Mama mengusap punggung tanganku.
'Kalau begitu istirahat dulu. Mama tadi terlalu cepat bertanya.'
Aku mengangguk. Tidak ada nasihat tambahan bahwa seharusnya aku bersyukur karena suami sudah memilihku. Aku bersyukur untuk banyak hal, tetapi tubuhku tetap lelah dan pikiranku tetap penuh.
Riyan berdiri di sampingku.
'Riyan yang membuat keadaan seperti ini, Ma. Kayla tidak perlu langsung merasa tenang hanya karena hari ini Riyan bicara jelas.'
Mama menatap anaknya. 'Mama dengar.'
Aku menarik tangan perlahan dari genggaman Mama.
'Aku mau ganti baju dulu.'
'Iya, Nak. Nanti kalau mau makan, turun.'
Aku naik tanpa menjelaskan seluruh pertemuan. Riyan mengikutiku, membawa barangnya sendiri.
Di kamar, aku meletakkan tas di meja rias, lalu membuka lemari. Baju yang kupilih dengan susah payah tadi siang sekarang hanya terasa seperti pakaian yang ingin segera kuganti.
Ternyata tidak ada baju yang membuat percakapan menyakitkan menjadi lebih mudah. Tetapi setidaknya lengannya tadi tidak membuatku repot.
Riyan mengambil pakaian rumah, lalu menunggu sampai aku mengambil punyaku.
'Kamu duluan ke kamar mandi.'
Aku mengangguk dan masuk. Setelah membasuh muka, aku berdiri beberapa saat sambil memegang pakaian yang sudah kulepas. Aku ingin menggantungnya rapi, tetapi tanganku malas sekali bergerak.
Akhirnya kulakukan juga. Bukan karena sedang ingin menjadi istri teladan. Aku hanya tidak mau besok mencari baju sambil kesal kepada diriku sendiri.
Saat keluar, Riyan duduk di tepi sofa.
'Mau Om ambilkan air?'
'Aku bisa ambil nanti.'
'Baik.'
Ia bersiap membersihkan diri. Aku duduk di tempat tidur dan menarik kaki ke atas sebentar. Rumah terasa tenang. Tidak ada lagi suara mal atau tatapan Tiara, tetapi kalimatnya masih bergerak di kepalaku.
Aku masih ingin kita kembali bersama.
Aku memejamkan mata. Riyan sudah menjawab tidak. Mengapa ingatanku justru lebih rajin mengulang permintaannya daripada penolakan itu?
Ketika Riyan keluar, aku sedang menatap lantai.
'Om, aku boleh tidak mau bertemu dia lagi dalam waktu dekat?'
Ia berhenti di dekat lemari.
'Tentu. Om tidak akan mengatur pertemuan supaya kalian akrab.'
'Aku tidak mau nanti dianggap belum dewasa karena tidak bisa berteman.'
'Tidak ada kewajiban berteman.'
Aku mengangguk. Aku tahu seharusnya tidak perlu meminta persetujuan untuk itu. Tetapi mendengarnya dari Riyan membuat satu ketakutan berhenti berisik.
'Dia juga tidak minta berteman tadi,' kataku.
'Iya.'
'Jadi jangan kita bikin tugas baru untuk dia juga.'
Riyan mengangguk. Aku terdiam sebentar, lalu menyadari perutku mulai berbunyi. Suaranya cukup jelas membuat ia menoleh.
'Nah,' katanya pelan.
Aku menutup perut dengan bantal kecil. 'Jangan senang. Itu bukan tanda masalahnya beres.'
'Om tahu. Itu tanda kamu lapar.'
Aku tidak bisa menahan tawa. Pendek, tetapi cukup membuat bahuku turun.
Menjelang waktu makan malam, kami turun setelah beristirahat dan salat. Mama sudah menyiapkan makanan. Aku ingin membantu membawa piring, tetapi ia menunjuk tempat duduk.
'Duduk dulu malam ini. Besok boleh membantu lagi.'
Aku hampir membantah karena takut terlihat manja. Namun kakiku masih terasa berat, jadi kali ini aku menurut.
Riyan membawa gelas dan mengambil piring untuk kami. Mama duduk bersama setelah semuanya ada di meja.
Tidak ada yang menanyakan apa yang dipakai Tiara, apakah wajahnya marah, atau siapa yang lebih banyak berbicara. Aku makan perlahan, lalu meminta tambah nasi.
