'Iya,' jawab Riyan. 'Kita tidak perlu terlihat selalu sepakat di depannya.'
Aku mengusap sarung bantal dengan ibu jari.
'Jangan nanti kaki aku diinjak dari bawah meja.'
Ia menatapku, lalu tertawa pendek. 'Om tidak akan menginjak kakimu.'
'Aku serius.'
'Om juga serius.'
Aku mengangguk. Entah mengapa, jawaban itu lebih menenangkan daripada janji panjang. Setidaknya aku tahu kakiku boleh tetap aman walaupun mulutku mengatakan hal yang tidak ia rencanakan.
Riyan mengambil air minum dari meja, kemudian duduk lagi. Aku tidak langsung melanjutkan pertanyaan. Di luar segala urusan Tiara, ia tampak lelah setelah bekerja. Aku bisa melihat itu tanpa harus membatalkan kecewaku.
'Besok jangan telat makan,' kataku.
Ia mengangkat alis.
'Apa?'
'Tidak apa-apa. Om senang kamu mengingatkan.'
'Kalau perut Om bunyi waktu kami bicara, aku bisa lupa sedang marah.'
Senyumnya melebar. Aku ikut tersenyum sebelum menunduk. Aku tidak ingin seluruh kedekatan kami hanya berisi pertanyaan berat dan jawaban yang hati-hati.
Malam itu kami bersiap tidur seperti malam sebelumnya. Aku di tempat tidur, Riyan di sofa. Ketika lampu diredupkan, aku masih memandangi baju di gantungan.
'Kay,' panggilnya.
'Hm?'
'Kamu tidak harus menghafalkan pertanyaan.'
'Aku tidak menghafalkan.'
'Baik.'
'Aku cuma mengulang di kepala.'
Ia tertawa pelan. Aku menarik selimut sampai bahu, sedikit malu karena ketahuan. Setelah itu aku berhenti mencoba menyusun percakapan Tiara. Aku tidak tahu apa yang akan ia katakan, dan mengarang jawabannya sendiri hanya membuatku bertengkar dengan orang yang belum ada di kamar.
Esok paginya kami bangun, salat, lalu sarapan bersama Mama. Riyan berangkat kerja dengan janji pulang lebih awal. Tidak ada pengumuman besar. Ia hanya mengingatkan pukul empat dan mengatakan akan mengabari ketika hendak pulang.
Sepeninggalnya, aku membantu Mama membereskan meja. Aku hampir menjatuhkan sendok karena memegang terlalu banyak sekaligus.
'Pelan-pelan,' kata Mama.
'Aku ingin cepat beres.'
'Yang ditunggu masih sore.'
Aku mengerucutkan bibir. Ternyata wajahku mudah sekali dibaca pagi ini.
Setelah pekerjaan kecil di dapur selesai, aku beristirahat. Aku mencoba menonton sebentar, tetapi jalan cerita di layar berlalu tanpa masuk ke kepala. Akhirnya kumatikan dan mengambil ponsel.
Aku ingin mendengar suara Ayah, jadi kukirim pesan menanyakan apakah ia sudah makan. Balasannya datang ketika aku sedang merapikan bantal: sudah, dan ia mengingatkanku makan juga.
Aku tersenyum. Percakapan pendek itu tidak membahas Tiara, tetapi juga tidak berisi cerita bahagia yang kubuat-buat. Aku hanya ingin memastikan Ayah baik-baik saja, dan ia menjawab seperti dirinya sendiri.
Sesudah makan siang dan salat, aku mandi dan mengenakan baju yang sudah dipilih. Rambut kurapikan seperti biasa. Aku hampir mengambil sesuatu lagi untuk ditambahkan, lalu berhenti.
Tidak perlu membawa seluruh isi meja rias ke wajah.
Mama melihatku ketika aku turun mengambil air.
'Cantik,' katanya.
'Belum berangkat, Ma. Masih lama.'
'Mama tidak bilang harus berangkat sekarang.'
Aku tertawa kecil, lalu minum. Di dalam tas sudah ada ponsel dan tisu. Aku memeriksanya sampai dua kali, kemudian berhenti sebelum tas itu berubah menjadi pekerjaan lain.
Riyan mengabari ketika hendak pulang. Aku tidak menunggu di pagar. Aku duduk bersama Mama sampai suara mobilnya terdengar.
