'Karena aku tidak cukup tegas,' jawab Riyan. 'Aku masih ingin tahu kabarmu, masih terbiasa membalas, dan membiarkan kata nanti terdengar seperti janji yang lebih besar.'
Tiara menatapnya.
'Jadi aku yang salah mengartikannya?'
'Bukan cuma soal kamu mengartikan. Aku ikut membuatnya kabur.'
Aku menurunkan pandangan ke meja. Mendengar pengakuan itu diucapkan kepada Tiara membuat telingaku panas. Aku tahu jawabannya sejak di rumah, tetapi mengetahui dan menyaksikan langsung ternyata dua pekerjaan yang berbeda.
'Masih ingin tahu kabarku karena apa?' tanya Tiara.
Riyan melirikku sebentar. Aku mengangkat wajah.
'Jawab saja, Om.'
Ia kembali memandang Tiara.
'Karena perasaan itu tidak hilang sekaligus. Tapi aku sudah menikah. Aku tidak boleh terus memelihara kedekatan yang membuatmu menunggu tanpa arah.'
Tiara menekan bibir. Aku tidak tahu bagian mana yang paling ia dengar: perasaan yang belum hilang, atau pernikahan yang tidak boleh diabaikan.
'Aku bukan meminta kamu berpura-pura tidak pernah mengenalku.'
'Aku juga tidak akan mengatakan hubungan kita dulu tidak pernah berarti.'
Aku memegang gelasku lebih erat. Ada bagian kecil diriku yang ingin ia mengatakan justru kalimat itu, bahwa semuanya tidak berarti dibanding aku. Namun aku tahu itu akan menjadi kebohongan yang manis, dan aku sudah terlalu sering dibiarkan nyaman oleh bagian cerita yang dipotong.
Tiara menoleh kepadaku.
'Kamu tahu dia masih punya perasaan?'
Pertanyaannya membuatku membeku sesaat. Riyan menggeser tubuh, tetapi aku menjawab lebih dulu.
'Dia sudah mengatakannya.'
'Dan kamu tidak apa-apa?'
Aku menatapnya. 'Aku tidak bilang tidak apa-apa.'
Suasana di meja berubah. Aku tidak meninggikan suara, tetapi jantungku berdebar sampai terasa di tenggorokan.
'Aku datang bukan untuk menunjukkan aku paling sabar,' lanjutku. 'Aku ingin tahu apa yang masih dibicarakan, dan bagaimana setelah ini.'
Tiara mengalihkan pandangan kepada gelasnya.
'Aku tidak bermaksud menguji kesabaranmu.'
'Aku juga tidak tahu maksud Tante sebelum Tante mengatakannya.'
Riyan tetap diam. Ia tidak menyuruhku berhenti karena nada suaraku mulai terdengar tegang. Aku lega, meskipun kalimat berikutnya belum kutemukan.
Aku menarik napas, tetapi rasa sesak tidak juga turun.
'Aku perlu ke kamar kecil sebentar.'
Riyan menoleh. 'Om temani sampai depan?'
'Aku bisa. Tunggu di sini.'
Ia mengangguk. 'Kita jeda dulu.'
Tiara mengangguk juga. Aku mengambil tas dan berdiri. Tidak ada yang menyuruhku meninggalkan ponsel atau buru-buru kembali. Namun beberapa langkah setelah menjauh, aku tetap ingin menoleh untuk memastikan mereka tidak langsung melanjutkan.
Aku hampir melakukannya.
Lalu aku terus berjalan.
Di kamar kecil, aku membasuh tangan lebih lama daripada yang diperlukan. Air mengalir di sela jari, memberi kesibukan sederhana pada tubuh yang tadi mendadak tidak tahu harus duduk bagaimana.
Aku melihat wajahku di cermin. Tidak ada air mata yang jatuh, tetapi mataku tampak lelah. Aku merapikan rambut yang bergeser, lalu berhenti sebelum mencoba memperbaiki setiap hal yang tidak salah.
Tiara tidak perlu melihat wajahku sempurna. Riyan juga tidak.
Aku mengeringkan tangan. Di dalam tas, ponselku tetap diam. Aku sempat ingin menghubungi Mama, lalu memilih mengirim pesan singkat bahwa kami sudah bertemu dan masih berbicara. Aku tidak meminta Mama menebak arti ucapan Tiara dari jauh.
