'Iya. Tapi jangan sambil berdiri mau kerja, Om.'
Riyan menarik kursinya. Ponsel masih berada di tangannya, layarnya menyala dengan pesan Tiara yang baru kubaca. Mama duduk di seberang kami. Sendoknya berhenti di atas piring.
Aku mengambil napas, lalu memandang Mama.
'Ma, kami boleh bicara sebentar setelah sarapan?'
'Boleh.'
Mama tidak bangkit seolah sedang diusir. Ia melanjutkan makan, dan aku ikut mengangkat sendok. Aku lega karena tidak harus meminta seseorang meninggalkan sarapannya hanya karena persoalan rumah tanggaku datang sebelum nasi sempat dingin.
Om Riyan meletakkan ponsel di samping gelas.
'Aku belum bilang mau bertemu,' kataku pelan.
'Om tahu. Kita baru akan membicarakannya.'
Aku mengangguk. Suara itu membuatku bisa menelan suapan pertama. Masalahnya belum mengecil, tetapi setidaknya tidak sedang berlari mendahuluiku.
Kami makan tanpa menjadikan pesan Tiara sebagai lauk tambahan. Mama menanyakan apakah nasi yang kuambil cukup. Aku menjawab cukup, lalu mengambil tempe lagi. Rupanya mulut dan tanganku mempunyai pendapat berbeda.
Sehabis makan, aku membawa piring ke dapur. Mama mengambil lap, sedangkan Riyan membereskan gelasnya.
'Mama tidak usah menunggu hasil pembicaraan kami,' kataku.
Mama menatapku. 'Mama mau membereskan dapur, bukan menunggu pengumuman.'
Aku tersipu. 'Iya, Ma.'
Ia menepuk lenganku pelan. Aku baru sadar sudah menganggap semua orang memperhatikan persoalanku, padahal Mama juga punya piring yang perlu ditaruh dan pagi yang ingin dijalani.
Aku menemui Riyan di ruang depan. Ia sudah duduk, tas kerjanya di lantai. Aku memilih kursi di seberangnya.
'Om punya waktu berapa lama sebelum berangkat?'
'Masih cukup untuk bicara. Kalau belum ada keputusan, Om tidak perlu menjawab iya sekarang.'
Aku melirik ponselnya.
'Jadi bisa bilang belum bisa menentukan?'
'Bisa.'
Aneh sekali. Kemarin aku takut sekali pada kata nanti. Sekarang aku baru memahami bahwa menunda dengan penjelasan berbeda dari membiarkan orang menunggu tanpa tahu apa-apa.
'Aku mau tahu dulu. Kalau bertemu, apa yang akan Om katakan?'
'Om akan menjawab pertanyaannya tentang keputusan menikah. Dan menjelaskan bahwa komunikasi kami tidak bisa terus seperti sebelum Om beristri.'
'Jangan cuma menjelaskan bahwa aku sekarang ada.'
Riyan mengangkat wajah.
'Memangnya selama ini aku tidak ada? Aku sudah jadi istri Om waktu pesan yang di desa itu masuk.'
Ia mengangguk, lebih pelan.
'Benar. Om perlu mengakui yang Om lakukan setelah menikah, bukan memakai pernikahan sebagai kabar baru terus.'
Aku menatap halaman melalui pintu yang belum tertutup rapat. Ada bagian diriku yang ingin menyuruhnya menolak saja. Tidak ada pertemuan, tidak ada kemungkinan aku melihat wajah sedih Tiara lalu merasa harus mengalah.
Tetapi aku juga tahu percakapan mereka sudah terlalu lama diberi tempat yang samar.
'Aku ingin ikut,' kataku.
Riyan tidak langsung menjawab. Ia memperbaiki duduknya.
'Karena ingin mendengar sendiri, atau karena takut kalau tidak ikut?'
'Dua-duanya.'
Aku tidak suka betapa jujurnya jawaban itu terdengar. Aku ingin menjadi orang yang tenang, yang bisa mengatakan ikut semata-mata karena ingin memahami. Sayangnya, aku juga ingin tahu apakah nada suamiku berubah ketika berhadapan dengan perempuan tersebut.
'Om tidak akan memintamu duduk terpisah.'
'Aku tidak mau ikut hanya supaya kelihatan diawasi.'
'Om juga tidak ingin begitu.'
'Kalau aku datang, aku boleh bicara. Bukan cuma menemani Om menuntaskan urusannya.'
