'Iya, dari Tiara,' jawab Om Riyan.
Aku mengangguk lambat. Seharusnya jawaban itu tidak mengejutkan, tetapi tetap saja perutku seperti ditarik ke bawah.
'Aku bacanya waktu layar menyala. Bukan membuka percakapan Om.'
'Om tidak menuduh kamu membuka.'
'Aku cuma mau bilang.'
Ia mengangguk. Aku mengambil napas sebelum melanjutkan, takut kalau berhenti terlalu lama, keberanianku ikut berhenti.
'Om jawab apa waktu itu?'
'Om bilang masih ada urusan di sana. Soal bertemu, Om bilang nanti setelah kembali.'
'Tidak bilang sedang sama istri?'
'Tidak.'
Aku menatapnya. Ternyata ada banyak cara menyembunyikan sesuatu tanpa mengatakan kebohongan yang panjang. Cukup tidak menyebut dua kata. Sama istri.
'Urusan di sana itu aku?'
'Ada pekerjaan Om juga. Tapi Om sengaja tidak menyebut pernikahan kita.'
Aku meremas tisu. 'Jadi aku bukan salah paham.'
'Bukan.'
Keheningan yang datang sesudahnya membuatku sadar bahwa selama ini aku diam bukan karena tidak punya pertanyaan. Aku hanya takut pertanyaannya terdengar bodoh. Sekarang jawabannya justru membuatku berharap dulu aku sedikit lebih berani.
'Kenapa masih membalas?' tanyaku. 'Karena kasihan?'
'Sebagian karena Om merasa bersalah. Tapi bukan cuma itu.'
Aku menunggu.
'Om masih terbiasa ingin tahu keadaannya. Masih ada perasaan yang belum hilang.'
Kalimat itu membuat mataku panas lagi. Kali ini aku tidak berhasil menahan air mata. Om Riyan mengambil kotak tisu dan menyodorkannya tanpa menyentuhku.
Aku mengambil dua lembar. Lembar ketiga ikut tercabut. Dalam keadaan lain, aku mungkin akan menyelipkannya kembali. Sekarang kubiarkan saja terjuntai dari tanganku seperti bendera menyerah.
'Masih sampai sekarang?'
Om Riyan menunduk, lalu menatapku lagi.
'Om tidak bisa bilang semua perasaan itu sudah hilang. Kalau Om bilang begitu supaya kamu berhenti menangis, Om mengulangi kesalahan yang sama.'
Aku menutup mata. Aku meminta jawaban, tetapi tubuhku tidak tahu cara menampungnya.
'Berarti waktu tersenyum sama aku, Om sedang pura-pura?'
'Tidak.'
'Bagaimana aku membedakannya?'
'Om tidak punya jawaban yang bisa langsung membuktikan itu malam ini.'
Aku mengusap hidung dengan tisu. Aku benci karena jawabannya masuk akal. Akan lebih mudah marah kalau ia memberi alasan yang jelas-jelas bodoh, misalnya ponselnya membalas sendiri.
'Om ingin kembali sama dia?'
'Tidak. Om tidak sedang merencanakan kembali menjadi pasangannya.'
'Tapi masih ingin tahu kabarnya.'
'Iya. Dan Om harus berhenti memperlakukan keinginan itu seperti tidak berpengaruh pada siapa-siapa.'
Aku menatap lantai. Ada perbedaan antara belum bisa menghapus perasaan dan sengaja terus memberinya tempat lewat percakapan. Aku belum pandai menjelaskannya, tetapi kurasa aku sedang melihat perbedaan itu.
'Jangan cuma bilang tidak mau balik kalau cara bicara Om membuat dia berpikir masih bisa.'
Om Riyan mengangguk. 'Kamu benar.'
'Aku tidak sedang cari nilai benar, Om.'
'Iya. Maaf.'
Aku berdiri karena duduk terus membuat dadaku sesak. Kali ini aku tidak ke kamar mandi. Aku membuka pintu kamar dan mengatakan ingin turun mengambil air.
Om Riyan mengikuti beberapa langkah di belakang setelah aku mengangguk ketika ia bertanya boleh menemani.
Di dapur, kami tidak menyalakan semua lampu. Cukup lampu dekat meja agar aku bisa mengambil gelas. Rumah sudah tenang. Aku tidak melihat Mama, dan tidak memanggilnya.
Aku mengisi gelasku, lalu meletakkan satu gelas lagi di depan Om Riyan. Gerakanku terjadi begitu saja. Sesudahnya aku kesal karena masih sempat memikirkan apakah ia haus.
