Aku turun dengan langkah yang lebih pelan daripada semangatku. Kalau terlalu cepat menoleh, tengkukku masih mengingatkan bahwa kemarin aku terlalu lama menunduk di depan setrika.
Mama sedang menyiapkan tempe. Melihatku datang, beliau tersenyum.
'Pagi, Sayang. Sudah tidak pegal?'
'Masih sedikit. Tapi perutku sehat dan siap menerima sarapan.'
Mama tertawa. Aku berdiri di dekat meja, memperhatikan bahan yang sudah disiapkan. Ada bayam juga. Wah, dua anggota tetap dalam daftar keahlianku hadir bersama pagi ini.
'Aku boleh mengerjakan sayurnya, Ma?'
'Kamu yakin? Kalau mau duduk dulu juga boleh.'
'Aku ingin mencoba bagian yang sudah Mama ajarkan. Kalau bingung, aku tanya.'
Mama mengangguk. Beliau memberi ruang agar aku tidak berdesakan dengannya di dekat kompor. Aku mulai menyiapkan bayam dan melihat apakah masih ada bagian yang perlu dibersihkan.
Rasanya menyenangkan mengenali urutan yang dulu membuatku bengong. Aku belum cepat, tetapi setidaknya sekarang aku tidak memandang semua peralatan dapur seperti benda dari planet lain.
'Yang ini cukup, Ma?' tanyaku.
Mama memperhatikan jumlah yang kusiapkan, lalu mengangguk. 'Untuk bertiga cukup.'
Aku berhenti sejenak.
Untuk bertiga. Bukan hidangan untuk membuktikan bahwa seorang istri telah berhasil. Hanya sarapan untuk tiga orang yang sebentar lagi lapar.
Aku melanjutkan dengan lebih santai. Ketika merasa ragu pada bagian berikutnya, aku bertanya. Mama menjawab tanpa mengambil alih seluruh pekerjaan. Beliau tetap berada dekat saat aku menggunakan kompor, tetapi tidak berdiri tepat di belakang bahuku seperti pengawas ujian.
'Ma, kalau Mama terlalu dekat, aku malah gugup.'
Mama mundur sedikit. 'Begini?'
'Begini enak. Mama tetap bisa menjawab kalau aku panik.'
'Jangan panik dulu sebelum terjadi apa-apa.'
Aku tertawa. Nasihat yang bagus. Sayang kepalaku kadang suka mengadakan rapat darurat tanpa mengundang pemiliknya.
Saat pekerjaan di dapur hampir siap, Om Riyan datang dengan pakaian untuk bekerja. Aku menoleh sebentar, lalu kembali pada yang sedang kukerjakan.
'Pagi,' katanya.
'Sebentar, Om. Aku sedang menjaga harga diri bayam.'
'Memangnya dia kenapa?'
'Kalau terlalu sibuk menatap Om, nanti salah satu dari kami layu.'
Om Riyan tertawa. Mama menggeleng sambil tersenyum. Aku merasa pipiku hangat, tetapi tidak menyesali godaan kecil itu. Ternyata aku bisa menggoda lebih dahulu tanpa merasa telah menyetujui sesuatu yang lain.
Om Riyan mendekati lemari tempat gelas.
'Aku belum buat kopinya,' kataku.
'Om buat sendiri.'
'Tunggu sedikit juga bisa.'
'Kan kamu sedang mengurus sayur.'
Aku melihatnya mengambil gelas dan menyiapkan kopi. Tidak ada pernyataan bahwa dia suami paling baik sedunia karena melakukan itu. Dia hanya membuat minumannya, seperti orang yang memang ingin minum.
Entah mengapa, itu membuatku semakin ingin tersenyum.
Mama memintanya membawa piring ke meja. Om Riyan menurut. Aku menyelesaikan bagian yang kukerjakan dengan bantuan Mama pada hal yang masih membuatku ragu, lalu ikut menata meja.
Ketika semuanya tersedia, aku hampir berdiri menunggu Mama dan Om Riyan mengambil bagian lebih dahulu. Om Riyan menunjuk kursi di dekatnya.
'Duduk, Kay. Makanannya untuk kamu juga.'
Aku duduk. 'Aku tahu.'
'Tadi wajahmu seperti mau menunggu penilaian.'
'Memangnya ada nilai?'
'Nggak.'
