'Nggak bertengkar, Ma,' jawabku. Lalu aku berpikir lagi. 'Tapi ada yang membuatku tidak nyaman, jadi aku bilang.'
Mama meletakkan gelasnya.
'Riyan mendengarkan?'
'Iya.'
Aku bersyukur beliau menanyakan itu, bukan langsung bertanya aku salah apa sampai suamiku kesal. Namun aku juga belum ingin menceritakan seluruh percakapan semalam, lengkap dengan kue dan kepalaku yang pernah ditekan.
'Boleh nggak kalau belum semuanya aku ceritakan sekarang?'
Mama mengangguk. 'Boleh. Kalau kamu perlu bantuan, bilang.'
Aku mengangguk juga. Tidak ada wajah kecewa karena aku belum membuka seluruh isi kepala. Aku melipat kain lap sekali lagi, padahal lipatannya sudah cukup rapi dari tadi.
'Jangan dilipat terus, nanti jadi terlalu kecil untuk dipakai,' kata Mama.
Aku tertawa. Rupanya kegugupanku ketahuan.
'Aku sedang cari pekerjaan supaya tanganku tidak kelihatan bingung.'
'Memangnya tangan bisa bingung?'
'Tanganku ikut pemiliknya, Ma.'
Mama menggeleng sambil tersenyum. Aku menaruh kain itu dan duduk sebentar. Rasanya enak dapat mengatakan belum ingin bercerita tanpa harus membuat alasan yang panjang.
Dari atas terdengar Om Riyan memanggil namaku. Aku menoleh ke arah tangga, kemudian berdiri.
'Aku lihat dulu, Ma.'
Aku menemukannya di kamar, sedang menata barang kerja. Dia menunjuk ujung meja yang dekat dengan tempatku duduk semalam.
'Kay, tadi kamu melihat berkas yang Om taruh di sini?'
Aku melihat meja. Ada beberapa lembar yang sebagian tertutup oleh benda lain, tetapi aku tidak langsung menarik semuanya.
'Yang mana?'
'Yang dijepit itu.'
Aku menunjuk. 'Ini?'
Om Riyan mengangguk, lalu mengambilnya sendiri setelah aku menggeser benda yang menutupi.
'Tuh, ketemu. Ternyata yang lebih tua juga bisa kehilangan sesuatu di depan mata.'
'Om cuma belum melihat.'
'Kalau aku yang begitu, biasanya disebut kurang teliti.'
Dia menatapku, hendak menjawab, lalu tertawa kecil. 'Baik. Om kurang teliti.'
Aku merasa menang, meskipun hadiahnya hanya melihat dia memasukkan berkas ke dalam tas.
Sebelum keluar kamar, Om Riyan melihat kursi yang kemarin kutarik dari meja rias. Dia mengembalikannya setelah memastikan aku tidak sedang akan duduk di sana.
'Semalam kamu bisa tidur?' tanyanya.
'Bisa. Bangunnya cuma waktu minta ditemani ke kamar mandi.'
'Om ingat.'
'Jangan dijadikan bahan lelucon nanti, ya.'
Dia mengangguk. 'Tidak.'
Aku menatapnya. Ada rasa hangat ketika tahu permintaan kecilku tidak harus diikuti penjelasan panjang. Tetapi aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa semalam membuat seluruh kekhawatiranku hilang.
'Om, aku senang tadi kita sarapan biasa saja.'
'Maksudnya?'
'Nggak ada sindiran karena aku minta Om tidur di sofa.'
Om Riyan terdiam sebentar. 'Om tidak ingin menghukummu karena mengatakan yang kamu inginkan.'
Aku mengangguk. Aku akan mengingat kalimat itu, bukan untuk dipakai memenangkan semua pertengkaran, melainkan untuk melihat apakah besok dan lusa dia masih melakukan hal yang sama.
Dia mengambil tas, lalu menoleh kepadaku.
'Satu lagi, Om,' kataku sebelum dia bicara.
Dia menunggu.
'Kalau nanti aku masih gugup waktu ingin mengatakan sesuatu, jangan langsung menebak aku mau minta dibelikan barang.'
'Memangnya Om pernah begitu?'
'Belum. Aku sedang menyiapkan kemungkinan.'
Om Riyan tersenyum. 'Banyak sekali kemungkinan di kepalamu.'
'Makanya jangan ditambah dengan teka-teki.'
