'Baik. Om dengarkan dulu,' jawab Riyan.
Ia tidak menambahkan bahwa kami pasti hanya salah paham. Aku bersyukur karena aku dan Mama sudah menghabiskan pagi mencoba memahami sesuatu yang memang tidak sederhana.
Riyan naik untuk membersihkan diri. Aku kembali membantu Mama menata meja. Kami bekerja tanpa membicarakan apa yang akan dikatakan nanti, seperti dua orang yang tidak perlu menyusun kesaksian agar terdengar sama.
Saat makan malam, Riyan beberapa kali terlihat hendak bertanya, lalu mengurungkannya. Aku hampir tertawa melihatnya.
'Om boleh minta lauk. Bukan semua kalimat harus ditahan.'
Ia memandang wadah di dekatku. 'Boleh geser itu?'
Aku menggesernya. Mama tersenyum kecil, dan ketegangan berkurang sedikit.
Kami makan sampai cukup. Sesudah piring dibawa ke dapur, Mama mengatakan ingin duduk di ruang depan. Aku mengikuti, sementara Riyan membawa gelas air untuk kami bertiga.
Mama duduk lebih dulu. Aku memilih tempat di sebelahnya, menyisakan jarak kecil. Riyan duduk di kursi yang menghadap kami.
'Mama tadi bicara dengan Kayla,' katanya. 'Tentang Mama yang masih sering melihat Alana ketika memandang dia.'
Riyan menunduk sebentar.
'Aku tahu, Ma.'
Aku menatapnya. 'Tahu Mama rindu, atau tahu aku takut?'
Ia mengangkat wajah. 'Om tahu Mama rindu. Tentang ketakutanmu, Om baru benar-benar mendengar beberapa hari ini.'
Aku mengangguk. Jawaban yang berbeda untuk dua hal yang selama ini terlalu mudah disatukan.
Mama merapikan ujung bajunya.
'Mama tidak ingin setiap kali memandang Kayla, dia merasa sedang diperiksa kemiripannya.'
Aku menelan ludah. Mendengar Mama menyebutnya di depan Riyan membuat perasaanku terasa lebih nyata, bukan hanya sesuatu yang kupikirkan terlalu jauh.
'Aku juga tidak ingin Mama takut menyayangiku,' kataku.
'Tidak,' jawab Mama cepat. Lalu ia berhenti, menarik napas. 'Mama masih ingin memelukmu. Tapi Mama perlu ingat siapa yang sedang dipeluk.'
Aku memandangi kedua tangan sendiri. Kalimat itu terasa hangat dan menyakitkan sekaligus.
Riyan mengusap tengkuk.
'Riyan juga ikut membuat Kayla merasa harus membawa kebahagiaan kembali,' katanya. 'Waktu datang dulu, Riyan berterima kasih karena Mama mau keluar kamar. Riyan tidak memikirkan apa yang mungkin Kayla tanggung setelah mendengarnya.'
Mama menoleh kepada anaknya. Tidak ada kemarahan besar. Hanya kelelahan yang kukenal dari wajah Riyan saat ia tidak tahu harus memperbaiki sesuatu dari mana.
'Kadang Mama senang begitu saja, lalu lupa Kayla bisa membaca kebahagiaan itu sebagai harapan,' katanya.
Aku mengangguk.
'Aku ingin boleh tidak suka sesuatu tanpa membuat Mama merasa aku menolak Alana.'
'Tentu boleh,' jawab Riyan.
Aku meliriknya. Ia berhenti, lalu membiarkan Mama melanjutkan.
'Mama akan bertanya kepadamu. Bukan menebak dari yang Mama ingat.'
Aku mengangguk lagi. Itu lebih bisa kubayangkan daripada janji bahwa semua perbandingan tidak akan pernah muncul lagi.
'Mama mungkin masih terselip bicara,' lanjutnya.
'Kalau begitu aku ingatkan,' kataku. 'Tapi kalau suaraku pelan, jangan dianggap aku tidak sungguh-sungguh.'
Mama memandangku beberapa saat, lalu mengangguk.
'Kalau Mama memanggilmu Sayang, kamu masih nyaman?'
Aku menatapnya, lalu mengangguk.
'Masih. Itu bukan nama Alana, Ma.'
