'Om masih merasa bersalah,' jawab Riyan. Ia kembali duduk. 'Menolak Tiara tidak menghapus apa yang Om lakukan sebelumnya. Om lega karena berhenti memberi harapan yang tidak akan Om jalani.'
Aku menatapnya.
'Dan memilih pernikahan kita bukan cara supaya Om cepat merasa jadi orang baik lagi.'
Aku melepaskan ujung lengan bajunya. Rupanya tadi tanganku ikut menahan ketika ia berdiri, bukan hanya suaraku.
'Aku takut aku dijadikan penutup cerita yang enak.'
Riyan mengerutkan dahi sedikit.
'Maksudmu?'
'Om bilang pilih istri, semua orang lega. Terus aku harus bahagia supaya keputusan Om kelihatan benar.'
Ia menggeleng. 'Kamu tidak perlu membuktikannya dengan bahagia malam ini.'
Aku menyandarkan tubuh. Sofa di ruang depan tidak senyaman tempat tidur, tetapi aku belum ingin naik sebelum mendengar jawabannya sampai habis.
'Om memilih menjalani pernikahan ini,' katanya. 'Itu berarti Om harus menghadapi bagian yang tidak enak juga. Termasuk kamu belum percaya seperti sebelumnya.'
Aku mengangguk pelan. Tidak ada pengakuan cinta besar yang tiba-tiba turun dari langit. Ada sebuah keputusan, dan pekerjaan panjang yang mengikuti keputusan itu.
Mungkin aku seharusnya cukup puas untuk malam ini. Tetapi kata memilih tetap menyimpan pertanyaan lain yang belum berani kubuka.
Aku mengusap mata, lalu berdiri.
'Aku ngantuk.'
Riyan ikut bangkit. Kami naik tanpa melanjutkan pembicaraan di tangga. Aku bersyukur karena untuk sekali itu, sesuatu boleh berhenti sementara tanpa dianggap tidak penting lagi.
Di kamar, aku merapikan isi tas. Tisu yang sudah dipakai kubuang, botol minum kupindahkan ke meja. Dompet tetap di dalam. Aku belum membukanya karena tidak perlu mengambil apa pun.
Riyan menaruh bantal di sofa.
'Besok Om berangkat seperti biasa,' katanya.
'Aku dengar tadi.'
'Iya. Om cuma—'
'Takut aku berpikir Om menghindar?'
Ia menatapku, lalu mengangguk.
Aku menghela napas. 'Kerja saja, Om. Aku tidak mau seluruh hari kita cuma memandangi masalah ini.'
Riyan tersenyum tipis. Aku mengangkat satu jari sebelum ia sempat menjawab.
'Tapi bukan berarti boleh menghilang.'
'Om kabari.'
Kami bersiap tidur. Kali ini aku tidak mengulang percakapan mal dari awal sampai akhir. Aku masih teringat, tetapi lelah akhirnya lebih kuat daripada keinginanku memeriksa setiap kata.
Sebelum memejamkan mata, aku melihat Riyan menarik selimut sampai dadanya. Satu ujung bantalnya terjepit di bawah lengan.
'Om, bantalnya.'
Ia mengangkat kepala, membetulkan letaknya, lalu menatapku.
'Makasih.'
Aku mengangguk dan berbaring lagi. Beberapa malam terakhir, perhatian kecil seperti itu selalu membuatku bertanya apakah aku terlalu cepat melunak. Sekarang aku hanya lelah menghitungnya.
Aku masih bisa melihat bantalnya miring tanpa berarti aku sudah percaya sepenuhnya. Aku masih bisa mengingatkannya makan tanpa membatalkan pertanyaan yang menyakitkan.
'Kay?'
'Apa?'
'Tidur. Jangan menunggu Om dulu.'
'Aku tidak menunggu. Mataku saja belum menurut.'
Ia tersenyum kecil. Aku menarik selimut sedikit lebih tinggi, lalu memalingkan wajah ke arah yang lebih gelap.
Tidak ada ajakan pindah ke tempat tidur. Tidak ada pertanyaan apakah sesudah menolak Tiara, ia boleh mendapat sesuatu dariku. Malam itu jarak antara sofa dan tempat tidur tidak terasa seperti hukuman bagi salah satu dari kami. Jarak itu hanya tempat yang masih kubutuhkan untuk beristirahat.
