'Tidak,' jawab Mama. 'Mama sedang khawatir, lalu hampir menyuruh kamu ikut menanggung kekhawatiran itu.'
Aku duduk di kursi sebelahnya. Lututku menyenggol kaki meja, menghasilkan bunyi yang terlalu keras untuk suasana kami.
'Kalau Mama mau aku tahu sesuatu, bilang saja, Ma. Jangan suruh menebak dari gerak-geriknya.'
'Iya, Nak.'
'Misalnya dia tersenyum lihat ponsel. Aku nanti bingung itu karena Tante Tia atau gambar orang jatuh.'
Mama memandangku sebentar. Sudut bibirnya bergerak, tetapi ia tidak tertawa.
'Mama tidak akan meminta kamu memeriksa ponselnya.'
Aku mengembuskan napas. Ada rasa malu karena sudah mengatakan semua itu. Seolah aku menuduh Mama hendak memberiku tugas yang buruk, padahal selama ini tangannya selalu sibuk membantu aku.
'Mama jangan sakit hati.'
'Mama lebih baik mendengar sekarang daripada kamu melakukan sesuatu karena mengira itu yang Mama mau.'
Aku mengangguk, lalu menarik lap yang tadi kutinggal. Lap itu sudah bersih. Tetap saja kuratakan ujungnya dengan jari.
Mama memperhatikan tanganku.
'Kayla, kamu tidak harus memberi laporan kepada Mama setelah bicara dengan Riyan.'
'Tidak semuanya?'
'Tidak semuanya. Kalau kamu perlu cerita, Mama dengar. Tapi bukan karena Mama harus memeriksa jawaban dia.'
Itu melegakan dengan cara yang aneh. Aku senang punya Mama untuk bercerita, tetapi tidak ingin percakapanku dengan suami nanti berubah menjadi pekerjaan yang harus disetor sebelum tidur.
'Mama juga jangan menjawab buat Om.'
'Iya.'
'Walaupun dia anak Mama.'
Mama menghela napas pendek. 'Justru karena dia anak Mama, kadang Mama terlalu cepat merasa tahu apa yang harus dia katakan.'
Aku akhirnya melepaskan lap. Ada banyak hal yang belum kuketahui tentang menjadi istri. Ternyata menjadi ibu dari orang yang sudah punya istri juga tidak membuat semua jawaban otomatis tersedia.
Kami bangkit setelah beberapa saat. Mama memindahkan kursinya, sedangkan aku mengelap sedikit air di lantai. Tidak ada pelukan panjang atau janji bahwa rumah ini akan selalu mudah. Mama hanya menyerahkan lap kering ketika lap di tanganku terlalu basah.
Aku menerimanya. Untuk saat itu, bantuan kecil tersebut terasa cukup.
Menjelang siang, setelah membersihkan diri dan beristirahat di kamar, aku membuka ponsel. Percakapan dengan Om Riyan ada di layar. Aku mengetik pertanyaan panjang, membacanya, lalu menghapus separuh.
Sisa kalimatnya malah terdengar seperti aku marah besar.
Aku menghapus lagi.
Ternyata menulis pesan kepada suami sendiri bisa lebih sulit daripada menjelaskan kepada Ayah kenapa uang jajanku cepat habis. Setidaknya soal uang jajan ada bukti makanan.
Akhirnya aku menulis bahwa ingin berbicara dengannya nanti di rumah tentang Tante Tia dan percakapan Mama di teras. Kutambahkan bahwa aku baik-baik saja dan tidak perlu dijemput atau ditelepon terburu-buru.
Kalimat terakhir itu kutulis karena aku tahu kata bicara bisa membuat orang membayangkan macam-macam. Aku sendiri sudah ahli membayangkan macam-macam sejak pagi.
Pesan terkirim. Aku meletakkan ponsel di meja, lalu berjalan ke lemari.
Ada beberapa pakaian yang perlu kulipat. Aku mengerjakannya sambil duduk, tidak memaksakan leherku yang belum sepenuhnya enak. Dua kaus terlipat cukup rapi. Yang ketiga miring, lalu kubuka lagi.
Aku berhenti ketika menyadari sedang menarik lengan kaus terlalu keras.
Bajunya tidak salah. Yang perlu dijawab juga bukan dia.
Aku meninggalkan satu tumpukan yang belum rapi dan turun untuk makan bersama Mama. Kali ini aku tidak menunggu sampai perut berbunyi baru mengakui lapar.
