yang bisa diselamatkan dengan mengulanginya.
Riyan berangkat, meninggalkan aku berdiri dengan perasaan aneh. Bukan bangga yang meledak-ledak, melainkan lega karena berhasil menjalani sesuatu tanpa membuat diriku kecil ketika hasilnya tidak sempurna.
Aku kembali ke dapur. Mama sudah duduk dengan kertas pengingatku di meja.
'Mau ditambah catatannya?'
Aku duduk di sebelahnya.
'Iya. Tapi jangan banyak-banyak. Nanti besok aku masak sambil baca novel.'
Kami menuliskan satu pengingat pendek tentang bagian yang tadi perlu diperhatikan. Tidak ada daftar panjang kesalahan, tidak ada perbandingan dengan cara orang lain.
Mama menyodorkan pena kembali kepadaku.
'Berikutnya kamu mau mencoba apa?'
Aku memandang kertas. Ada banyak hal yang belum bisa kulakukan dengan lancar. Dulu pertanyaan itu akan membuatku ingin menyebut semuanya agar terlihat bersemangat.
Sekarang aku memilih lebih kecil.
'Aku mau mengulang yang tadi dulu. Biar makin tahu rasanya, bukan cuma mengikuti.'
Mama mengangguk.
Aku menyimpan pena, lalu menatapnya.
'Setelah itu baru pilih yang lain. Aku tidak ingin belajar semuanya hanya karena takut belum pantas jadi istri.'