'Tidak usah, Om. Aku mau dengar dari Om berdua saja.'
Om Riyan mengangguk, masih memegang bajunya.
'Om bertanya karena mungkin kamu lebih nyaman kalau ada Mama.'
'Kalau aku butuh Mama, nanti aku bilang. Tapi aku tidak ingin Om cerita sambil memikirkan Mama setuju atau tidak.'
'Baik.'
Aku menutup lemari setelah ia mundur. Tanganku sempat tertahan pada gagangnya.
'Om jangan bilang ke Mama kalau aku melarang dia ikut.'
'Om tidak akan bilang begitu.'
'Karena bukan begitu.'
'Iya, Kayla.'
Aku mengangguk. Rasanya melelahkan harus menjelaskan arti kalimatku sendiri, tetapi lebih melelahkan lagi kalau membiarkannya berubah di kepala orang lain. Aku tidak ingin percakapan nanti malam sudah ramai sebelum kami duduk.
Selagi ia berganti pakaian, aku merapikan tempat tidur. Bukan karena tiba-tiba rajin. Aku perlu menarik sesuatu sampai rata, dan selimut lebih aman daripada wajahku sendiri.
Satu sudutnya tetap menggembung. Rupanya bantal terselip di bawah.
Aku mengangkatnya dengan kesal.
'Ketemu apa?' tanya Om Riyan.
'Pengganggu ketertiban.'
Ia melihat bantal di tanganku. Senyumnya timbul sebentar, dan kali ini aku membalas tanpa merasa sedang menyerah.
Kami turun bersama. Mama sudah di dapur. Aku mengambil piring, Om Riyan menyiapkan minumnya, dan kami makan tanpa membicarakan Tiara. Sesekali rasa bersalah menyelip: apakah diam ini sama dengan menutupi?
Namun Mama tidak bertanya. Aku sudah memilih siapa yang ingin kudengar lebih dulu. Itu berbeda dari berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Di pintu, Om Riyan berpamitan. Aku mengulurkan tangan seperti kemarin, tetapi ketika ia sedikit mendekat, aku berhenti.
'Salaman saja dulu.'
Ia tidak meneruskan gerakannya.
'Iya.'
Aku mencium punggung tangannya, lalu melepaskan. Ternyata menolak kecupan pagi tidak membuat langit jatuh. Meskipun telingaku tetap panas, seolah seluruh rumah baru mendengar pengumuman besar.
'Om ingat nanti malam,' katanya.
'Kalau lupa, aku punya mulut.'
'Om sudah tahu.'
Ia tersenyum, lalu berangkat. Aku tidak mengejar dengan pertanyaan tambahan, dan tidak kembali mengintip dari gorden sesudah mobilnya pergi.
Pagi itu aku dan Mama membereskan rumah sedikit demi sedikit. Ketika mengambil kain di kamar, aku melihat ponselku tergeletak di meja. Aku ingin menelepon Ayah, mendengar suaranya mengatakan sesuatu yang biasa.
Jari telunjukku hampir menyentuh namanya.
Lalu aku berhenti. Aku belum tahu bagaimana menceritakan ini tanpa membuat Ayah langsung khawatir. Tetapi aku juga tidak ingin menelepon hanya untuk bersuara riang palsu, lalu menangis ketika ditanya apakah aku sudah makan.
Aku meletakkan ponsel kembali. Bukan berarti Ayah tidak boleh tahu selamanya. Hari ini aku ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya lebih dulu.
Saat turun lagi, Mama sedang duduk dengan kain yang hendak dilipat. Aku mengambil tempat di dekatnya dan mulai membantu.
'Mama pernah menunggu penjelasan sampai rasanya jamnya rusak?' tanyaku.
Mama memandang jam di dinding, lalu memandangku.
'Jam itu masih jalan.'
'Justru itu. Kalau rusak, setidaknya aku punya alasan kenapa lama.'
Mama tersenyum kecil. Aku melipat satu kain, kemudian bertanya apakah ia kecewa karena aku memilih bicara hanya dengan Riyan.
'Tidak,' jawabnya. 'Kamu sudah bilang sendiri apa yang kamu perlukan.'
'Tapi Mama juga punya kekhawatiran.'
'Punya. Itu bisa Mama sampaikan kepada anak Mama tanpa menyuruhmu membawa pesan.'
Aku mengangguk. Ada sesuatu yang mengendur di bahuku.
