'Boleh,' jawab Mama. 'Mau mengerjakan yang mana?'
Aku melihat tempe dan bayam di atas meja. Pertanyaannya sederhana, tetapi aku sempat merasa seperti sedang memilih jawaban ujian.
'Bayam dulu. Dari menyiapkan sampai mencicipi. Mama tetap dekat, tapi jangan langsung diambil kalau aku sedikit lama.'
Mama meletakkan wadah yang tadi dipegangnya.
'Kalau ada yang tidak aman, Mama tetap harus mengingatkan.'
'Iya. Aku bukan minta dibiarkan berbuat aneh.'
'Kadang kamu kelihatan serius sekali waktu melakukan sesuatu yang aneh.'
Aku melotot kecil. Mama tersenyum. Aku akhirnya ikut tersenyum, meskipun sempat ingin membela kehormatan seluruh kegiatanku sejak tinggal di rumah ini.
'Aku juga sudah pernah bisa, Ma. Aku cuma ingin mencoba tanpa terus menunggu disuruh.'
Mama mengangguk. 'Besok bayam kamu pegang. Tempenya Mama.'
'Jangan sekalian nasi, minum, piring, terus menyetrika.'
'Mama belum bilang begitu.'
'Aku yang suka menambahkan sendiri.'
Setelah mengatakannya, aku terdiam. Itu benar. Kadang belum ada yang menuntut, aku sudah menyusun daftar pekerjaan supaya terlihat pantas menjadi istri. Lalu ketika lelah, aku diam karena malu mengakui daftar itu kubuat sendiri.
Mama menarik kursi dan duduk. Aku ikut duduk di dekatnya.
'Kalau begitu kita pilih yang memang perlu dikerjakan, bukan yang membuatmu terlihat paling sibuk,' katanya.
Aku mengangguk. Aku tidak ingin kembali seperti dulu, membiarkan semuanya disiapkan orang lain. Tetapi berubah juga tidak harus berarti mengambil seluruh isi rumah ke pundak sekaligus.
Kami membicarakan bagian yang sudah kukenal. Aku bisa memilih bayam, mencuci, menyiapkan perlengkapan, dan memasaknya seperti yang pernah diajarkan. Kalau ragu, aku bertanya. Mama tidak perlu menunggu sampai aku hampir menangis untuk membantu.
'Kalau aku tanya, Mama jelaskan dulu,' kataku. 'Jangan langsung tanganku diganti tangan Mama.'
Mama melihat kedua tangannya sendiri.
'Mama memang sering begitu.'
'Karena lebih cepat?'
'Karena Mama tahu caranya dan ingin kamu tidak repot.'
'Aku repotnya jadi besok, waktu harus mencoba lagi.'
Mama mengangguk pelan. Kami tidak sedang bertengkar, tetapi aku bisa merasakan betapa asingnya percakapan itu untuk kami berdua. Selama ini bantuannya terasa seperti hadiah. Sekarang aku belajar meminta bentuk hadiah yang bisa kupakai.
Aku menunjuk panci yang biasa digunakan.
'Besok yang itu, ya?'
'Iya.'
'Kalau aku lama sedikit, sarapannya tidak berantakan?'
'Kita siapkan yang bisa disiapkan lebih dulu. Kamu tidak perlu mengerjakan semuanya dalam keadaan diburu.'
Aku mengangguk. Selama ini aku sering menonton Mama bergerak cepat, lalu mengira kecepatan itu bagian yang harus langsung kutiru. Aku lupa ia sudah melakukan pekerjaan ini jauh lebih lama.
'Mama jangan sengaja melambat cuma supaya aku merasa hebat, ya.'
Mama mengangkat alis. 'Tadi minta tidak diburu, sekarang curiga Mama akan terlalu lambat.'
Aku tertawa kecil. 'Susah juga punya murid seperti aku.'
'Muridnya banyak bertanya.'
'Daripada banyak mengira.'
Mama tersenyum, lalu menunjukkan tempat yang bisa kupakai menaruh perlengkapan agar kami tidak saling menghalangi. Aku memindahkan satu wadah kosong dan mencoba berdiri di situ. Tidak ada yang istimewa, tetapi aku mulai bisa membayangkan bekerja di sampingnya, bukan hanya mengikuti ke mana tangannya bergerak.