'Makasih,' katanya.
'Aku ambil sekalian. Jangan dibaca macam-macam.'
'Tidak.'
Aku duduk. Ia mengambil kursi yang tidak berhadapan terlalu dekat. Di antara kami ada meja makan, tempat yang pagi tadi masih dipakai untuk bercanda tentang pakaian.
Aku minum sedikit. Tenggorokanku terasa kering meskipun air sudah lewat.
'Sesudah di mal, kalian masih berkirim pesan?'
'Masih.'
Aku menurunkan gelas.
'Dia bertanya kenapa Om mengambil keputusan menikah tanpa bicara dengannya. Om menjawab pendek, lalu mengatakan nanti kami bisa bicara saat keadaan lebih tenang.'
'Keadaan siapa?'
Om Riyan mengusap pelipis. 'Om tidak menjelaskannya.'
'Dan Tante Tia disuruh menunggu lagi.'
'Iya.'
Aku membayangkan perempuan itu memandangi layar, seperti aku tadi siang memandangi ponselku sendiri. Aku tidak tiba-tiba menyukainya. Namun aku mulai melihat betapa mudahnya kami berdua ditinggalkan dalam kata nanti.
'Dia minta Om meninggalkan aku?'
'Dia belum mengatakan itu kepada Om.'
'Jangan jawab seolah Om tahu semua yang dia mau.'
'Om hanya bisa menjawab apa yang dia katakan.'
Aku mengangguk. Itu cukup untuk pertanyaan yang satu ini, meskipun kepalaku belum berhenti memikirkan kemungkinan lain.
'Pertemuan di mal itu janjian?'
'Tidak. Om belum menetapkan waktu atau tempat dengannya. Kami benar-benar berpapasan.'
'Sesudah kita menikah, sebelum di mal, Om pernah menemuinya?'
'Tidak.'
Aku menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. Aku mencatat jawabannya di kepala tanpa tahu bagaimana caranya mempercayai lagi secara utuh. Aku tidak punya alat untuk memeriksa seluruh hari yang pernah dilewatinya.
'Aku takut jadi orang yang menanyakan hal sama berulang-ulang,' kataku.
'Kalau ada yang belum jelas, tanyakan.'
'Kalau sudah jelas tapi aku masih takut?'
Ia terdiam lebih lama.
'Om perlu menunjukkan lewat tindakan. Bukan menambah jawaban panjang supaya kamu lelah bertanya.'
Aku mengusap sisa air di sisi gelas. Itu baru janji, tetapi setidaknya ia tidak menyuruhku menganggap ketakutan sebagai kesalahan yang harus kubereskan sendirian.
'Aku tidak mau setiap Om pulang kerja, yang kupikirkan pertama siapa yang tadi ditemui.'
'Om juga tidak ingin kamu hidup seperti itu.'
'Kalau begitu bantu aku jangan sampai begitu.'
Riyan mengangguk. Aku ingin mempercayai gerakan kecil itu, meskipun belum bisa menyerahkan seluruh rasa takut kepadanya.
Aku memperhatikan wajahnya. Jawaban itu berarti kejadian di mal bukan rencana yang sengaja diselipkan ke jalan-jalan kami. Tetapi keputusan sesudah bertemu tetap miliknya.
'Begitu ketemu, Om langsung memilih bicara berdua.'
'Iya.'
Aku menggeser gelas menjauh karena tanganku mulai terus memutarnya. Aku takut bukan pecah, melainkan kalau kuputar terus, aku bisa menghabiskan malam tanpa mengatakan bagian yang paling mengganggu.
'Waktu itu aku mengangguk saat Om minta menunggu,' kataku. 'Aku pikir urusannya penting. Aku tidak tahu aku juga ada di dalam urusan itu.'
Om Riyan tidak menyela.
'Aku juga tidak tahu harus menyusul atau diam. Kalau menyusul, nanti kelihatan mengganggu orang dewasa yang sedang bicara serius.'
'Kay, kamu tidak—'
'Biar aku habiskan dulu.'
Ia menutup mulut.
Aku menatap gelas, kemudian memaksa diri melihat matanya.
'Aku tahu umurku jauh di bawah Om. Tapi aku datang ke sana sebagai istri Om. Bukan orang yang cukup dibelikan makanan lalu diminta menunggu.'
Suaraku pecah pada kalimat terakhir. Kali ini aku tidak menahannya.
'Om tahu rasanya duduk sendirian di meja itu?'