'Om tetap perlu jujur,' jawabnya. 'Bukan cuma ketika kejujuran itu membuat kamu senang.'
Aku menggerakkan sendok yang masih ada di samping piring.
'Jangan nanti bilang sudah cerita, terus aku tidak boleh sedih.'
'Om akan berusaha tidak begitu.'
'Berusaha?'
'Om tidak mau menjanjikan tidak pernah salah bicara lagi. Tapi kamu boleh mengatakan kalau Om mulai menyalahkan perasaanmu.'
Aku memandangnya. Jawaban itu tidak seindah janji bahwa semuanya akan mudah. Namun aku sudah mulai curiga pada janji yang terlalu rapi.
'Kalau aku marah, jangan langsung menganggap aku melarang semua hal.'
'Iya.'
'Tanya dulu marahnya kenapa.'
'Seperti sekarang?'
Aku mengangguk. Ia tidak mendekat untuk mencium atau mengacak rambutku. Kami hanya duduk di meja makan, dan untuk sekali itu aku merasa jarak tersebut membantuku berbicara.
Om Riyan kemudian berangkat kerja. Aku berpamitan di pintu, masih tanpa kecupan. Ada sesaat ketika ia memandangku seperti ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi akhirnya hanya mengingatkan agar aku makan siang.
'Aku tidak lupa caranya lapar, Om.'
Ia tersenyum sedikit. Aku membalas sebelum pintu ditutup.
Setelah mobilnya pergi, Mama memintaku membantu memindahkan pakaian yang sudah kering. Kami membawanya ke dalam, lalu duduk di dekat tumpukan itu. Bau pakaian bersih biasanya menenangkan. Hari ini aku malah memandangi sehelai baju Riyan terlalu lama.
Mama tidak bertanya sampai aku sendiri membuka mulut.
'Mereka memang pernah pacaran, Ma.'
Tangan Mama berhenti sebentar, kemudian melanjutkan lipatan.
'Riyan sudah menjelaskannya?'
'Sudah. Aku baru tahu semalam.'
Aku menaruh baju di pangkuan.
'Mama tahu mereka sudah putus sebelum kami menikah?'
'Itu yang Riyan katakan kepada Mama dulu.'
Aku mengangguk. Jawaban Mama tidak menambah kisah rahasia baru. Aku senang karena tidak harus mengubah lagi apa yang baru kudengar.
'Aku tidak mau Mama marah-marah lagi karena aku cerita.'
'Mama bisa khawatir tanpa langsung memanggil dia.'
'Terima kasih.'
Mama memandangku. 'Kamu tidak perlu berterima kasih untuk setiap kali Mama menahan pertanyaan.'
'Aku sedang belajar membedakan mana yang perlu dijawab dan mana yang bikin tambah pusing.'
'Kalau pusing, lipat yang sederhana dulu.'
Aku menatap baju di pangkuan. 'Kalau yang sederhana saja aku lipat, punya Om bisa tidak kebagian.'
Mama tertawa pendek. Aku ikut tersenyum, lalu melipat baju itu sampai kedua lengannya bertemu. Aku tetap bisa mengerjakannya tanpa menganggap pekerjaan itu bukti bahwa aku sudah memaafkan semuanya.
Menjelang siang, ponselku berbunyi. Pesan dari Riyan hanya menanyakan apakah aku sudah makan. Aku membalas belum, sebentar lagi bersama Mama. Tanganku sempat ingin menambahkan pertanyaan apakah Tiara sudah menghubunginya hari itu.
Aku tidak jadi mengetiknya.
Bukan karena pertanyaan itu terlarang, melainkan karena aku sedang ingin mendapat jaminan untuk setiap jam yang lewat. Bahkan jika ia menjawab belum, satu jam lagi aku mungkin ingin bertanya lagi.
Aku meletakkan ponsel, kemudian turun untuk makan. Kekhawatiran ikut duduk bersamaku, tetapi setidaknya ia tidak kuberi piring sendiri.
Sore itu Riyan mengabari bahwa ia akan sedikit lebih lambat pulang karena masih perlu membereskan pekerjaan. Ia menyebut perkiraan waktu, bukan sekadar nanti.
Aku membaca pesan itu dua kali. Dadaku sempat menegang, lalu aku membalas agar ia berhati-hati dan memberi kabar jika berubah lagi.