Mama mengambilkan lauk yang agak jauh dari tanganku. Saat menaruhnya di piring, ia bertanya apakah aku mau sedikit lagi.
'Segini dulu, Ma.'
Ia mengangguk dan tidak membujuk. Aku menyadari betapa sering aku terbiasa menjawab iya supaya orang yang menawarkan merasa senang.
Malam ini aku ingin berhenti ketika memang sudah cukup, bahkan untuk hal sesederhana lauk.
'Mama tadi sempat berpikir, kalau jawabannya sudah jelas, kamu pasti lebih tenang,' katanya pelan. 'Rupanya Mama melihatnya terlalu sederhana.'
Aku menelan suapan sebelum menjawab.
'Aku juga berharap begitu.'
Mama menatapku, lalu mengusap ujung meja dengan telapak tangannya.
'Kalau besok masih sedih, tidak perlu disembunyikan hanya karena Mama sudah telanjur lega.'
Aku mengangguk. Tidak ada pelukan karena kami sedang memegang sendok, tetapi kalimat itu terasa seperti diberi tempat duduk yang tidak perlu segera kutinggalkan.
Riyan tetap makan sambil mendengarkan. Ia tidak menyela untuk menjelaskan lagi bahwa dirinya sudah melakukan yang benar. Aku senang karena percakapan dengan Mama tidak berubah menjadi laporan kemajuan suamiku.
Aku mengambil suapan berikutnya. Rasanya tetap enak, dan kali ini aku membiarkan diriku menikmatinya tanpa merasa sedang menyangkal kesedihan.
Mama menggeser tempat nasi tanpa komentar. Aku menyukai itu. Aku tidak ingin selera makanku dijadikan ukuran apakah hatiku sudah pulih.
Di tengah makan, Riyan mengatakan besok jadwal kerjanya kembali seperti biasa.
Aku mengangguk. 'Kalau lebih lambat, kabari.'
'Iya.'
Percakapan biasa itu terasa menenangkan. Besok masih ada pekerjaan, makan siang, dan pakaian yang perlu dibereskan. Hidup kami tidak berhenti untuk menjaga satu pertemuan tetap menjadi pusat segala sesuatu.
Setelah makan, aku membawa piringku sendiri ke dapur. Mama hendak mengambilnya, tetapi aku menggeleng.
'Yang ini bisa, Ma.'
Ia membiarkanku mencuci. Riyan berdiri di samping, membersihkan gelas yang tadi dipakainya. Aku tidak memandangnya terus untuk memastikan ia membantu. Ia memang sudah berdiri di sana.
Saat Mama kembali ke ruang depan, aku bicara lebih pelan.
'Om merasa lebih ringan?'
Riyan menghentikan gerakan tangannya sebentar.
'Sedikit. Karena akhirnya Om mengatakan yang harus dikatakan.'
Aku mengangguk.
'Tapi Om tahu itu tidak sama dengan semuanya pulih,' tambahnya.
Aku mengeringkan tangan. Itulah hal yang tadi kutakuti: kami pulang dari tempat yang sama, tetapi mungkin membawa rasa yang sangat berbeda.
'Aku tidak mau jadi pengingat kesalahan Om setiap hari.'
'Om tidak meminta kamu melakukan itu.'
'Tapi kalau aku kepikiran lagi, aku juga tidak mau pura-pura lupa.'
'Katakan.'
Aku memandangnya. 'Kadang aku mungkin tidak mau membicarakannya panjang. Cuma ingin bilang sedang kepikiran.'
Riyan mengangguk. Aku meletakkan lap, lalu kami berjalan keluar dari dapur.
Di ruang depan, Mama sudah duduk. Aku ikut duduk di dekatnya, sedangkan Riyan mengambil tempat di kursi sebelah. Aku tidak perlu tersenyum terus agar suasana rumah dianggap baik.
Beberapa menit kemudian Mama pergi beristirahat. Aku dan Riyan masih duduk, mendengar rumah semakin sunyi.
Ia melihatku mengusap mata.
'Naik sekarang?'
Aku mengangguk, tetapi ketika ia berdiri, aku menahannya dengan satu pertanyaan yang sejak pulang terus mengganggu.
'Om lega karena memilih aku, atau karena akhirnya tidak perlu merasa bersalah lagi?'