'Aku masih ingin kita kembali bersama,' lanjut Tiara. 'Aku tahu kamu sudah menikah. Tapi waktu kamu masih membalas seperti dulu, aku mengira ada bagian dari kamu yang juga belum benar-benar pergi.'
Aku memandangi tangannya di atas meja. Ujung jarinya menekan satu sama lain sampai buku-bukunya memucat. Tidak ada senyum menantang ketika ia mengatakannya. Justru karena itu, kata-katanya terasa semakin nyata.
Riyan menarik napas.
'Aku tidak akan kembali menjadi pasanganmu, Tia.'
Tiara menatapnya. Aku tidak bergerak.
'Aku salah karena masih mempertahankan kedekatan yang membuatmu berharap,' lanjutnya. 'Tapi aku tidak bisa memperbaiki kesalahan itu dengan memberi harapan baru. Aku memilih menjalani pernikahanku dengan Kayla.'
Kalimat tersebut sampai ke telingaku dengan jelas. Aku menunggu rasa lega datang seperti air yang tumpah memenuhi gelas. Yang datang justru rasa lelah, seolah tubuhku baru berani berhenti menahan sesuatu.
Tiara mengalihkan pandangan kepadaku sebentar.
'Itu jawabanmu sendiri?'
'Iya,' jawab Riyan. 'Bukan jawaban yang Kayla suruh kuucapkan.'
'Kamu tidak sedang mengatakan tunggu sampai keadaan lebih mudah?'
'Tidak. Aku tidak meminta kamu menunggu.'
Tiara memandang ke sisi meja. Aku mengikuti gerakannya tanpa sengaja, seolah di sana ada sesuatu yang bisa membantu kami melewati beberapa detik berikutnya. Yang ada hanya bekas air dari gelas.
'Dulu kamu juga tidak bisa memberi kepastian soal menikah,' katanya. 'Aku mengira waktu yang akan mengubahnya.'
'Aku tidak akan memintamu memberi waktu lagi untuk hubungan itu.'
Kali ini tidak ada kata mungkin. Aku mendengarnya dan tetap tidak merasa ingin tersenyum.
Tiara menarik napas dengan mulut sedikit terbuka, kemudian mengatupkannya. Tas di sisinya bergeser ketika ia memperbaiki duduk. Aku menahan keinginan untuk menyodorkan gelasku, gerakan bodoh yang muncul hanya karena aku tidak tahu harus membantu dengan apa.
Minuman tidak bisa mengubah jawaban yang baru diterimanya.
Aku membiarkan kedua tanganku tetap di pangkuan. Kesedihan Tiara tidak mengharuskanku menawar keputusan Riyan menjadi lebih lunak. Aku bisa duduk tanpa mengejeknya, tanpa mengambil apa pun darinya, dan tanpa menawarkan suamiku sebagai penawar rasa sakit.
Pikiran itu terasa kejam sebelum kusadari bahwa selama ini aku sering menganggap tidak mengalah sama dengan tidak punya hati.
Aku merapatkan kedua tangan di pangkuan. Telapaknya masih lembap karena tadi menggenggam gelas.
'Aku tidak menyusun jawabannya, Tante,' kataku. 'Aku juga baru mendengar dia mengatakannya langsung kepada Tante sekarang.'
Tiara mengangguk tipis. Ia menarik tasnya lebih dekat, tetapi belum berdiri.
'Kalau begitu, kenapa kamu bilang masih punya perasaan?'
'Karena aku tidak ingin berbohong tentang itu. Tapi perasaan yang belum hilang bukan alasan untuk meneruskan hubungan romantis. Aku harus berhenti memberi ruang yang membuatmu menunggu.'
'Aku bukan keran yang bisa kamu tutup setelah kamu merasa cukup.'
'Aku tahu.'
'Kurasa kamu baru tahu sekarang.'
Riyan menerima kalimat itu tanpa membantah. Aku memperhatikan bahunya yang menegang. Kali ini ia tidak menjawab bahwa keadaan sulit atau semua orang perlu memahami. Ia tetap duduk di sana, menanggung jawaban yang selama ini ditundanya.
Tiara mengambil tisu dari tas. Aku memalingkan pandangan sebentar ketika ia mengusap sudut mata. Bukan karena ingin berpura-pura tidak melihat, tetapi karena aku tahu bagaimana rasanya menangis sambil diperhatikan.
