Setelah beristirahat sampai sore, aku bangun dengan pertanyaan tadi masih di kepala. Untuk kegiatan berikutnya, aku memutuskan sendiri kapan berhenti. Aku merapikan pakaian yang sudah kering, lalu meninggalkan bagian yang belum perlu dikerjakan.
Tidak ada yang datang menuduhku malas.
Aku malah berdiri cukup lama di depan tumpukan pakaian, seolah menunggu suara dari kepalaku memberikan izin. Akhirnya aku menutup lemari dan turun mengambil air.
Mama sedang duduk di ruang depan.
'Sudah beres?' tanyanya.
'Yang perlu hari ini sudah. Sisanya nanti.'
Mama mengangguk. Ia tidak memeriksa lemari. Aku baru sadar sering kali yang paling keras mengawasiku justru diriku sendiri.
Menjelang malam, Riyan pulang dan menyapaku di pintu. Setelah membersihkan diri, ia turun untuk makan bersama. Mama sudah menyiapkan makanan, sementara aku membantu menata meja.
Aku meletakkan gelas terakhir ketika Riyan hendak duduk.
'Om, bisa ambil sendok yang belum ada?'
Ia bangkit lagi. 'Bisa.'
Aku tersenyum kecil. Tidak perlu menunggu sampai semua siap lalu diam-diam kesal karena dikerjakan sendiri.
Kami makan bertiga. Setelah beberapa suapan, Riyan menanyakan rencana besok. Aku mengatakan bayam menjadi bagianku, sedangkan Mama mengerjakan tempe.
'Aku tidak mau mengambil semua pekerjaan sekaligus,' tambahku.
'Bagus,' kata Riyan. 'Biar tidak capek.'
Aku meletakkan sendok sebentar.
'Tapi bukan berarti kalau aku sudah kuat, semuanya otomatis jadi bagianku, kan?'
Riyan memandangku. Mama juga berhenti makan sesaat.
'Om tidak bermaksud begitu.'
'Aku tahu. Aku cuma ingin jelas sebelum aku mulai merasa harus melakukan semuanya.'
Mama mengangguk pelan. 'Besok Mama tetap mengerjakan bagian Mama. Kayla tidak sedang menggantikan Mama.'
'Dan aku tidak sedang membantu Om punya rumah yang beres sendirian,' kataku, menoleh kepada suamiku.
Riyan tersenyum tipis. 'Om tinggal di sini juga.'
'Nah, masih ingat.'
Mama tertawa pendek. Aku melanjutkan makan sebelum kalimatku berubah menjadi pidato.
Kami membicarakannya sambil makan, bukan seperti mengadakan rapat besar. Riyan bisa menata meja dan menyiapkan minum sebelum berangkat kerja. Sesudah makan, ia mencuci peralatan yang sempat ditangani sebelum waktunya berangkat, sedangkan bagian yang tersisa dibagi dengan kami.
'Kalau Om harus buru-buru, bilang dari awal,' kataku. 'Jangan gelasnya ditinggalkan sambil berharap punya kaki.'
'Kalau gelasnya punya kaki, nanti pergi semua dari rumah,' jawabnya.
Aku hampir tersedak karena tertawa. Mama menggeleng dan menyuruhku mengunyah dulu sebelum membalas.
Aku tidak membutuhkan pembagian yang terlihat sempurna di atas kertas. Aku hanya ingin tidak menjadi orang yang otomatis harus memperhatikan semua yang belum beres.
'Kalau Mama yang ingin istirahat, bilang juga,' kataku.
Mama memandangku. 'Mama biasanya merasa tanggung kalau masih ada sedikit.'
'Aku juga. Sedikitnya lama-lama banyak.'
Riyan mengangguk. 'Kita bisa saling bilang bagian mana yang belum dipegang. Tidak harus menunggu satu orang sadar semuanya.'
Aku menatapnya sebentar. Aku ingin menyambut jawaban itu, tetapi tidak ingin langsung membayangkan besok rumah kami menjadi teratur tanpa kesalahan.
'Kadang aku mungkin lupa bagianku,' kataku.
'Diingatkan,' jawab Mama.
'Bukan langsung diambil alih.'
Mama tertawa pelan. 'Iya. Mama sedang mengingat itu.'
