'Kami pernah pacaran,' jawab Om Riyan. 'Sebelum Om menikah dengan kamu, hubungan itu sudah kami akhiri.'
Jari-jariku berhenti meremas kertas.
Jawaban yang kutunggu akhirnya keluar. Tidak ada suara keras setelahnya. Hanya bunyi kecil kursi saat Om Riyan menggeser kaki, sementara aku membaca pertanyaan pertama yang sekarang tampak terlalu sederhana.
'Putusnya sebelum Om kenal aku?'
'Iya.'
'Bukan karena aku?'
'Bukan, Kay.'
Aku mengangguk. Ada satu ketakutan yang perlahan turun dari dadaku. Setidaknya aku tidak masuk ke tengah hubungan yang masih mereka sebut pacaran. Tetapi ketakutan lain segera mengambil tempatnya.
'Kalau sudah putus, kenapa masih seperti ada urusan yang belum beres?'
Om Riyan menatap tangannya.
'Karena berhenti pacaran tidak langsung membuat perasaan Om hilang. Dan Om masih membalas pesannya.'
Aku menekan bibir. Aku ingin ia jujur. Ternyata ketika kejujurannya datang, aku tetap ingin menutup telinga sebentar.
'Kenapa kalian putus?'
'Kami makin sering tidak sepakat tentang hubungan kami. Tiara ingin kepastian mengenai rencana menikah. Om tidak bisa memberi jawaban yang dia minta. Akhirnya kami sepakat tidak melanjutkan sebagai pasangan.'
'Terus Om malah menikah denganku.'
Ia mengangkat kepala. 'Iya.'
Kata itu membuat dadaku ngilu. Aku sudah tahu alasan awal ia tertarik kepadaku. Bayangan wajah Alana melintas, tetapi malam ini aku tidak sanggup membuka dua pintu sekaligus.
'Om pernah janji akan balik sama dia?'
'Tidak ada janji begitu. Tapi Om juga tidak menjaga jarak dengan jelas ketika dia kembali menghubungi.'
'Waktu putus itu kalian benar-benar mengucapkannya? Bukan cuma berhenti telepon lalu menganggap sudah putus sendiri?'
'Kami membicarakannya. Kami sepakat tidak lagi berpacaran.'
'Pernah bertunangan?'
'Tidak.'
Aku menekan jempol ke sisi kertas. Aku tidak ingin menemukan sebuah ikatan lain setelah percakapan ini. Bukan karena satu jawaban bisa menjamin tidak ada yang menyakitkan, tetapi aku ingin tahu tanah tempat aku berdiri.
'Aku bertanya bukan mau menghitung seluruh hidup Om sebelum aku.'
'Om tahu.'
'Aku cuma tidak mau besok menemukan kata baru lagi. Kemarin teman lama, hari ini mantan pacar.'
Riyan mengangguk, lalu menggeser posisi duduknya. Aku bisa melihat ia tidak nyaman. Untuk pertama kalinya, aku membiarkan ketidaknyamanan itu menjadi miliknya, tidak buru-buru menawarkan senyum supaya kami sama-sama bisa berpura-pura pembicaraan ini lebih ringan.
Aku menatap suamiku. Kemejanya sudah diganti baju rumah. Wajahnya sama dengan wajah yang menunduk mencium keningku, tetapi ada bagian hidupnya yang baru bisa kulihat sekarang.
'Jadi bukan Tante Tia saja yang mencari Om.'
'Om ikut mempertahankan percakapan itu.'
Aku menarik napas. Aku tidak suka mendengarnya, tetapi lebih tidak suka lagi kalau ia menyuruhku membenci perempuan itu sendirian.
'Dia tahu waktu Om akan menikah?'
Om Riyan menggeleng.
'Sesudah menikah?'
'Om juga tidak langsung memberi tahu.'
'Kenapa?'
'Om takut menghadapi reaksinya.'
Aku meletakkan kertas di sisi sofa. Benda itu tidak cukup besar untuk memuat semua pertanyaan yang tiba-tiba lahir.
'Reaksi dia lebih menakutkan daripada perasaanku?'
'Om tidak membandingkannya begitu waktu itu.'
'Tapi yang kena akibatnya aku juga.'
'Iya.'
Aku mengusap kedua pipi dengan telapak tangan. Belum ada air mata, hanya panas yang membuat kulit terasa terlalu sempit.