'Aku tidak bisa langsung bilang aku menerima ini,' katanya.
'Aku tidak meminta kamu langsung merasa baik.'
'Lalu setelah hari ini apa? Kita saling kenal seolah tidak ada apa-apa?'
Riyan menggeleng.
'Aku tidak akan melanjutkan percakapan pribadi seperti dulu, menjanjikan pertemuan untuk memelihara kedekatan, atau memberimu alasan menunggu aku berubah pikiran.'
Tiara menatapnya lama.
'Jangan menghubungiku besok untuk menanyakan aku sudah makan atau belum karena kamu merasa kasihan.'
'Iya.'
'Kalau kamu melakukan itu, aku mungkin akan mendengar sesuatu yang lain lagi.'
'Aku tidak akan melakukannya.'
Aku menunduk. Rasa iba ternyata bisa menjadi alasan yang terdengar baik untuk membuka pintu yang baru saja ditutup. Aku bersyukur Tiara menyebutnya sebelum aku harus bertanya.
Kami diam beberapa saat. Minumanku sudah tidak terasa dingin di telapak. Aku tidak tahu apakah harus mengatakan sesuatu. Selamat tinggal terasa terlalu jauh, sedangkan maaf terasa bukan milikku untuk dibagikan atas keputusan yang tidak kubuat.
Tiara memandangku.
'Aku tidak akan meminta kamu mengerti perasaanku.'
Aku mengangguk. 'Aku bisa mendengar. Tapi aku belum bisa menganggap semuanya tidak menyakitkan.'
'Aku tahu.'
Kami tidak berpelukan. Tidak ada tawaran berteman yang akan membuatku terpaksa mengangguk demi menjaga suasana. Untuk saat itu, kami hanya dua perempuan yang duduk di meja sama dan tidak lagi membiarkan seorang laki-laki menjawab untuk keduanya.
Riyan memastikan tidak ada lagi pertanyaan yang hendak disampaikan sekarang. Tiara menggeleng, lalu berdiri dengan tas di tangannya.
'Aku perlu pergi sendiri.'
Riyan tidak menawarkan mengantar. Aku berdiri juga, memberi ruang agar kursinya bisa bergeser tanpa menyentuh tasku.
'Hati-hati, Tante.'
Tiara mengangguk kepadaku. Ia lalu berjalan meninggalkan meja tanpa menoleh lagi.
Aku tetap berdiri sampai Riyan memanggil namaku. Kakiku mendadak terasa seperti bukan milikku.
'Kita duduk sebentar?'
Aku menggeleng. 'Aku ingin keluar dari tempat makan.'
Kami membereskan yang perlu dibawa, lalu berjalan perlahan. Riyan tidak meraih tanganku. Aku juga belum mengulurkan tangan.
Di dekat jalur menuju parkiran, aku berhenti di sisi yang tidak menghalangi orang lewat. Suara mal kembali terdengar, padahal sejak tadi tempat ini tidak pernah benar-benar sunyi.
Aku membuka tas dan mencari tisu. Tentu saja benda yang tadi mudah ditemukan sekarang seperti tenggelam di dalam tas yang ukurannya tidak seberapa.
Riyan mengulurkan satu lembar.
Aku menerimanya. 'Ternyata tisu lebih siap daripada aku.'
Ia tersenyum kecil, lalu wajahnya kembali serius.
'Kamu ingin pulang sekarang?'
Aku mengangguk, tetapi tetap tidak bergerak. Air mataku justru muncul setelah Tiara pergi. Aku malu karena tidak tahu menangisi bagian yang mana.
'Aku dengar jawabannya, Om,' kataku. 'Aku dengar Om menolak.'
'Iya.'
'Tapi kenapa aku belum senang?'
Riyan tidak langsung menjawab. Ia berdiri cukup dekat untuk mendengar, tidak mengurungku dengan tubuhnya.
'Karena yang terjadi sebelum jawaban itu tetap ada,' katanya akhirnya.
Aku mengusap pipi. Aku ingin sekali ia salah, tetapi justru itu yang kurasakan. Tidak ada pintu ajaib yang membawaku kembali menjadi istri yang belum tahu semua ini.
Aku menarik napas dan menurunkan tisu.
'Jangan bilang aku menang, ya.'
Wajah Riyan berubah. Ia menatapku lebih lama.
Aku menggenggam tali tas. 'Aku bukan sedang memenangkan Om dari siapa-siapa.'