'Tidak sepenuhnya,' jawab Om Riyan. 'Waktu itu Om melihat kamu makan dan mengangguk. Om memilih menganggap kamu baik-baik saja.'
'Aku makan karena makanannya sudah ada.'
'Iya.'
'Dan aku mengangguk karena Om menyuruh sabar. Aku tidak tahu harus memberi isyarat apa. Masa melempar ayam?'
Wajahnya bergerak seperti hendak tersenyum, tetapi matanya tetap muram.
Aku menunduk. Aku tidak sedang ingin membuatnya tertawa. Hanya saja kepalaku kadang menemukan kalimat aneh ketika perasaanku justru sedang berantakan.
'Aku lihat kalian serius. Aku takut kalau mendekat, Tante Tia merasa aku tidak sopan. Kalau memanggil Om keras-keras, semua orang bisa melihat.'
'Om yang seharusnya kembali dan menjelaskan.'
'Bukan cuma datang setelah urusannya selesai.'
'Iya.'
'Aku juga malu karena ternyata sempat merasa senang,' kataku. 'Om membelikan makanan, terus melambaikan tangan. Aku pikir aku sedang menjadi istri yang tidak merepotkan.'
Riyan menatapku tanpa berkedip.
'Sekarang aku mengingatnya dan merasa seperti tidak paham apa-apa.'
'Kamu tidak tahu karena Om tidak menjelaskan. Bukan karena kamu bodoh.'
'Aku tahu kalau diucapkan begitu. Tapi kalau teringat wajahku sendiri yang mengangguk, rasanya tetap malu.'
Aku menutup wajah sebentar. Ia tidak mencoba membuka tanganku.
'Om yang seharusnya malu karena memakai kesabaranmu untuk menghindari penjelasan.'
Aku menurunkan tangan. Kalimat itu tidak mengganti kejadian di mal, tetapi membuatku berhenti menyalahkan setiap gigitan makanan yang kuhabiskan hari itu.
Aku berhak menikmati es krim yang dibelikan suamiku. Aku juga berhak marah ketika tahu ada hal penting yang disembunyikan. Dua hal itu ternyata tidak saling membatalkan, meskipun rasanya masih sulit ditempatkan berdampingan di dalam kepalaku.
Aku menarik tisu terakhir dari genggamanku. Sudutnya basah dan kusut. Aku melipatnya sekali lagi, lalu meletakkannya di dekat gelas.
Aku menyandarkan siku ke meja, lalu segera menurunkannya lagi. Sikap dudukku terasa salah semua, padahal tidak ada yang menegur.
'Setelah Om datang, yang ditanya makanannya enak atau tidak. Aku jawab enak. Terus seperti tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan.'
Om Riyan mengusap sisi gelas dengan ibu jarinya.
'Om sengaja memilih pertanyaan yang mudah.'
Aku menatapnya. 'Aku juga menjawab yang mudah.'
Kami diam. Baru kali ini aku menyadari bahwa percakapan yang kelihatan lancar bisa menyimpan begitu banyak hal yang tidak diucapkan.
'Aku tidak minta Om menyesali pernah punya pacar,' kataku. 'Aku tahu hidup Om sudah berjalan sebelum kenal aku. Tapi jangan membuatku merasa bodoh karena baru tahu belakangan.'
'Om minta maaf karena membiarkanmu berada di luar pembicaraan yang menyangkut pernikahan kita.'
Aku mengangguk, perlahan. Permintaan maaf itu menyentuh tempat yang tepat, tetapi tempat itu masih sakit.
'Kalau nanti bertemu dia lagi, aku tidak mau duduk di meja lain seperti itu.'
'Om tidak akan mengulanginya.'
'Jangan cepat berjanji kalau maksudnya nanti aku harus ikut semua pembicaraan. Aku juga tidak mau jadi penonton.'
Om Riyan berhenti mengusap gelas.
'Jadi Om harus membicarakan dulu denganmu kalau ada rencana bertemu.'
'Iya. Termasuk kenapa perlu bertemu. Bukan sudah janjian baru bilang aku boleh ikut.'
Ia mengangguk. Aku menarik napas yang lebih panjang dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang bisa kubayangkan selain kejadian yang tidak bisa diubah.
Kami membawa gelas ke bak cuci. Aku mencuci milikku, ia mencuci miliknya. Gerakan kecil itu berlangsung canggung karena kami sama-sama hendak mengambil lap yang sama.