Ia masuk, menyapa, lalu naik untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Aku menunggu di ruang depan sambil memegang tali tas.
Ketika ia turun lagi, aku langsung berdiri.
'Masih ada waktu,' katanya.
'Aku tahu. Kakiku saja tidak mau duduk.'
Mama mengantar sampai pintu. Ia tidak berpesan agar aku mengalah atau menjaga nama baik siapa pun. Ia hanya memintaku berhati-hati dan mengabari jika pulang lebih lambat.
Aku mencium tangannya. 'Iya, Ma.'
Di mobil, aku memasang sabuk pengaman, lalu meletakkan tas di pangkuan. Riyan menunggu sampai aku duduk nyaman sebelum menjalankan mobil.
Jalan yang kami lewati terasa biasa. Justru itu yang aneh. Tidak ada tanda di tepi jalan yang menunjukkan bahwa aku sedang menuju percakapan yang kutakuti sejak beberapa hari lalu.
'Om.'
'Iya?'
'Kalau aku lupa pertanyaan, jangan senang dulu.'
Ia menoleh sebentar sebelum kembali memperhatikan jalan. 'Om akan ingatkan kalau kamu minta.'
Aku mengangguk. Kami melewati beberapa bagian jalan dalam diam. Kali ini diamnya tidak sepenuhnya buruk. Aku bisa melihat kedua tangannya di kemudi dan tahu kami sedang menuju tempat yang sama karena keputusan yang dibicarakan, bukan kebetulan yang disembunyikan.
Menjelang mal, aku menarik napas panjang.
Aku merapikan tali tas untuk kesekian kali. Riyan sempat melirik, lalu kembali memperhatikan jalan.
'Tasnya tidak ke mana-mana, Kay.'
'Tanganku yang tidak bisa diam.'
'Pegang botol minummu saja.'
Aku mengambil botol dari tas, membuka tutupnya, lalu minum sedikit. Saran yang sangat biasa itu justru membantu. Aku tidak membutuhkan kalimat bahwa aku pasti bisa menghadapi semuanya setiap kali terlihat gugup.
'Om gugup juga?' tanyaku.
'Iya.'
'Tidak kelihatan.'
'Om sedang menyetir.'
Aku menatap sisi wajahnya, kemudian hampir tertawa. Benar juga. Aku tidak bisa menilai seluruh perasaannya dari tangan yang sedang sibuk menjaga kemudi.
Namun mendengar ia mengaku gugup membuatku berhenti mengira bahwa hanya aku yang masuk ke pertemuan ini tanpa pelindung. Bedanya, ia perlu menghadapi akibat pilihannya. Aku perlu memahami akibat yang baru diberitahukan kepadaku. Kami berada di mobil yang sama, tetapi membawa beban yang tidak persis sama.
Aku menutup botol dan menyimpannya kembali.
Riyan melirikku. 'Masih mau lanjut?'
'Iya. Aku cuma mengisi udara. Bukan berubah pikiran.'
'Baik.'
Aku menahan senyum. Kalau semua tarikan napasku dianggap tanda batal, kami mungkin harus berputar sampai malam.
Di parkiran, Riyan mematikan mesin. Aku belum langsung melepas sabuk. Tanganku terasa dingin.
Ia tidak membuka pintu dulu.
'Mau duduk sebentar?'
Aku mengangguk. Kami diam beberapa saat. Aku melihat orang-orang lewat tanpa memperhatikan kami. Dunia ternyata tidak menunggu hasil percakapanku dengan mantan pacar suami.
Ponsel Riyan berbunyi. Ia membacanya, lalu memperlihatkan pesan singkat bahwa Tiara sudah berada di tempat makan.
Aku melepaskan sabuk.
'Ayo.'
Riyan turun lebih dulu dan menunggu di dekat mobil. Ketika aku berdiri di sampingnya, ia mengulurkan tangan tanpa menarik.
Aku menatap telapak tangannya. Aku masih punya keraguan, tetapi aku tidak ingin menghabiskan perjalanan dari parkiran dengan menghukum diri sendiri karena masih ingin dekat.
Tanganku menyambut tangannya.
'Kalau nanti aku lepas, bukan berarti aku mau lari,' kataku.
Ia mengangguk. 'Om tahu.'
Kami berjalan menuju pintu masuk. Tepat sebelum masuk, aku berhenti dan menatapnya.
'Kali ini kita langsung ke meja yang sama, ya, Om?'