'Iya, Ma. Masih ada di dompet.'
Mama masuk beberapa langkah dan meletakkan handuk di sandaran kursi. Matanya tetap pada foto Alana, lalu beralih kepadaku.
Aku menurunkan foto ke pangkuan. Aku tidak ingin gerakanku terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
'Tadi aku membereskan tas,' kataku. 'Bukan sengaja mencari.'
Mama mengangguk. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan jarak kecil dariku.
'Boleh Mama lihat?'
Aku menyerahkannya.
Mama memegang foto itu pada bagian pinggir, hati-hati sekali. Wajahnya berubah dengan cara yang membuatku ingin merapat, tetapi juga takut mengganggu. Aku pernah melihatnya menangis saat pertama bertemu denganku. Sekarang aku melihat ia berusaha menahan sesuatu hanya dengan menekan bibir.
Aku menunggu.
'Kadang Mama masih...' Ia berhenti, lalu menggeleng kecil. 'Tidak apa-apa.'
Aku tidak bertanya masih apa. Bukan karena tidak peduli. Aku hanya tidak yakin sanggup mendengar sebuah kalimat yang mungkin akan membawaku kembali menjadi seseorang yang harus menyerupai foto.
Mama mengembalikannya setelah beberapa saat.
'Maaf, Mama malah duduk di sini.'
'Tidak apa-apa, Ma.'
Kali ini aku benar-benar bermaksud begitu. Aku ingin Mama boleh merindukan anaknya. Aku hanya belum tahu di mana harus meletakkan rasa takutku sendiri ketika kerinduan itu menatap wajahku.
Mama berdiri, lalu menyentuh bahuku sebelum keluar.
'Nanti turun kalau sudah siap.'
Aku mengangguk. Setelah ia pergi, aku melihat foto di tanganku lagi. Aku tidak membencinya. Itu mungkin hal paling penting yang perlu kuingat sebelum pikiranku mengubah seorang gadis yang sudah tiada menjadi persoalan yang harus disingkirkan.
Aku menyelipkan foto kembali ke dompet.
Tidak kubuang, tidak kupindahkan diam-diam ke tempat Riyan. Aku belum ingin membuat keputusan yang tidak bisa dijelaskan tanpa menyakiti orang lain.
Setelah merapikan tas, aku turun. Mama sedang di dapur. Aku menawarkan bantuan menyiapkan makanan yang sudah ada, lalu melakukan bagian yang bisa kukerjakan.
Kami berbicara tentang hal kecil. Wadah mana yang dipakai, piring mana yang cukup, apakah aku ingin menambah tempe. Aku menjawab seperti biasa, meskipun sesekali mataku berhenti pada wajah Mama.
Ia juga tampak lebih diam daripada tadi pagi.
Aku tidak berusaha membuatnya tertawa dengan menirukan siapa pun. Aku hanya mengatakan bahwa aku berhasil melipat selimut bersama Riyan tanpa terbungkus di dalamnya.
Mama tertawa pendek.
'Kamu bisa saja.'
'Selimutnya yang suka melawan, Ma.'
Aku mengambil wadah kosong dan memindahkannya ke dekat bak cuci. Mama mengikuti gerakanku, lalu hampir mengatakan sesuatu.
'Apa, Ma?'
Ia menggeleng. 'Mama tadi mau cerita, tapi mungkin nanti saja.'
Aku berhenti dengan tangan masih memegang wadah. Aku bisa menebak arah cerita itu, tetapi tidak ingin menebaknya keras-keras.
'Tentang Alana?'
Mama mengangguk kecil.
Aku menaruh wadah sebelum menjawab. 'Aku mau dengar suatu saat. Tapi sekarang kepalaku masih penuh.'
Wajah Mama meredup sedikit. Aku melihatnya dan hampir menarik kembali kalimatku.
Namun jika aku mengangguk sekarang, aku mungkin akan berdiri mendengarkan sambil menahan napas, kemudian marah sendirian karena tidak sanggup mengatakan belum.
'Nanti saja, Ma,' ulangku lebih pelan. 'Bukan karena aku tidak peduli.'
Mama merapikan kain di dekat tangannya. 'Iya, Nak.'
