'Iya. Kita duduk bersama.'
Aku mengangguk dan kembali berjalan. Tangan Riyan masih menggenggam tanganku, tidak terlalu erat. Begitu masuk, udara sejuk membuat kulit lenganku meremang.
Kami melewati tempat permainan yang dulu sempat membuatku lupa merindukan Ayah. Suaranya masih ramai. Aku sempat melihat ke arahnya, kemudian kembali memandang jalan di depan.
Dulu kami ke sini untuk menghiburku. Hari ini aku datang dengan tisu tambahan di tas.
'Kay?'
Aku menoleh. Riyan memperlambat langkah karena aku tanpa sadar berhenti.
'Aku ingat waktu kita main,' kataku.
Ia mengikuti arah pandanganku. 'Om juga.'
Aku ingin bertanya apakah ia ingat aku bahagia sebelum bertemu Tiara. Tetapi pertanyaan itu sudah kubawa dari rumah, dan tidak perlu kutumpahkan di depan tempat permainan.
'Ayo,' kataku.
Kami sempat berhenti di sisi jalur berjalan agar tidak menghalangi orang yang lewat. Riyan melepaskan tanganku ketika aku membuka tas untuk mengambil tisu.
'Om mau beli es krim dulu?' tanyaku.
Ia tampak bingung. 'Kamu mau?'
'Tidak. Aku cuma memastikan kali ini kalau aku gugup, jawabannya bukan es krim.'
Riyan menatapku, lalu mengangguk dengan wajah sungguh-sungguh yang membuatku ingin tertawa dan menangis sekaligus.
'Kali ini Om dengarkan.'
Aku mengusap telapak tangan dengan tisu. 'Kalau sesudahnya aku lapar, baru boleh makanan.'
'Baik.'
Aku meremas tisu itu menjadi kecil dan menyimpannya untuk dibuang nanti. Ada kenangan yang tidak ingin kuhapus seluruhnya dari tempat ini. Aku pernah benar-benar tertawa bersama Riyan di sini. Aku hanya tidak ingin kenangan menyenangkan dipakai untuk menutupi bagian yang menyakitkan.
Setelah tanganku terasa lebih kering, aku menutup tas. Kali ini aku berjalan lebih dulu setengah langkah, bukan karena sudah tidak takut, melainkan karena tahu ke mana ingin pergi.
Ketika sampai di area makan, aku mengenali tempat itu sebelum melihat Tiara. Meja-mejanya, cahaya, bahkan jarak dari pintu masuk membuat perutku terasa tidak enak.
Riyan tidak mengajakku membeli makanan dulu lalu menunjukkan tempat menunggu. Ia berhenti di sampingku.
'Dia di sana.'
Tiara duduk dengan sebuah gelas di depannya. Ia melihat Riyan lebih dulu, lalu pandangannya bergeser kepadaku. Aku tidak bisa membaca pikirannya. Kali ini aku mengingatkan diri sendiri untuk tidak menjadikan setiap perubahan wajah sebagai jawaban.
Kami mendekat. Aku melepaskan tangan Riyan agar bisa menarik kursi.
'Selamat sore, Tante Tia.'
'Sore,' jawabnya. 'Kayla, ya?'
'Iya.'
Ia menyebut namaku dengan jelas, seolah sedang mencoba membiasakan diri. Aku duduk di kursi yang menghadapnya. Riyan mengambil kursi di sampingku, bukan di seberang bersamanya.
Aku merapikan tali tas di pangkuan.
'Aku panggil Tante Tia boleh?' tanyaku.
Tiara menatapku sebentar. 'Boleh. Tiara juga tidak apa-apa.'
Aku mengangguk. Untuk sementara aku tetap memilih sapaan yang sudah kukenal. Mengganti panggilan di tengah rasa gugup hanya akan menambah pekerjaan untuk lidah.
Riyan menanyakan apakah aku ingin minum. Aku memilih air, lalu kami mendapatkan minuman tanpa menunda percakapan lebih lama. Aku tidak memesan banyak makanan untuk menemani waktu menunggu. Kali ini aku tidak sedang dititipkan.
Tiara memutar gelasnya sedikit.
'Terima kasih sudah datang.'
Riyan mengangguk. 'Terima kasih sudah bersedia bertemu bersama Kayla.'
Ada jeda sesudah kalimat itu. Aku memandang Tiara, berusaha tidak terlihat seperti sedang memeriksa wajahnya.
