'Boleh. Memangnya aku penjaga pintu?'
Aku bergeser. Rupanya tanpa sadar tubuhku memenuhi jalan masuk. Om Riyan melewatiku, menaruh barangnya, lalu menoleh lagi.
'Om pikir kamu mau langsung bicara.'
'Katanya sesudah makan.'
'Iya.'
'Mandilah dulu. Aku mau tanya sama suamiku, bukan sama debu proyek.'
Ia tertawa pendek, lalu tawanya surut saat melihat aku tidak ikut tertawa. Aku sebenarnya memang bermaksud bercanda. Hanya saja wajahku tampaknya belum mendapat pemberitahuan.
Mama muncul dari arah ruang makan. Ia menanyakan apakah Riyan sudah makan sejak siang. Om menjawab sudah, lalu naik untuk membersihkan diri. Tidak ada yang menariknya ke teras. Aku memperhatikan hal itu sebelum menyadari bahwa aku masih menghitung siapa berbicara kepada siapa.
Aku menarik napas dan kembali menata sendok.
Ketika kami akhirnya duduk bertiga untuk makan malam, aku memilih tempat seperti biasa. Mama menyodorkan nasi. Om Riyan mengambilkan lauk yang agak jauh dariku, tetapi berhenti ketika aku bilang cukup.
Kebaikan kecil itu biasanya akan membuatku sibuk tersenyum. Malam ini aku justru bingung harus menaruhnya di mana. Aku tidak ingin berpura-pura dia tidak pernah baik, tetapi kebaikan itu juga bukan jawaban tentang Tiara.
'Kamu tidak suka lauknya?' tanya Mama.
'Suka. Aku sedang berusaha makan pelan.'
Padahal aku hanya lupa mengunyah.
Om Riyan menggeser gelas air sedikit lebih dekat. 'Minum dulu.'
Aku minum, lalu makan lagi. Di sela bunyi sendok, Mama bercerita bahwa aku beristirahat dari menyetrika. Aku menambahkan bahwa sebagian pakaian sudah kulipat, sebagian lagi masih dalam tahap perundingan.
'Perundingan dengan siapa?' tanya Om.
'Dengan lengannya. Susah sekali disuruh sama panjang.'
Mama tertawa. Kali ini aku ikut, pendek saja, tetapi sungguhan. Sesudahnya rasa berat itu kembali, bukan berarti tawa tadi palsu.
Aku membantu membawa piring setelah makan. Om Riyan mencuci tangannya, lalu mengangkat gelas yang masih tertinggal. Mama tidak menahan kami dengan tugas tambahan.
'Naik dulu, Ma,' kataku.
'Iya.'
Hanya itu. Aku bersyukur Mama tidak menambahkan kalimat tentang jangan bertengkar, karena aku belum tahu bagaimana percakapan ini akan terdengar.
Di kamar, Om Riyan meletakkan ponsel dan kunci di meja kerja. Laptopnya masih tertutup. Ia menarik kursi, tetapi aku memilih duduk di sofa. Ia kemudian menggeser kursi menghadapku, bukan memanggilku mendekat.
'Om dengarkan,' katanya.
Aku menautkan tangan. Sejak pagi aku punya banyak kalimat. Begitu diberi kesempatan, semuanya malah saling mendahului di kepala.
'Tante Tia itu bukan cuma teman lama, ya?'
Om Riyan menunduk sebentar.
'Bukan.'
Jawaban itu begitu pendek sampai aku menunggu kata tambahan yang mungkin akan membuatnya terasa berbeda. Tidak ada.
'Terus kenapa waktu itu bilangnya begitu?'
'Karena Om menghindari penjelasan panjang.'
'Supaya aku tidak tanya?'
Ia mengangkat wajah. 'Iya.'
Aku mengusap telapak tangan ke rok. Aku sudah menduga ada sesuatu, tetapi mendengar bahwa ia memang ingin menghentikan pertanyaanku tetap terasa seperti tertinggal di meja makan mal sekali lagi.
'Memangnya pertanyaanku mengganggu?'
'Bukan kamu yang mengganggu. Om tidak siap membicarakannya waktu itu.'
'Tapi Om siap ngobrol lama sama dia.'
Om Riyan membuka mulut, lalu mengatupkannya lagi.
Aku tidak berencana mengatakan kalimat itu. Kalimat tersebut keluar begitu saja, membawa kembali piring di depanku dan suara percakapan yang tidak bisa kudengar.
