'Om juga ingin kamu bisa begitu,' kata Riyan. 'Tapi besok tidak harus terasa mudah hanya karena malam ini kita sudah bicara.'
Aku mengangguk. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya berhenti memperhatikan sesuatu yang baru saja kutemukan namanya.
Riyan menatapku sebentar, lalu menunjuk selimut yang belum menutupi kakiku.
'Mulai dari tidur dulu?'
'Kalau aku tidur dan besok masih kepikiran?'
'Kita jalani besok.'
Aku menatapnya dengan curiga. 'Jawaban Om makin pendek.'
Ia tersenyum lelah. 'Kalau Om panjang-panjang, kamu tambah tidak tidur.'
Aku tidak bisa membantah. Aku menarik selimut sampai kaki, lalu berbaring setelah mengucapkan selamat tidur.
Malam itu tidak sepenuhnya tenang. Aku sempat terbangun dan melihat bayangan lemari, lalu mengingat foto yang tetap berada di dalam dompet. Aku tidak mengambilnya. Aku juga tidak membangunkan Riyan hanya untuk memastikan ia masih tahu namaku.
Aku menarik napas, mengubah posisi, dan akhirnya tertidur lagi.
Pagi berikutnya kami bangun dan salat. Sesudah melipat mukena, aku mencuci muka sekali lagi supaya tidak turun dengan mata setengah tertutup.
Riyan bersiap kerja. Aku turun lebih dahulu, mengikuti suara Mama di dapur.
'Pagi, Ma.'
'Pagi, Kayla. Mau makan sekarang atau menunggu Riyan?'
'Tunggu Om sebentar. Aku bantu bawa piring.'
Mama mengangguk. Ia tidak langsung menyiapkan porsi untukku. Aku mengambil piring, kemudian berhenti karena lupa mengambil sendok.
'Sudah membawa piring dengan gagah, sendoknya ketinggalan,' gumamku.
Mama tertawa kecil. 'Masih ada di tempatnya.'
'Aku tahu, Ma. Dia belum punya kaki.'
Aku kembali ke lemari, mengambil sendok, lalu menaruh semuanya di meja. Candaan kecil itu tidak memerlukan perbandingan dengan siapa pun. Aku mulai menyadari aku boleh lucu karena memang ingin, bukan karena rumah harus segera gembira.
Mama menanyakan seberapa banyak nasi yang kuinginkan.
'Aku ambil sendiri, ya.'
'Iya.'
Aku mengambil cukup, lalu memilih lauk. Tidak ada yang terkejut ketika aku tidak mengambil semua yang ditawarkan. Mama duduk setelah menyiapkan bagiannya.
Riyan datang sambil membawa minum. Saat meletakkan gelas, sedikit air menetes ke meja.
Aku menunjuknya. 'Mejanya belum sarapan, Om.'
Ia melihat tetesan itu, lalu mengambil lap. 'Sebentar, Om kasih menu yang benar.'
Mama tertawa. Aku menahan senyum sambil mengangkat piring supaya ia bisa mengelap bagian yang basah.
Tidak ada kejadian luar biasa pagi itu. Justru karena itu, aku menikmati beberapa suapan pertama tanpa memikirkan apakah ekspresiku menyerupai seseorang.
Kemudian Mama memandangku ketika aku meniup makanan yang masih hangat.
Bahuku otomatis menegang.
Mama tampaknya menyadari perubahan itu. Ia memalingkan mata ke piringnya, lalu bertanya apakah makananku terlalu panas.
'Sedikit,' jawabku.
'Pelan-pelan saja.'
Aku mengangguk. Aku tidak tahu apa yang sempat melintas di kepalanya. Mungkin kenangan, mungkin hanya melihat menantunya meniup makanan. Aku tidak ingin menuntut bukti untuk setiap tatapan.
Riyan menanyakan apakah aku tidur cukup. Aku menjawab sempat terbangun, tetapi bisa tidur lagi.
'Karena takut?' tanyanya.
'Tidak. Pikiranku saja masih suka bekerja malam.'
Ia mengangguk dan tidak menanyakan lebih jauh di meja makan.
Aku menghabiskan bagianku. Ketika Mama menawarkan tambahan, aku memeriksa perut sendiri sebelum menjawab.
'Sedikit lagi.'
