'Aku ingin dengar sendiri, Ma. Tapi aku juga takut kalau tidak ikut.'
Mama duduk di tepi sofa. Aku tetap berdiri beberapa saat, kemudian menyerah pada kakiku yang mendadak terasa pegal.
'Mama tidak bisa memilihkan mana yang harus kamu rasakan,' katanya.
'Aku tahu. Cuma aku takut kelihatan seperti istri yang tidak percaya.'
'Kamu memang sedang kesulitan percaya.'
Aku menoleh. Mama tidak mengucapkannya sebagai teguran. Ia hanya menaruh kenyataan itu di antara kami, tanpa membungkusnya dengan kata sabar.
'Kelihatan sekali, ya?'
'Mama melihat kamu berpikir sebelum menjawab. Itu bukan hal buruk.'
Aku mengembuskan napas. 'Kepalaku capek, Ma.'
'Kalau begitu jangan tambahkan pekerjaan menebak penilaian semua orang.'
Aku menyandarkan tubuh. Di dinding, jam bergerak seperti biasa. Besok sore terasa jauh dan terlalu dekat sekaligus.
'Mama ingin ikut juga?'
Mama menggeleng. 'Kalian sudah membicarakan siapa yang perlu hadir. Mama tidak harus menambah kursi.'
Aku tersenyum kecil. Setidaknya aku tidak perlu mengatur rombongan ke mal seperti hendak berangkat piknik. Membayangkan itu membuatku sedikit malu kepada diri sendiri.
Kami kemudian berpindah ke dapur. Mama meminta bantuanku memilih bayam yang masih baik untuk dimasak siang nanti. Aku duduk dengan wadah di depan, memisahkan bagian yang tidak dipakai.
Tanganku sudah mengenal pekerjaan itu. Aku senang ada sesuatu yang tidak perlu kupelajari dari awal hari ini.
'Ma, menurut Mama aku perlu pakai baju apa?'
Mama menoleh dari meja.
'Yang nyaman.'
'Aku tahu. Tapi nyaman yang mana?'
'Kayla, kamu ingin bicara atau mengikuti lomba?'
Aku menjatuhkan satu tangkai ke wadah yang salah, lalu mengambilnya lagi.
'Kadang rasanya seperti lomba.'
Mama berhenti bekerja sebentar.
'Kalau Riyan membuatmu merasa harus mengalahkan perempuan lain supaya diperlakukan sebagai istri, itu yang perlu dia benahi.'
Aku menunduk. Aku tidak ingin membicarakan seluruh kesalahan Riyan lagi pagi itu. Tetapi kalimat Mama membuatku berhenti menghitung apakah Tiara lebih pandai berdandan atau berbicara.
'Aku tidak tahu cara terlihat tenang.'
'Tidak harus terlihat tenang terus.'
Aku mengangguk, lalu kembali memilah bayam. Satu helai menempel pada jariku yang basah. Kulepaskan dengan kesal kecil.
'Aku juga takut nanti aku terdengar jahat,' kataku.
'Jahat bagaimana?'
'Misalnya dia sedih dan aku tetap bertanya. Aku biasanya langsung tidak enak kalau orang menangis.'
Mama menarik wadah yang sudah penuh ke sisinya.
'Kamu bisa menunggu dia tenang tanpa membuang pertanyaanmu.'
Aku memikirkan itu sambil mengambil tangkai berikutnya. Selama ini pilihannya di kepalaku selalu cuma dua: terus bicara lalu dianggap tidak punya hati, atau diam sampai urusannya hilang di bawah urusan orang lain.
'Kalau aku yang menangis?'
'Kamu juga boleh mengambil waktu.'
Aku mengangguk. Mama tidak berjanji Tiara akan menyukaiku, tidak pula mengatakan bahwa orang yang lebih dulu menangis pasti lebih terluka. Ia hanya mengembalikan ruang yang sama untukku.
Aku memindahkan bayam yang sudah dipilih, lalu membantu membilas wadah kosong. Pertemuan besok masih menakutkan, tetapi aku tidak lagi merasa perlu menyiapkan senyum yang akan dipakai apa pun yang terjadi.
'Kalau daun saja tidak mau lepas, bagaimana pikiran, Ma?'
Mama tertawa. Aku ikut tertawa, dan sesaat dapur kembali menjadi dapur.