Tidak ada tindakan hebat di situ. Aku bahkan tetap melirik jam beberapa kali. Tetapi aku tidak menelepon Mama dari ruangan lain untuk bertanya apakah alasan suamiku terdengar masuk akal.
Riyan pulang mendekati waktu yang disebutnya. Aku sedang duduk di ruang depan. Ia meletakkan barang kerja, lalu menghampiriku.
'Sudah makan?'
'Belum. Masih menunggu Mama menyiapkan yang terakhir.'
'Om bersih-bersih dulu.'
Aku mengangguk. Ketika ia melangkah, aku memanggilnya lagi.
'Makasih sudah mengabari.'
Ia menoleh. 'Iya, Kay.'
Tidak ada tuntutan agar aku memujinya lebih panjang karena melakukan satu hal yang sudah disepakati. Aku menyukai itu.
Sesudah kami makan bertiga dan membantu membereskan meja, aku naik ke kamar. Riyan menyusul membawa ponselnya, kemudian duduk di kursi dekat sofa.
'Om ingin meluruskan satu hal kepada Tiara,' katanya.
Aku menoleh dari meja rias.
'Apa?'
'Bahwa Om sudah menjelaskan kepada kamu mengenai hubungan kami dulu. Om tidak mau terus bicara seolah kamu tidak tahu.'
Aku duduk di sofa.
'Mau bilang apa persisnya?'
Ia menyebutkan rancangan pesannya, perlahan. Ia akan mengatakan bahwa aku sudah mengetahui hubungan lama mereka, dan pembicaraan berikutnya tidak boleh disembunyikan dariku.
Aku mendengarkan sampai habis.
'Jangan tulis aku menangis.'
'Om tidak akan menulis itu.'
'Dan jangan bilang karena Kayla melarang.'
Riyan mengangguk. 'Itu keputusan yang harus Om sampaikan sebagai keputusan Om juga.'
Aku mengusap ujung sofa. Ada rasa lega karena ia bertanya sebelum membawa namaku ke percakapan lain. Tetapi ada rasa takut juga: setelah pesan dikirim, perempuan itu akan tahu bahwa selama ini aku bertanya tentangnya.
'Dia bisa marah kepadaku.'
'Om yang bertanggung jawab karena tidak terbuka sejak awal.'
'Tanggung jawab Om tidak bisa mengatur perasaan dia.'
'Benar.'
Aku memandang wajahnya. Setidaknya kali ini ia tidak mengatakan bahwa aku terlalu banyak memikirkan hal yang belum terjadi.
'Om masih mau memberi aku ponsel supaya aku periksa sendiri?' tanyaku.
'Kalau kamu ingin melihat pesan yang sedang kita bicarakan, Om bisa menunjukkan. Tapi bukan untuk menggantikan penjelasan.'
'Aku tidak minta kata sandi sebagai hadiah permintaan maaf.'
Ia mengangguk. Aku melihat ponsel di tangannya, benda yang sejak semalam terasa jauh lebih berat daripada ukurannya.
'Kalau aku lihat satu pesan, aku mau tahu sebelum dan sesudahnya. Bukan potongan yang membuat Om kelihatan paling benar.'
'Iya.'
'Tapi aku juga tidak mau membuka semua percakapan Om diam-diam.'
Riyan meletakkan ponsel sebentar, memberi perhatian penuh kepadaku.
'Om tidak akan menjadikan tawaran menunjukkan pesan sebagai alasan bahwa kamu seharusnya sudah percaya.'
Aku menghela napas. Itu hal yang tadi sulit kusebutkan. Aku tidak ingin setiap rasa khawatir dijawab dengan kalimat bahwa ponselnya pernah ditawarkan, seolah kesempatan membaca layar membuat tanggung jawab mencari kebenaran seluruhnya berpindah kepadaku.
Aku ingin ia datang membawa penjelasan sebelum aku berubah menjadi orang yang terus mencari-cari.
Riyan membuka catatan kosong pada ponselnya, mengetik rancangan tadi, lalu menyodorkan layar agar kubaca. Ia tidak membuka riwayat pesan dan menyuruhku menilai sendiri.
Aku membacanya pelan. Tidak ada kata manis yang menyamarkan maksud. Tidak ada kalimat yang membuatku terlihat sebagai istri galak di belakang bahunya.
Tetap saja aku belum langsung mengangguk.
'Kalau pesan ini membuat dia minta bertemu, Om akan bagaimana?'