'Mau,' jawab Om Riyan. 'Besok malam sesudah makan. Om sisihkan waktunya, seperti malam ini.'
'Jangan cuma disisihkan. Nanti kepakai yang lain.'
'Om kosongkan.'
Aku mengangguk, tetapi belum merasa lega. Besok malam masih punya satu siang panjang di depannya. Aku yang meminta jeda, lalu aku sendiri yang kesal karena perlu menunggu. Rupanya pikiranku senang sekali menyulitkan pemiliknya.
'Kalau besok aku marah?'
'Om tetap menjawab.'
'Kalau aku nangis?'
Ia menatapku. 'Om dengarkan.'
Aku meraih ujung bantal sofa, lalu melepaskannya lagi. Janji itu belum teruji. Namun untuk malam ini, aku membutuhkan bentuk yang cukup jelas agar bisa berhenti menyusun kemungkinan buruk sampai pagi.
'Aku mau tahu hubungan kalian dulu itu apa. Kenapa masih perlu bicara sekarang. Dan kenapa aku tidak diberi tahu.'
Om Riyan mengangguk setiap kali aku menyebut satu pertanyaan.
'Ada lagi?' tanyanya.
'Banyak. Tapi yang lain belum bisa antre.'
Ia hampir tersenyum, kemudian menahannya. Aku menyadari itu dan malah sedikit kesal.
'Kalau lucu boleh ketawa, Om. Aku belum melarang seluruh dunia tertawa.'
Senyumnya muncul, kecil dan lelah. Aku menunduk supaya ia tidak melihat bahwa mulutku ikut bergerak.
Sesudah beberapa saat, aku berdiri untuk mengambil air. Om Riyan ikut bangkit.
'Biar Om.'
'Aku ingin jalan sebentar.'
Ia kembali duduk. Aku keluar kamar membawa gelasku, turun pelan, lalu berhenti di dapur. Mama sedang merapikan bagian terakhir meja.
'Belum tidur, Ma?'
'Sebentar lagi.'
Aku mengisi gelas. Mama menunggu sampai aku minum sebelum menawarkan pisang yang masih ada. Aku mengambil satu, bukan karena lapar sekali, tetapi karena tanganku ingin melakukan sesuatu selain meremas kain.
Kami duduk di meja makan. Lampunya terasa lebih terang dibanding kamar. Aku mengupas pisang dengan hati-hati, lalu menatap kulitnya yang terbuka ke empat arah.
'Mama tidak tanya?'
Mama mengangkat alis. 'Pisangnya manis?'
Aku tertawa sebelum sempat menahan. Lalu mataku mendadak panas, membuatku kesal sendiri. Kenapa tubuhku memilih menggabungkan dua pekerjaan itu?
Mama menggeser tempat kulit pisang mendekat. Ia tidak langsung memeluk atau memaksaku bercerita.
'Om sudah mengakui Tante Tia bukan teman biasa,' kataku.
Mama mengangguk.
'Aku minta istirahat dulu. Besok malam kami lanjut.'
'Baik.'
'Cuma baik?'
'Kamu ingin Mama bilang apa?'
Aku memikirkan pertanyaan itu sambil menggigit pisang. Mungkin aku ingin Mama menjamin semuanya tidak seburuk yang kupikirkan. Tetapi Mama sudah mengatakan pagi tadi bahwa ia tidak mengetahui semua hubungan mereka.
'Aku tidak tahu.'
'Kalau begitu Mama duduk saja di sini.'
Dan ia benar-benar duduk. Tidak mencela anaknya, tidak membela, tidak menyuruhku jadi istri sabar. Beberapa menit itu terasa aneh dan nyaman sekaligus.
Ketika aku bangkit membawa gelas, Mama menyentuh punggung tanganku sebentar.
'Mau bawa pisang lagi?'
'Kalau dibawa ke kamar, nanti kulitnya lupa kubuang.'
'Bisa dibawa turun besok.'
Aku menggeleng. 'Satu saja cukup. Nanti Om kira aku turun karena lapar saja.'
Mama tidak segera menjawab. Aku sendiri baru mendengar betapa aneh alasanku. Aku ingin suamiku tahu aku sedang sedih, tetapi takut satu pisang membuat seluruh kesedihan itu terlihat tidak sungguh-sungguh.
'Orang yang sedang susah tetap boleh makan, Kayla,' kata Mama.
Aku melihat tempat kulit pisang. 'Iya, ya.'