Mama tidak menanyakan apakah aku sudah menghubungi Riyan. Ia menggeser lauk mendekat, lalu membicarakan sayur yang sebaiknya kami habiskan siang itu.
'Aku tadi melipat baju,' kataku.
'Lehermu bagaimana?'
'Lumayan. Kalau bajunya bisa melipat diri sendiri, pasti lebih lumayan.'
'Kamu istirahat saja sesudah makan.'
'Nanti yang belum rapi aku lanjut. Sedikit.'
Aku menyadari betapa mudahnya mengikuti pembicaraan biasa ketika tidak ada pertanyaan tambahan yang menunggu di ujungnya. Mama tidak menganggap setiap diamku sebagai undangan untuk mengorek.
Sesudah makan dan salat, ponselku bergetar. Nama Om Riyan muncul. Aku menjawab dari kamar, sambil duduk di tepi tempat tidur.
Sebelum mengangkatnya, aku sempat memandang pintu yang terbuka. Aku bisa turun dan menerima telepon di dekat Mama. Kalau gugup, tinggal melihat wajahnya. Namun aku membayangkan diriku mengangguk mengikuti isyarat orang lain, lalu lupa pertanyaan sendiri.
Aku tetap di kamar.
Itu bukan keputusan besar yang terlihat gagah. Telapak tanganku malah berkeringat, dan aku salah memegang ponsel sampai hampir menekan tombol lain. Aku mengusap tangan pada selimut, lalu menempelkan ponsel ke telinga. Suara suamiku terdengar dekat, padahal aku tahu ia belum berada di rumah.
'Kay, Om baru baca pesanmu.'
'Iya.'
'Mama cerita apa?'
Aku langsung menegakkan punggung. Pertanyaan itu keluar terlalu cepat, mendahului pertanyaan tentang apa yang ingin kuketahui.
'Mama menjawab yang aku tanya. Kenapa Om malah nanya Mama bilang apa?'
Di seberang sana hening sebentar.
'Om kaget.'
'Aku juga.'
Aku menatap kaki sendiri. Ujung kukuku menyentuh lantai. Rasanya baru tadi pagi kami bercanda soal berkas yang terselip, tetapi sekarang bahkan kata sederhana perlu kupikirkan sebelum keluar.
'Om akan pulang seperti biasa,' katanya. 'Kita bicara di rumah.'
'Jangan telepon Mama dulu untuk membahas aku.'
'Om tidak akan melakukan itu.'
'Dan jangan nanti bilang aku salah paham sebelum aku tanya.'
'Kayla, Om belum bilang begitu.'
'Tapi aku takut Om bilang begitu.'
Kalimat terakhir terdengar lebih kecil. Aku tidak ingin berdebat dengan suara-suara yang belum diucapkannya. Namun aku juga tidak bisa berpura-pura tidak pernah mendapat jawaban pendek yang membuat pertanyaanku terlihat berlebihan.
Om Riyan menarik napas.
'Baik. Om dengarkan dulu nanti.'
Aku memutar ujung selimut. Panggilan itu belum menjelaskan siapa Tiara, tetapi setidaknya tidak berhenti di kata nanti yang mengambang begitu saja.
'Sesudah makan malam?' tanyaku.
'Boleh. Di kamar. Om tidak buka laptop dulu.'
'Aku ingat, lho.'
'Om tahu.'
Untuk pertama kalinya sejak menjawab telepon, aku hampir tersenyum. Bukan karena masalahnya ringan. Karena ia terdengar mengenal kebiasaanku mengingat janji kecil, dan kali ini tidak menjadikannya bahan ejekan.
Kami mengakhiri panggilan setelah aku mengingatkannya makan. Aku menatap layar yang sudah gelap, lalu kembali melipat kaus yang kutinggalkan.
Lengan kanan dan kirinya akhirnya bertemu. Sayangnya, urusan manusia tidak bisa dirapikan dengan cara yang sama.
Sore bergerak pelan. Seusai salat, aku turun membantu Mama menyiapkan meja. Ketika suara mobil terdengar dari depan, tanganku masih memegang dua sendok.
Mama menoleh, tetapi tidak bangkit mendahuluiku.
Aku meletakkan sendok dan berjalan ke pintu. Om Riyan berdiri di ambangnya, membawa barang kerjanya.
'Kay,' panggilnya, 'boleh Om masuk dulu?'