Mama mengusap jari-jarinya sendiri. 'Mama takut salah lagi.'
'Aku juga tidak ingin setiap kata Mama diperiksa seperti soal ujian.'
Riyan mencondongkan tubuh sedikit, tetapi tetap membiarkan aku melanjutkan.
'Kalau Mama sedang bercerita tentang Alana, sebut Alana. Kalau sedang bertanya aku mau makan atau tidak, tanya aku. Aku tidak minta Mama menghapus semua panggilan sayang.'
Mama mengangguk lebih pelan kali ini. Aku bisa melihat betapa sulitnya membedakan kebiasaan yang hangat dari kebiasaan yang membawa harapan tanpa disadari.
Aku sendiri belum tentu langsung tahu jawabannya kalau besok ada kalimat lain yang membuatku terdiam.
'Mungkin nanti ada yang baru kusadari setelah beberapa waktu,' kataku. 'Kalau aku bilang belakangan, bukan berarti aku sengaja menyimpan kesalahan Mama.'
'Mama akan mencoba mendengarkan,' jawabnya.
Itu belum janji bahwa kami tidak akan saling melukai lagi. Tetapi aku lebih bisa mempercayainya daripada janji yang terlalu besar untuk dibawa pulang dari satu percakapan.
Di samping kami, Riyan memutar gelas sedikit. 'Dan Om tidak akan menyuruhmu maklum dulu sebelum mendengar keberatanmu.'
Aku menatapnya. Ia baru saja menyebut hal yang belum sempat kuminta malam itu.
Aku merasakan mataku panas, tetapi kali ini tidak menangis. Ada sesuatu yang berubah, meskipun bukan seluruhnya. Mereka tidak sedang membicarakan bagaimana membuatku lebih cocok menjadi bagian keluarga. Mereka sedang mencoba menyediakan tempat yang tidak harus kupinjam dari orang lain.
Setelah beberapa saat, Mama meraih gelasnya. Ia minum sedikit, lalu berkata ingin beristirahat.
Aku mengangguk. Percakapan itu tidak ditutup dengan pelukan bertiga seperti dulu. Kami tampaknya sama-sama perlu membiarkan kata-kata tinggal sebentar tanpa segera ditimpa gerakan yang indah.
Aku mencium tangan Mama sebelum ia pergi. Ia mengusap rambutku singkat.
'Selamat istirahat, Kayla.'
Namaku disebut tanpa penjelasan. Aku membalas, kemudian melihatnya berjalan meninggalkan ruang depan.
Aku dan Riyan membawa gelas ke dapur. Aku membilas satu, ia mengerjakan yang lain. Air dan bunyi gelas di rak membuat kami kembali menjadi dua orang yang sedang membereskan rumah, bukan terus-menerus dua orang yang memeriksa luka.
'Aku takut Mama sedih sesudah sendirian,' kataku.
'Mungkin Mama memang sedih.'
Aku menoleh.
'Om bisa menanyakan keadaannya besok. Tapi kamu tidak perlu menarik kembali ucapanmu supaya malam ini Mama tidak sedih sama sekali.'
Aku menunduk ke arah gelas. Ia tidak menjanjikan hasil yang langsung baik. Aku mulai belajar bahwa itu bukan selalu tanda ia tidak peduli.
Kami naik setelah dapur rapi. Di kamar, aku duduk di tempat tidur dan melepas ikatan rambut. Riyan memindahkan kursi kembali ke meja kerja.
Benda itu akhirnya tidak lagi berada di tengah kamar seperti tempat pemeriksaan.
Aku memperhatikan gerakannya.
'Om masih memikirkan Alana sekarang?'
Ia berhenti sebentar. 'Iya.'
Aku mengangguk. 'Aku tidak tahu harus bilang apa.'
'Tidak harus bilang apa-apa.'
Aku menarik selimut ke pangkuan. Untuk beberapa menit kami berada di ruangan yang sama tanpa saling meminta memperbaiki kesedihan.
Riyan kemudian duduk di sofa, tidak memandangku seolah sedang menunggu aku menghiburnya.
Aku merasa sedikit lebih aman karena itu.
'Besok,' kataku pelan, 'aku ingin duduk di meja sarapan tanpa sibuk memikirkan wajahku sendiri.'