Jawabannya terdengar pendek. Aku tidak tahu apakah ia memahami seluruhnya, dan tidak memaksanya segera tersenyum. Aku hanya tetap di dapur, membantunya menyiapkan meja. Aku tidak pergi karena merasa bersalah, tidak pula mencoba membuatnya melupakan anaknya.
Kami melanjutkan pekerjaan dengan sedikit lebih diam. Rupanya meminta ruang juga bisa menyisakan rasa tidak enak, sekalipun aku tahu ruang itu sedang kubutuhkan.
Candaan soal selimut tadi tidak menghapus kesedihan di matanya. Tetapi aku senang karena Mama sempat tertawa oleh kalimatku sendiri, bukan oleh usahaku menyerupai foto di dompet.
Siang berlalu dengan makan, salat, dan istirahat. Aku menerima pesan Riyan menanyakan apakah sudah makan. Aku membalas sudah bersama Mama, lalu menatap layar cukup lama.
Aku ingin menulis tentang foto itu.
Jari-jariku sudah mengetik beberapa kata sebelum kuhapus lagi. Aku tidak ingin ia menjawab dari sela pekerjaan, dengan kalimat pendek yang mungkin akan kupikirkan sampai sore. Kami baru belajar memberikan ruang untuk pertanyaan yang tidak mudah.
Aku akhirnya menulis bahwa nanti malam aku ingin berbicara lagi, bukan tentang pertemuan dengan Tiara.
Balasannya datang beberapa saat kemudian. Ia mengatakan baik dan akan meluangkan waktu setelah makan.
Aku meletakkan ponsel. Tidak ada permintaan agar ia pulang mendadak. Aku bisa menunggu sampai ia berada di rumah, selama pertanyaanku tidak diperlakukan seperti sesuatu yang akan hilang jika diabaikan.
Sore menjelang, aku mandi dan mengganti pakaian. Kali ini tidak ada dua baju yang dibandingkan di depan cermin. Aku mengambil pakaian rumah yang nyaman, lalu menyisir rambut sambil duduk.
Wajahku sendiri memandang balik.
Aku mencoba melihat hal-hal yang tidak pernah masuk ke dalam pembicaraan tentang kemiripan. Cara alisku terangkat kalau tidak percaya, bibirku yang sulit diam, dan mata yang gampang terlihat marah ketika sebenarnya malu.
Aku tidak tahu apakah Riyan memperhatikan semua itu sebagai milikku.
Ketika ia pulang, aku menyambut di ruang depan. Ia bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku menjawab tidak ada kejadian darurat, hanya ada sesuatu yang ingin kubicarakan.
Ia mengangguk dan tidak memaksaku menjelaskan di depan Mama.
Makan malam berlangsung bertiga. Aku sempat memperhatikan Riyan dan Mama saling menanyakan kegiatan hari itu. Tidak ada yang menyebut Alana. Aku juga tidak membuka percakapan tentang foto di meja makan.
Sesudah membantu membereskan piring, aku naik lebih dulu. Dompet kuambil dari tas dan kuletakkan di meja rias. Aku tidak mengeluarkan foto lagi. Aku ingin bicara sebagai diriku, bukan menunjuk gambar seolah sedang menunjukkan barang bukti.
Riyan masuk beberapa saat kemudian. Ia meletakkan ponsel di meja kerja, lalu menoleh kepadaku.
'Kamu mau bicara sekarang?'
Aku mengangguk dan duduk di sofa. Ia mengambil kursi seperti ketika kami mulai membicarakan Tiara. Pemandangan itu membuatku sedikit sedih. Aku berharap suatu hari kami bisa duduk berhadapan tanpa harus bersiap mendengar sesuatu yang berat.
'Tadi aku melihat foto Alana di dompet,' kataku.
Riyan diam. Aku melihat matanya bergerak ke arah meja rias, kemudian kembali kepadaku.
'Aku tidak marah kepada Alana, Om. Aku juga tidak ingin Mama berhenti merindukannya.'
Ia mengangguk, tetapi belum menjawab. Aku bersyukur karena kalimatku belum habis.
'Aku dengar Om memilih menjalani pernikahan kita. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya Om pilih ketika melihat aku.'
Tanganku saling menggenggam di pangkuan. Aku melepaskannya perlahan, lalu menatap Riyan tanpa mencoba tersenyum.
'Kalau wajahku tidak mirip Alana, apakah Om tetap ingin menjadi suamiku?'