Mama memegang ujung gorden yang tadi bergerak, lalu melepaskannya lagi.
'Mama menanyakan kenapa Riyan tidak cerita kepada kamu tentang Tiara,' jawabnya. 'Mama juga menegur dia karena membiarkan kamu makan sendiri waktu mereka bicara.'
Jadi bukan perasaanku saja. Wajah Mama di teras memang sedang marah, bukan sekadar silau terkena matahari.
'Berarti Mama tahu Tante Tia?'
'Tahu. Dia pernah dekat dengan Riyan, sebelum kalian menikah.'
Aku mengangguk, padahal belum tahu bagian mana yang sedang kusetujui. Kata dekat bisa dipakai untuk rumah, kursi, atau orang. Tetapi rasanya Mama tidak sedang membicarakan jarak rumah.
'Dekat seperti apa, Ma?'
Mama mengajak duduk. Aku memilih ujung sofa, tempat kakiku bisa langsung menapak lantai. Tiba-tiba aku tidak ingin bersandar.
'Bukan sekadar teman yang kebetulan pernah kenal,' katanya. 'Tetapi mengenai hubungan mereka, kamu perlu mendengarnya dari Riyan. Mama tidak mengikuti semua yang terjadi di antara mereka.'
Aku mengusap lutut dengan telapak tangan.
'Aku cuma dikasih tahu teman lama.'
'Itu juga yang Mama persoalkan.'
'Tadi Mama bilang menegur karena aku makan sendiri. Om cerita bagian itu?'
'Mama tanya kalian melakukan apa di mal. Riyan bilang dia bicara dengan Tiara, kamu makan di meja lain. Mama bilang, dia datang membawa istri, bukan menitipkan tas.'
Perutku terasa aneh. Ada bagian diriku yang lega karena Mama melihat sesuatu yang salah. Bagian lain justru ingin kembali beberapa menit lalu, sebelum aku bertanya dan mendengar jawaban ini.
Tas bisa diletakkan di kursi tanpa memikirkan apa-apa. Waktu itu aku punya makanan, tetapi tetap memperhatikan meja mereka.
'Mama menyuruh Om jangan ketemu Tante Tia lagi?'
'Mama menyuruh dia menjelaskan kepada kamu. Dan jangan membuat orang berharap kalau dia sudah memilih menikah.'
Aku menatap Mama. 'Orang berharap?'
Bibir Mama mengatup. Jari-jarinya bergerak di atas pangkuan, merapikan lipatan kain yang sebenarnya sudah rapi.
'Itu kekhawatiran Mama, Kayla. Bukan berarti Mama tahu apa yang Tiara pikirkan sekarang.'
'Terus Om jawab apa?'
'Dia bilang akan mengurusnya sendiri. Mama bilang rumah tangga bukan berarti dia boleh memutuskan sendiri apa yang boleh diketahui istrinya.'
Ternyata percakapan di balik gorden itu tidak sepanjang yang kubayangkan. Namun beberapa kalimat saja cukup membuat dadaku terasa penuh. Selama ini aku sibuk menebak apakah Mama marah karena aku salah menyebut nama atau bersikap tidak sopan kepada teman anaknya.
'Kenapa aku tidak boleh ikut waktu itu?'
Mama menoleh ke pintu sebelum kembali melihatku.
'Mama sedang kesal. Mama tidak ingin menegur Riyan di depanmu.'
'Tapi habis itu aku tetap tidak tahu apa-apa.'
'Iya.'
Mama tidak langsung menyambung. Aku menunggu, dan untuk pertama kalinya diam di antara kami tidak terasa seperti istirahat yang nyaman.
'Mama mengira sesudah ditegur, dia akan bicara sendiri,' lanjutnya. 'Ternyata Mama salah.'
Aku menggigit bagian dalam bibir. Aku ingin marah, tetapi tidak tahu marahku harus duduk di sebelah siapa. Om Riyan tidak ada. Mama ada, sedang menjawab, dan aku tidak ingin menghukum orang yang akhirnya membuka pintu hanya karena pintu itu lama tertutup.
'Mama pernah mau bilang sendiri kepadaku?'
'Pernah. Tapi Mama menunggu Riyan.'
'Aku juga menunggu. Bedanya, aku tidak tahu sedang menunggu apa.'
Mama menatapku cukup lama. Aku mengalihkan pandangan ke meja, merasa kalimatku terdengar lebih tajam daripada yang kurencanakan. Namun ketika hendak menariknya kembali, aku tidak menemukan bagian yang tidak benar.