Dia mengangguk. Aku tidak tahu apakah dia memahami seluruh maksudku, tetapi aku tidak sedang menyuruhnya mengerti hal yang belum kukatakan. Ada pertanyaan tentang Tante Tia yang masih kusimpan, dan aku mulai sadar tidak adil juga kalau terus menunggu dia menjawab pertanyaan yang selama ini kutelan sendiri.
'Om berangkat dulu. Kamu jangan terlalu capek belajar.'
'Aku tahu kapan pegal.'
'Kemarin sampai lehermu pegal.'
'Aku sedang belajar tahu.'
Senyumnya muncul. 'Baik. Kalau begitu jangan lupa mendengarkan lehermu.'
'Kalau leherku mulai bicara, Om harus pulang. Itu sudah masalah lain.'
Dia tertawa, dan aku ikut tertawa sambil mengikutinya keluar kamar.
Di dekat tangga, Om Riyan mengulurkan tangan. Aku memandang tangannya sebentar sebelum menyambut. Dia tidak menarik. Kami turun dengan langkah biasa, dan untuk beberapa saat aku menikmati rasa digandeng tanpa memikirkan ke mana tangannya akan membawaku setelah itu.
Mama sudah berada di ruang depan. Beliau menanyakan apakah ada barang yang tertinggal, dan Om Riyan menunjukkan tasnya.
'Sudah lengkap, Ma.'
'Jangan sampai sarapannya lengkap, pekerjaannya tertinggal.'
Aku tertawa lebih dahulu. Om Riyan menatapku seolah ingin mengatakan aku terlalu senang melihatnya digoda.
'Ma, tadi berkasnya sempat tidak kelihatan.'
'Kay.'
'Aku cuma melaporkan kejadian, Om.'
Mama tertawa. Suasana itu membuatku ingin terus berdiri di sana, ikut dalam percakapan tanpa perlu memahami semuanya lebih dahulu.
Ketika Mama berjalan menuju teras, tubuhku sempat berhenti. Aku teringat pagi beberapa hari lalu. Saat itu aku diminta tidak ikut, lalu melihat mereka berbicara dari balik gorden. Wajah Mama tampak marah, sedangkan Om Riyan berusaha menenangkan.
Nama Tante Tia muncul sebelum pagi itu.
Aku tidak tahu apakah dua hal tersebut berhubungan. Tetapi ketidaktahuan itu rupanya belum pergi hanya karena aku telah pandai mencuci piring.
Om Riyan menoleh saat menyadari aku tertinggal.
'Kenapa, Kay?'
Aku menggeleng kecil, lalu melangkah maju. Tidak ada yang melarangku ikut ke teras pagi ini. Mama hanya mengingatkan soal makan siang, dan Om Riyan menjawab seperti biasa.
Aku mendengarkan, tetapi pikiranku menyimpan pertanyaan lain.
Saat hendak berpamitan, aku meraih tangannya untuk bersalaman. Om Riyan menunduk sedikit, lalu berhenti cukup dekat untuk bertanya.
'Boleh Om cium keningmu?'
Pipiku menghangat. Aku mengangguk. Sentuhan itu singkat. Aku tidak merasa sedang membayar karena dia sudah mau mendengarkan semalam.
Setelah dia menjauh, aku masih berdiri dengan senyum yang tidak bisa langsung disembunyikan.
'Hati-hati, Om.'
'Iya, Kay.'
Kami menunggu sampai mobilnya bergerak. Aku melambaikan tangan, kemudian masuk bersama Mama. Di ruang depan, gorden yang dulu kubuka diam-diam bergerak terkena angin dari pintu.
Aku memandangnya terlalu lama sampai Mama memanggil.
'Kayla?'
Aku menoleh.
'Mau ikut Mama membereskan meja atau istirahat dulu?'
Aku ingin menjawab yang mudah. Ikut membereskan meja, lalu mencuci sesuatu, lalu mencari pekerjaan lain supaya pertanyaan di kepala tidak harus keluar.
Tetapi aku sudah melakukan itu selama beberapa hari. Semua piring bisa menjadi bersih, sementara pikiranku tetap terasa belum beres.
'Ma, aku boleh tanya satu hal?'
Mama berhenti berjalan. 'Apa, Nak?'
Aku meremas ujung bajuku sebentar, kemudian melepaskannya. Kali ini tidak ada gelas atau kain lap yang bisa dijadikan tempat bersembunyi.
'Waktu Mama bicara berdua dengan Om Riyan di teras dulu, setelah aku menyebut nama Tante Tia, sebenarnya ada apa?'