'Om akan ikut mengingatkan,' jawab Riyan. 'Tapi bukan dengan mengambil alih semua yang ingin kamu katakan.'
Aku memandangnya. 'Jangan membentak Mama juga.'
'Tidak.'
'Aku tidak mau Mama mengira aku menyuruh Om memarahinya.'
'Om bisa bicara sebagai anak Mama, tanpa menjadikanmu alasan untuk marah.'
Aku mengangguk. Membayangkan percakapan itu saja sudah membuat perutku menegang. Mama memberiku begitu banyak kehangatan sejak aku datang. Aku takut satu permintaan akan terdengar seperti menolak semuanya.
Riyan duduk di ujung sofa.
'Kamu mau Om mengatakannya besok?'
Aku berpikir sebentar, lalu menggeleng.
'Kalau ada yang terjadi, bantu aku. Jangan bikin pengumuman sebelum sarapan.'
Senyum kecil muncul di wajahnya. 'Baik. Tidak ada pengumuman.'
Aku menarik selimut ke pangkuan. Percakapan malam itu belum membuatku yakin tentang segala hal, tetapi setidaknya aku tidak lagi merasa sendirian membawa pertanyaan tentang Alana.
Riyan merapikan bantalnya. Aku berbaring setelah menaruh dompet kembali ke dalam tas. Foto tetap berada di sana.
Sebelum lampu diredupkan, ia memanggilku.
'Kayla.'
Aku menoleh.
'Selamat tidur.'
Hanya itu. Tidak ada panggilan lain, tidak ada candaan bahwa aku bayi yang perlu ditidurkan. Aku membalas selamat tidur dan memejamkan mata.
Pagi berikutnya, kami bangun dan salat. Aku mengantuk ketika melipat mukena, sampai salah satu ujungnya terlipat ke dalam dan membuat bentuknya aneh.
Riyan melihatku membuka lipatan itu lagi.
'Perlu bantuan?'
'Tidak. Ini urusan kehormatan antara aku dan kain.'
Ia tertawa pelan. Aku akhirnya mendapatkan bentuk yang cukup rapi, lalu meletakkannya di tempat biasa.
Kami turun setelah ia bersiap kerja. Mama sudah di dapur. Aku menyapa dan mengambil piring yang akan dibawa ke meja.
'Pagi, Kayla,' jawabnya.
Namaku terdengar biasa saja, dan justru karena itu aku merasa sedikit tenang. Aku tidak ingin setiap kali namaku disebut menjadi sesuatu yang perlu dirayakan.
Mama melihat rambutku yang masih agak berantakan di bagian belakang.
'Sini, ada yang terlipat.'
Aku mendekat. Ia merapikannya dengan jari, lalu berhenti sebentar. Pandangannya tinggal lebih lama di wajahku.
Aku merasakan bahuku menegang.
'Mama?'
Ia tersenyum, tetapi ada sesuatu yang belum lepas dari matanya.
'Tidak apa-apa. Duduk dulu.'
Aku membawa piring ke meja. Riyan datang dengan gelasnya. Ia melihatku, lalu Mama, tetapi tidak langsung bertanya.
Kami duduk bertiga. Mama meletakkan lauk di dekatku dan menyarankan aku mengambil lebih banyak.
'Yang bungsu biasanya suka kalau—'
Kalimatnya terputus. Tangannya berhenti di atas meja.
Aku memandang lauk itu. Aku tidak tahu apakah Mama sedang ingin bercerita atau sedang lupa bahwa orang yang duduk di depannya bukan Alana. Aku tidak ingin menuduhnya untuk sesuatu yang belum kujelaskan.
'Aku ambil segini dulu, Ma.'
Mama menatapku.
'Kalau masih lapar, nanti tambah,' lanjutku.
Riyan menggeser wadah agar tidak terlalu menutupi piringku.
'Kayla bisa memilih sendiri, Ma.'
Mama menarik tangannya perlahan. 'Iya. Mama cuma teringat.'
Aku mengangguk. 'Boleh teringat, Ma. Aku cuma belum tahu aku suka sebanyak apa.'
Suasana menjadi canggung. Sendokku menyentuh piring dengan bunyi kecil yang terasa keras sekali. Aku ingin segera mengatakan sesuatu yang lucu, menyelamatkan Mama dari wajah sedihnya, membuat Riyan tidak perlu menatap kami bergantian.
