'Sejak Mama memelukku waktu pertama datang,' jawabku.
Wajah Mama berubah. Aku cepat-cepat melanjutkan sebelum ia mengira pelukan itu hal yang buruk.
'Aku senang sekali, Ma. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana karena sudah lama tidak merasakan disayang seperti itu.'
Mama menatapku tanpa bergerak.
'Tapi Mama bilang merasa anak Mama kembali. Aku tahu wajahku mirip Alana. Jadi aku takut kebahagiaan Mama bergantung pada kemiripan itu.'
'Mama tidak pernah meminta kamu menjadi dia.'
Aku mengangguk. Jawaban itu benar, tetapi belum mencakup semuanya.
'Tidak pernah bilang begitu. Aku yang mencoba menebak apa yang bikin Mama senang.'
Mama menunduk. Untuk pertama kalinya pagi itu, aku melihat ia tampak bukan hanya sedih, melainkan tersinggung.
Aku menahan diri untuk tidak menarik kembali semua ucapanku.
'Aku tidak sedang bilang Mama sengaja menyakiti.'
'Mama cuma sangat rindu.'
'Iya, Ma.'
'Kadang Mama merasa kalau semua yang Mama lakukan membuatmu takut, berarti selama ini Mama menyayangimu dengan cara yang salah.'
Aku mengangkat kepala. Wajah Mama terlihat letih, dan untuk sesaat aku merasa seperti orang yang baru saja menolak sebuah pemberian mahal.
'Tidak semuanya salah, Ma.'
'Tapi kamu sampai memikirkannya begini.'
'Aku juga pernah takut bilang tidak mau tambah makan kepada Ayah. Bukan berarti semua perhatian Ayah salah.'
Mama diam. Aku tidak ingin membandingkan kasih mereka, hanya mencoba mencari sesuatu yang bisa kujelaskan tanpa menuduh.
'Aku senang waktu Mama memelukku. Aku senang diajari, ditanya sudah makan, ditemani. Aku tidak mau menghapus semua itu.'
Aku menelan ludah sebelum meneruskan.
'Justru karena aku sayang sama Mama, aku takut kalau ternyata yang Mama sayang bukan aku sepenuhnya.'
Mama memandang tangannya. Aku membiarkan kalimat itu tinggal di antara kami. Aku tidak bisa sekaligus meminta dikenal dan menyembunyikan bagian diriku yang paling takut.
Mengakui ketakutanku membuat tenggorokanku sakit. Bagaimana menjelaskan bahwa aku memahami kerinduan, tetapi tetap bisa terluka oleh tempat yang diberikan kepadaku di dalamnya?
Aku memandangi jari-jariku.
'Aku juga rindu Ayah, padahal kami masih bisa saling berkabar. Jadi aku tidak mau sok tahu bagaimana rasanya kehilangan seperti Mama.'
Mama mengusap sudut matanya. Aku tidak meraih tisu dengan panik. Ada tisu di meja dan ia bisa mengambilnya. Aku tidak harus menghentikan setiap air mata agar percakapan dianggap aman.
'Tapi aku takut kalau suatu hari aku tidak lucu, tidak ceria, tidak suka yang Alana suka, Mama merasa anaknya hilang lagi karena aku.'
Mama menarik napas panjang.
'Kayla...'
Aku mengangkat wajah.
'Mama tidak kehilangan Alana karena kamu.'
Aku mengangguk, tetapi air mataku justru jatuh. Aku tidak menyadari betapa lama aku menunggu mendengar kalimat itu.
'Mama tahu kamu bukan dia,' lanjutnya. 'Tapi kadang melihat wajahmu membuat Mama seperti lupa harus berhenti di mana.'
Aku mengusap pipi dengan punggung tangan. Itu bukan jawaban yang rapi, tetapi terasa lebih jujur daripada mengatakan kemiripan kami tidak pernah berpengaruh.
'Aku tidak mau Mama takut melihatku,' kataku.
'Mama tidak takut melihatmu.'
'Aku juga tidak ingin Mama harus menyembunyikan semua kenangan.'
Kami diam. Pagi sudah berjalan, pekerjaan dapur belum seluruhnya beres, tetapi aku tidak bangkit mencari kesibukan. Kali ini aku ingin tetap duduk sampai setidaknya kami tahu apa yang sedang dibicarakan.