Mama menggeser tempat nasi. Aku mengambilnya, lalu tersenyum karena keputusan sekecil itu ternyata bisa terasa seperti sesuatu yang baru.
Sesudah sarapan, kami membawa peralatan makan ke dapur. Riyan membersihkan bagian meja yang tadi dipakainya, lalu naik mengambil barang kerja.
Aku menyusul sebentar untuk mengembalikan handuk yang tertinggal di kursi. Di kamar, ia sedang memeriksa barang yang akan dibawa.
'Bagaimana sarapannya?' tanyanya.
'Enak.'
Ia menoleh, seolah ada pertanyaan lain.
Aku mengerti maksudnya, tetapi tidak ingin setiap kegiatan menjadi ujian apakah percakapan semalam berhasil.
'Aku sempat kepikiran,' kataku. 'Terus makan lagi.'
'Baik.'
'Aku tidak mau memberi nilai untuk Mama setiap selesai sarapan.'
'Om tidak sedang meminta laporan.'
'Aku tahu. Tapi aku sendiri hampir melakukannya.'
Riyan menutup tasnya. Aku meletakkan handuk, lalu duduk sebentar di sisi tempat tidur.
'Kalau Mama terselip membandingkan lagi, aku mungkin masih sedih,' kataku. 'Kalau Mama bertanya apa yang aku suka, aku juga belum tentu langsung tahu jawabannya.'
'Kamu boleh memikirkannya.'
Aku mengangguk. Selama ini aku mengira menjadi diri sendiri berarti harus selalu tahu apa yang diinginkan. Ternyata kadang aku hanya tahu apa yang belum ingin kulakukan.
Mataku bergerak ke arah tas tempat dompet disimpan. Riyan mengikuti arah pandanganku, tetapi tidak mengambilnya.
'Fotonya tetap di sana?' tanyanya.
'Iya.'
'Kamu tidak perlu mempertahankannya hanya supaya Om tidak sedih.'
Aku mengangguk. 'Sekarang aku belum ingin memindahkan. Kalau nanti aku merasa perlu, aku akan bilang.'
Ia menerima jawaban itu tanpa menawarkan tempat baru atau menyuruhku segera memilih.
Aku senang karena kali ini benda itu tidak dijadikan ujian. Membawanya bukan bukti aku rela menjadi pengganti. Memindahkannya kelak juga tidak berarti aku membenci adiknya.
Aku masih harus belajar membedakan pilihan sendiri dari pilihan yang kubuat agar semua orang tetap nyaman. Mungkin itu tidak akan langsung kelihatan oleh Riyan atau Mama. Mungkin aku akan berubah pikiran tentang beberapa hal.
Aku memandang suamiku lagi. Yang kuinginkan bukan jaminan bahwa aku selalu memilih dengan benar, melainkan ruang untuk mengatakan kalau pilihanku berubah tanpa harus membuktikan kasih sayang dari awal.
Riyan mendekat, lalu berhenti di depanku.
'Boleh Om pegang tanganmu?'
Aku mengulurkan tangan. Ia menggenggamnya sebentar, tidak menarikku berdiri atau mendekat.
'Terima kasih sudah mengatakan semua ini,' katanya.
'Aku belum selesai belajar ngomong.'
'Om juga belum selesai belajar mendengar.'
Aku mengangkat alis. 'Kelihatan.'
Ia tertawa pelan. Aku ikut tersenyum, lalu melepaskan tangannya ketika ia perlu mengambil tas.
Kami turun bersama. Aku mengantar sampai pintu, bersalaman, dan mengingatkannya makan. Ia berjanji mengabari kalau pulang lebih lambat, lalu berangkat.
Sepeninggalnya, aku kembali ke dapur. Mama sedang merapikan bahan yang masih ada. Aku berdiri di dekat meja, melihat tempe dan bayam yang sudah tidak terasa asing di tanganku.
Aku ingin belajar lagi. Bukan karena ada perempuan dalam foto yang harus kutiru, bukan pula karena suamiku baru saja memilih pernikahan kami dan aku perlu membayarnya dengan menjadi istri sempurna.
Tetapi aku juga tidak mau belajar dengan cara semua langkah diambil alih sebelum sempat kucoba.
'Ma,' panggilku.
Mama menoleh.
'Kalau besok kita masak lagi, boleh aku yang memilih bagian mana yang mau kukerjakan sendiri?'