Tetapi aku sudah terlalu sering menjadikan mulutku pelampung untuk semua orang.
Aku mengambil satu suapan dan mengunyah. Rasanya enak. Aku mengatakannya kepada Mama tanpa menambahkan bahwa aku akan makan sebanyak yang ia inginkan.
Mama mengangguk, lalu kembali menyendok makanannya sendiri.
Setelah beberapa saat, Riyan menanyakan apakah ada yang perlu ia bantu sebelum berangkat. Mama menjawab tidak. Aku meminta ia memindahkan gelas kosong yang terlalu dekat dengan pinggir meja.
Ia melakukannya. Percakapan kembali bergerak, kecil-kecil, tanpa ada yang harus memaksa senyum.
Sehabis sarapan, aku membawa piring ke dapur. Mama mengikuti dengan wadah lauk. Kami berdiri berdampingan, tetapi belum berbicara.
Aku mencuci piringku, lalu menaruhnya di rak. Ketika hendak mengambil lap, Mama menyerahkannya lebih dulu.
'Mama tadi membuatmu tidak nyaman?'
Aku menerima lap itu.
'Sedikit.'
Mama menunduk. Aku segera ingin menambahkan banyak alasan agar jawabanku tidak terdengar buruk.
Namun sebelum aku melakukannya, Riyan muncul di pintu dapur untuk berpamitan. Ia berhenti saat melihat kami, tidak langsung masuk ke tengah.
'Mama dan Kayla sedang bicara?' tanyanya.
Aku mengangguk.
'Om pamit dulu. Nanti kabari kalau perlu sesuatu.'
Mama mengangguk, tetapi belum bergerak mendekat. Aku melihat keraguan di wajah Riyan. Ia seperti ingin memastikan kami baik-baik saja sebelum meninggalkan rumah.
Aku pun ingin mengangguk dan mengatakan semuanya baik agar ia bisa berangkat tanpa memikirkan kami.
Namun kami memang sedang tidak sepenuhnya nyaman. Itu tidak berarti salah satu harus menghentikan pembicaraan.
'Kami belum selesai bicara,' kataku.
'Om tahu.'
'Nanti aku cerita yang memang perlu diceritakan.'
Ia mengangguk. 'Baik.'
Mama memandang anaknya, kemudian memandangku. Tidak ada pertanyaan mengapa aku perlu bercerita kepada suami sendiri, tidak pula permintaan agar percakapan kami dirahasiakan.
Aku sedikit lebih tenang karena itu. Aku tidak ingin duduk di antara dua orang sambil menjaga versi cerita yang berbeda untuk masing-masing.
Riyan akhirnya melangkah mendekat untuk berpamitan. Gerakannya biasa saja, tetapi aku tahu ia sedang memilih untuk tidak menyelesaikan percakapan kami dengan satu kalimat dari orang yang terbiasa dianggap paling dewasa.
Aku perlu kesempatan berbicara langsung kepada Mama. Mama juga perlu kesempatan menjawabku tanpa anaknya menerjemahkan setiap perasaan kami.
Ia menyalami Mama, kemudian aku. Tidak ada isyarat agar aku cepat membuat Mama tenang. Ia pergi setelah memastikan barangnya sudah dibawa.
Aku mendengar pintu depan ditutup. Sekarang tinggal aku dan Mama, dengan lap lembap di tanganku dan pertanyaan yang belum mendapat jawaban utuh.
Aku meletakkan lap.
'Aku senang Mama sayang sama aku,' kataku. 'Aku tidak mau itu berhenti.'
Mama mengangkat wajah.
'Tapi kadang aku takut kalau kesukaanku berbeda, Mama kecewa.'
Ia membuka mulut, kemudian mengatupkannya lagi. Aku menunggu. Aku tahu ia mungkin hendak langsung mengatakan tidak, tetapi rasa takutku tidak akan hilang hanya karena dibantah cepat-cepat.
Mama menarik kursi dari meja dapur.
'Kamu mau duduk sebentar?'
Aku mengangguk dan duduk di seberangnya.
Ia menggenggam kedua tangannya, lalu bertanya pelan, 'Sejak kapan kamu merasa harus seperti Alana supaya Mama senang?'