'Om bukan hadiah yang harus kamu menangkan,' jawab Riyan. 'Dan kamu tidak perlu merasa berutang karena Om mengatakan apa yang seharusnya sudah jelas.'
Aku mengangguk, meskipun mataku kembali panas.
'Bagus. Kalau hadiahnya suka bikin pusing begini, orang bisa minta tukar.'
Ia hampir tertawa. Aku juga. Tetapi suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar setengah tersendat, membuatku cepat-cepat mengusap hidung.
Riyan tidak memanfaatkan candaan itu untuk menganggap aku sudah baik. Ia hanya bertanya apakah aku bisa berjalan atau ingin duduk dulu.
'Jalan saja. Kalau berdiri terus, nanti aku menyatu sama lantai.'
Kami melanjutkan langkah menuju parkiran. Aku memperhatikan kakiku sendiri beberapa saat, berusaha mengingat bahwa pembicaraan di meja sudah lewat. Tiara telah pergi. Tidak ada jawaban tambahan yang perlu kuburu di belakangnya.
Namun tubuhku masih seperti menunggu seseorang memanggil dan mengatakan semuanya belum cukup.
Di dekat mobil, Riyan membuka pintu. Aku masuk dan meletakkan tas di pangkuan. Ia berjalan memutar, duduk di belakang kemudi, lalu menunggu.
Aku memasang sabuk pengaman. Tanganku sempat salah menarik bagian talinya.
'Pelan-pelan,' katanya.
'Aku tahu caranya.'
'Iya.'
Aku menggigit bibir. Ia tidak sedang meremehkanku, tetapi telingaku sedang cepat sekali mendengar sesuatu yang tidak diucapkan.
'Maaf. Aku lagi gampang kesal.'
'Tidak apa-apa.'
Aku menatapnya. 'Jangan semua dibilang tidak apa-apa juga. Aku bisa salah ngomong.'
Riyan mengangguk. 'Om tahu kamu sedang lelah. Kalau ada yang menyakitkan, Om akan bilang.'
Aku menyandarkan kepala. Mobil belum bergerak. Suara di parkiran terdengar samar melalui kaca yang tertutup.
'Om mau mengabari dia nanti?' tanyaku.
'Tidak untuk menanyakan keadaannya seperti yang tadi dia minta jangan dilakukan.'
'Karena dia bilang begitu?'
'Karena itu juga sesuai dengan batas yang Om sampaikan. Om tidak mau membuka percakapan yang membuatnya menunggu lagi.'
Aku memandangi kedua tangannya. Tidak ada ponsel di sana, hanya kunci dan gerakan kecil merapikan posisi duduk.
Aku ingin percaya. Keinginan itu tidak hilang meskipun aku sedang kecewa. Justru itulah bagian yang membuatku mudah takut.
'Kalau dia yang menghubungi?'
'Om beri tahu kamu. Kita lihat apa yang dibicarakan, tanpa menyembunyikan konteksnya. Tapi jawaban Om tentang hubungan romantis tidak berubah.'
Aku mengangguk. Ia tidak menjanjikan bahwa Tiara tidak akan pernah menulis lagi. Janji seperti itu memang bukan miliknya.
Riyan menyalakan mobil setelah aku mengatakan siap. Kami keluar dari parkiran, kemudian mengikuti jalan pulang.
Aku memandang ke luar jendela. Waktu berangkat tadi aku sibuk memikirkan bagaimana harus menyapa. Sekarang aku sibuk mengingat setiap kalimat yang sudah diucapkan. Kepala ini benar-benar tidak mengenal jam istirahat.
'Kay, kamu lapar?'
Aku menoleh cepat.
Riyan mengangkat satu tangan sebentar, lalu kembali memegang kemudi. 'Om bertanya sungguhan. Bukan mau mengganti pembicaraan dengan makanan.'
Aku melihat wajahnya dan akhirnya tertawa pendek.
'Belum tahu. Perutku seperti lupa tugas.'
'Kalau nanti lapar, bilang.'
Aku mengangguk. Suasana sedikit mengendur. Tidak sampai nyaman sepenuhnya, tetapi cukup membuatku sadar bahuku sejak tadi terlalu tinggi.
Beberapa ruas jalan berlalu sebelum aku bicara lagi.
'Aku tidak membenci dia seperti yang kubayangkan.'
Riyan tetap memperhatikan jalan. 'Kamu tidak harus membencinya.'