Sesudah makan siang dan salat, pesan Riyan masuk. Tiara bersedia bertemu bersama aku. Untuk besok, Riyan sudah bisa pulang lebih awal dan mengusulkan pukul empat sore. Ia menanyakan apakah aku setuju sebelum mengirim kepastian waktu kepada Tiara.
Aku membaca pesannya dua kali.
Pukul empat. Tiba-tiba besok bukan lagi sesuatu yang kabur. Ada angka yang bisa kutunggu, dan justru itu membuat jantungku berdebar lebih cepat.
Aku membalas setuju. Beberapa saat kemudian ia mengabari bahwa Tiara juga menyanggupi waktu tersebut.
Tidak ada pesan panjang untuk kutafsirkan. Tidak ada penolakan atas kehadiranku. Meski begitu, aku masih memandangi layar seperti mungkin ada baris lain yang tersembunyi.
Akhirnya ponsel kuletakkan, lalu aku membuka lemari.
Aku mengambil dua baju. Yang satu terlalu sering kupakai di rumah, yang satu membuatku terus memeriksa bagian lengannya. Aku mencoba yang kedua, berbalik di depan cermin, lalu mencopotnya lagi.
Aku tidak ingin menghabiskan pertemuan nanti dengan menarik kain setiap kali gugup.
Pilihan terakhir jatuh pada baju yang nyaman dan sudah pernah kupakai bepergian. Kutaruh di gantungan terpisah. Tidak istimewa, tetapi juga bukan pakaian yang akan membuatku merasa salah tempat.
Aku menatap wajah sendiri sebentar. Aku tidak perlu memakai wajah orang lain. Sayangnya, mengatakan itu dalam hati lebih mudah daripada sungguh-sungguh berhenti membandingkan.
Menjelang malam, Riyan pulang. Aku turun saat mendengar suaranya menyapa Mama. Setelah ia membersihkan diri, kami makan bersama.
Ia tidak membahas pertemuan di tengah makan. Aku bersyukur, sebab Mama sudah cukup tahu untuk khawatir tanpa perlu mendengar pengulangan semua pesan.
Baru setelah kami berada di kamar, aku menunjukkan baju yang dipilih.
'Bagus?' tanyaku.
Riyan melihatnya. 'Bagus.'
'Jangan asal jawab.'
'Om memang suka.'
Aku mengangguk, lalu memasang kembali gantungannya. Aku tahu jawabannya tidak bisa menjadi ukuran apakah aku cukup pantas berada di meja yang sama dengan Tiara. Namun malam itu aku tetap membutuhkan sedikit kepastian sederhana.
Riyan meletakkan barangnya, kemudian duduk di kursi.
'Besok Om pulang sebelum berangkat. Kita pergi bersama dari rumah.'
'Jangan suruh aku menunggu di mal sendirian.'
'Tidak.'
Aku duduk di sofa. 'Kalau di tengah pembicaraan aku perlu keluar sebentar?'
'Katakan saja.'
'Jangan kalian lanjut membicarakan hal penting ketika aku pergi.'
Riyan mengangguk. 'Kita jeda.'
Aku mencoba membayangkan duduk di depan Tiara. Apakah aku harus tersenyum dulu? Apakah menyapanya dengan Tante Tia akan terdengar seperti aku sengaja menyinggung umurnya?
'Om, aku panggil dia Tante Tia seperti biasa boleh?'
'Itu sapaanmu sejak pertama. Kalau kamu ragu, tanyakan kepadanya.'
Aku mendengus. 'Semua jadi harus dipikirkan.'
'Om bisa memperkenalkan kalian dengan lebih baik.'
'Jangan seperti memperkenalkan orang baru. Dia sudah tahu aku istri Om.'
Riyan terdiam, lalu mengangguk. 'Benar.'
Aku mengambil bantal kecil dan meletakkannya di pangkuan. Pertemuan itu belum terjadi, tetapi rasanya aku sudah kelelahan memikirkan cara membuka mulut.
'Aku tidak mau datang lalu cuma diam karena Om sibuk menjelaskan sendiri.'
'Kamu boleh bertanya.'
Aku memandangnya. Kali ini pertanyaanku bukan tentang baju, tempat, atau waktu.
'Kalau nanti jawabanku tidak sama dengan jawaban Om, Om akan membiarkan aku mengatakannya?'