'Tentu.'
Aku menarik ujung bajuku, lalu melepaskannya.
'Jangan tentu kalau nanti begitu aku bertanya, Om menyuruh tunggu karena kami sedang bicara.'
Riyan terdiam sebelum mengangguk. Kali ini ia tampaknya mengingat tempat makan yang sama denganku.
'Om akan mengatakan kepada Tiara sejak awal bahwa kamu ikut. Dia boleh mempertimbangkan apakah tetap ingin bertemu.'
Aku memikirkan itu. Tiara juga perlu tahu siapa yang akan duduk di depannya. Aku tidak ingin kedatanganku dijadikan kejutan untuk membuktikan siapa yang lebih berhak.
'Kalau dia tidak mau aku ikut?'
'Kita bicarakan lagi. Om tidak akan diam-diam pergi berdua.'
Aku melihat tas kerjanya di dekat kaki kursi. Sebentar lagi ia akan pergi, dan biasanya aku berhenti bertanya begitu mengingat ia harus bekerja.
'Aku perlu tahu satu lagi.'
Ia menunggu.
'Kalau nanti aku bilang tidak sanggup datang, itu bukan berarti Om boleh memutuskan sendiri semuanya, ya?'
'Iya. Kita tetap membicarakan caranya.'
'Aku tidak ingin harus hadir supaya punya hak tahu.'
Riyan mengangguk, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di lutut. Ia tidak lagi memegang ponsel seperti sedang menunggu aku memberi tanda agar urusan ini cepat beres.
'Kehadiranmu bukan syarat supaya Om terbuka.'
Aku mengembuskan napas. Aku masih memilih ikut, tetapi sekarang pilihan itu tidak terasa seperti pintu yang mengunci dari belakang. Kalau tubuhku gemetar besok, aku tidak harus berpura-pura kuat hanya karena takut kehilangan kesempatan untuk didengar.
Untuk pertama kalinya sejak pesan masuk, aku melepaskan tali kecil pada ujung baju yang sejak tadi kupilin.
Aku mengangguk. Dadaku masih berat, tetapi keputusan mulai memiliki bentuk.
'Di mana?'
'Bagaimana kalau tempat makan di mal yang kemarin?'
Aku langsung membayangkan meja yang kutempati. Tanganku mengeras di pangkuan.
Riyan memperhatikan wajahku. 'Kalau kamu tidak mau, kita tidak harus memilih itu.'
Aku menggeleng kecil. 'Aku tahu tempatnya. Aku justru tidak ingin memikirkan tempat baru juga.'
Kami sama-sama diam sebentar. Aku ingin kembali ke sana dengan pilihan sendiri, bukan untuk membuktikan bahwa aku kebal. Kalau tetap merasa tidak nyaman, aku boleh mengatakannya.
'Besok sore?' usulnya. 'Om bisa mengatur pekerjaan supaya pulang lebih awal. Tapi Om pastikan dulu, jangan sampai membuat kalian menunggu.'
'Jangan bikin janji yang nanti aku harus maklum kalau batal.'
'Iya. Om kabari setelah tahu.'
Kami akhirnya menyusun jawaban singkat. Riyan akan mengatakan bisa mempertimbangkan besok sore di tempat makan yang sudah dikenal, bersama aku, dan waktu pastinya diberitahukan setelah jadwalnya jelas.
Ia membacakan sebelum mengirim. Aku mendengarkan, lalu mengangguk. Tidak ada kalimat bahwa aku memaksa ikut.
Setelah pesan terkirim, ia bangkit mengambil tas. Aku ikut berdiri, tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal.
'Om.'
'Iya?'
'Kalau nanti dia sedih, jangan langsung menyuruh aku memahami.'
Riyan berhenti.
'Aku mungkin bisa memahami. Tapi jangan dijadikan kewajibanku sebelum aku mendengar apa-apa.'
'Baik.'
Aku mengantar sampai pintu. Ia tidak menjadikan persetujuanku ikut sebagai alasan untuk mendekap atau memujiku berlebihan. Aku hanya bersalaman, lalu membiarkannya berangkat.
Ketika kembali ke ruang depan, Mama sedang menaruh lap yang sudah dilipat. Ia melihat wajahku, menunggu aku bicara.
'Aku mau ikut kalau jadi bertemu besok,' kataku.
Mama mengangguk, kemudian bertanya, 'Kamu sendiri ingin ikut, Kayla, atau merasa harus?'