Mama kemudian mengulurkan kain yang belum rata. 'Yang ini dilipat ulang, boleh?'
'Katanya tidak menyuruh membawa pesan.'
'Ini kain, Kayla.'
Aku tertawa. Tidak lama, tetapi cukup untuk membuat pekerjaan itu kembali menjadi pekerjaan biasa, bukan cara menghitung waktu sampai suamiku pulang.
Siang berlalu dengan makan dan istirahat. Aku tidak menyetrika. Ketika pikiran tentang Tiara datang lagi, aku tidak berhasil selalu mengusirnya. Kadang aku membayangkan wajahnya di mal, lalu tersadar bahwa aku sedang memberi jawaban sendiri pada hal yang belum kutanyakan.
Menjelang sore, aku mengambil selembar kertas dari meja kerja dan menulis tiga pertanyaan yang sudah kuucapkan semalam. Kutambahkan satu: apa yang Tiara ketahui tentang pernikahan kami?
Aku membaca kalimat itu lama. Setelah kami bertemu, tentu ia tahu aku istrinya. Tetapi aku belum tahu apa yang sudah dikatakan Om Riyan sebelum pertemuan itu, atau sesudah aku kembali duduk sendiri.
Aku tidak menambahkan tuduhan. Kertas itu sudah cukup penuh meskipun baru empat pertanyaan.
Kertasnya kulipat dua, lalu kubuka lagi. Hurufku pada baris terakhir lebih besar daripada yang pertama. Aku sempat ingin menyalin semuanya supaya rapi, kemudian menertawakan diri sendiri.
Ini bukan ujian menulis indah. Kalau pertanyaannya miring, jawabannya tetap harus jelas.
Aku meletakkannya di atas meja rias, di tempat yang langsung terlihat saat kembali ke kamar. Sesudah itu aku turun mengambil air. Aku masih menghitung waktu, tetapi setidaknya sekarang ada sesuatu yang bisa kubawa nanti selain wajah cemas dan ingatan yang mungkin mendadak kosong saat ia mulai bercerita.
Ketika Riyan pulang menjelang malam, aku sedang di ruang depan. Ia mengucapkan salam dan menanyakan hariku.
'Ada empat pertanyaan tertulis,' jawabku.
Ia berhenti melepas jam tangan.
'Baik.'
'Mungkin nanti bertambah.'
'Baik.'
Aku menyipit. 'Jangan semua dijawab baik. Nanti waktu ditanya Tante Tia siapa, jawabnya baik juga.'
Om Riyan mengusap tengkuk. 'Om sedang berusaha tidak salah bicara.'
'Aku tahu. Tapi Om jadi seperti orang mengantre dimarahi.'
Ia menatapku, lalu menurunkan tangannya.
'Om memang takut kamu terluka.'
'Aku sudah kepikiran sejak kemarin. Diam juga tidak membuatnya hilang.'
Ia mengangguk, kali ini tanpa jawaban pendek yang terburu-buru. Sesudah itu ia naik untuk membersihkan diri, dan aku membantu Mama menyiapkan makan malam.
Kami tetap makan bertiga. Aku berhasil menghabiskan bagianku tanpa lupa mengunyah. Tidak ada hidangan istimewa untuk melunakkan percakapan, tidak ada hadiah mendadak di samping piring. Aku justru senang karena tidak perlu menebak maksud benda lain sebelum membicarakan seorang perempuan.
Setelah meja beres, aku naik membawa kertas. Mama mengucapkan selamat beristirahat seperti biasa.
Om Riyan sudah menunggu di kamar. Ia memindahkan kursi dari meja ke depan sofa, menyisakan jarak yang tidak terlalu dekat. Laptopnya tertutup dan ponselnya diletakkan di meja.
Aku duduk, meratakan kertas di atas lutut.
'Om mulai dari yang pertama?' tanyanya.
Aku menggeleng.
'Aku yang tanya dulu. Kalau nanti aku diam, tunggu sebentar. Bukan berarti aku tidak ingin dengar.'
Ia mengangguk. Aku memandang wajah yang sudah mulai kukenal dalam banyak keadaan, tetapi belum dalam cerita yang satu ini.
Tidak ada gorden di antara kami sekarang.
Aku menahan kertas agar tidak bergetar, lalu bertanya, 'Sebelum menikah denganku, sebenarnya Om dan Tante Tia punya hubungan apa?'