'Mama juga tidak langsung tahu Om menikah,' kataku. 'Sekarang Tante Tia. Om bisa melakukan hal besar, terus membiarkan orang lain menebak sendiri?'
Om Riyan bersandar, lalu kembali menegakkan tubuh.
'Om terlalu sering menunda pembicaraan yang tidak nyaman.'
'Pembicaraannya ditunda. Menikahnya tidak.'
Ia tidak menjawab. Aku memandangi ujung bajuku, merasa kalimat tadi lebih keras daripada suaraku. Namun aku tidak ingin mengambilnya kembali.
Beberapa saat kemudian aku berdiri. Om Riyan ikut bergerak, tetapi aku mengangkat tangan.
'Aku mau cuci muka. Bukan pergi.'
'Baik.'
Di kamar mandi, aku membuka keran dan membasuh wajah. Air dingin membuatku sadar bahwa napasku terlalu pendek. Aku menutup keran sebelum berdiri menatap cermin.
Aku masih Kayla. Wajahku tidak berubah hanya karena suamiku punya mantan pacar yang belum benar-benar jauh dari pikirannya.
Sayangnya, cermin tidak bisa menjawab apakah aku cukup baginya.
Aku mengeringkan wajah, lalu kembali ke kamar. Om Riyan masih duduk di kursi. Kertas pertanyaanku tetap di sofa, tidak dipindahkan atau dibaca diam-diam ketika aku pergi.
Aku duduk lagi, kali ini dengan punggung tegak.
'Di mal itu pertama kali dia tahu aku istri Om?'
'Iya. Om mengatakan kamu istri Om ketika kami mulai bicara.'
Aku mencoba menyusun kembali adegan yang kulihat dari meja lain. Wajah sedih Tiara, ketegangan Om Riyan, isyarat tangan supaya aku menunggu. Ternyata aku sedang menunggu sesuatu yang menyangkut diriku tanpa tahu bahwa namaku ada di dalamnya.
'Jadi dia kaget?'
'Dia menanyakan kenapa Om tidak memberitahunya. Om tidak bisa menyalahkan pertanyaan itu.'
'Om bilang apa?'
'Om bilang pernikahan ini sudah terjadi. Om seharusnya memberi tahu lebih awal.'
'Itu penjelasan atau pemberitahuan terlambat?'
Om Riyan menunduk. 'Yang kedua.'
Aku memegang kertas lagi. Di bagian bawah, kuku ibu jariku sudah membuat bekas bulan sabit. Aku meluruskannya, tetapi lekuknya tetap ada.
'Dia tahu aku istri Om, bukan saudara atau orang yang Om titipkan?'
'Tahu. Om menyebutmu istri.'
Aku mengangguk pelan. Mendengar kata istri tidak serta-merta membuat tempat duduk yang kutinggali hari itu terasa lebih baik. Aku dikenal dengan nama peran yang penting, tetapi diperlakukan seperti bisa menunggu tanpa penjelasan.
Om Riyan hendak mengulurkan tangan. Aku belum bergerak menyambut, jadi ia berhenti.
'Om tidak minta kamu langsung tenang.'
'Bagus. Soalnya aku belum bisa.'
Suaraku mulai bergetar. Aku kesal karena getar itu datang justru ketika ingin terdengar tegas.
'Kayla, kamu tidak salah karena bertanya.'
'Aku tahu. Yang belum kutahu, setelah dengar semua ini aku harus bagaimana.'
'Kamu tidak harus memutuskan apa-apa malam ini.'
Aku menatapnya. 'Aku bukan sedang menimbang mau beli sandal, Om.'
Ia memejamkan mata sebentar. 'Maaf. Om salah memilih kalimat.'
Aku menarik tisu dari meja kecil dan mengusap ujung mata. Akhirnya air matanya keluar juga. Tidak banyak, tetapi cukup membuat huruf di kertas kabur.
Aku tidak ingin dihibur dengan pujian tentang betapa cantiknya aku. Tidak malam ini. Aku ingin memahami mengapa orang yang pernah memintaku menjadi istrinya masih menyisakan ruang yang tidak kuketahui.
Aku melipat tisu, lalu melihat suamiku lagi.
'Waktu kita masih di desa, pernah ada pesan di ponsel Om. Yang bertanya kapan Om pulang dan kapan bisa bertemu.'
Wajahnya menegang. Aku ingat kalimatnya karena saat itu aku membacanya tanpa sengaja, lalu memilih tidak menanyakan apa-apa.
'Itu dari Tante Tia?'