'Benar,' jawabnya akhirnya. 'Om memilih bicara dengan dia, lalu memberi kamu jawaban seadanya.'
Aku menatap kaki kursi. Rasanya ingin berkata tidak apa-apa supaya wajahnya tidak seperti itu. Tetapi aku tahu kalau mengatakannya sekarang, nanti aku akan marah sendirian kepada selimut.
'Jadi Tante Tia bagian masa lalu Om?'
'Iya. Dia pernah menjadi orang yang dekat dengan Om. Bukan dekat seperti teman biasa.'
Aku menelan ludah.
'Mama tadi bilang begitu juga. Aku ingin dengar dari Om.'
'Om tahu.'
'Tidak, tadi pagi Om belum tahu aku akan bertanya. Sudah beberapa hari juga tidak cerita.'
Ia mengangguk, pelan. Aku menunggu alasan. Kesibukan, lupa, atau aku kelihatan bahagia sehingga ia tidak mau merusaknya. Semua alasan itu sudah sempat kubuatkan untuknya, dan mendadak aku lelah mengerjakan bagiannya.
'Om salah membiarkannya,' katanya.
Aku menyandarkan punggung. Mendengar ia mengaku salah tidak membuat pikiranku langsung tenang. Malah ada pertanyaan baru: kalau ia sudah tahu ada yang harus diceritakan, kenapa aku yang harus membuka pintunya?
'Aku kelihatan tidak mau tahu, ya?' tanyaku.
'Bukan begitu.'
'Karena aku lebih sibuk melihat makanan? Atau karena aku tidak langsung protes?'
'Om tidak seharusnya memakai diammu sebagai alasan.'
Aku menarik napas panjang. Aku memang pernah memilih diam karena tidak tahu harus mulai dari mana. Mendengarnya mengakui itu membuat rasa malu sedikit berkurang, tetapi tidak menghapus kecewa.
Di meja, kunci mobilnya terletak di samping ponsel. Aku melihat benda-benda biasa itu sambil mencoba mengingat bahwa orang di depanku masih orang yang sama. Aku tidak perlu mengubah setiap kenangan baik menjadi kebohongan supaya boleh merasa sakit hati malam ini. Namun aku juga tidak wajib membiarkan kenangan baik menutup pertanyaanku.
Om Riyan bergerak mendekatkan kursi sedikit, lalu berhenti.
'Kay, Om ingin menjelaskan dengan benar.'
'Mulai saja.'
Ia mengusap wajah. 'Hubungan kami tidak sederhana untuk diceritakan dalam satu dua kalimat.'
Aku mengangkat kepala. Jantungku berdebar lebih cepat.
'Aku tidak minta dua kalimat.'
'Om bukan minta kamu puas dengan dua kalimat.'
'Tapi baru mulai, Om sudah bilang sulit.'
Keheningan jatuh. Dari luar kamar, suara rumah terdengar biasa saja. Tidak ada yang berubah pada lampu, lemari, atau lipatan pakaian yang masih miring. Hanya aku yang sekarang tahu kata teman lama sengaja dipilih supaya aku berhenti bertanya.
Om Riyan melihat jam, lalu segera memalingkan wajah darinya. Gerakan kecil itu tertangkap mataku.
'Om ada kerjaan?'
'Ada yang belum Om periksa, tapi bukan alasan untuk menghentikanmu.'
'Jangan sambil menunggu aku diam supaya bisa buka laptop.'
Ia mengulurkan tangan ke meja dan menggeser laptop lebih jauh, tetap tertutup.
'Om tidak akan membukanya sekarang.'
Aku memandangi tangannya. Tangan yang tadi pagi kucium saat berpamitan. Aku masih ingin menyentuhnya, dan pada saat yang sama ingin menyembunyikan kedua tanganku di belakang punggung.
Ternyata kesal kepada suami tidak otomatis menghapus keinginan untuk dekat. Hal itu membuat semuanya terasa lebih merepotkan.
'Aku tidak tahu bisa dengar semua malam ini atau tidak,' kataku akhirnya. 'Tapi aku juga tidak mau setelah aku diam, Om menganggap tidak perlu cerita lagi.'
'Tidak akan.'
'Jangan jawab cepat dulu.'
Om Riyan menarik tangannya kembali ke pangkuan.
Aku memandangnya lurus, kali ini tanpa mempersiapkan senyum untuk melunakkan pertanyaanku.
'Kalau aku minta jeda, Om tetap mau menjawab besok?'