'Mama minta maaf karena membuatmu merasa di luar pembicaraan.'
Aku mengangguk kecil. Aku belum bisa langsung menjawab tidak apa-apa. Jadi aku hanya menggeser dudukku, memberi ruang saat Mama hendak meraih gelas di meja. Kami tetap dekat, meskipun pagi itu aku sedang kecewa kepadanya.
'Mama tidak usah marahin Om lagi karena aku tanya, ya.'
'Kenapa?'
'Nanti dia jawab ke Mama lagi. Aku malah menunggu dari balik gorden lagi.'
Wajah Mama berubah. Bukan tersenyum, tetapi seperti baru melihat tempat aku berdiri selama ini.
'Baik. Mama tidak akan meneleponnya untuk menyampaikan pertanyaanmu.'
Aku mengangguk. Pagi tadi kecupan di kening masih membuatku tersenyum. Sekarang bekas hangatnya terasa jauh, padahal aku belum mencuci muka lagi.
Mama bangkit lebih dulu ketika terdengar bunyi kecil dari arah meja makan. Sendok yang bertumpu miring pada piring meluncur ke atas meja. Kami sama-sama menoleh, lalu aku menghela napas.
'Kirain siapa.'
'Mungkin sendoknya bosan menunggu dibereskan.'
Aku hampir tertawa. Hampir saja. Lalu aku ikut berdiri dan membawa piring ke dapur.
Di depan bak cuci, Mama hendak mengambil semuanya dari tanganku. Aku menggeser satu piring ke sisi yang kosong.
'Aku bisa, Ma. Aku cuma lagi mikir. Bukan mendadak lupa cara mencuci.'
'Mama mau membantu.'
'Kalau begitu yang itu. Biar adil, punya Mama juga ikut kerja.'
Kali ini Mama tersenyum kecil. Kami mencuci tanpa saling buru-buru. Air mengalir, busa turun dari pinggir piring, dan aku berhasil tidak menjatuhkan apa pun meskipun isi kepalaku sedang berantakan.
Di tengah pekerjaan itu, muncul keinginan mengambil ponsel dan menghubungi Om Riyan. Aku bahkan membayangkan kalimat pembukanya: Tante Tia itu siapa sebenarnya?
Tetapi aku tidak ingin jawabannya terpotong suara pekerjaan, lalu mendapat janji nanti yang tidak jelas bentuknya. Aku ingin melihat wajahnya ketika menjawab.
'Mama,' panggilku sambil menyerahkan piring yang sudah bersih, 'kalau aku tanya nanti malam, itu bukan cari gara-gara, kan?'
Mama meletakkan piring ke rak.
'Bertanya bukan cari gara-gara. Tapi Mama tidak bisa menjamin jawaban Riyan langsung membuat kamu senang.'
Aku menunduk. Itu jawaban yang tidak manis, tetapi justru lebih bisa kupegang.
'Aku juga belum tahu maunya jawaban apa.'
'Mulai dari yang memang ingin kamu ketahui.'
Aku mencoba menyusunnya di kepala. Apakah mereka pernah saling suka? Kenapa namanya membuat Mama marah? Kenapa aku diperkenalkan sebagai istri, tetapi sesudah itu justru duduk sendiri?
Tiga pertanyaan. Rasanya sudah seperti tiga ember yang harus kubawa sekaligus.
Mama mengeringkan tangannya. 'Kalau Riyan bilang sudah tidak ada apa-apa, kamu perhatikan saja nanti—'
'Perhatikan apa, Ma?'
Mama berhenti.
Aku menunggu sambil memegang lap. Entah mengapa, kalimat yang belum jadi itu membuatku lebih gugup daripada seluruh percakapan di sofa.
'Om pergi ke mana? Atau telepon siapa?'
'Bukan begitu maksud Mama.'
'Tapi aku tidak tahu caranya membedakan. Aku bisa memperhatikan dia seharian, terus semua hal kelihatan mencurigakan.'
Aku pernah mengintip dari gorden. Hasilnya bukan pengetahuan, hanya lebih banyak tebakan. Aku tidak mau seluruh rumah berubah menjadi gorden yang harus kusibak diam-diam.
Mama menarik kursi di dekat meja dapur. Kali ini ia yang duduk lebih dulu.
Aku meletakkan lap, lalu bertanya, 'Mama berharap aku mengawasi Om Riyan?'