'Aku cuma ingin kalau Mama menawarkan makanan, Mama tanya aku suka atau tidak. Bukan aku harus suka karena Alana suka.'
Mama mengangguk perlahan.
'Dan kalau Mama rindu, boleh bilang rindu. Tapi jangan berharap aku bisa membuatnya kembali.'
Ia memejamkan mata sebentar. Aku menunggu tanpa mengisi diamnya dengan candaan.
'Mama perlu belajar,' katanya akhirnya.
Aku mengangguk. 'Aku juga. Aku masih sering bilang iya padahal tidak ingin, karena takut Mama sedih.'
Kami tidak saling berjanji akan langsung mahir. Mama meraih tanganku di atas meja, lalu berhenti sedikit sebelum menyentuh.
Aku mengulurkan tangan lebih dekat. Ia menggenggamnya.
Pelukan pertama kami dulu tetap kenangan yang kusayangi. Aku tidak ingin percakapan pagi ini mengubahnya menjadi sesuatu yang sepenuhnya salah. Aku hanya ingin pelukan berikutnya tidak membuatku takut kehilangan namaku.
Setelah beberapa saat, kami berdiri. Mama membawa wadah kosong ke tempatnya, sedangkan aku mengeringkan bagian meja yang basah.
Suasana belum kembali seperti biasa. Mama lebih banyak diam. Aku pun tidak mendesaknya tersenyum agar rasa bersalahku cepat hilang.
Menjelang siang, ia bertanya apakah aku mau makan bersama atau menunggu sedikit lagi.
'Bersama saja, Ma. Aku sudah lapar.'
Mama mengangguk. 'Mau Mama siapkan piringnya?'
'Aku ambil sendiri.'
Ia membiarkanku berjalan ke lemari. Aku mengambil dua piring, bukan hanya satu. Mama menerimanya dariku, lalu duduk.
Tidak ada pujian bahwa aku sekarang sudah dewasa karena mampu mengambil piring. Justru itu yang membuatku nyaman.
Kami makan dari hidangan yang sudah ada. Ketika Mama menyodorkan lauk, aku memilih potongan yang lebih kecil.
'Yang besar tidak?' tanyanya.
Aku menggeleng. 'Nanti tambah kalau masih mau.'
'Iya.'
Satu kata. Tidak menghilangkan seluruh ketakutanku, tetapi memberi sesuatu yang bisa kulihat dan rasakan di depan mata.
Aku mencicipi makanan, lalu mengatakan bagian yang kusukai. Mama mendengar tanpa menyambung dengan kesukaan Alana.
Sesudah makan dan membereskan meja, kami salat lalu beristirahat di ruangan masing-masing. Aku kembali ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur. Ponselku memuat pesan Riyan yang menanyakan apakah aku sudah makan.
Aku membalas sudah. Setelah berpikir sebentar, kutambahkan bahwa aku dan Mama berbicara pagi ini, dan nanti aku ingin ia mendengar sendiri apa yang kami perlukan.
Ia menjawab baik. Tidak menanyakan apakah Mama menangis atau apakah aku terlalu keras.
Aku meletakkan ponsel.
Sore itu, saat keluar kamar, kulihat Mama berada di ruang depan. Aku duduk di dekatnya. Kami tidak langsung membicarakan Alana lagi.
'Aku tadi hampir ketiduran lama,' kataku.
'Capek?'
'Mungkin kepalaku baru berhenti rapat.'
Mama tersenyum kecil. Aku ikut tersenyum. Kali ini aku tidak merasa harus membuatnya tertawa lebih lama.
Ketika suara mobil Riyan terdengar menjelang malam, Mama menoleh ke pintu. Aku berdiri untuk membukakan.
Riyan masuk dan menyapa kami. Setelah meletakkan barang, ia melihat wajah Mama, kemudian wajahku.
'Mau bicara bersama setelah makan?' tanyanya.
Aku mengangguk. Mama juga.
Namun sebelum ia naik untuk membersihkan diri, aku mengatakan satu hal yang penting.
'Nanti jangan langsung membela aku atau Mama, Om. Dengarkan kami dulu.'