Aku tidak sedang meminta dapur ini menjadi milikku sendiri. Aku hanya ingin ada ruang yang cukup untuk mencoba tanpa merasa setiap detik harus membuktikan bahwa aku tidak merepotkan.
Kami memastikan tempat perlengkapan yang diperlukan. Tidak ada bahan baru yang harus kucari, tidak ada resep panjang yang membuatku berpura-pura paham. Aku lega karena belajar ternyata boleh dimulai dari mengulang sesuatu dengan lebih sadar.
Setelah itu Mama kembali menata bahan. Aku membantu memindahkan yang perlu disimpan, lalu mengelap meja.
'Aku perlu tulis urutannya?' tanyaku.
'Kalau itu membantumu.'
Aku mengambil kertas kecil dari kamar, kemudian kembali ke dapur. Kutulis beberapa pengingat dengan kata-kataku sendiri. Bukan resep lengkap, hanya bagian yang kadang membuatku bingung ketika terlalu banyak orang berbicara.
Mama membacanya dari samping.
'Kenapa ada tulisan jangan panik?'
'Itu bahan utama, Ma.'
Mama tertawa. Aku menambahkan jangan buru-buru, lalu berhenti sebelum seluruh kertas berubah menjadi nasihat untuk diriku sendiri.
Kertas itu kusimpan di tempat yang tidak akan terkena air. Sesudahnya kami melanjutkan kegiatan pagi tanpa mencoba memasak dua kali hanya untuk latihan. Besok tetap besok. Hari ini masih bisa berjalan biasa.
Menjelang siang, aku membantu menata meja untuk makan bersama Mama. Kali ini aku berhenti setelah piring dan gelas siap.
Biasanya aku akan mencari pekerjaan lain supaya tidak terlihat hanya berdiri. Sekarang aku bertanya apakah ada yang benar-benar perlu dibantu.
'Makanan ini dibawa ke meja saja,' kata Mama.
Aku melakukannya, lalu duduk. Rasanya aneh membiarkan tanganku diam ketika orang lain masih bergerak.
Mama menyadarinya.
'Ada apa?'
'Aku sedang latihan duduk setelah membantu.'
'Itu juga perlu latihan?'
'Kalau kepalaku masih menyuruh berdiri, iya.'
Mama menggeleng sambil tersenyum. Kami mulai makan. Tidak ada pembicaraan tentang apakah bayam besok harus seenak buatannya. Aku tidak menawarkan janji besar, dan ia tidak meminta.
Sesudah makan dan salat, aku beristirahat. Ponselku berbunyi ketika aku baru berbaring. Riyan menanyakan apakah sudah makan.
Aku membalas sudah, lalu menceritakan rencana memasak besok. Pesannya datang tidak lama kemudian.
'Om tunggu hasilnya.'
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Dulu mungkin aku langsung senang, merasa punya tugas untuk membuat suami bangga. Hari ini perutku justru sedikit mengencang. Tunggu hasilnya terdengar seperti seseorang sudah duduk membawa nilai.
Aku tahu ia mungkin hanya bermaksud menyemangati. Karena itu aku tidak langsung marah.
Aku mengetik, 'Jangan seperti mau menilai lomba, Om. Aku sedang belajar mengurus bagianku.'
Balasannya datang setelah beberapa saat.
'Maaf. Maksud Om, besok kita makan bersama. Bukan menguji kamu.'
Aku mengembuskan napas. Aku tidak perlu memendam satu kalimat sampai berubah menjadi seluruh sore yang buruk.
Aku membalas dengan mengatakan bayam tetap bisa lembek kalau aku gugup. Ia menjawab bahwa ia tetap bisa mencuci piring sesudah makan.
Aku tersenyum, lalu berhenti.
Mencuci piring sesudah makan bukan hal baru baginya. Namun aku ingin tahu apakah ia mengatakannya sebagai bantuan khusus untuk keberanianku, atau memang bagian yang bisa dipegangnya tanpa menunggu aku kelelahan.
Aku tidak menjadikan pesan siang itu percakapan panjang. Kutulis bahwa nanti malam aku ingin membicarakan pembagian pekerjaan yang sederhana.
Riyan menyanggupi.
Aku meletakkan ponsel dan mencoba beristirahat lagi. Besok aku hanya memilih mengerjakan bayam. Tetapi rupanya pilihan kecil itu membuka pertanyaan yang lebih besar: di rumah ini, siapa yang menentukan kapan pekerjaanku sudah cukup?