Jari telunjukku sempat berhenti di atas layar. Ada banyak hal yang bisa kutambahkan: Tiara bertanya tentang perasaan Riyan, aku berhasil menjawab, aku tidak tahu apakah jawabanku terdengar terlalu tajam.
Tetapi Mama tidak duduk di meja itu. Kalau kukirim semua sekarang, aku akan menunggu jawabannya untuk menentukan apakah boleh merasa seperti ini.
Aku mengunci layar.
Aku tidak perlu membuat Mama cemas agar ada seseorang yang membenarkan rasa sakitku. Nanti, kalau ingin bercerita, aku bisa melakukannya dengan lebih utuh.
Aku menaruh ponsel kembali dan memeriksa wajah sekali lagi. Bibirku tampak kering. Aku menekannya sebentar, lalu berhenti mencoba tersenyum kepada cermin.
Aku tidak datang untuk menjadi perempuan paling menyenangkan di meja itu. Aku datang supaya tidak lagi hanya mengenal rumah tanggaku dari bagian cerita yang dipilihkan orang lain. Pikiran itu tidak membuat kakiku ringan, tetapi cukup untuk membawaku kembali ke kursiku sendiri.
Aku menarik napas sekali lagi, lalu melangkah keluar.
Dari jarak beberapa langkah, kulihat Riyan memandang ke arah jalan yang kulewati. Tiara sedang melihat gelasnya. Aku tidak punya cara mengetahui setiap detik yang terjadi saat aku pergi, tetapi tidak ada gunanya memulai dengan tuduhan yang kubuat sendiri.
Aku kembali duduk.
'Kita belum melanjutkan,' kata Riyan.
Aku mengangguk. 'Terima kasih.'
Tiara menggeser gelasnya agar tas kecilku tidak menyenggol. Aku mengucapkan terima kasih juga. Gerakan sopan itu tidak membuat kami dekat, tetapi cukup agar aku bisa duduk tanpa merasa sedang memasuki pertandingan.
'Aku ingin menanyakan sesuatu,' kataku.
Tiara memandangku.
'Waktu di sini dulu, Tante marah kepadaku?'
Ia diam beberapa saat.
'Aku terkejut. Aku sedang marah kepada keadaan, kepada Riyan juga. Aku tidak bisa bilang wajahku ramah waktu itu.'
Aku mengangguk. Jawabannya tidak sama dengan permintaan maaf, tetapi setidaknya ia tidak menyuruhku menganggap aku membayangkan semuanya.
'Aku melihat Tante saat kami pulang. Aku pikir aku sudah melakukan sesuatu yang salah.'
'Aku tidak mengenalmu saat itu.'
'Makanya aku ingin tahu sekarang.'
Tiara menghela napas. Ia meletakkan kedua tangannya di meja, kemudian menariknya kembali ke pangkuan.
'Kamu tidak salah karena menikah dengannya,' katanya akhirnya.
Kalimat itu membuatku sedikit lebih lega, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa ia masih ingin berbicara dengan suamiku. Aku tidak ingin mengambil satu kalimat baik lalu memakainya untuk menutup semua yang belum terjawab.
Riyan menatap kami bergantian.
'Aku tidak ingin kalian saling menanggung akibat dari hal yang tidak kujelaskan,' katanya.
Tiara menoleh. 'Tapi akibatnya sudah ada, Mas.'
'Aku tahu.'
'Aku datang bukan supaya kamu mengulang permintaan maaf sampai kita sama-sama lelah.'
Riyan menegakkan duduknya. Aku meletakkan tas di samping kursi agar tanganku tidak terus memegang talinya.
'Kalau begitu, apa yang kamu harapkan dari pertemuan ini?' tanyanya.
Tiara tidak segera menjawab. Matanya menetap pada wajah Riyan, lalu bergerak ke arahku. Aku menahan diri untuk tidak menunduk. Kali ini aku tidak akan membantu siapa pun berpura-pura hanya ada dua orang di meja itu.
'Aku perlu tahu apakah semua yang masih kamu rasakan itu benar-benar tidak punya tempat lagi,' katanya.
Riyan membuka mulut, tetapi Tiara mengangkat tangan sedikit.
'Biar aku mengatakannya dulu. Kalau setelah itu kamu menolak, aku ingin ditolak karena kamu mengerti apa yang kuminta.'
Aku memandang gelas di depannya, lalu kembali menatapnya.
Tiara menarik napas panjang.
'Yang masih kutunggu darimu bukan sekadar kabar, Mas.'