'Aku memang ingin bicara dengan kamu, Mas,' katanya. 'Tapi karena ini menyangkut Kayla juga, aku mengerti kenapa dia datang.'
Aku tidak tahu apakah kata mengerti berarti menerima dengan senang hati. Mungkin tidak. Aku pun datang bukan karena senang.
'Aku ingin mendengar sendiri,' kataku.
Tiara mengangguk kecil, lalu mengalihkan perhatian kepada Riyan.
'Katamu sudah menjelaskan. Apa saja yang kamu ceritakan?'
'Bahwa kita pernah berpacaran dan berpisah sebelum aku mengenal Kayla. Bahwa aku masih membalas pesanmu setelah menikah tanpa langsung memberitahumu. Aku juga sudah mengakui itu salah.'
Aku memegang gelas dengan dua tangan. Mendengar pengakuan tersebut di depan Tiara terasa berbeda dari mendengarnya di kamar. Kali ini ia tidak bisa mengubah cerita untuk membuatku terlihat sebagai orang yang datang mengganggu.
Tiara menunduk sebentar.
'Aku tahu kita sudah putus,' katanya. 'Aku tidak pernah mengatakan kepada Kayla bahwa kita masih pacaran.'
'Aku tahu,' jawab Riyan.
'Tapi kamu tetap menjawab. Kamu tetap bilang nanti kita bicara setelah kamu pulang.'
'Iya.'
Aku melihat bahu Tiara terangkat sedikit ketika menarik napas. Ia tampak menahan sesuatu, tetapi aku tidak tahu apakah sedih atau marah.
'Ketika ketemu di sini, tiba-tiba kamu punya istri.'
Kata tiba-tiba membuat perutku menegang. Bagi dia, mungkin memang begitu. Bagiku, pernikahan itu bukan sulap yang terjadi saat ia memalingkan wajah.
Riyan menatapnya.
'Aku yang terlambat memberi tahu. Bukan Kayla yang harus menjelaskan kenapa kamu tidak tahu.'
Tiara menoleh kepadaku. Aku menahan keinginan untuk menunduk.
'Aku tidak menyalahkanmu karena tidak tahu, Tante,' kataku. 'Aku juga baru tahu hubungan kalian sesudah bertanya.'
Alisnya bergerak.
'Dia bilang apa sebelumnya?'
'Teman lama.'
Tiara menatap Riyan lagi. Gelasnya berhenti berputar.
'Aku dijadikan teman lama?'
Riyan mengangguk. 'Aku menghindari penjelasan. Itu juga sudah kuakui kepada Kayla.'
Aku melihat rahang Tiara menegang. Ada rasa aneh ketika menyadari dua kata yang melukaiku ternyata melukainya juga, meskipun dengan cara berbeda.
Aku tidak ingin mendadak merasa kami berada di pihak yang sama. Kami bukan dua orang yang otomatis bersahabat karena kecewa kepada laki-laki yang sama. Tetapi aku juga tidak bisa terus menganggap hanya perasaanku yang nyata di meja tersebut.
Tiara mengambil minum. Aku ikut minum karena tenggorokanku terasa kering.
'Kalau sejak awal kamu bilang sudah menikah, setidaknya aku tahu harus memahami jawabanmu dengan cara berbeda,' katanya kepada Riyan.
'Aku seharusnya mengatakannya.'
'Kenapa tidak?'
'Aku menghindari reaksi yang tidak nyaman. Aku merasa bersalah, lalu justru terus membalas dengan cara yang membuatmu tidak tahu keadaan sebenarnya.'
Ia tidak menyebut pekerjaannya. Tidak menyebut aku masih terlalu muda untuk mendengar. Aku memperhatikan itu dengan hati-hati, belum mau menganggap satu percakapan sebagai bukti perubahan selamanya.
Tiara mengusap bibir gelas dengan jarinya.
'Dan sekarang kamu sudah siap menghadapi reaksiku?'
Riyan diam sesaat. 'Aku harus mendengarnya. Tapi aku juga perlu jelas bahwa aku sudah beristri, dan aku tidak bisa terus berkomunikasi seperti dulu.'
Aku meliriknya. Pernyataan itu akhirnya terdengar di depan orang yang perlu mendengarnya, bukan hanya sebagai janji kepadaku.
Tiara tidak langsung menjawab. Matanya beralih dari Riyan kepadaku, lalu kembali lagi.
'Yang ingin kutanya bukan cuma kenapa kamu menikah, Mas. Kenapa setelah itu kamu masih membuatku merasa boleh menunggumu?'