Aku mengambil satu lagi, kali ini untuk dimakan di meja itu juga. Mama menggeser tempat sampah kulitnya. Tidak ada yang bertambah buruk ketika aku menghabiskannya. Om Riyan tetap perlu menjawab pertanyaanku besok, sekalipun malam ini aku kenyang.
Setelah mencuci tangan, aku kembali meraih gelas. Mama masih duduk di tempatnya, dan aku menunduk sebentar untuk menyandarkan kepala di bahunya. Ia mengusap rambutku sekali. Aku menjauh sebelum air mataku benar-benar jatuh, bukan karena malu kepadanya, melainkan karena belum ingin menjelaskan lebih banyak.
'Kalau kamu butuh Mama, panggil.'
'Iya. Tapi bukan untuk ngeroyok Om.'
'Bukan.'
Aku membawa gelas ke atas. Di kamar, Om Riyan sudah memindahkan bantalnya ke sofa. Laptop tetap tertutup. Ponselnya menyala sebentar saat ia memeriksa jam, kemudian diletakkan lagi.
Mataku mengikutinya. Aku berharap ia tidak melihat, tetapi tentu saja ia melihat.
'Ponselnya bisa kamu lihat,' katanya.
Aku berhenti di samping meja.
'Untuk apa?'
'Kalau itu membuatmu lebih tenang.'
Ada bagian diriku yang langsung ingin menerima. Membuka layar, mencari nama Tiara, membaca sampai kepalaku penuh. Tetapi aku bahkan belum tahu awal ceritanya. Bagaimana kalau satu kalimat membuatku mengira sesuatu yang lain? Bagaimana kalau aku tidak menemukan apa-apa dan justru berpikir ia sudah menghapusnya?
'Aku mau Om cerita,' kataku. 'Bukan aku disuruh mencari sendiri.'
Ia menatap ponselnya, lalu mengangguk.
'Baik.'
'Nanti kalau memang ada pesan yang perlu dibahas, bahas sama aku. Jangan ponselnya saja dikasih, Om-nya diam.'
'Om mengerti.'
Aku belum yakin ia benar-benar mengerti. Aku pun masih belajar memahami apa yang kubutuhkan. Setidaknya, malam ini aku tidak mengambil ponsel itu.
Sesudah membersihkan diri, aku naik ke tempat tidur. Om Riyan merapikan selimut di sofa. Tidak ada percakapan tentang pindah tempat atau hadiah karena aku sudah mau mendengar.
Lampu diredupkan. Aku berbaring menghadap sisi tempat ia berada.
'Om.'
'Iya?'
'Aku masih kesal.'
'Iya, Kay.'
'Tapi aku tidak sedang mengusir.'
'Om tahu.'
Aku diam. Lalu, karena ternyata ada kalimat lain yang belum mau tidur, aku menambahkan, 'Besok jangan jadi kaku sekali. Aku tambah takut.'
Om Riyan memiringkan kepalanya dari sofa.
'Om usahakan. Tapi kalau salah bicara, kasih tahu.'
'Itu sudah pekerjaanku dari kemarin.'
Tawanya terdengar pelan. Kali ini aku tidak merasa ditertawakan. Aku menarik selimut sampai bahu dan memejamkan mata, meskipun tidur baru datang setelah beberapa kali kubuka lagi.
Saat bangun menjelang subuh, rasa berat itu masih ada. Tidak berubah menjadi mimpi buruk, tidak juga hilang karena semalam kami sempat tertawa.
Kami bersiap dan salat seperti biasa. Setelahnya aku melipat mukena, sedangkan Om Riyan duduk sebentar di sofa. Aku melihat matanya mengikuti gerakanku.
'Apa?'
'Lehermu masih sakit?'
'Sedikit. Tapi bukan semua masalah sekarang dari leherku, ya.'
Ia mengangguk. 'Om tahu.'
Aku meletakkan mukena, lalu berdiri di depan lemari. Baju yang akan dipakainya sudah rapi di gantungan. Aku hampir mengambilkannya seperti biasa, tetapi tanganku berhenti karena tiba-tiba aku mempertanyakan setiap kebiasaan kecil.
Kalau tetap mengambilkan, apakah ia mengira aku sudah tidak kesal? Kalau tidak, apakah aku sedang menghukum?
Aku membenci pertanyaan itu. Baju seharusnya cuma baju.
Akhirnya kubuka lemari sedikit lebih lebar dan bergeser.
'Yang Om cari di sebelah sana.'
Ia mengambilnya sendiri, lalu menoleh kepadaku.
'Kay, untuk nanti malam, kamu ingin Mama ikut duduk bersama kita?'