'Kalau yang kamu tanyakan sekarang, iya,' jawab Riyan. 'Om tetap ingin menjadi suamimu. Tapi Om tidak bisa mengatakan kemiripan itu tidak berpengaruh ketika pertama kali mengenalmu.'
Aku menatap wajahnya. Jawaban pertama ingin kupegang erat-erat. Kalimat berikutnya membuat tanganku kembali saling meremas.
'Berarti kalau dulu wajahku berbeda, mungkin Om tidak akan memilih aku.'
'Om tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kita bertemu dengan keadaan yang berbeda. Yang Om tahu, dulu Om tertarik karena wajahmu mengingatkan pada Alana. Om sudah mengatakannya, dan itu tidak berubah hanya karena sekarang terdengar menyakitkan.'
Aku menunduk. Aku memang sudah tahu. Mendengar ulang tetap saja rasanya seperti menyentuh memar yang kukira tidak akan sakit lagi.
'Aku tidak minta Om mengganti cerita awal,' kataku. 'Aku cuma ingin tahu ceritanya sudah bergerak atau masih di tempat yang sama.'
Riyan menggeser duduknya. Kursi berderit pelan.
'Sudah bergerak. Om mengenalmu sebagai Kayla. Tapi mungkin Om terlalu sering menganggap kamu sudah mengerti tanpa menunjukkan apa bedanya.'
'Apa bedanya?'
Ia diam beberapa saat. Aku hampir menambahkan pertanyaan lain, tetapi menahan diri. Aku tidak ingin menyiapkan jawaban yang kemudian hanya perlu ia setujui.
'Om tahu kamu suka menjawab dengan bercanda ketika gugup. Om tahu kamu bisa diam lama kalau takut dianggap merepotkan, lalu pertanyaannya justru semakin banyak. Om tahu kamu ingin mencoba sendiri, tetapi tidak suka ditinggalkan dengan perintah yang tidak jelas.'
Aku memperhatikan ujung bajunya.
'Itu kebiasaanku yang menyusahkan semua.'
'Bukan semuanya menyusahkan.'
'Yang disebut tadi kebanyakan begitu.'
Riyan mengusap wajah. 'Om sedang berusaha menyebut kamu, bukan menyusun pujian.'
Aku hampir tersenyum. Hampir.
'Om juga tahu kamu bisa merasa lapar di tengah percakapan paling sulit,' tambahnya.
'Nah, itu lebih menyusahkan lagi.'
Senyumnya muncul, kemudian surut saat aku kembali menatapnya serius.
'Aku takut Om menyukai aku karena rumah ini jadi ramai lagi. Kalau aku lagi diam seperti beberapa hari ini, apa gunanya aku?'
Riyan menegakkan tubuh.
'Kamu tidak menikah dengan Om untuk menjadi penghibur rumah.'
'Tapi Om pernah berterima kasih karena Mama bahagia setelah aku datang.'
'Iya. Om memang senang melihat Mama kembali keluar kamar. Tapi ucapan itu bisa membuatmu merasa kebahagiaan Mama pekerjaanmu. Om seharusnya tidak membiarkannya menjadi bebanmu.'
Aku melihat dompet di meja rias. Benda kecil itu tidak bergerak, tetapi rasanya ikut duduk di antara kami.
'Aku pernah sengaja berdandan seperti Alana. Aku pikir Om akan senang.'
Wajah Riyan berubah.
'Om ingat.'
'Aku juga ingat Om memeluk, lalu marah sesudah sadar itu aku.'
Ia menunduk. Aku tidak perlu mengulang pakaian dan cara rambutku ditata. Kenangannya masih cukup jelas tanpa dibantu rincian.
'Om salah melampiaskan kebingungan dan kehilangan itu kepadamu,' katanya. 'Kamu ingin menghibur. Om justru membuatmu menanggung sesuatu yang tidak kamu pahami.'
'Aku tidak mau melakukan itu lagi.'
'Om tidak meminta kamu mengulanginya.'
Aku mengangguk. Kalimat itu sederhana, tetapi ada bagian tubuhku yang perlahan mengendur. Aku tidak ingin setiap kali suamiku murung, pikiranku langsung mencari cara membawa kembali wajah adiknya.
Riyan melihat ke arah dompet, lalu kepadaku.
'Kalau menyimpan foto itu membuatmu tidak nyaman, kamu tidak harus terus membawanya.'