'Om dulu,' kataku.
Ia mengeringkan tangan, lalu memberikan lap kepadaku. Tidak ada sentuhan yang sengaja dipanjangkan. Aku bersyukur dan sedikit sedih karenanya, dua rasa yang ternyata bisa tinggal di tempat yang sama.
Di tangga, ia menunggu saat aku berhenti untuk mengusap mata.
'Aku tidak mau Mama lihat besok langsung panik.'
'Kalau Mama bertanya, Om bisa—'
'Aku jawab sendiri dulu.'
'Baik.'
Kami kembali ke kamar. Kertas pertanyaanku masih ada di sofa. Aku melipatnya dan menaruhnya di meja rias. Empat pertanyaan itu sudah mendapat jawaban, tetapi bukannya merasa ringan, aku justru tahu lebih banyak hal yang perlu dipikirkan.
Om Riyan mengambil bantal sofa. Aku duduk di tempat tidur dan memperhatikannya.
'Om tidak perlu pura-pura sibuk merapikan bantal sampai rata begitu.'
Ia menatap bantal di tangannya. 'Om tidak tahu harus bagaimana.'
'Aku juga.'
Pengakuan kecil itu membuatnya berhenti bergerak. Aku menarik selimut, lalu mengatakan ingin tidur. Kami tidak mencoba memaksa malam tersebut menjadi indah sebelum lampunya dimatikan.
Tidurku terputus sekali. Aku melihat bentuk tubuh Om Riyan di sofa, mendengar napasnya, kemudian kembali memejamkan mata. Tidak ada keinginan membuka ponselnya. Yang ingin kubuka sebenarnya isi pikirannya, dan aku tahu benda di meja itu tidak akan bisa memberikannya secara utuh.
Menjelang subuh kami bangun, bersiap, dan salat. Aku lebih banyak diam. Om Riyan tidak mengulang permintaan maaf setiap lima menit, sesuatu yang diam-diam kusyukuri karena aku tidak punya jawaban baru untuk diberikan.
Saat turun ke dapur, Mama memandang wajahku.
'Kurang tidur, Nak?'
'Iya, Ma. Kami bicara sampai agak malam.'
Mama menoleh kepada Riyan, lalu kembali kepadaku.
'Mau makan sedikit dulu?'
'Nanti bareng. Aku mau cuci muka lagi. Mataku seperti habis menjaga warung semalaman.'
Mama mengusap lenganku sebentar, kemudian membiarkanku lewat. Tidak ada pertanyaan tambahan di depan anaknya. Aku merasa ditolong tanpa harus diselamatkan dari setiap rasa sedih.
Sesudah membasuh muka, aku kembali dan ikut duduk. Om Riyan menuangkan air untuk dirinya, lalu bertanya apakah gelasku perlu diisi. Aku mengangguk.
Sarapan berlangsung pelan. Aku tetap bisa merasakan makanan. Hal itu sempat membuatku merasa bersalah, seolah kecewa seharusnya membuat semua rasa ikut menghilang.
Mama menanyakan apakah lauknya kurang asin. Aku menjawab cukup. Om Riyan menjawab bersamaan, lalu kami saling memandang sebentar.
Aku menunduk lebih dulu, tetapi tidak karena marah. Aku masih belum terbiasa bahwa mengetahui keburukannya tidak menghapus kebiasaan kecil kami.
Setelah makan, Mama membawa wadah ke dapur. Aku dan Om Riyan tinggal di meja beberapa saat.
'Untuk soal bertemu Tiara,' katanya pelan, 'Om akan memberi tahu sebelum menyanggupi apa pun.'
Aku menatapnya. 'Bukan cuma kalau aku kebetulan melihat pesannya?'
'Bukan.'
'Kalau dia menelepon mendadak?'
'Om akan bilang kepadamu. Kalau tidak bisa dibicarakan saat itu juga, Om berikan waktu yang jelas, bukan membiarkannya.'
Aku memikirkan jawaban itu. Ada bagian diriku yang ingin membuat aturan untuk setiap kemungkinan sampai tidak ada celah tersisa. Tetapi hidup kami bukan pagar yang bisa kutambah kawat setiap kali takut.
'Kalau aku tetap cemburu walaupun Om sudah cerita, bagaimana?'