'Aku tahu. Tapi aku juga tidak ingin dia dekat-dekat dulu.'
'Itu juga boleh.'
'Aku bukan minta izin punya perasaan, Om.'
Ia terdiam sebentar. 'Benar. Om sedang mencoba mendengar, tapi masih menjawab seperti memberi keputusan.'
Aku menoleh. Pengakuan itu membuatku teringat bahwa selama ini ia memang terbiasa menjadi orang yang lebih tahu. Di pekerjaan, di rumah, bahkan saat aku belum bisa mengerjakan sesuatu. Sulit rupanya melepaskan kebiasaan itu hanya karena istrinya mulai berani bertanya.
'Aku cuma sedang cerita,' kataku.
'Om dengar.'
Aku kembali memandang jalan. Untuk beberapa saat, ia benar-benar diam. Tidak memperbaiki perasaanku, tidak menyimpulkan aku perempuan baik karena tidak membenci Tiara.
Aku mulai bisa mendengar pikiranku sendiri.
Ketika mobil berhenti mengikuti kendaraan di depan, aku melihat pantulan wajahku di kaca. Mataku masih sembap. Aku mengusap bawahnya dengan tisu yang sudah terlalu sering dilipat.
'Ada tisu baru di tas,' kata Riyan.
'Aku tahu. Yang ini sudah berjasa.'
Ia menoleh sebentar, lalu tersenyum kecil. Aku akhirnya mengambil yang baru. Tidak semua benda perlu dipertahankan hanya karena menemaniku melewati hal yang sulit.
Aku menatap tisu lama di genggaman, kemudian menyimpannya terpisah agar nanti bisa dibuang.
'Aku takut tadi terdengar dingin waktu bilang belum bisa menganggap semuanya tidak menyakitkan.'
'Om mendengarnya sebagai jawaban jujur.'
'Tante Tia belum tentu dengar begitu.'
'Mungkin.'
Aku menoleh. Ia tidak buru-buru menjamin perempuan itu pasti memahami. Aku lebih menyukai jawaban tersebut, meskipun tidak menenangkan.
'Aku tidak bisa membuat semua orang pulang dengan senang,' kataku, lebih kepada diri sendiri.
Riyan menggeleng pelan. 'Tidak bisa.'
Mobil kembali bergerak. Aku menyandarkan kepala dan membiarkan pemandangan berganti. Untuk kali pertama sejak meninggalkan meja, aku tidak sedang menyiapkan jawaban berikutnya. Aku hanya seorang perempuan yang ingin pulang, mengganti pakaian, lalu duduk tanpa dinilai sedang kuat atau lemah.
Saat kami mendekati rumah, aku mengirim kabar kepada Mama bahwa kami segera pulang. Sesudah itu ponsel kumasukkan ke tas.
'Mama mungkin tanya,' kataku.
'Kamu ingin menjawab sendiri?'
'Aku ingin Om mengatakan keputusan Om. Aku tidak mau jadi orang yang mengumumkan Tante Tia sudah ditolak.'
'Baik.'
'Dan jangan cerita dia menangis.'
Riyan mengangguk. Aku tidak ingin membawa bagian paling rapuh dari Tiara pulang sebagai bukti kemenangan. Aku sudah cukup tersakiti tanpa harus menyimpan kesedihan orang lain sebagai hiasan.
Ketika mobil berhenti di depan rumah, aku belum langsung turun. Riyan mematikan mesin dan menoleh.
'Ada lagi?'
Aku menggeleng. 'Aku cuma belum siap ditanya apakah sudah lega.'
Ia tidak menjawab dengan janji bahwa Mama tidak akan bertanya. Ia hanya turun setelah aku membuka pintu.
Kami masuk bersama. Mama muncul dari arah dalam, melihat wajahku lebih dulu, kemudian Riyan.
'Sudah pulang?'
Aku mengangguk dan mencium tangannya. Sentuhan yang biasa itu tiba-tiba membuat tenggorokanku mengeras.
Riyan meletakkan barangnya, lalu berkata, 'Sudah bicara, Ma. Riyan sudah mengatakan tidak akan kembali menjalin hubungan dengan Tiara.'
Mama mengembuskan napas panjang. Tangannya masih memegang tanganku.
'Syukurlah. Berarti sekarang sudah lega, Nak?'
Aku memandang wajahnya dan sadar tidak bisa mengangguk hanya supaya ia ikut tenang.
'Belum, Ma,' jawabku. 'Aku masih capek dan sedih.'