Ketika kantuk akhirnya datang, aku tidak berusaha menahannya demi mencari kesimpulan yang rapi. Ada hal-hal yang bisa tetap belum terjawab sementara tubuh berhenti bekerja untuk beberapa jam.
Pagi datang bersama suara gerakan Riyan di dekat sofa. Kami bangun dan salat, lalu aku membereskan tempat tidur sementara ia bersiap.
Aku menarik selimut terlalu cepat hingga salah satu sisinya jatuh. Riyan menangkap ujungnya sebelum menyentuh lantai.
'Bukan lomba,' katanya.
'Aku tidak sedang lomba. Selimutnya terlalu luas.'
Ia memegang satu sisi dan aku sisi lainnya. Kami merapikannya bersama dalam diam. Pekerjaan itu hanya sebentar, tetapi tubuhku terasa lebih tenang setelah melakukan sesuatu yang tidak memerlukan penjelasan tentang perasaan.
Saat sarapan, Mama membicarakan makanan yang tersisa untuk siang. Aku menjawab bisa membantu memanaskannya nanti dengan pendampingannya. Tidak ada janji mempelajari banyak hal sekaligus. Hari ini aku ingin melakukan yang sudah kukenal.
Riyan membuat minumnya sendiri, lalu duduk.
Aku melihat ia menaruh ponsel di meja seperti biasa. Tidak terbalik dengan gerakan tergesa, tidak sengaja disodorkan kepadaku. Aku tidak bertanya apakah Tiara sudah menghubungi.
Namun ketika layarnya menyala sebentar, mataku tetap bergerak ke sana.
Aku malu karena refleksku lebih cepat daripada keputusan di kepala.
Riyan mengambil ponsel, memeriksa sebentar, lalu meletakkannya lagi. Ia tidak mengumumkan isi setiap pemberitahuan untuk menenangkan aku.
Setelah makan, ketika Mama berada di dapur, aku berkata pelan, 'Aku tadi melirik.'
'Om lihat.'
'Aku belum ingin jadi orang yang menghitung setiap layar menyala.'
Riyan mengangguk.
'Kalau ada pesan Tiara, Om yang akan memberi tahu. Kamu tidak harus menangkapnya sendiri.'
Aku mengusap pinggir meja. Aku sudah mendengar kesepakatan itu sebelumnya. Pagi ini aku perlu melihat apakah ia tetap mengingatnya ketika tidak sedang duduk di kursi menghadap pertanyaan.
Di pintu, aku bersalaman. Riyan tidak meminta kecupan sebagai tanda bahwa keadaan kami membaik. Ia hanya mengatakan akan pulang seusai kerja dan mengabariku kalau ada perubahan.
Aku mengangguk. Sesudah mobilnya pergi, aku menutup pintu tanpa menunggu sampai bayangannya hilang sepenuhnya.
Mama sedang merapikan kursi ketika aku kembali.
'Mau istirahat lagi?' tanyanya.
'Sebentar lagi. Aku mau membereskan tas dulu.'
Di kamar, aku mengeluarkan barang-barang yang tertinggal semalam. Dompet jatuh ke atas tempat tidur dalam keadaan terbuka. Aku meraihnya, hendak menutup, lalu melihat tepi foto yang selama ini tersimpan di dalamnya.
Alana.
Aku tidak menariknya langsung. Tanganku berhenti di atas dompet.
Wajah dalam foto itu pernah membuatku ingin mencoba membawa sedikit kebahagiaan kembali ke rumah yang kehilangan. Aku pernah berdandan menyerupainya, lalu melihat bagaimana wajah Riyan berubah saat mengira bayangan adiknya ada di hadapan.
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Pertemuan dengan Tiara telah memberiku jawaban tentang perempuan yang pernah dicintai suamiku. Tetapi foto kecil ini mengingatkanku pada perempuan lain yang tidak pernah menjadi sainganku, dan tetap membuatku bertanya-tanya tentang tempatku sendiri.
Aku akhirnya menarik foto itu perlahan.
Mama mengetuk pintu yang terbuka.
'Kayla, handukmu tadi tertinggal—'
Suaranya berhenti ketika melihat benda di tanganku. Aku menoleh kepadanya.
'Foto Alana kamu simpan, Nak?'