'Sayang sekali. Aku sudah menyiapkan pidato kalau dapat penghargaan.'
Mama tertawa, dan aku mengambil nasi. Sebelum ada yang memuji, aku lebih dahulu mencicipi sayur buatanku sendiri.
Rasanya tidak persis seperti buatan Mama, tetapi tidak membuatku ingin menyembunyikan panci.
'Bagaimana?' tanyaku kepada Om Riyan setelah dia mencoba.
'Enak.'
'Jangan karena suami harus menjaga perasaan istri.'
'Om juga ingin sarapan dengan tenang. Kalau tidak enak, kita bisa membicarakan rasanya tanpa sidang.'
Aku mendengus, tetapi menerima jawabannya. Mama menambahkan bagian yang menurutnya sudah lebih baik daripada percobaan sebelumnya. Beliau menyebut caraku menyiapkan bahan dan bertanya ketika ragu, bukan mengatakan kini aku pantas menjadi istri.
Aku makan lebih lahap setelah itu.
Mama menawarkan tambahan tempe. Aku mengambil satu, kemudian melihat piring beliau yang isinya masih sedikit.
'Mama juga makan, ya. Dari tadi sibuk melihat kami.'
'Mama senang melihat kalian makan.'
'Aku juga senang melihat Mama makan. Jadi nanti kita saling melihat terus, sarapannya tidak habis-habis.'
Om Riyan tertawa dan mengambilkan wadah yang agak jauh dari jangkauan Mama. Beliau akhirnya menambah bagiannya sendiri.
Aku menikmati beberapa suap tanpa bicara. Tempe di piring tidak berubah menjadi tanda kelulusan, dan Mama tidak harus terus berdiri agar kami merasa disayang. Rasanya aku ingin mengingat pagi ini dengan cara yang sederhana: aku memasak sesuatu, orang lain ikut membantu, lalu kami semua mendapat kesempatan duduk.
Di tengah sarapan, Mama bertanya tentang pekerjaannya hari ini. Om Riyan menjawab bahwa dia tetap ke proyek yang dekat rumah. Aku mendengarkan sambil mengunyah, tidak perlu menerka apakah dia akan menghilang beberapa hari.
'Kalau pulangnya lebih lambat, kabari, Om,' kataku.
Dia menoleh. 'Iya.'
'Aku bukan mau menghitung langkah Om. Cuma supaya tahu harus menunggu makan atau tidak.'
'Kalau lapar, makan saja. Om tetap kabari kalau rencananya berubah.'
Aku mengangguk. Kalimat tersebut terdengar lebih berguna daripada menebak sendiri sampai malam, seperti yang pernah kulakukan di rumah sebelumnya.
Sesudah sarapan, aku membawa piringku ke tempat cuci. Om Riyan ikut membawa miliknya dan beberapa benda di meja.
'Biar aku, Om.'
'Om bawa dulu. Nanti kamu mau mencuci atau Mama mau mengatur yang lain, dibicarakan saja.'
Aku menatap piring di tangannya. Rupanya pagi ini tidak ada yang sedang berebut gelar paling berjasa.
Mama menyuruh kami menyingkir dari dekat tempat cuci karena beliau ingin mengambil wadah. Aku mundur, lalu membersihkan meja. Aku sudah bisa mengerjakannya tanpa perlu menunggu orang menerangkan setiap gerakan.
Om Riyan naik sebentar untuk mengambil barang kerjanya yang masih di kamar. Aku mengelap bagian meja yang terakhir, kemudian melipat kain.
Mama memperhatikanku.
'Kelihatan lebih berani bicara pagi ini.'
Aku tersenyum malu. 'Biasanya juga banyak bicara, Ma.'
'Banyak bicara tidak selalu sama dengan mengatakan yang kamu inginkan.'
Aku terdiam. Ternyata Mama memperhatikan lebih banyak daripada yang kukira.
Beliau mengambil gelasnya sendiri, lalu duduk. Aku masih berdiri dengan kain lap di tangan, mendadak merasa benda itu sangat menarik untuk diperhatikan.
'Semalam Mama lihat kamu turun ambil minum sendirian,' katanya. 'Wajahmu seperti sedang banyak pikiran.'
Aku menelan ludah. Jadi ternyata bukan hanya aku yang suka memperhatikan dari jauh.
Mama menatapku dengan lebih lembut.
'Kamu dan Riyan sedang bertengkar, Nak?'