Aku kembali makan. Percakapan itu terasa lebih adil ketika aku tidak menempatkan diriku hanya sebagai orang yang perlu ditolong. Aku juga punya bagian yang harus kuingat dan orang lain boleh mengingatkanku.
Bedanya, terlupa satu pekerjaan tidak perlu menjadi kesimpulan tentang seluruh diriku. Aku bisa kembali mengerjakannya, meminta waktu, atau mengatakan kalau belum tahu caranya. Riyan dan Mama pun boleh melakukan hal yang sama tanpa kami saling menghitung siapa paling banyak berkorban.
Sesudah makan, Riyan membawa beberapa piring ke dapur. Aku membawa wadah, Mama menyimpan makanan yang tersisa.
Riyan membuka keran dan mulai mencuci. Aku berdiri di dekatnya, hendak mengambil piring berikutnya.
'Yang ini Om kerjakan,' katanya.
Aku menahan tangan. 'Iya.'
Ternyata membiarkan orang lain melakukan bagiannya juga perlu latihan. Aku hampir mengambil alih karena ingin pekerjaan cepat selesai, persis kebiasaan Mama yang tadi pagi kuminta diubah.
Aku mundur sedikit dan mengelap meja dapur saja.
Riyan melirikku. 'Mau diperiksa hasilnya?'
'Tidak. Aku sedang berusaha tidak jadi Mama versi kecil.'
Mama yang masih berada di dekat kami menoleh.
'Mama dengar.'
Aku menutup mulut, lalu tertawa bersama mereka. Untung kali ini candaan itu tidak membuat Mama tampak disudutkan. Ia justru mengangkat kedua tangan dan mundur dari rak piring.
'Baik, Mama juga tidak memeriksa.'
Dapur menjadi sedikit lebih lega. Kami tidak saling menunggu dengan tangan terlipat, tetapi juga tidak berebut melakukan pekerjaan yang sama.
Setelah Mama beristirahat, aku dan Riyan naik. Ada beberapa pakaian yang tadi kutinggalkan di kamar. Aku mengambil satu, kemudian duduk untuk melipatnya.
Riyan mendekat dan mengambil bajunya sendiri dari tumpukan.
'Om juga bisa melipat,' katanya.
'Aku percaya. Tapi yang itu terbalik.'
Ia melihat baju di tangannya, membetulkannya, lalu tertawa kecil.
Aku senang karena ia tidak marah saat dikoreksi untuk hal sederhana. Selama ini aku yang paling sering menerima petunjuk, sampai hampir lupa orang yang lebih tua juga bisa salah memegang baju.
Kami melipat dalam diam beberapa saat. Aku mengerjakan dua potong, lalu berhenti.
'Sudah?' tanya Riyan.
'Untuk malam ini.'
Ia mengangguk dan memindahkan bagiannya ke lemari. Tidak ada godaan bahwa istrinya cepat lelah atau baru sedikit bekerja sudah ingin istirahat.
Aku memandangnya menutup lemari.
'Om tadi bilang mencuci piring sesudah aku masak,' kataku.
'Iya.'
'Jangan dianggap hadiah karena aku berani mencoba.'
Riyan menoleh.
'Itu bagian Om juga. Aku tidak mau setiap Om melakukan pekerjaan rumah, aku harus merasa mendapat kemurahan hati.'
Ia bersandar sebentar pada lemari, lalu mengangguk.
'Benar. Om bukan tamu.'
Aku tersenyum. 'Kalau tamu, sudah terlalu lama menginap.'
Ia tertawa dan berjalan ke sofa untuk mengambil bantal. Aku tidak menambahkan pembicaraan berat lagi. Untuk malam itu, beberapa piring yang dicuci dan pakaian yang dilipat terasa lebih berguna daripada banyak janji.
Kami bersiap tidur. Kertas pengingat memasak tetap berada di tempatnya di dapur, bukan kubawa ke tempat tidur untuk dihafalkan.
Namun ketika lampu mulai diredupkan, aku masih memikirkan satu hal.
'Om.'
'Iya?'
'Kalau besok masakanku tidak seperti biasanya, bilang saja. Jangan dipuji karena kasihan.'
Riyan menoleh dari sofa. Aku menunggu jawabannya, kali ini bukan mencari nilai bagus, melainkan mencoba percaya bahwa kejujuran bisa terdengar biasa.