Aku langsung menoleh.
'Jangan buru-buru menyuruh fotonya dipindah. Bukan fotonya yang salah.'
'Om bukan menyuruh.'
'Aku tahu. Aku cuma... aku tidak ingin nanti merasa sudah menyingkirkan foto, tapi pertanyaanku tetap ada.'
Ia mengangguk. Aku meraih bantal kecil dari sisi sofa dan memeluknya di pangkuan.
Untuk sesaat kami diam. Aku ingin lebih dekat, tetapi tidak ingin sebuah pelukan mengakhiri percakapan yang baru berani kubuka.
'Aku mau cuci muka dulu,' kataku.
Riyan mengangguk. Aku berdiri dan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan bantal di sofa. Air di wajah membuatku berhenti memikirkan kalimat berikutnya selama beberapa detik.
Di cermin, aku mencoba melihat diriku seperti biasa. Tidak mencari bagian yang mirip dengan foto, tidak pula memaksa menemukan perbedaan. Hidungku tetap hidungku meskipun mungkin mengingatkan seseorang pada orang lain.
Aku mengeringkan wajah dan kembali ke kamar.
Riyan sudah memindahkan kursinya sedikit agar tidak menghalangi jalan. Ia tidak mengambil dompet atau mengeluarkan foto saat aku pergi. Aku duduk di tepi tempat tidur kali ini.
'Aku belum ingin foto itu dipindah,' kataku.
'Baik.'
'Kalau nanti aku berubah pikiran, aku bilang. Tapi jangan jadikan keputusan soal foto sebagai jawaban soal aku.'
'Om mengerti.'
Aku belum yakin ia memahami seluruhnya. Aku sendiri masih mencari bentuk pertanyaan yang sebenarnya.
Riyan berdiri hendak mengambil air. Aku menggeleng ketika ia menawarkan, lalu menunggunya minum sebelum bicara lagi.
'Om masih sering merindukan Alana?'
'Iya.'
Aku mengangguk. Jawaban itu tidak terasa mengancam seperti yang kubayangkan. Yang menakutkan bukan ia masih rindu. Yang menakutkan adalah kalau ia datang kepadaku sambil meminta aku menjadi tujuan rindu tersebut.
'Kalau sedang rindu, Om boleh bilang sedang rindu Alana.'
Ia memandangku lama.
'Tidak harus langsung bercanda sama aku atau menganggap aku bisa membuatnya hilang.'
Riyan meletakkan gelas di meja.
'Om belum pandai membicarakannya tanpa merasa kehilangan itu datang lagi.'
'Aku juga belum pandai mendengarnya tanpa takut dibandingkan.'
Riyan melihat kedua tangannya, lalu berkata, 'Alana adik Om. Kehilangan dia bukan sesuatu yang bisa diperbaiki dengan menikahi seseorang. Om seharusnya memahami itu sebelum berharap wajahmu bisa membuat rumah ini terasa seperti dulu.'
Aku mendengarkan tanpa mengangguk terlalu cepat.
'Waktu Om ingin dekat denganku, aku tidak mau menebak apakah yang dicari istri atau kenangan.'
'Om perlu belajar mengenali rasa rindu itu sebelum membawanya kepadamu.'
'Belajar boleh. Tapi jangan aku terus yang kena akibatnya.'
Ia mengangkat wajah. 'Iya.'
Aku menarik bantal sedikit lebih dekat ke tubuh. Aku tidak meminta ia berhenti menjadi kakak dari seorang adik yang telah tiada. Aku hanya tidak ingin pernikahan kami menjadi tempat ia menghidupkan kembali hubungan keluarga yang tidak mungkin kembali dengan cara yang sama.
Di depanku, Riyan tidak mencoba menghilangkan keberatan itu dengan mencium atau memeluk. Ia tetap mendengarkan, meskipun aku tahu apa yang kukatakan membuatnya harus melihat alasan-alasannya sendiri tanpa tempat bersembunyi.
Kejujuran itu membuat kamar terasa sunyi, tetapi tidak kosong. Kami akhirnya menyebut kesulitan masing-masing tanpa mencoba memenangkannya.
Aku mengusap bagian seprai yang terlipat, kemudian menatapnya lagi.
'Kalau besok Mama memanggilku seperti Alana, Om akan ikut mengingatkan, atau aku harus mengatakannya sendiri?'